Overlord - Vol 5 - Chapter 3 Part 1

Mereka yang menjemput dan mereka yang dijemput

Part 1


Bulan Api Pertengahan (Bulan ke 8), Hari ke 26, 15:27

Setelah mengantarkan wanita tua itu ke rumahnya, Sebas menuju ke tujuan asalnya.

Tempat yang dia tuju dikelilingi oleh dinding-dinding yang lebar.

Dibaliknya, dia bisa melihat tiga menara, masing-masing tingginya sekitar lima lantai, Tak ada dari bangunan-bangunan di dalam area itu yang memiliki tinggi seperti menara tersebut, membuat mereka terlihat sangat tinggi.

Menara yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan dua lantai yang sempit.

Ini adalah markas dari Guild Magician Kingdom. Mereka membutuhkan tanah tempat berlabuh seluas itu menciptakan magic baru dan mendidik para magic caster. Alasan mereka mendapatkan begitu banyak tanah meskipun menerima hampir tidak ada pendanaan dari Kingdom adalah karena mereka adalah yang bertanggung jawab dalam menciptakan item-item magic.

Pada akhirnya, dia melihat pintu yang terlihat kokoh. Pintu kayu yang dihias dan mengarah ke gedung dua lantai itu terbuka lebar, dengan masing-masing sisi diisi oleh penjaga bersenjata yang sedang berdiri berjaga.


Tanpa dihentikan oleh para penjaga - hanya menerima pandangan sekilas - Sebas melangkahkan kaki melewati pintu itu.

Di balik pintu itu ada satu set tangga-tangga yang lebar menuju tingkat ke pintu lain menyambungkannya dengan indah, gedung yang sudah tua terbuat dari marmer putih. Pintu itu juga dibiarkan terbuka seakan untuk menyambut seluruh tamu.

Melewati pintu itu ada aula untuk menerima tamu yang kecil, dan di baliknya ada lobi. Atap yang tinggi dari aula tersebut dihiasi dengan banyak tempat lilin yang dinyalakan dengan magic.

Di bagian kanan ada lobi ruang tunggu, dilengkapi dengan banyak sofa dimana beberapa magic caster terlihat sedang berada di tengah diskusi. Di bagian kiri berdiri sebuah papan pengumuman, banyak petualang dan orang-orang yang mengenakan juba magic caster bisa dilihat sedang menatap sungguh-sungguh ke arah perkamen yang ada di papan.

Lebih jauh lagi, beberapa pria muda dan wanita duduk di balik counter. Seluruhnya memiliki emblem yang sama dengan yang menggantung di depan gedung tersulam ke jubah mereka.

Di masing-masing sisi dari counter berdiri boneka seukuran makhluk hidup yang kurus tanpa mata atau hidung - sebuah golem kayu, mengingatkan kepada sketsa. Kelihatannya digunakan untuk keamanan. Selain dari penjaga di luar, alasan mengapa penjaga di dalam gedung bukan manusia adalah mungkin agar Guild Magic bisa tampil unik.

Tanpa melewatkan langkah, Sebas dengan langkah yang tegap mendekati counter.

Pria muda yang ada di counter mengenali Sebas dan menyapa Sebas dengan matanya. Sebas sedikit mengangguk meresponnya. Keduanya sudah cukup akrab satu sama lain karena kunjungannya yang berkali-kali.

Pria muda itu tersenyum dan memberikan sapaan yang biasanya kepada pria di depannya.

"Terima kasih sudah mengunjungi Guild Magician kami, Sebas-sama. Bolehkah saya bertanya tujuan kunjungan anda?"

"Aku ingin membeli sebuah gulungan magic. Boleh aku lihat daftarnya, seperti biasanya?"

"Ya, tentu saja."

Pria muda itu cepat-cepat meletakkan buku besar di counter. Dia kelihatannya sudah mempersiapkannya ketika dia melihat Sebas berjalan masuk.

Dibuat dari kertas putih yang tipis dan mewah dan juga cover dari kulit, itu adalah buku yang bagus sekali. Mempertimbangkan kalimat-kalimatnya disulam dengan benang emas, itu sendiri membuatnya sangat mahal.

Sebas menarik buku itu ke arahnya dan membukanya.

Sayangnya, dia tidak bisa membaca isi buku ini. Tidak, akan lebih akurat jika dikatakan bawah mereka yang berasal dari YGGDRASIL tidak bisa membca tulisan itu. Meskipun dia bisa mengerti ucapan mereka karena peraturan aneh di dunia ini, tulisan kalimat itu lain ceritanya.

Namun, tuannya telah memberikan item magic untuk masalah yang seperti ini.

Sebas menarik bungkus yang mengalangi dan membukanya.

Di dalamnya ada sepasang kacamata dengan frame yang tipis seperti perak. Melihat lebih dekat, mereka dihiasi dengan tulisan yang sempit - sebuah corak. Lensanya dibuat dari kristal es biru.

Saat dia memakai kacamata itu, magic di dalamnya membuat dia bisa membaca tulisan di buku tersebut.

Dia cepat-cepat membuka halaman tersebut dengan sangat teliti dan tiba-tiba menghentikan tangannya. Matanya bergerak dari buku itu dan berhenti ke wanita muda yang sedang duduk di balik counter, di samping pria muda tersebut. Dia bicara kepadanya dengan suara lembut.

"Apakah ada masalah?"

"Ti..tidak sama sekali."

Gadis itu tersipu dan merendahkan wajahnya.

"Saya hanya berpikir... bahwa postur anda sangat gagah."

"Terima kasih banyak."

Sebas menunjukkan senyum yang lembut, menyebabkan gadis itu semakin tersipu.

Pria lembut dengan rambut abu-abu seperti Sebas adalah seseorang yang bisa membuatmu tertarik hanya dengan melihatnya saja. Di atas air mukanya anggun, dia memancarkan sebuah keeleganan yang bisa menarik sembilan dari sepuluh kepala wanita, tak perduli berapapun usianya. Wanita muda di counter itu tidak bisa menahan diri untuk tidak keberatan menatap Sebas; lagipula itu sangat sering terjadi.

