Overlord - Vol 4 - Chapter 4 Part 3

Dawn of Despair - Fajar Keputusasaan

Part 3


Overlord Light Novel Bahasa IndonesiaAda tipe ability (kemampuan) yang disebut 'Danger Perception' (Persepsi / Tanggap Bahaya).

Diantara para adventure (petualang), bandit, dan mereka yang memiliki skill discovery-base (berbasis pendeteksian). Seperti namanya, itu adalah ability yang terbagi menjadi dua tipe. Tipe kesatu tidak bergantung pada penalaran atau pengamatan, hanya bergantung pada indra yang memicu daya tanggap akan bahaya. Tipe yang lain adalah daya tanggap yang bergantung pada penalaran dan pengamatan yang diakumulasikan dari pengalaman. Yang pertama bisa disebut sebagai indra keenam perasaan internal, dan yang kedua bisa dideskripsikan sebagai sesuatu yang berasal dari perubahan kecil di sekeliling - sesuatu dengan perubah semenit pada suara dan bau.

Yang kedua akan meningkat secara wajar di medan perang dan ketika bertualang seorang diri (solo adventure), meskipun tidak dilatih dengan sengaja. Bisa didapatkan melalui pengalaman dengan menempatkan diri pada situasi bahaya.

Dan bijaksananya, aspek kemampuan ini pada lizardmen berkali-kali lebih besar daripada manusia. Secara biologisnya, organ sensor mereka lebih sensitif, karena mereka hidup di dalam lingkungan yang keras. Manusia cenderung hidup di tempat yang aman jauh dari monster-monster, dimana lizardmen hidup dengan bertetangga monster-monster seperti itu.


Zaryusu, yang adalah seorang traveler dan sering bepergian sendiri, bahkan lebih sensitif terhadap perubahan sedikitpun di lingkungannya.

Merasakan tekanan yang memenuhi udara, dia membuka matanya.

Di depannya adalah kamar yang terasa akrab - Meskipun dia hanya tinggal disini baru beberapa hari. Manusia, meskipun mereka mencobanya, tidak akan mampu membuat membuat detil tentang kamar ini yang tidak memiliki sumber cahaya, tapi tidak sesulit itu bagi lizardmen.

Tidak ada yang aneh di kamar ini.

Zaryusu melihat sekelilingnya, dan setelah memastikan tak ada obyek yang aneh, dia menghela nafas lega saat bergera duduk tegak.

Dia adalah warrior yang luar biasa, itulah kenapa meskipun di sedang tidur beberapa saat yang lalu, dia bangun dengan normal. Tidak ada masalah ngantuk, seakan ia cukup aktif untuk bisa langsung masuk ke dalam pertempuran.

Ini juga ada kaitannya dengan kenyataan bahwa lizardmen adalah makhluk yang terbiasa tidur ringan.

Namun, Crusch yang tidur di samping Zaryusu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

Karena kehilangan kehangatan tubuh Zaryusu, Crusch hanya bergumam lirih sabil tidur.

Jika itu adalah keadaan biasa, Crusch juga akan merasakan perubahan di udara dan bangun, namun kali ini kelihatannya dia tidak menyadarinya sama sekali.

Zaryusu merasa sedikit menyesal, apakah dia telah membuat Crusch memikul terlalu banyak beban atau tidak?

Dia teringat tadi malam, dan menemukan pendapat bahwa beban pada Crusch mungkin lebih besar darinya. Selama operasi dalam mengalahkan musuh yang kuat, Lich, Crusch yang seorang wanita telah memikul beban yang lebih berat daripada Zaryusu yang seorang pria.

Dia sendiri berharap bahwa dia bisa membiarkan Crusch untuk terus tidur, tapi setelah mendengar baik-baik, dia bisa mendengar gerakan tergesa-gesa dari banyak lizardmen dari balik pintu rumah. Saat ini berbagai macam bahaya telah terjadi, tidak membangunkan Crusch mungkin akan lebih bahaya....

"Crusch, Crusch."

Zaryusu menggunakan sedikit kekuatannya untuk membangunkan Crusch beberapa kali.

"Mmm...Mmmm..."

Crusch menggulung ekornya, lalu langsung membuka matanya yang merah.

"Mmm...?"

"Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi."

Kalimat ini membuat Crusch yang masih ngantuk langsung membuka matanya lebar-lebar. Zaryusu mengambil Frost Pain yang ada di sampingnya dan langsung berdiri, dan tak lama setelahnya, Crusch juga sudah keluar dari tempat tidur.

Keduanya berjalan keluar dan langsung mengerti alasan dari keributan.

Mereka melihat awan gelap yang tebal yang menutupi udara di atas desa.

Melihat di kejauhan, mereka bisa langsung tahu bahwa awan gelap tersebut benar-benar berbeda dari awan gelap biasa. Ini karena langit yang cerah tanpa awan di kejauhan.

Itu juga berarti bahwa ini adalah -

"Mereka... kembali?"

Itu adalah tanda dari musuh untuk serangan lain-

"Kelihatannya begitu."

Crusch setuju dengan pemandangan ini. Seluruh lizardmen dari lima suku yang telah berkumpul bersama untuk bertarung bisa melihat awan gelap di tengah langit, dan sedang membicarakannya. Namun tak ada yang terlihat takut di wajah mereka.

Itu karena mereka adalah pemenang dari keadaan yang tidak menguntungkan di peperangan sebelumnya, membuat semuanya menjadi lebih bersemangat.

Keduanya berlari menuju desa, mengeluarkan suara percikan air ketika mereka berlari. Keduanya melewati beberapa lizardmen yang sedang melakukan persiapan perang mereka, dan tak lama telah sampai di pintu masuk utama.

Ada banyak lizardmen kelas warrior yang sudah berkumpul di pintu masuk utama, seluruhnya memandang keluar dengan hati-hati. Termasuk diantara mereka adalah rekan-rekan yang familiar, seseorang yang telah melewati neraka dan kembali dengan mereka, Zenberu dan di sampingnya adalah kepala suku dari Small Fang.

Setelah Zenberu melambaikan tangan ke arah dua individu yang sedang membuat suara percikan saat berlari mendekat, dia langsung mengarahkan dagunya ke arah luar pintu masuk.

Zaryusu dan Crusch berdiri di samping Zenberu dan mengamati keadaan luar dari pintu masuk.

Di sisi lain dari tepi danau, di perbatasan antara wetland (tanah basah) dan hutan, ada sebuah pasukan yang terdiri dari skeleton.

"Jadi mereka datang lagi."

"Huh.."

Zaryusu merespon Zenberu, lalu mengeluarkan suara klik dengan lidahnya.

Ini sudah diantisipasi, kecuali mereka datang terlalu cepat. Pertama dia mengingat karena kekalahan mereka terlalu parah, mereka akan membutuhkan beberapa waktu untuk mengisi kembali pasukan mereka, dan tidak mempertimbangkan bahwa dirinya benar-benar salah perhitungan. Kelihatannya, musuh mampu sekali lagi menggerakkan unit pasukan besar.

"...Namun, skeleton-skeleton ini seharusnya lebih lemah dari yang disebut Lich kemarin."