Sebas mengangguk dan mengembalikan tatapannya ke buku, tangannya berhenti pada halaman tertentu saat dia bertanya kepada pria muda itu.

"Magic ini - 'Floating Board', bisakah kamu bercerita kepadaku datilnya?"

"Tentu saja."

Pria muda itu mulai menjelaskannya tanpa ragu.

"'Floating Board' adalah magic tingkat 1 yang membuat papan transparan yang melayang. Batas ukuran dan berat dari papan itu bervariasi tergantung dari penggunanya, tapi ketika diaktifkan dari gulungan, ukurannya satu meter pada seluruh sisinya dan bisa menahan sekitar 50 kg. Penggunannya bisa berada sekitar lima meter dari papan tersebut. Tolong dicatat bahwa papan itu hanya bisa mengikuti, papan itu tidak akan bisa mengenali perintah gerakan lain apapun seperti berada di depan dan lain sebagainya. Jika penggunanya berputar 180 derajat dengan cepat di tempat, papan itu akan pelan-pelan membetulkan posisinya sendiri di belakang si pengguna. Mantra ini biasanya digunakan untuk mengangkut barang-barang dan di dalam tempat pembangunan."

Sebas menganggukkan kepalanya.

"Ternyata begitu. Kalau begitu aku ingin satu gulungan dengan magic ini."

"Mengerti."

Pria itu tidak terkejut denga kenyataan bahwa dia memilih magic yang lebih tidak terkenal. Kebanyakan dari gulungan-gulungan yang akan Sebas beli adalah semacam yang tidak terkenal, seperti yang satu ini. Guild Magician hanya bisa berterima kasih kepadanya karena membantu menyingkirkan persediaan mereka yang berlebihan.

"Apakah hanya satu gulungan saja?"

"Ya, tolong jika bisa."

Pria muda itu memberi isyarat kepada pria yang duduk di belakangnya.

Setelah mendengarkan seluruh percakapan, pria itu langsung berdiri dan memasuki pintu di belakang counter. Scroll (gulungan) adalah komoditas yang mahal. Meskipun ada penjaga, gulungan tidak seharusnya ditempat di counter.

Sekitar lima menit kemudian, pria itu kembali. Di tangannya ada sebuah perkamen yang tergulung.

"Ini dia."

Sebas memandang perkamen yang diletakkan di counter. Pekerjaan keterampilan pada perkamen itu sangat mengesankan, meskipun dengan sekali tatapan, gulungan itu sangat berbeda dari yang bisa ditemukan di pasar. Dia memeriksa untuk memastikan bahwa nama dari magic yang tertulis di tinta hitam sama dengan magic yang dia inginkan lalu melepas kacamatanya.

"Saya telah memastikannya. Saya akan mengambil ini."

"Terima kasih banyak."

Pria muda itu dengan sopan membungkukkan kepalanya.

"Ini adalah gulungan mantra tingkat 1 dan harganya adalah satu koin emas dan sepuluh koin perak."

Sebuah potion yang dibuat dari mantra dengan tingkat yang sama berharga dua koin emas. Dibandingkan dengan itu, gulungan ini relatif murah. Sebuah gulungan biasanya sangat spesial, mereka hanya bisa digunakan oleh mereka yang benar-benar mengetahui cabang magic yang sama. Pada dasarnya berarti bahwa sebuah potion yang bisa digunakan oleh siapapun jelas berharga lebih tinggi.

Tentu saja, meskipun menyebutnya murah, koin satu emas dan sepuluh perak masih disebut jumlah yang besar untuk orang biasa. Itu sekitar sebulan setengah nilai dari gaji. Namun, bagi Sebas- tidak, bagi yang dia layani, jumlah itu sangat remeh.

Sebas mengeluarkan sebuah kantung kulit, melonggarkan bagian atasnya, dan menghitung sebelas koin. Dia lalu menyerahkan jumlah itu ke pria muda tersebut.

"Pembayarannya telah diterima."

Pria muda itu tidak melakukan sesuatu seperti memeriksa koin atas keasliannya di depan Sebas. Dia telah berdagang dengan mereka cukup sering sehingga memperoleh kepercayaan mereka.

----

"Orang tua itu keren!"

"Yeah!"

Setelah Sebas keluar dari Guild Magician, resepsionis tersebut, terutama yang wanita, berkumpul bersama dan mulai membuat keributan.

Daripada disebut wajah-wajah wanita yang bijaksana, mereka mengeluarkan wajah-wajah dari gadsi yang baru saja bertemu dengan pangeran yang mereka kagumi. Salah satu pria yang duduk di counter mengerutkan dahi karena iri, tapi karena dia telah merasakan keeleganan dari Sebas pertama kali, dia tetap diam.

"Dia pasti telah melayani bangsawan dengan peringkat yang luar biasa tinggi sebelumnya. Tidak heran jika dia adalah anak ketiga dari rumah bangsawan kaya."

Bahkan bagi seorang bangsawan, sangat umum bagi mereka yang tidak bisa mewarisi rumah tangga menjadi kepala pelayan atau para pelayan. Semakin tinggi gelar bangsawannya, semakin tinggi keinginan mereka untuk mempekerjakan palayan seperti itu. Suasana elegan yang mengelilingi Sebas membuat orang lain percaya bahwa dia adalah bangsawan sendiri.

"Dia bersikap luar biasa bagus."

Kelompok di belakang counter semuanya menganggukkan kepala mereka setuju.

"Kurasa aku pasti akan mengatakan ya jika dia memintaku untuk minum teh."

"yeah, aku akan pergi! aku akan pergi! Pasti!"

Gadis-gadis itu geger sendiri dengan suara bernada tinggi. Seperti bagaimana dia mungkin adalah tipe yang akrab dengan toko-toko yang luar biasa elegan. Bagaimana dia menjadi pengawal yang sempurna dan semacam itu. Pria-pria yang menatap mereka dari samping dan membuka diskusi mereka sendiri.

"Dia kelihatannya sangat berpendidikan. Jangan-jangan dia sendiri adalah seorang magic caster?"

"Mungkin saja, itu mungkin saja."

Mantra-mantra yang diambil Sebas selalu yang baru saja ditemukan. Itulah kenapa mereka bisa menebak dia memiliki pengetahuan tentang magic. Jika dia disini karena perintah untuk membeli sebuah mantra, maka dia bisa cukup mengatakan nama mantranya langsung ke counter tanpa melalui buku. Fakta bahwa dia membuat pilihan setelah melihat seluruh daftar artinya bahwa dia sendiri membuat keputusan terhadap mantra apa yang harus dibeli.

Dia pasti bukan orang tua biasa. Dengan kata lain, tidak aneh jika berpikir dia adalah seorang guru dalam magic - seorang magic caster.

"Dan kacamata itu... bukan itu kelihatannya luar biasa mahal?"

"Jangan-jangan itu adalah item magic?"

"Tidak, bukannya itu hanya item mewah? Mungin dwarf yang membuatnya."

"Benar, dia sangat luar biasa bisa memiliki sepasang kacamata yang indah itu."

"Aku ingin melihat gadis cantik yang dia bawa dengannya sekali waktu dulu."

Kalimat dari yang digumamkan oleh pria itu hampir seperti renungan yang bertemu dengan suara penolakan dari sampingnya.

"Apa~? Yang dimiliki oleh wanita itu hanya tampangnya saja."

"yeah, aku kasihan pada Sebas-san. Dia pasti terlalu banyak bekerja karenanya."

"Meskipun dia cantik, dia pasti memiliki kepribadian yang buruk. Aku tidak suka dengan caranya yang melihat kita. Aku kasihan pada Sebas-san yang harus melayani orang seperti itu."

Kritik yang keras pada jenis kelamin yang sama dari seorang wanita membuat pria-pria tersebut menutup mulut mereka.

Tuan dari Sebas memiliki gadis cantik yang bisa membuat orang lain jatuh cinta dengannya hanya dalam sekejap. Meskipun wanita di samping mereka cukup cantik untuk dipilih sebagai wajah dari Guild Magician, perbedaannya seperti malam dan siang. Meskipun pekerja pria ingin mengatakan kepada mereka untuk tidak iri, jelas sekali apa yang akan terjadi jika mereka melakukan itu. Tak ada atupun diantara mereka yang akan sebodoh itu. Itulah mengapa-

"Hey, cukup sudah ngobrolnya."

Pria muda itu melihat seorang petualang yang menuju counter dan mengarahkan suaranya kepada kelompok tersebut, mendesak mereka untuk mengeluarkan ekspresi serius dan melanjutkan pekerjaan mereka.

---

Setelah meninggalkan Guild Magician, Sebas menatap ke arah langit.

Karena mengantarkan wanita tua pulang ke rumah memerlukan waktu yang lebih lama dari yang diduga, langit mulai menjadi merah. Meskipun jamnya menunjukkan bahwa itu adalah waktu jam malam, dia masih belum selesai dengan tugas harian. Karena itu bukan masalah, apakah dia harus mendorongnya untuk besok? Atau mungkin dia harus menyelesaikan sisa pekerjaannya, meskipun jika itu artinya melewati waktu yang diperbolehkan.

Keraguannya hanya bertahan sejenak.

Menolong wanita tua adalah keputusannya yang sepihak, dia harus bertanggung jawab.

"-Shadow Demon."

Twitch. Sebas merasa bayangannya bergerak.

"Tolong kirim ucapan ke Solution. Bilang padanya aku akan sedikit telat. Itu saja."

Meskipun idak ada jawaban, wujud itu bergerak dan menjadi jauh, seakan bergerak di antara bayangan-bayangan.

"Kalau begitu sekarang..."

Dia tidak memiliki. Sasarannya adalah memetakan keseluruhan geografi dari ibukota. Dia tidak diperintahkan untuk melakukan itu; namun, itu karena keinginannya saja sebagai bagian dari pengumpulan informasi.

"Mari kita menuju kesana hari ini."

Setelah bergumam demikian, Sebas mengusap rambutnya ke belakang dan memutar gulungan di salah satu tangannya. Dia seperti anak kecil yang menikmati diri sendiri.

Dia berjalan jauh dan semakin jauh, dari pusat ibukota, dari tempat dimana ketertiban publik yang terbaik.

Setelah melalui jalanan yang berkelok-kelok, jalanan mulai menjadi kotor dan sedikit bau tak sedap mulai merembes di udara. Itu adalah bau dari makanan busuk dan selokan. Sebas berjalan tanpa bicara menembus bau yang terancam menempel di bajunya.

Sebas tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melihat ke sekeliling. Dia kelihatannya sudah berjalan ke lorong belakang. jalan itu lebarnya hampir tidak cukup bisa digunakan untuk dua orang yang saling bertatapan.

Lorong yang sempit dan matahari yang tenggelam, tak ada tanda-tanda orang-orang dimanapun, mereka membuatnya sulit bagi orang-orang untuk mengambil jalan ini. Tapi tak ada yang menimbulkan masalah bagi Sebas. Dia berjalan tanpa bicara, berbaur dalam kegelapan.

Sebas memutar di beberapa sudut di dalam arah yang lebih terpencil daripada yang terakhir dan tiba-tiba, langkahnya yang tegap harus terhenti.

Tanpa tujuan yang khusus di pikiran, dia telah berjalan kemanapun kaki dan insting membawanya. Namun, dia sadar dia telah berjalan sangat jauh dari pemukiman yang dia jadikan sebagai markas mereka. Dengan menggunakan intuisinya, Sebas mengira-ngira secara kasar lokasinya saat ini dan menarik sebuah garis di kepalanya dari sini ke markas.