Kalimat itu memiliki arti tersembunyi. Apa yang dimaksud oleh Zenberu adalah bahwa dia percaya pasukan skeleton yang sekarang ini kenyataannya lebih kuat daripada yang menyerang sebelumnya.

Zaryusu juga mengamati dengan teliti skeleton-skeleton yang berbaris di tepian dari sisi lain. Ini untuk mengukur kekuatan dari musuh, lalu melakukan tindakan bertahan yang tepat.

Memang benar, mereka semua adalah skeleton, tapi kali ini berbeda dari sebelumnya.

Dari tampilan luarnya, perbedaan terbesar adalah perlengkapan mereka. Skeleton yang sebelumnya hanya memakai pedang berkarat, tapi skeleton kali ini sangat lengkap equipmentnya. Terlebih lagi, fisik mereka kelihatannya lebih baik  daripada yang terakhir kali. Skeleton itu kelihatannya memiliki tiga jenis equipment berbeda.

Yang paling banyak dari skeleton itu memakai pelindung dada yang rumit, di satu tangan mereka memegang perisai dengan bentuk segitiga, perisai layang-layang, dan di tangan lain mereka memegang berbagai macam senjata. Mereka bahkan membawa busur compound dan tempat anak panah di punggungnya. Ini adalah skeleton-skeleton yang lengkap baik serangan dan pertahanan, dengan kemampuan bertarung baik jarak pendek atau panjang.

Selanjutnya adalah skeleton-skeleton yang memakai penutup kepala (helmet) yang memakai pelindung dada yang mirip, ditutupi dengan jubah merah yang compang camping, memegang perisai kecil berbentuk bulat (buckler) dan pedang panjang dari Inggris (bastard sword).

Akhirnya, yang memiliki jumlah yang paling kecil, adalah skeleton-skeleton yang memakai equipment lengkap. Mereka memakai armor full body dari emas yang berkilau dengan indah, dan tombak yang mengkilap di tangan mereka. Jubah merah yang bersih berkilau tidak ada sedikitpun noda.

Zaryusu mengamati sebanyak ini, dan menemukan fakta khusus. Dia merasa ragu jika dia telah salah lihat, dan menggosok matanya berkali-kali. Namun itu memang kenyataan.

"Eh.... tidak mungkin.."

"Ba.. Bagaimana mungkin..."

Di waktu yang sama dengan Crusch yang berteriak, Zaryusu menemukan fakta diucapkan tanpa sengajar dengan suara lirih yang berat. Kali ini, Zenberu membalas:

"...Oh, kamu menyadarinya juga."

Suara Zenberu juga sangat berat.

"Mmm.."

Zaryusu telah selesai berbicara, dan tetap diam. Dia tidak ingin bicara, karena ketika ucapan sudah keluar, dia akan ketakutan. Namun tidak mungkin untuk tetap diam:

"...Senjata mereka kelihatannya adalah equipment magic."

Crusch yang ada di sampingnya mengangguk serius.

Berbagai macam equipment pada pasukan skeleton itu membawa kekuatan magic. beberapa skeleton membawa pedang api, yang lainnya memegang palu dengan listrik biru, dan beberapa skeleton bahkan memegang tombak dengan ujung yang terbungkus cahaya hijau, atau sabit yang dibungkus dengan cairan ungu kental.

"Kelihatannya bukan hanya itu. Kalian berdua seharusnya melihat dengan jelas armor dan perisainya. Mereka.. juga adalah equipment pertahanan magic."

Mendengar Zenberu yang mengutarakan kalimat ini, Zaryusu langsung melihat dengan dekat.

Setelah itu dia bahkan tidak sengaja mengeluarkan rintihan. Ini karena Zaryusu menemukan bahwa armor yang mengkilap dan perisai yang kelihatannya seperti mengeluarkan cahaya alami, dan sama sekali tidak terlihat seperti cahaya yang berasal dari pantulan sinar matahari.

Kekuasaan macam apa yang bisa membuat pasukan skeleton sebanyak itu memakai item magic? Jika hanya senjata magic yang meningkatkan ketajaman, Zaryusu pernah mendengarnya sangat mungkin bagi negara yang besar untuk memperoleh jumlah sebanyak ini dalam waktu yang lama dalam perencanaan dan akumulasinya. Namun, bisa membuat masing-masing atribut menempel pada masing-masing senjata - terlebih lagi jumlah variasi efeknya yang sangat banyak - adalah hal yang benar-benar berbeda.

Zaryusu teringat dwarve yang disebut oleh Zenberu beberapa hari yang lalu.

Dwarve adalah ras gunung yang ahli dalam pekerjaan yang berhubungan dengan logam. Ketika pesta, dwarve-dwarve itu sering berbicara tentang sebuah legendar dari pahlawan tertentu - raja yang yang mendirikan kerajaan dwarve yang besar, pahlawan yang memakai armor logam yang berkilauan dan sendirian mengalahkan seekor naga, lalu menjadi salah satu dari tiga belas pahlawan, 'Magic Engineer'. Bahkan di dalam legenda yang diceritakan oleh dwarve, tak ada cerita yang mengatakan tentang persiapan equipment magic hingga sebesar ini - untuk sebuah pasukan yang lebih dari lima ribu unit.

Lalu, apa yang ada di depan Zaryusu?

"...Apakah itu adalah pasukan dari mitos?"

Jika ini bukanlah cerita dari umat manusia, maka itu pasti adalah skenario dari cerita mitos.

Seluruh tubuh Zaryusu gemetar. Karena dia menyadari bahwa ini jauh di luar prediksinya, dan mereka sedang menghadapi musuh yang sama sekali tidak boleh diprovokasi.

Namun, sejak dari awal, dia sendiri telah mengumpulkan semua orang sambil menyadari kenyataa bahwa mereka bisa saja dimusnahkan. Bagaimana mungkin dia, yang telah memulai peperangan tidak patut ini, menjadi takut? Dia sudah menyadari bahwa musuh adalah musuh yang kuat yang melebihi bayangan mereka. Yang terpenting adalah apa yang harus dilakukan sekarang.

"Tidak mungkin. Ini pasti cuman ilusi."

Semua orang disana yang mendengar ucapan ini langsung menunjukkan ekspresi yang berkata "Omong kosong macam apa yang kamu ucapkan." Musuh memang diam dan tak bergerak, tapi kehadiran mereka sudah sangat jelas. Mereka bahkan mengeluarkan udara yang membuat orang-orang menjadi merinding, oleh karena itu mereka tidak mungkin cuman ilusi.

Namun, kalimat ini akan membuat kebingungan, karena itulah orang yang memecah keheningan ini adalah kepala suku dari Small Fang. Dia sama sekali tidak gila, itulah kenapa dia mengatakan kalimat ini.

"Dasar apa yang kamu miliki sehingga mengeluarkan pernyataan seperti itu?"

Terhadap pertanyaan Zaryusu, kepala suku Small Fang dengan percaya diri menjawab:

"Kita telah bergiliran mengirimkan mata-mata, namun tak ada yang melihat undead seperti ini sebelumnya. Dengan jumlah yang sebesar itu, tidak mungkin mereka bisa tetap tidak terlihat. Tentu saja, seluruh mata-mata yang dikirim kembali dengan selamat."