Meskipun itu adalah jarak yang remeh dalam pertimbangan kemampuan fisik Sebas, itu hanya bisa diaplikasikan ketika bergerak di dalam garis yang lurus. Berjalan secara normal biasanya akan menghabiskan sedikit waktu. Karena ini sudah hampir waktu bagi kelambu malam turun, akan lebih bijaksana baginya untuk mulai berjalan kembali. Dia tidak ingin membuat Solution yang tinggal bersamanya menjadi khawatir. Jika ada musuh yang kuat muncul, baik Solution dan Sebas memiliki Shadow Demon yang bersembunyi di dalam bayangan mereka. Dengan menggunakan mereka sebagai tameng akan memberikan mereka banyak waktu untuk mundur. Namun --

"...Aku seharusnya kembali."

Meskipun sejujurnya, dia ingin melanjutkan perjalanannya sedikit lagi. Ini hampir seperti hobi miliknya; dia akan sering lupa waktu ketika itu ada hubungannya dengan jalan-jalan di luar. Namun, meskipun dia harus mundur, Sebas merasa bahwa dia perlu setidaknya melihat apa yang ada di ujung jalan ini dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuruni lorong yang sempit.

Saat dia berjalan tanpa suara menembus kegelapan, sebuah suara berderit yang tiba-tiba muncul terdengar 15 meter di depannya. Sebuah pintu besi yang berat pelan-pelan terbuka di sana, memuntahkan cahaya interiornya ke luar. Sebas berhenti dan mengamati diam-diam pemandangan di depannya.

Ketika pintu itu dibuka lebar, sebuah wajah seseorang mulai muncul. Meskipun dia hanya bisa membedakan siluetnya karena cahaya dari belakang, mungkin itu adalah seorang pria. Dia muncul untuk memeriksa sekitarnya dan, gagal mengetahui Sebas, lalu kembali ke dalam.

Thud. Tiba-tiba, sebuah karung yang berat terbang dari pintu itu dan menabrak tanah. Cahaya yang merembes dari pintu terjatuh ke karung tersebut, dan dilihat dari bentuknya, kelihatanya itu adalah sesuatu yang lembut di dalamnya.

Meskipun pintu itu terbuka, pria yang melempar karung itu seakan melemparkan sampah tidak muncul kembali.

Untuk sesaat, Sebas mengerutkan dahi lalu bertanya-tanya apakah dia harus melewatinya atau kembali ke arah dia datang. Dia harus menemui insiden yang sangat menyusahkan.

Setelah ragu sesaat, dia melanjutkan menelusuri jalanan yang sempit dan sunyi dari gelapnya lorong.

Mulut dari karung lebar itu terbuka.

Suara dari langkah kaki Sebas bergema ke seluruh lorong dan pada akhirnya, jarak antara dia dan karung itu menjadi pendek.

Saat dia akan berjalan melewati karung itu, kakinya berhenti.

Sebas merasakan sesuatu menyentuh celananya. Dia menurunkan tatapannya dan disana, menemukan apa yang tidak dia duga.

Terjulur dari karung itu, sebuah lengan kurus yang mirip dengan ranting sedang memegang ujung celananya dan tubuh tanpa busana atas dari seorang gadis.

Karung itu sekarang terbuka lebar, menampakkan penuh tubuh seorang gadis dari pinggang ke atas.

Pupilnya yang biru tidak memiliki kekuatan, menutupi kilatan yang keruh. Rambut yang turun ke bahu menjadi layu karena kekurangan nutrisi. Wajahnya babak belur, lebam-lebam seperti balon. Kulitnya yang kering dan pecah-pecah dikotori oleh titik-titik pink yang tak terhitung julahnya dengan ukuran jari kuku.

Tubuh yang kurus kering itu hampir tidak menyisakan kehidupan sama sekali.

Sudah tidak ada bedanya lagi dengan mayat. Tidak, jelas sekali dia masih hidup. Tangan yang menggenggam ujung celana Sebas membuktikannya. Tapi apakah kamu bisa menyebut seseorang yang hampir tidak bernafas itu dengan hidup?

"...Tolong maukah kamu melepaskan tanganmu?"

Tidak ada respon dari kata-katanya. Jelas sekali bahwa gadis itu tidak mengabaikan Sebas meskipun mendengar apa yang Sebas katakan. Selain dari lebam-lebam dan retakan di kelopak matanya, tak ada lagi yang terpantul di matanya yang buram saat memandang ke ruang kosong.

Jika Sebas menggerakkan kakinya, dia bisa dengan mudah menyingkirkan jari-jari yang lebih kurus dari ranting pohon itu. Namun, dia tidak melakukannya dan malahan, bertanya sekali lagi.

"...Apakah kamu sedang dalam masalah? Jika iya--"

"-Hey, pak tua, darimana kamu datang."

Sebuah suara yang rendah dan mengancam menyela Sebas.

Seorang pria muncul dari pintu. Dada dan lengan yang tebal dengan sebuah luka di wajahnya, pria itu menatap dengan tajam ke arah Sebas dengan rasa permusuhan yang jelas bisa dilihat oleh siapapun. Lentera di tangannya mengeluarkan sinar merah.

"Oi, oi, oi. Kamu lihat apa, pak tua?"

Pria itu membuat suara klik dengan lidahnya dan mengisyaratkan dengan dagunya.

"Menyingkirlah. Jika kamu pergi sekarang maka aku akan membiarkanmu pergi dengan utuh."

Melihat Sebas yang tidak bergerak meskipun sudah diperingatkan, pria itu mengambil langkah maju. Pintu di belakangnya dibanting dengan suara bantingan yang keras. Dengan sangat pelan, pria yang mengancam itu menurunkan lenteranya ke kaki.

"Hey kakek, kamu tuli ya?"

Pria itu memutar bahunya, menggeretakkan lehernya, dan pelan-pelan mengangkat tinju kanannya. Dia jelas sekali bukan seseorang yang akan ragu untuk melakukan kekerasan.

"Hmm..."

Sebas tersenyum, satu senyum yang sangat cocok untuk ekspresi seorang bapak tua yang lembut. Senyumnya membuat orang lain merasakan kebaikannya dan mengalami perasaan lega. Tapi untuk alasan tertentu, pria itu mengambil langkah mundur, seakan binatang karnivora yang kuat telah muncul di depannya tanpa peringatan.

"Uhh, uh, uh, ap--"

Tertekan oleh senyum Sebas, pria itu berujar tidak karuan. Bahkan tanpa menyadari nafasnya yang semakin tidak karuan, pria itu mencoba untuk mundur lebih jauh.

Sebas mengencangkan gulungan yang sedang dia pegang dengan tangannya dari tadi ke ikat pinggangnya, gulungan yang dia beli dari guild magician. Dia mengambil satu langkah ke depan untuk mengurangi jarak antara dia dan pria yang mengulurkan tangannya. Pria itu bahkan tidak bisa bereaksi terhadap gerakan tersebut. Tangan yang sedang menggenggam ujung celana Sebas terjatuh ke tanah tanpa suara.

Seakan itu adalah sebuah sinyal, tangan yang terulur menggenggam tenggorokan pria itu dan - dengan mudahnya, tubuh itu diangkat ke udara.

Ketika membandingkan Sebas dengan pria yang hanya berdasarkan penampilan luar, Sebas tidak ada peluang menang. Usia, ketebalan dada, lengan, tinggi, berat dan bau kekerasan yang merebak dari tubuh mereka, Sebas tidak bisa mengalahkannya dalam hal apapun.

Pria tua itu mengangkat pria yang sangat berat itu ke udara hanya dengan satu tangan -

-Tidak, bukan itu masalahnya. Jika ada pihak ketiga yang hadir, orang itu mungkin akan bisa merasakan dengan tajam 'perbedaan' diantara keduanya. Manusia yang memiliki indera makhluk hidup - meskipun sudah tumpul daripada binatang liar, apakah mereka tidak akan menyadarinya jika perbedaan yang sangat jelas itu tergeletak di depan mereka?

'Perbedaan' antara Sebas dan pria itu adalah -

- perbedaan antara yang terkuat dan yang terlemah.

Setelah benar-benar tidak menginjakkan kakinya di tanah, pria itu menerjangkan kakinya kesana kemari dan memutar tubuhnya. Saat dia mencoba untuk menggenggam lengan Sebas dengan tangannya, matanya dipenuhi dengan terror, seakan jika dia telah menyadari.

Pria tersebut baru menyadari bahwa pak tua di depannya itu adalah sebuah wujud yang sama sekali berbeda dari penampilan luarnya. Pembalasan yang tak berguna hanya akan membuat marah monster di depannya.

"Gadis itu, 'apa' dia?"

Sebuah suara yang lirih mengalir ke arah pria yang sudah kaku karena ketakutan.

Suara itu mengalir dengan lirih, seperti air yang jernih. Sama sekali berlawanan dengan bagaimana dia dengan mudahnya menggenggam pria itu ke udara dengan satu tangan hanya membuat pria tersebut semakin ketakutan.

"Di..Dia adalah pekerja kami."

Pria tersebut merespon dengan mati-matian, suaranya mengandung ketakutan.

"Aku tanya 'apa' dia. Apakah kamu membalas pertanyaanku dengan berkata bahwa dia adalah seorang 'pegawai'?"

Pria itu bertanya-tanya apakah dia memberikan jawaban yang salah. Namun bukankah itu adalah balasan yang paling benar di dalam situasi ini? Matanya yang melebar terlihat penuh ketakutan, bergerak kesana kemari seperti mata dari binatang yang ketakutan.

"Ah, ada beberapa diantara rekan-rekanku yang juga memperlakukan manusia seperti obyek. Aku berusaha menebak apakah kamu termasuk ke dalam kategori mereka atau tidak. Jika kamu melihat manusia sebagai obyek, maka kamu tidak akan merasakan penyesalan apapun. Tapi jika kamu membalas dengan menganggap dia sebagai pegawai. Maka kamu telah melakukan apa yang sudah kamu lakukan ketika menyadari dia sebagai seorang manusia, benarkah? Aku akan tanya sekali lagi. Apa yang ingin kamu lakukan kepadanya?"

Pria itu berpikir sejenak. Namun-

Sebuah suara seperti diremukkan terdengar.

Kekuatan mengalir ke lengan Sebas, dengan sekejap membuatnya sangat menyakitkan bagi pria itu untuk bernafas.

"-Urrkgahhh!"

Pria itu berteriak dengan suara ganjil saat Sebas mengalirkan kekuatan ke tangannya, membuatnya semakin susah bagi pria tersebut untuk bernafas. 'Aku tidak akan memberimu waktu untuk berpikir', jawab langsung'. Pesan Sebas sangat jelas.

"Di-Dia sedang sakit. Aku sedang membawanya ke kui-"

"-Aku tidak suka kebohongan."

"Gaaghhah!"

Kekuatan dari lengan Sebas semakin kuat dan wajah pria itu menjadi sangat merah saat dia berteriak sekali lagi. Meskipun dia bisa menangguhkan seluruh rasa tidak percaya dan mengakui bahwa meletakkannya ke dalam karung untuk membawanya ke kuil adalah sebuah kemungkinan, Sebas tidak bisa merasakan sedikitpun kekhawatiran dari pria tersebut kepada gadis itu ketika karung yang sama dilempar ke tanah, seperti dia sedang membuang sampah.

"Hentikan... Gaah."

Dengan udara yang keluar dari tubuhnya, hidup pria itu dalam bahaya. Dia mulai memukul-mukulkan kakinya, tak mampu lagi berpikir yang lain.