"Jadi itu alasannya...namun, aku rasa itu bukan ilusi."

"...Tapi kalau begitu.... tidak, mungkin saja itu memang bukan ilusi, jika itu bukan ilusi, kita bisa membayangkan terowongan bawah tanah digunakan untuk memindahkan mereka. Jika memang ada jalan bawah tanah seperti itu, maka bisa dijelaskan mengapa mereka tidak ditemukan sebelum mereka datang."

"..Tidak perduli bagaimana mereka caranya mereka kemari, atau apakah mereka terbang menembus langit. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Meskipun mereka tidak berniat memulai serangan, mereka kemari rasanya masih tetap bukan untuk bernegosiasi."

"Kelihatannya memang begitu..namun, ingatlah terhadap situasi sebelumnya. Aku merasa musuh akan melakukan tindakan awal..."

Zaryusu melihat pasukan skeleton.

Dia sedang mencari komandan diantara musuh - saat ini, sebuah angin yang dingin bertiup. Angin tersebut tidak berhenti dan terus bertiup.

Angin yang dingin dan aneh sepeti ini bukanlah fenomena biasa. Ini pasti dibuat oleh magic.

"Angin? Eh... tidak mungkin! Ini pasti magic jenis lain... bagaimana mungkin ini..."

Crusch memeluk dirinya dan gemetar. Alasannya kelihatannya bukan karena dia merasa kedinginan, oleh karena itu Zaryusu bertanya:

"Crusch, ada apa dengan angin dingin ini..."

"...Mungkin kamu tidak akan mempercayai ini, tapi dengarkan aku Zaryusu. Aku pada dasarnya mengira perubahan cuaca di waktu yang lalu disebabkan oleh magic dari tingkat 4, 'Cloud Control' (Pengendalian awan), tapi aku salah. Meskipun 'Cloud Control' mampu mengendalikan awan, tapi tidak bisa membuat angin dingin semacam ini. Itulah kenapa... ini pasti bukan pengendalian awan sederana, namun benar-benar perubahan cuaca dan meteorologi. Itu artinya aku yakin musuh sudah mengaktifkan magic tingkat 6... 'Weather Control' (Pengendalian Cuaca)."

Namun, magic semacam itu berada di ranah yang jauh diluar kemampuannya, itulah kenapa Crusch tidak percaya diri -  Crusch menjelaskan ini kepada Zaryusu dalam suara lirih, sehingga tak ada yang kedengaran.

Zaryusu tahu betapa mengagetkannya bisa memiliki magic di ranah tingkat 6. Magic semacam itu adalah dunia yang tidak bisa diraih oleh musuh yang paling kuat yang pernah dia hadapi, Iguvua. Juga dipercayai sebagai magic tingkat tertinggi di dunia ini.

"Apakah ini... adalah kekuatan dari Supreme One? jadi memang begitu... kalau begitu semuanya masuk akal.."

Jika magic tingkat 6 bisa digunakan, maka dipuja sebagai 'Supreme One' bukanlah hal yang berlebihan.

"Hey, hey, hey, tampaknya semua orang jauh dari kata baik-baik saja."

Protes Zenberu ditujukan secara akurat kepada suasana di sekitarnya.

Angin dingin yang tidak mungkin muncul saat ini - artinya bahwa ini adalah perubahan tidak wajar dari lingkungan. Ini menyebabkan moral lizardmen menjadi terjatuh hingga tingkat terendah.

Derajat perubahan hanya sampai awan terakhir kali. Jika hanya itu, meskipun druid bisa melakukannya dengan melakukan upacara api unggun yang besar bersama-sama. Namun, ketika lizardmen merasakan angin yang mirip ketika musim gugur seperti ini, mereka menyadari bahwa musuh memiliki kekuatan yang besar. Kekuatan untuk mengendalikan cuaca, yang mana seharusnya adalah fenomena alam yang tidak bisa dikendalikan.

Meskipun mereka tidak mendengar kalimat Crusch, angin dingin yang terus bertiup sudah cukup untuk menggambarkan seberapa kuat lawan pertempuran mereka nantinya.

"Cheh, musuh sudah mulai bergerak."

Zaryusu menggeretakkan gigi-giginya, menggunakan semangat untuk menahan ekornya yang ingin bergerak kesana kemari. Seperti yang dia duga, tentu saja musuh akan memilih momen seperti ini untuk bergerak.

Setelah pasukan skeleton yang tertata rapi mulai maju, bergerak dengan rapi dengan langkah kaki yang jaraknya sama, lizardmen kelas warrior di dekatnya langsung menjadi gugup, dan beberapa orang bahkan mengeluarkan raungan peingatan yang dalam. Namun, Zaryusu yang mengamati pasukan skeleton yang bergerak tanpa suara, membentuk opini berbeda. Itu bukan awal dari pertempuran.

Saat Zaryusu dan Zenberu akan berteriak keras kepada lizardmen untuk tenang-

"-Tenanglah!"

Suara teriakan yang agung membuat riak di udara terdengar.

Semua orang melihat ke arah yang sama, dan suara itu tertuju kepada Shasuryu.

"Aku katakan sekali lagi, tenanglah."

Di dalam ruang yang hening ini, hanya suara ini yang penuh dengan rasa percaya diri dan wibawa yang bergema.

"Dan juga, jangan takut, para warrior. Terlebih lagi, kalian tidak boleh sampai mengecewakan banyak spirit leluhur di belakang kalian."

Shasuryu berjalan menembus kelompok lizardmen yang telah tenang dan diam, lalu tiba di samping Zaryusu.

"Adik, tindakan apa yang diambil musuh?"

"Hmmm, kakak, meskipun mereka mulai bergerak... mereka kelihatannya tidak bersiap bertempur."

"Hmm..."

Lima ratus skeleton yang mulai bergerak ke depan membentuk sepuluh barisan.

"Apa yang direncanakan oleh mereka?"

Seakan pasukan musuh telah menunggu pertanyaa ini keluar, mereka sekali lagi mulai bergerak.

Di bawah perintah yang sempurna dan tepat, pasukan itu terbelah ke masing-masing sisi dari yang tengah. Apa yang muncul dari celah yang ukurannya sekitar dua puluh skeleton adalah ... sebuah wujud.

Wujud itu tidak besar sekali. Bahkan dari jarak dua ratus lima puluh meter, sangat mungkin untuk melihat wujud itu lebih pendek dari Zaryusu.

Orang itu memakai jubah hitam kelam, dan memberikan aura yang menakutkan. Dia memakai pakaian yang mirip dengan lich dari pertarungan kemarin, oleh karena itu kelihatannya, musuh ini seharusnya juga adalah seorang magic caster.

Namun, ada perbedaan yang tegas antara keduanya, dan itu adalah kekuatan mereka.

Melihat wujud tersebut, Zaryusu merasa punggungnya menjadi gemetar. Instingnya mengatakan pada dirinya bahwa jika dia membandingkan orang yang baru saja muncul ini dengan Lich kemarin, perbedaan kekuatan mereka seperti bayi dengan seorang warrior.

Meskipun dari jarak antara mereka sangat besar, masih mungkin terkena aura membekukan dan menakutkan yang dikeluarkan oleh seluruh tubuh orang itu. Bukan hanya itu, tapi equipment musuh juga termasuk kelas berbeda.

Seolah-olah tidak mungkin menolak kematian - sebuah gambaran yang mendominasi sama sekali.

"Apakah itu... adalah Maharaja Kematian (Overlord of Death)?"

Zaryusu tidak tahan mengeluarkan kalimat deskripsi yang paling tepat dari makhluk ini, dan kalimat ini benar-benar tepat pada titiknya.

Orang itu adalah Maharaja yang menguasai kematian.

"..Oh, oh!"

Apa sebenarnya yang coba dilakukan oleh Maharaja Kematian ini?

Lizardmen yang melihat Magic Caster ini dengan gugup mengeluarkan suara panik berbarengan. Saat ini, sebuah formasi magic dengan bentuk separuh lingkarran yang besar dengan diameter sekitar sepuluh meter membesar dengan magic caster tersebut berada di tengahnya.

Kilauan putih dan biru mengambang di permukaan formasi magic, dengan tanda semi transparan yang terlihat seperti kalimat atau simbol. Tanda semi transparan itu berubah dengan cepat, dan setiap saat kalimat itu tidak sama.

Tak mampu memahami apa sebenarnya itu, Zaryusu merasa bingung.

Ketika seorang magic caster sedang merapal mantra, seseorang tidak akan memproyeksikannya ke udara seperti yang dia lakukan dengan formasi magicnya. Gerakan musuh saat ini sudah jauh diluar area pengetahuan Zaryusu, oleh karena itu dia menoleh ke arah lizardmen wanita disini yang akrba dengan magic dan bertanya:

"Apa itu sebenarnya?"

"A..Aku tak tahu, aku juga tidak tahu apa itu--"

Balasan Crusch sedikit ketakutan. Kelihatannya dia seperti jauh lebih ketakutan karena dia memiliki pengetahuan tentang magic namun tidak mampu memahahi tindakan tersebut.

Ketika saat itu Zaryusu berencana untuk menenangkannya...

Tidak tahu jika magic tersebut telah diaktifkan dengan sukses, formasi magic tersebut pecah berkeping-keping, menjadi partikel cahaya dengan jumlah yang sangat banyak melayang di langit. Dalam sekejap - seperti ada ledakan di langit, partikel-partikel tersebut menyebar-

Dan danaunya... benar-benar beku.

Tak ada seorangpun yang bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Shasuryu yang merupakan pimpinan suku dengan kualifikasi yang menonjol; Crusch yang memilki kekuatan druid yang luar biasa; bahkan Zaryusu seorang traveler yang telah banyak melihat dan memiliki pengetahuan yang luas. Bahkan individu-individu ini, yang merupakan dalam sejarah lizardmen termasuk memiliki kemampuan yang ajaib, tidak bisa langsung memahami situasi sekarang.

Tidak tahu mengapa kaki mereka sendiri berada di dalam es.

Tak lama - setelah beberapa saat terlewat dan otak sudah bisa menerima situasi di depan mata mereka - sebuah tangisan terdengar -

Setiap lizardmen - tepat sekali, seluruhnya mengeluarkan tangisan rintihan.

Bahkan Zaryusu pun sama. Crusch dan Shasuryu, dan bahkan Zenberu yang paling berani, tidak terkecuali. Seakan sebuah teror yang merambat dari dalam jiwa mereka, setiap orang tanpa terkecuali menjerit.

Kenyataan yang terpampang di depan mata mereka memang terlalu mengerikan. Danau, yang tak pernah beku sama sekali sejak mereka lahir, kelihatannya telah menjadi beku dan solid.

Lizardmen mengangkat kaki mereka dengan ketakutan. Untungnya lapisan es itu tidak terlalu tebal, dan langsung hancur, tapi area yang hancur langsung membeku lagi. Sebuah uap dingin datang dari bawah membuatnya jelas dan memang menyakitkan bahwa pemandangan ini bukanlah ilusi.

Setelah Zaryusu yang buru-buru memanjang dinding lumpur, dia langsung mengamati sekeliling, lalu terdiam oleh sudut pandang luas yang dia lihat.

Semua yang ada di dalam bidang pandangannya benar-benar telah membeku.

Memang benar, tidak bisa dibayangkan danau sebesar ini akan beku seluruhnya. Namun, Es yang memancar dan menutupi seluruh pandangan juga adalah kenyataan.

Di sudut pikirannya Zaryusu juga mengkhawatirkan kondisi ladang ikannya, tapi sekarang bukan waktunya untuk mengkhawatirkan tentang hal itu.

"Jangan-jangan..."

Crusch yang juga memanjat, melihat ke sekeliling dan kehilangan kata-kata seperti Zaryusu dari mulutnya yang menganga, dia mengeluarkan suara putus asa.

Seperti Zaryusu, dia tidak ingin mempercayai pemandangan yang dia lihat di depannya adalah kenyataan.

"Monster!"

Crusch mengumpat dengan suara keras, sementara di waktu yang sama berharap umpatan dan sumpah serapah ini akan meredakan ketakutan dalam dirinya.

"Cepat, ke atas sini!"

Kakaknya, Shasuryu berteriak.

Beberapa lizardmen telah terjatuh. Warrior sisanya yang masih bisa bergerak, berusaha saling membantu, menolong rekan-rekan mereka yang roboh di tanah yang beku.

Lizardmen yang ditolong itu berwajah pucat dan terus-terusan gemetar. Uap dingin yang terbang ke atas mungkin telah merampas vitalitas mereka.

"Kakak, aku akan pergi memeriksa yang lainnya!"

Zaryusu yang telah menggenggam Frost Pain tidak terpengaruh oleh udara dingin setingkat ini.

"Tidak...Jangan pergi!"

"Mengapa, kakak?!"

"Musuh mungkin akan mulai bergerak dalam waktu dekat. Kamu tidak diizinkan untuk pergi! Pahami situasi seluruhnya, jangan biarkan sedikitpun informasi yang luput! Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dipercayakan kepadamu yang telah berkelana mengelilingi dunia dan mendapatkan bermacam-macam pengetahuan."

Tatapan Shasuryu berpindah dari Zaryusu dan berganti bicara dengan seluruh lizardmen kelas warrior di sekeliling.

"Sekarang ini aku akan memberikan magic penahan dingin kepada kalian semua, 'Protection Energi Ice'. Cepat pergi dan beritahukan kepada setiap orang di desa, dan hindari melakukan kontak dengan es."

"Aku juga akan membantu memberikan magic."

"Tolonglah! Kalau begitu, Crusch mari berpisah, jika ada seseorang yang berada dalam situasi darurat, segeralah berikan magic penyembuhan!"

Crusch dan Shasuryu mulai memberikan magic pertahanan kepada lizardmen yang tidak terkena.

Zaryusu tetap di atas dinding lumpur, dan melihat ke posisi musuh dengan mata tajam, memastikan untuk menangkap setiap gerakan musuh. Sangat penting untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya oleh sang kakak dengan sempurna.

"Hey ho."