Sebas dengan mudah menahan tinju yang mengarah ke wajahnya dengan satu tangan. Meskipun ayunan kaki pria tersebut mendarat di tubuh Sebas dan mengotori pakaiannya, Sebas tidak bergeming.

-Itu jelas sekali. Seorang manusia biasa tidak bisa menggerakkan sebuah gumpalan baja raksasa dengan kaki mereka.

Meskipun Sebas ditendang oleh sepasang kaki yang tebal, Sebas dengan tenang melanjutkan bicaranya, seakaan dia sendiri tidak merasakan luka.

"Aku menyarankanmu untuk bicara yang sebenarnya."

"Urk--"

Dengan pria yang tak lagi bisa bernafas itu, Sebas memicingkan matanya saat dia melihat ke arah wajah pria itu yang memerah. Dia menyasar saat sebelum dia kehilangan kesadaran dan melepaskannya.

Pria itu bergulung di tanah dengan suara yang keras.

"Uugh, haa, haa, haa."

Dia mengeluarkan udara terakhir yang tersisa di paru-parunya dengan sebuah teriakan dan dengan rakus menghirup udara untuk bernafas. Sebas melihat ke bawah dengan diam. Dia lalu meraih tenggorokan pria itu sekali lagi.

"Tu-Tunggu, Tunggu sebentar!"

Dengan ketakutan yang menusuk tubuhnya, dia dengan kesakitan bicara tergagap-gagap di lantai, jauh dari tangan Sebas.

"Ku-Ku-Kuil! Aku akan membawanya ke kuil!"

Masih berbohong, semangatnya ternyata tak diduga kuat juga...

Sebas mengira pria tersebut akan berubah karena luka dan takut mati. Namun, meskipun ketakutan, dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan menumpahkan kebenaran. Bahaya dari membocorkan informasi sama bahayanya terhadap yang ditunjukkan Sebas.

Sebas mempertimbangkan untuk merubah pendekatannya. Setelah dipikir-pikir, tempat ini adalah teritori musuh. Alasan pria itu tidak meminta bantuan dari balik pintu adalah karena dia tidak mengira siapapun sekutunya akan langsung merespon. Bagaimanapun juga, tetap disini lebih lama lagi akan menyebabkan situasi semakin menyusahkan.

Dia tidak menerima perinta apapun untuk menyebabkan masalah bagi tuannya, hanya tetap bersembunyi dan dengan diam-diam mengumpulkan informasi.

"Jika memang itu rencanamu maka tidak ada masalah meskipun jika aku yang membawanya kesana. Aku akan memastikan dia sembuh."

Mata terkejut pria itu bergerak dari samping ke samping. Dia lalu mati-matian menekan kalimat berikutnya.

"...Tidak ada jaminan bahwa kamu akan membawanya kesana."

"Kalau begitu bagaimana jika kamu menemaniku?"

"Aku sibuk sekarang jadi aku tidak bisa. Aku akan membawanya nanti."

Merasakan sesuatu pada ekspresi Sebas, pria itu lalu cepat-cepat melanjutkan.

"Itu resminya adalah milik kami. Jika kamu menyentuh properti orang lain maka kamu telah melawan hukum! Jika kamu membawanya denganmu maka itu adalah penculikan!"

Sebas tiba-tiba terdiam dan mengerutkan dahinya untuk pertama kali.

Pria itu menyerang di tempat yang paling sakit.

Meskipun tuannya telah berkata bahwa tidak apa untuk menonjol dalam jarak tertentu, itu hanya boleh ketika diperlukan saja untuk penyamaran mereka sebagai putri keluarga kaya dan kepala pelayannya.

Jika dia melawan hukum dan mengundang tangan-tangan orang-orang hukum, ada kemungkinan samaran mereka akan terbongkar. Dengan kata lain, itu akan menjadi keributan besar dan menjadi tipe insiden mencolok yang tepat seperti yang tuannya tidak inginkan.

Meskipun sulit untuk membayangkan bahwa pria yang terlihat kasar dan keras ini berpendidikan, nadanya masih tetap percaya diri. Dia pasti telah mendengarnya dari orang lain yang berpengetahuan tentang hukum. Maka ada kemungkinan besar bahwa klaimnya memang benar.

Tanpa saksi yang terlihat, jawabannya mudah. Dia bisa saja menyelesaikannya melalui kekuatan. Yang tertinggal hanyalah mayat dengan leher yang patah.

Tapi itu hanya ketika benar-benar diperlukan. Itu adalah metode terakhir dan buntu yang digunakan ketika berbenturan dengan tujuan tuannya. Itu tidak bisa digunakan demi gadis yang tidak diketahui yang baru saja dia temui ini.

Lalu apakah membiarkan gadis itu adalah pilihan yang benar?

Sebas merasa rasa jengkelnya meningkat karena senyum kasar pria itu.

"Bisakah seorang kepala pelayan yang hebat dan span sepertimu membuat masalah untuk tuanmu di belakang mereka?"

Pria itu sekarang menyeringai, melihat bagaimana Sebas yang mengerutkan dahi menjadi sangat jelas, dia pasti menyadari bahwa dia telah memegang kelemahan kepala pelayan itu.

"Aku tidak tahu bangsawan mana yang kamu layani, tapi bukankah kamu akan melukai tuanmu jika kamu menyebabkan masalah? Ahn? Dan siapa tahu, bangsawan itu mungkin memiliki hubungan yang bagus dengan kami. Bukankah kamu akan dimarahi?"

"...Apa kamu kira tuanku adalah seseorang yang tidak bisa mengurusi hukum? Peraturan dibuat untuk dihancurkan oleh yang kuat."

Seakan jika dia mengenainya, pria itu terlihat sesaat ketakutan tapi langsung memperoleh rasa percaya dirinya.

"...Jadi bagaimana kalau kamu mencobanya?"

"...Hmm."

Pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda jatuh ke dalam sesumbar Sebas. Yang mendukungnya pasti adalah figur yang sangat berpengaruh. Memutuskan bahwa menyerang dari arah ini tidak efektif, Sebas memutuskan untuk mendekati dari sudut pandang yang lain.

"...Kamu mungkin benar. Berbenturan dengan hukum mungkin memang sangat menyusahkan. Namun, ada hukum juga yang menyatakan bawah seseorang boleh menyelamatkan orang lain dengan paksaan jika memang membutuhkan. Aku hanya mengikuti hukum dan memberinya bantuan. Pertama dan yang terakhir, karena dia kelihatannya tidak sadar, Aku yakin dia harus dibawa ke kuil untuk dirawat. Apakah kamu setuju?"

"Uh... tidak.. itu.."

Pria itu kelihatannya kehilangan kata-kata.

Topengnya sudah terbongkar.

Sebas merasa lega bahwa pria itu adalah aktor yang payah dan si bodoh yang berotak lemah. Dia telah berbohong. Karena pihak lain menyebutkan hukum, Sebas hanya memilih melakukan hal yang sama.

Sebas, yang tidak akrab dengan hukum negara ini, tidak akan mungkin bisa merespon jika pria itu menegurnya dengan hukum lain; meskipun pria itu berbohong. Pria itu akhirnya berada di posisi ini karena dia hanya tahu hukum dari yang dia dengar dan tidak repot-repot mempelajarinya.

Karena pengetahuannya terhadap hukum adalah apa yang dia dengar, itu akan kembali menggigitnya jika musuhnya memiliki untuk berdebat secara legalitas. Dan pria itu kelihatannya adalah anggota peringkat rendah dari organisasinya. Dia tidak terbiasa berada di posisi dimana dia membuat keputusan sendiri.

Sebas membuang matanya dari pria tersebut dan membawa mendekati kepala gadis itu.

"Apakah kamu ingin aku menolongmu?"

Sebas bertanya kepadanya. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah bibir gadis yang retak dan mendesau itu.

Suara samar-samar dari nafasnya mengalir ke telinga Sebas. Tidak, apakah itu bisa disebut seperti itu? Itu adalah suara dari udara tersisa yang terakhir keluar dari balon.

Tidak ada respon. Sebas sedikit memutar kepalanya dan bertanya sekali lagi.

"Apakah kamu ingin aku menolongmu?"

Keadaan yang berputar di sekeliling dari membantu gadis itu dan wanita tua sebelumnya sangat berbeda. Meskipun Sebas memang ingin membantu orang lain yang membutuhkan, ada kemungkinan yang besar bahwa menolong gadis ini akan membawanya ke dalam masalah yang tidak kecil. Sebas measa seakan angin yang dingin melewati hatinya. Dia khawatir apakah Supreme Being akan mengizinkan atau tidak tindakan semacam itu, tentang bagaiana ini mungkin akan mengkhianati tujuan yang lebih tinggi.

Seperti yang diduga, tidak ada balasan.

Wajah pria itu pelan-pelan menjadi senyuman kasar.

Bagi seseorang yang sangat familiar dengan keadaannya yang seperti neraka, jelas sekali bahwa dia bahkan tidak akan memiliki energi untuk bicara. Jika tidak, pria itu pasti tidak akan menariknya keluar untuk membuangnya dari awal.

Sebuah keberuntungan tidak muncul pada akhirnya. Jika memang sering terjadi, maka itu bukan disebut keberuntungan dari awalnya.

Benar sekali. Jika tangan yang menggenggam ujung celana Sebas adalah sebuah keberuntungan, maka tidak akan ada yang kedua kalinya.

-Keberuntungan gadis itu sudah habis saat Sebas melangkahkan kaki ke tempat ini. Semua yang mengikuti setelahnya adalah hasil dari keinginannya untuk hidup.

Itu - takkan pernah terjadi karena keberuntungan.

-Sedikit.

-Meskipun sangat sedikit, mulutnya bergerak. Suaranya tidak mengalir secara alami seperti bagaimana dia bernafas. Mereka mengandung keinginan yang jelas dan berbeda.

"--"

Mendengar kalimat itu, Sebas memberikan sebuah anggukan.

"...Aku tidak berniat menyelamatkan mereka yang hanya berdoa agar yang lainnya mengulurkan tangan mereka, seperti tanaman yang menunggu hujan. Namun... jika mereka sendiri bertarung untuk selamat...."

Sebas menutupi mata gadis itu dengan tangannya.

"Jangan takut, istirahatlah sekarang. Aku akan menempatkanmu di bawah perlindunganku."

Bergantung kepada sensasi hangat dan lembut, gadis itu menutup matanya yang buram.

Pria itu tidak percaya dan mencoba untuk mengeluarkan respon suara yang jelas.

"Kamu boho.."

Sisanya tidak bisa terdengar. Tubuh pria itu membeku, suaranya tersendat di tenggorokan.

"Apakah kamu berkata bahwa aku bohong?"

Sebelum siapapun bisa melihat, Sebas berdiri, menusuk pria itu dengan tatapannya.

Matanya sangat menakutkan.

Nafas pria tersebut menjadi pendek-pendek karena sensasi di hatinya yang hampir meledak.

"Apakah kamu mengklaim bahwa aku akan berbohong kepadamu?"

"Uh, ti.. tidak."

Gulp, Tenggorokan pria tersebut bergerak saat dia menelan air liur dalam jumlah besar yang dikumpulkan di mulutnya. Matanya menjadi terpaku ke lengan Sebas. Ketakutan yang dia dengan bodohnya lupakan karena tidak tahu tempatnya telah kembali.

"Kalau begitu aku akan membawanya bersamaku."

"A- Anda tidak boleh! Tidak, jangan, tuan, anda tidak boleh!"

Sebas menatap pria yang meninggikan suaranya lagi.