Zenberu yang memanjat ke samping Zaryusu memberikan tatapan santai ke posisi musuh.

"Kamu harus sedikit santai. Kakakmu mengharapkan pengetahuanmu ya kan? Meskipun kamu melewatkan sesuatu, dia tidak akan menyalahkanmu. Hal yang lebih penting adalah untuk tidak terlalu terpaku padanya, dan akhirnya mempersempit pandangan."

Zenberu dengan suara santai memberikan peringatan tajam kepada Zaryusu.

Sama seperti ketika bertarung melawan Lich, setiap orang harus bekerja sama dan membagi tugas, dan fokus dengan peran mereka untuk bisa menggunakan kemampuan mereka yang terbaik.

Zaryusu mengamati sekeliling dan menemukan lizardmen kelas warrior juga kelihatannya telah memanjang ke atas dinding lumpur untuk mengamati musuh. Benar, dia disini tidak untuk bertarung sendirian, tapi bertarung bahu membahu dengan setiap orang.

Kelihatannya dia yang telah menyaksikan kekuatan yang luar biasa - magic - menjadi gemetar.

Zaryusu menghembuskan sebuah nafas besar, seakan ingin menyingkirkan kekhawatiran dalam dirinya dalam sekali hembusan.

"Maaf."

"Tidak ada yang perlu untuk minta maaf."

"....Benar sekali, karena kamu, Zenberu, juga ada disini."

"ha, jangan melihatku untuk masalah yang berhubungan dengan berpikir."

Keduanya tertawa sama-sama, lalu melanjutkan mengamati gerakan musuh.

"Namun, itu benar-benar monster sejati."

"Yeah! Pada dasarnya dia berada di level yang sama sekali berbeda..."

Maharaja Kematian membuat sikap yang angkuh bak raja, dan dengan sombong pula menatap ke arah Zaryusu dan desa mereka. Tubuh yang seharusnya kecil itu terlihat membesar sepuluh kali ukurannya.

"...Dia pasti yang disebut dengan Supreme One."

"Pasti tidak salah lagi, selain itu, aku sangat berharap tidak ada lagi yang lainnya dan cukup kuat untuk merapal magic yang bisa membekukan seluruh danau."

"Benar sekali, dan aku juga berharap demikian. Di mata monster yang bahkan mampu membekukan danau, kita lizardmen tidak lebih daripada semut. Ah~ Sayang sekali! Kita tidak lebih dari serangga kecil. Ngomong-ngomong... ada gerakan."

Magic Caster yang membekukan danau mengangkat tangan yang tidak membawa tongkat, dan memberikan lambaian ke arah desa. Tindakan ini seperti sebuah perintah - Zaryusu merasa seperti itu, dan dalam gerakan selanjutnya menerima bukti yang menakutkan itu.

"Oh oh oh oh!"

Suara tersebut datang dari berbagai arah dari dalam desa.

"Apa yang... itu! Apa sebenarnya itu?!"

Setelah Zaryusu, yang berdiri disini percaya bahwa tidak ada lagi yang bisa membuatnya terkejut, melihat pemandangan di depan matanya, secara refleks memberikan tangisan yang menderita.

Apa yang muncul di depannya adalah patung raksasa dengan dua kaki dan dua lengan yang terlihat seperti muncul begitu saja dari batu.

Di bagian dadanya ada cahaya merah yang terlihat seperti detak jantung. Dengan tangan yang tebal dan kaki yang gemuk dan pendek, bentuk badannya yang gagah bahkan sedikit imut, begitulah, jika dia tidak memiliki tinggi lebih dari tiga puluh meter.

Figur batu raksasa semacam ini tiba-tiba muncul dari dalam hutan. Menyebutnya ilusi kenyataannya lebih mudah untuk diterima.

Figur batu tersebut perlahan bergerak, dan mengangkat batu yang sangat besar entah dari mana.

Dan lalu melemparkannya.

Zaryusu tanpa sadar menutup matanya. Tidak diragukan lagi, semua yang beradu dengan batu besar itu tidak akan bertemu apapun kecuali kematian mutlak.

Di dalam kegelapan, Zaryusu mendengar suara gerakan orang terkejut, dan suara benturan yang luar biasa sampai kepadanya. Bahkan dinding lumpur bergetar keras.

Ini diikuti dengan suara hujan deras - suara dari kerikil yang memantul karena terjatuh ke tanah, dan suara kaget baik yang dewasa maupun anak-anak dari desa.

Meskipun dia sudah terbiasa dengan kematian, dirinya masih tidak bisa mentolerir menghadapi pemandangan horror yang jauh diluar bayangannya. Pelajaran mengagetkan beberapa saat yang lalu bahkan membuat mereka yang bertarung dengan penuh semangat kemenangan di perang yang sebelumnya berteriak seperti anak kecil.

Menenangkan diri dengan kenyataan bahwa dia masih hidup, Zaryusu menghembuskan nafas dan menenangkan dirinya. Setelah dengan hati-hati membuka mata, apa yang dia lihat dan terpantul di matanya adalah pemandangan pasukan undead yang mulai bergerak, dan figur patung batu yang sudah tak terlihat lagi.

Di tanah basah antara dua pasukan itu ada batu raksasa yang sebelumnya tidak ada. pasukan undead mendekat ke batu tersebut, mengangkat perisai mereka menjadi rata di atas kepala sebelum berlutut. Skeleton lain melompat ke atas perisai yang terangkat tersebut, dengan tangkas mempertahankan keseimbangan mereka, lalu seperti skeleton yang ada di bawahnya, juga mengangkat perisai mereka sendiri.

Saat ini, Zaryusu mengerti apa yang dilakukan musuhnya dan, seakan tersambar petir, dia mulai gemetar.

"Jangan-jangan...tangga? Kelihatannya bahkan pasukan seperti dalam mitos hanya digunakan sebagai tangga!"

Skeleton-skeleton tersebut mendekati batu besar dengan kecepatan yang abnormal - dan tangga yang terbuat dari unit pasukan undead akhirnya selesai.

Selanjutnya, pasukan undead lainnya juga mulai bergerak. Undead ini bahkan lebih menakjubkan kelihatannya dariapda skeleton tadi, dan jumlahnya sekitar seratus. Di tangan mereka ada tombak dengan selembar kain yang menempel, seperti tombak yang digunakan oleh penunggang kuda.

Kain merah terang - seluruh bendera di tombak itu memiliki satu emblem.

Undead tersebut memakai jubah yang berkibar terkena angin, dan melangkahkan kaki mereka ke tanah basah satu persatu secara serempak, bergerak maju tanpa suara sambil membuat es di bawah kaki mereka hancur. Gerakan ini diikuti oleh kelompok lain dari skeleton-skeleton yang juga memasuki wetland secara serempak. Kelompok kedua mempertahankan jarak yang sama dari kelompok pertama sebelum berhenti dan menyilangkan tombak-tombak mereka dengan skeleton di sisi lainnya.

Tombak yang bersilangan membentuk sebuah jalan yang langsung menuju ke batu besar.

"....Apakah itu jalan bagi sang Maharaja?"

Zenberu benar.