"Apakah kamu masih memiliki sesuatu untuk dikatakan? Apakah kamu mencoba untuk mengulur waktu?"

"Ti..Tidak tuan, bukan begitu. Aku bilang kepada anda bahwa akan menjadi masalah yang sangat besar jika anda membawa gadis itu, bagi anda dan juga bagi tuan anda. Eight Finger, apakah kamu tidak tahu mereka?"

Sebas telah mendengar mereka dari informasi yang dikumpulkan. Mereka adalah sebuah organisasi kriminal yang bergerak dari bayang-bayang Kingdom.

"Anda mengerti, ya kan? Tolong tuan, pura-pura saja anda tidak melihat apapun. Jika anda membawanya maka mereka akan menghukum saya karena sudah mengacaukannya."

Pria itu menyadari bahwa dia tidak bisa menang dengan kekuatan dan mengambil sikap memuji. Sebas melihatnya dengan tatapan dingin dan berbicara dengan suara yang dingin pula.

"Aku akan membawanya denganku."

"Ampuni aku, Aku mohon pada anda! Aku bisa tewas!"

Mungkin seharusnya aku membunuhnya disini.

Sebas terjatuh ke dalam pemikiran. Dia bisa mendengar pria yang menangis itu sambil menimbang konsekuensi positif atau negatif dari membunuhnya.

Meskipun dia mengira bahwa pria itu mencoba untuk mengulur waktu agar sekutunya tiba, dia menyingkirkan kemungkinan itu saat melihat sikapnya.

"Mengapa kamu tidak memanggil bantuan?"

Pria itu berkedip dan langsung membalas.

Menurutnya, jika dia kehilangan mereka ketika dia meminta bantuan, kenyataan bahwa dia membuat kesalahan fatal akan diketahui oleh kawan-kawannya. Dia juga tidak berpikir bahwa mereka akan menang sepertinya, meskipun dengan lebih banyak orang. Itulah kenapa dia mencoba untuk meyakinkan Sebas untuk berubah pikiran.

Melihat sikap menyedihkan itu, Sebas merasa tekanan telah lepas dari tubuhnya. Nafsu membunuhnya telah hilang. Meskipun, dengan berkata demikian, dia tidak berniat untuk menyerahkan gadis itu kepadanya. Jika begitu-

"....Bagaimana kalau kamu lari?"

"Itu tidak mungkin tuan. Aku tidak punya uang untuk itu."

"Meskipun aku tidak mengira itu akan lebih mahal dari nyawamu...Aku akan memberimu uang."

Cahaya kembali ke wajah pria itu dari perkatan Sebas.

Meskipun lebih aman baginya untuk membununya, jika dia mati-matian kabur maka setidaknya akan mengulur waktu. Sementara itu, dia bisa merawat luka gadis tersebut dan memindahkannya ke tempat yang aman.

Dan jika dia harus membunuh pria itu disini, ada kemungkinan besar mereka akan mencari gadis yang langsung hilang.

Mirip dengan bagaimana keadaan akan berakhir seperti keadaan gadis ini yang nantinya tidak diketahui, dia tidak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa ini akan melukai rekan dan keluarganya.

Sebas bingung. Mengapa dia harus sejauh itu untuk menerima seluruh resiko?

Dia tidak mengerti dimana tempat yang memicu hatinya untuk menyelamatkan gadis ini dari tempat asalnya. Penghuni Nazarick yang lain pasti akan mengabaikannya, berkata bahwa mereka tidak bisa diganggu. Mereka akan mencoba melepaskan tangan gadis itu dan pergi.

-Seseorang harus menolong orang lain yang sedang membutuhkan.

Sebas merespon pria itu, menyingkirkan riak di hatinya yang bahkan dirinya sendiri tak bisa menjelaskan. Sekarang bukan waktunya berpikir demikian.

"Gunakan uang itu untuk mempekerjakan seorang petualang dan lakukan apapun sebisamu untuk kabur."

Saat Sebas mengeluarkan kantung kulit, mata pria itu dipenuhi dengan keraguan. Jumlah uang yang bisa mencukupi kantung kecil itu tidak cukup.

Namun, beberapa saat kemudian, mata pria tersebut menjadi terpaku pada koin-koin yang dilemparkan ke tanah. Kilauan yang seperti perak itu adalah platinum yang digunakan ketika melakukan perdagangan antar negara. Bernilai sepuluh kali lebih besar dari emas, sepuluh koin itu berserakan.

"Semuanya, apakah kamu mengerti? Aku juga punya beberapa pertanyaan. Berapa lama kamu harus menjawab mereka?"

"Uh, untuk sementara tidak apa. Menyingkirkan.. um, tidak, aku bilang pada mereka aku akan pergi untuk membawa mereka ke kuil jadi aku agak telat."

"Ternyata begitu. Kalau begitu ayo pergilah."

Membuat perkataannya seringkas mungkin, Sebas memberi isyarat kepada pria tersebut dengan dagunya dan berjalan dengan gadis itu di tangannya.

5 comments:

Muava Hino said...

keren mimin.. nunggu lanjutannya.. bahasa inggris payah.. mohon bantuannya..

brian torao said...

sankyu overlord vol. 5 bab 3 bag. 1

luck nut said...

Bang admin? Kapan di lanjut lagiii? Penasaran bgt nih sama lanjutannya... Please ya dilanjuut, trus kalo ada halangan kabar-kabarin dong, kasi status kabar biar kita pada tau kabar kelanjutannya...
Makasi banyak ya bang,,,,

Anwar Shadaad said...

kadang tranlate nya bikin bingung sehingga harus liat versi inggrisnya biar paham maksud sebenarnya. tapi tetep gan makasih sudah mentransalte overlord, karna ane juga gak ngerti kalo cuma baca versi inggrisnya. tetap semangat gan.

Unknown said...

Sebas pemborosan ainz susah2 cariin uang ama dia main kasih aje....

Powered by Blogger.