Magic Caster 'kematian' melangkahkan kaki ke jalan yang dibuat oleh undead-undead itu, dan mengikuti di belakangnya banyak tokoh yang terlihat muncul entah darimana.

Yang memimpin di jalan tersebut adalah seorang magic caster yang kekuatan sebenarnya telah mencapai ketinggian yang tidak terduga.

Di tubuhnya dia memakai changpao hitam legam, gelap sekali seakan kain tersebut baru saja dipotong dari gelapnya malam, dan di tangannya di menggenggam sebuah tongkat yang mengeluarkan aura hitam. Aura yang memancar tersebut tampaknya membentuk ekspresi manusia yang sedang kesakitan, yang runtuh dan menghilang. Bahkan di bawah tudung tersebut terdapat tengkorak, dengan lubang mata yang kosong dan hanya ada sebuah cahaya merah kecil pada masing-masing lubang itu.

Musuh mengenakan aksesoris magic tak terhitung jumlahnya yang benar-benar di luar pemahaman dari Zaryusu, dan berjalan ke depan dengan kecepatan yang setara dengan seorang raja.

Ada seorang wanita berbaju putih yang mengikuti di belakangnya. Meskipun dia memiliki penampilan seperti manusia, ada satu area tertentu yang membedakannya dari manusia. Yaitu, sayap yang menempel di tubuhnya pada area pinggang.

"Wanita itu jangan-jangan.... devil?"

Devil.

Demon adalah mereka yang menggunakan kekerasan untuk membawa kehancuran, dan devil adalah mereka yang menggunakan kecerdasan mereka untuk membawa kerusakan moral. Wujud-wujud dari dunia lain ini yang berkumpul dikenal dengan demon. Dikatakan bahwa mereka adalah monster-monster mengerikan yang hanya ada untuk memusnahkan seluruh makhluk berakal dan makhluk hidup yang baik. Mereka juga memiliki persamaan kata dengan 'evil'.

Zaryusu pernah mendengar tentang demon selama perjalanannya.

Dia telah mendengar bagaimana menakutkannya demon itu. Dikatakan bahwa dua ratus tahun yang lalu, makhluk yang disebut sebagai raja demon - Demon God - telah memimpin demon di bawah panji-panjinya, dan hampir memusnahkan seluruh dunia.

Demon God telah bertemu ajalnya di tangan tiga belas pahlawan yang telah menghabisinya, dan di tempat tertentu masih bisa dilihat bekas-bekas pertempuran itu.

Jika undead bisa dibayangkan sebagai makhluk yang membenci makhluk hidup, maka demon adalah makhluk yang menyiksa makhluk hidup.

Sepasang Dark Elf kembar mengikuti di belakang demon tersebut, dan di belakang mereka ada gadis berambut perak. Bukan hanya itu, ada juga makhluk yang aneh mengambang di udara, dan terakhir ada pria seperti manusia dengan ekor panjang.

Meskipun makhluk aneh tersebut memberikan kesan bahwa dia tidaklah kuat, sebuah tatapan dari masing-masing yang lainnya bisa membuat ekor mulai gemetar. Insting liarnya memperingatkan dirinya dengan ganas, berkata bahwa sangat penting untuk segera kabur dengan kecepatan penuh.

Barisan itu berjalan ke depan tanpa bersuara, lewat di bawah tombak-tombak bendera, dan menaiki tangga yang menuju batu besar. Tanpa ragu, mereka menginjak pasukan undead, dan berdiri di atas batu besar seperti bangsawan. Maharaja Kematian, yang berjalan di depan, mengulurkan tangannya dan memberikan lambaian.

Selanjutnya, sebuah kursi singgasana dengan sandaran yang tinggi dan memancarkan cahaya hitam muncul, Maharaja Kematian langsung duduk di atasnya.

Mereka yang berjalan di belakangnya, yang seharusnya adalah orang-orang kepercayaannya, membentuk sebuah barisan, dan seakan menunggu sesuatu mereka melihat ke arah desa. Namun selain itu, mereka tidak membuat gerakan lain apapun.

Situasi macam apa ini?

Beberapa lizardmen saling melihat satu sama lain tidak tenang, dan akhirnya memutuskan yang paling pintar dari mereka untuk membuat penilaian.

"...To..Tolong katakan pada kami, apa yang harus kami lakukan, Zaryusu-sama? Apakah kita harus bersiap-siap untuk kabur?"

Ucapan ini telah menyingkirkan niat untuk bertarung. Ketidak berdayaan mereka dan ekor yang terkulai lemas sudah cukup menunjukkan apa yang mereka rasakan di dalam diri masing-masing.

"Tidak, itu tidak perlu. Pikirkan tentang Lich yang sebelumnya. Musuh kita adalah seorang magic caster yang sejauh ini jauh lebih kuat dari Lich itu, dan membuat sebuah serangan di jarak ini seharusnya adalah mainan baginya. Hal yang menakutkan adalah... Kalimat macam apa yang ingin dia sampaikan pada kita."

Lizardmen menunjukkan ekspresi setuju.

Selama beberapa waktu, tatapan Zaryusu tetap terfokus pada barisan orang-orang yang mendekatinya. Seperti rakyat yang melihat rajanya, dia tidak berhenti mengamati makhluk-makhluk kuat yang berdiri di atas batu besar tersebut.

Ini agar dia tidak memberiarkan informasi apapun luput dari perhatiannya.

Ketika jarak di antara mereka semakin dekat, dia sudah bisa membuat pengamatan yang sangat detil, dan bisa jadi mereka sudah cukup dekat untuk saling bertukar tatapan.

Apakah Maharaja Kematian yang duduk di singgasana itu sedang mengamati lizardmen? Penampilan luar dari Dark elf tidak menunjukkan niat yang memusuhi, gadis berambut perak mengeluarkan ekspresi mengejek, tatapan lembut para demon itu telah membuat bulu-bulu bergidik, benar-benar tidak mungkin untuk bisa melihat apakah makhluk aneh itu sedang berniat sesuatu, dan pria yang memilik ekor tidak menunjukkan emosi apapun di matanya.

Setelah bertukar pengamatan seperti ini beberapa saat, Maharaja Kematian sekali lagi mengangkat tangan yang tidak memegang tongkat dengan lembut ke area dadanya. Beberapa lizardmen yang melihat tindakan ini ekornya meliuk-liuk dengan kuat.

"Jangan takut. Jangan menunjukkan penampilan yang memalukan di depan musuh kita."

Teguran Zaryusu yang setajam silet membuat seluruh lizardmen yang ada di sana langsung mengangkat kepala dan meluruskan punggung mereka.

Sejumlah awan hitam muncul di depan Maharaja Kematian, berjumlah dua puluh. Awan hitam tersebut berputar tanpa henti, semakin besar dan masing-masing menjadi berukuran sekitar seratus limat puluh sentimeter. Tak lama, wajah-wajah menakutkan muncul dari dalam awan hitam.

"Itu adalah..."

Zaryusu teringat bahwa itu adalah monster yang mendekat desa, dan juga monster undead yang sama yang dia temui ketika perjalanannya.

Meskipun dia sudah menjelaskan ini di desa Crusch, kecuali kalau mereka menggunakan senjata magic, senjata yang ditempat dari logam spesial, magic atau seni beladiri spesial, akan sangat sulit melukai makhluk tak berbadan semacam ini.

Bahkan ketika seluruh suku lizardmen dikumpulkan, mereka hanya memiliki jumlah senjata magic sangat kecil, itu artinya bahkan untuk mengalahkan satu saja dari mereka sangat sulit.

Belum lagi lawan telah mensummon dua puluh monster semacam itu dengan sangat mudah.

"...Jadi, itu artinya bisa mengendalikan kematian itu sendiri."

Zaryusu berpikir sendiri dengan putus asa bahwa musuhnya memang makhluk yang luar biasa kekuatannya bisa memiliki lich yang kuat dan setia kepadanya.

Setelah Maharaja Kematian mengeluarkan beberapa kalimat, dia mengulurkan tangannya dan melambai seakan bermaksud untuk menyuruh semuanya menyerang. Selanjutnya, monster-monster itu melayang kemari, mengelilingi desa dan mulai berkata secara serentak.

[Supreme One mengirimkan pesan ini kepada kalian.]

[Supreme One meminta berdialog. Wakilnya diharapkan untuk maju.]

[Jika kalian membuang-buang waktu kami, hanya akan membuat marah Supreme One]

Setelah deklarasi yang bersamaan ini, undead yang tak memiliki tubuh tersebut kembali ke sisi tuan mereka.

"Ha...?Tidak mungkin... Hanya itu?"

Zaryusu terpaku diam saat mengatakan ini.

Jadi dia mengirimkan undead sekuat itu hanya untuk menyampaikan pesan ini?

Namun, apa yang lebih sulit dipercayai adalah ketika gadis berambut perak, yang sedang menunggu di belakang, terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk bertepuk tangan ketiak dia menerima instruksi dari Penguasa Kematian.

Saat tangan tersebut bertepuk - undead itu langsung binasa.

"Apa!"

Zaryusu, yang sangat terkaget, tidak sadar berteriak.

Karena gerakan itu bukan untuk mengembalikan monster yang di summon, tapi untuk menghabisi mereka.

Priest bisa menghabisi Undead. Meskipun biasanya mengirimkan mereka kembali bukanlah hal yang mudah, jika ada dua individu dan ada perbedaan kekuatan yang luar biasa, mereka bisa melakukan lebih dariapda membuat undead tersebut mundur, dan bahkan secara langsung menghabisi mereka. Namun, menghabisi sekelompok undead di saat yang bersamaan adalah hal yang mustahil.

Apa artinya itu adalah kekuatan gadis berambut perak itu setara dengan Maharaja Kematian. Jika begitu, maka yang lain yang berada di sampingnya juga takutnya juga sama.

"Ha ha ha ha-"

Zaryusu tidak bisa menahan tawanya sendiri.

Itu adalah hal yang wajar. Saat ini apa yang bisa dia lakukan selain tertawa? Jika perbedaan kekuatan mereka begitu -

"Adik!"

"-Ah, kakak!"

Zaryusu membalas saat dia menoleh ke sumber suara dari bawah dinding lumpur, dan menemukan baik Shasuryu dan Crusch yang telah tiba di dinding. Keduanya memanjat dinding lumpur dan melihat ke arah rombongan magic caster tersebut.

Crusch terpaksa terjepit diantara Zenberu dan Zaryusu, hampir menyebabkan Zenberu terjatuh. Namun, ini seharusnya termasuk tindakan yang bisa dimaafkan.

"Apakah itu adalah pimpinan musuh? Suasana di sekitarnya sangat kuat hanya dengan melihat ke arahnya bisa membuat seseorang bergiding hingga tulang-tulangnya. Meskipun penampilannya mirip dengan lich yang kamu kalahkan... tapi kekuatan kedua indidivu tersebut sangat tidak bisa dibandingkan..."

"...Kakak, apakah kamu sudah menyelesaikan bagianmu?"

"Mm, kurasa cukup. Magic cadangan milikku dan Crusch telah habis. Terlebih lagi, setelah mendengar ucapan makhluk itu.. Aku juga berpikir kita harus menguatkan tekad untuk masalah ini dahulu. Meskipun begitu... Zaryusu, maukah kamu ikut denganku?"

Zaryusu melihat tanpa berkata apapun kepada Shasuryu beberapa saat, lalu mengangguk dalam-dalam. Shasuryu menunjukkan muka sedih sesaat, tapi langsung kembali normal, cepat sekali sehingga tak ada yang tahu ekspresinya.

"Maaf."

"Tidak usah dipikirkan, Kakak."

Shasuryu hanya meminta maaf sebelum melompat dari dinding lumpur, menapak lapisan es yang menyelimuti wetland, dan mengeluarkan suara percikan.

"Aku pergi dulu."

"Hati-hati."

Setelah Zaryusu memeluk Crusch dengan erat, dia juga mengikuti Shasuryu dan melompat ke wetland.

Zaryusu dan Shasuryu berjalan menyeberangi es tipis di danau, bergerak maju bersama-sama. Setelah mereka berjalan melewati pintu masuk utama, Zaryusu merasa kelompok Maharaja Kematian menatap kuat keduanya, seakan atapan itu membawa kekuatan tekanan yang sebenarnya. Dia mati-matian menahan emosi kuat dalam dirinya yang mengatakan kepadanya untuk kabur.

Saat ini, Shasuryu berbicara.

"...Maaf."

"...Maaf utuk apa, kakak?"

"...Jika negosiasinya berantakan, musuh mungkin akan membunuh kita berdua disana."

Zaryusu sudah mempersiapkan mentalnya sejak lalu. Itulan kenapa dia memeluk Crusch dengan erat-erat sebelumnya.

"...Mempertimbangkan jumlah musuh, aku tidak bisa membiarkan kakak maju sendirian. Jika kamu sendirian, musuh mungkin juga akan berpikir bahwa kita tidak cukup hormat kepada mereka."

Diantara lizardmen, Zaryusu memang sangat terkenal, dan sangat cocok untuk mengambil bagian dalam negosiasi. Namun, identitasnya adalah seorang traveler, oleh karena itu meskipun jika dia dikorbankan, tidak akan mempengaruhi struktur kelompok lizardmen. Dari sudut pandang ini, kehilangannya tidak akan banyak disesali.

Bahkan jika sang pahlawan terbunuh, selama ada kepala suku lain yang tersisa, pertempuran akan berlanjut, yang disayangkan adalah kehilangan dari Frost Pain. Tanpa itu, tidak ada artinya untuk menahan angin dingin yang datang dari danau yang beku.

Keduanya terus berjalan maju tanpa bersuara, selangkah demi selangkah semakin dekat dengan kematian.

Mereka tiba di depan tangga undead yang menuju ke singgasana, dan mengumumkan kedatangan meeka dengan keras. Jika singgasana itu terletak semakin jauh, mereka bisa memilih untuk memanjat tangga itu daulu, tpai musuh berdiri di tepi tangga, menunjukkan bahwa mereka tidak berniat untuk naik.

Sang raja harus duduk di tingkat yang lebih tinggi.

Meskipun lizardmen tidak memiliki peraturan semacam itu, banyak suku yang memiliki kebiasaan dimana mereka yang memiliki posisi yang lebih tinggi akan memandang rendah yang lain. Tentu saja, dari sudut pandang yang berbicara, ini termasuk sikap tidak menghormati pihak lain.

Oleh karena itu, meskipun di permukaan disebut negosiasi, kenyataannya tidak ada niat negosiasi ini akan dilakukan dengan menggap pihal lain setara.

Namun, meminta kesetaraan dalam pembicaraan ini adalah hal yang terlalu berlebihan dalam percaya diri. Memang benar, Zaryusu dan yang lainnya telah memenangkan pertempuran sebelumnya, tapi setelah melihat barisan pasukan musuh di atas batu besar, mereka terpaksa menyadari bahwa kemenangan mereka sebelumnya tidak berarti meskipun mereka tidak ingin mempercayainya. Seluruhnya hanyalah sebuah permainan.

"Aku adalah Zaryusu Shasha!"

Meskipun begitu, suara mereka yang nyaring masih tidak ada pujian di dalamnya. Mereka tahu bahwa ini adalah hal yang bodoh, tapi ini adalah sisa dari kehormatan mereka. Mungkin pertempuran sebelumnya hanyalah sebuah permainan di mata musuh, tapi mereka sama sekali tidak bisa menyerahkan kehormatan yang telah mengorbankan nyawa mereka pada pertempuran itu.

Tidak ada balasan. Maharaja Kematian yang duduk di atas singgasana tersebut hanya melihat mereka secara hina, secara terang-terangan mengira-ngira kekuatan mereka. Benar-benar tidak mungkin untuk bisa mengetahui jika ada niat untuk mengambil tindakan.

Yang membalas adalah demon yang memiliki sepasang sayap hitam yang tumbuh dari pinggangnya.

"Tuan kami tidak menganggap kalian telah memasuki sikap yang menunjukkan rasa hormat."

"..Apa?"

Ketika wanita itu mendengarkan suara kebingungan, dia memanggil pria bereekor yang ada di sampingnya.

"-Demiurge."

"[Bersujud]"

Tiba-tiba, Zaryusu dan Shasha berlutut, dengan kepala terbenam ke dalam wetland. Tindakan mereka membuat keduanya seakan ini adalah hal yang wajar dilakukan.

Lumpur dingin mengotori tubuh keduanya, dan balok es yang pecah langsung membeku lagi.

Tidak mungkin untuk berdiri. Bahkan jika mereka menggunakan seluruh kekuatan di tubuh mereka, tubuh mereka sama sekali tidak bergeming. Seakan sebuah tangan raksasa yang tidak terlihat menekan tubuh mereka ke bawah dari atas, tubuh mereka benar-benar telah kehilangan seluruh kebebasan bergerak.

"[Jangan Melawan]"

Saat itu suara tadi terdengar lagi di kepala mereka, Zaryusu dan Shasha merasa seakan tubuh mereka memiliki otak lain - mengambil kendali organ yang mengambil keputusan. Tubuh mereka tampaknya bertindak menurut instruksi dari organ itu.

Setelah melihat dua orang yang habis energinya dengan canggung berlutut di tanah berlumpur, demon wanita itu tampaknya terlihat sangat puas, dan menghadap tuan mereka seakan melaporkan:

"Ainz-sama, sikap mendengar yang hormat dari mereka sudah siap."

"Terima kasih atas kerja kerasmu - Silahkan angkat kepala kalian."

"[Diizinkan untuk mengangkat kepala kalian.]"

Zaryusu dan Shasuryu menggerakkan kepala mereka yang mana adalah satu-satunya bagian tubuh yang bisa bergerak bebas, dan menatap ke atas seakan menyambut sang raja dengan hormat.

"Aku adalah... tuan dari Great Tomb of Nazarick, Ainz Ooal Gown. Pertama, aku berterima kasih karena kalian telah membantu menyempurnakan percobaanku."

Percobaan? Banyak sekali nyawa rekan-rekan kami yang hilang, namun dia masih berani menyebutnya percobaan?

Kebencian di hati mereka meningkatkan kemarahan mereka yang membara, namun mereka masih menekan emosi. Itu karena sekarang bukan saatnya untuk membalikkan keadaan.

"Kalau begitu, mari kita bahas pokok masalahnya... terimalah kekuasaanku."

Magic Caster Ainz mengangkat tangannya dengan lembut, menghentikan Shasha yang ingin berbicara.

Mengetahui bersikeras ingin bicara bukanlah hal yang bijak, Shasha hanya bisa patuh untuk tetap diam.

"--Namun kalian telah mengalahkan kami sebelumnya, yang mana itu artinya kalian tidak ingin menerima kekuasaanku. Itulah kenapa kami akan menyerang kalian lagi empat jam kemudian, dan bahkan akan menjamin untuk mendukung kompensasi yang masuk akal bagi kalian."

"...Bolehkah saya bertanya sesuatu?"

"Silahkan, kamu boleh bertanya."

"Yang akan menyerang nantinya... apakah itu adalah Baginda?"

Gadis berambut perak yang berdiri di belakang sedikit mengangkat alisnya dan wanita demon itu semakin tersenyum, mungkin karena mereka tidak puas dengan gelar 'Baginda'. Namun, mereka tidak membuat tindakan khusus, mungkin karena tuannya tidak mengatakan apapun tentang itu.

Ainz mengabaikan mereka berdua, dan melanjutkan berbicara.

"Bagaimana mungkin begitu. Aku takkan bertindak langsung. Sebagai gantinya, yang akan menyerang adalah bawahanku yang terpercaya... terlebih lagi aku hanya akan mengirimkan satu orang. Dia bernama Cocytus."

Mendengar kalimat ini, Zaryusu merasa keputus asaan yang dalam seakan dunia telah berakhir.

Jika yang akan menyerang adalah sebuah pasukan besar, mungkin lizardmen akan mempunyai peluang menang. Itu artinya, pertama, dia percaya bahwa kali ini juga bisa disebut sebagai lanjutan dari pertempuran malang kemarin yang disebut percobaan. Jika memang seperti itu, maka seharusnya masih ada peluang yang amat kecil untuk menang.

Namun, yang akan dikirimkan untuk menyerang bukanlah sebuah pasukan besar.

Yang akan menyerang hanya satu orang.

Pasukan yang dikalahkan sebelumnya sekali lagi membuat sebuah deklarasi yang besar, tapi hanya mengirimkan satu orang kali ini. Kalau bukan sebuah hukuman, atau ada maksud tersembunyi dibalik kalimatnya, dia pasti sangat percaya penuh kepada orang itu.

Seseorang yang sangat dipercayai oleh Maharaja Kematian yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka, hanya ada satu jawaban: orang itu juga memiliki kekuatan yang luar biasa, dan terlebih lagi semacam kekuatan yang akan membuat lizardmen merasa bahwa tidak akan ada peluang menang.

"Kami memilih untuk menye..."

"Kalah tanpa bertarung adalah hal yang sangat membosankan. Silahkan lakukan sedikit perlawanan, kami juga ingin merasakan kemenangan."

Ainz menyela Shasuryu, tidak membiarkannya untuk melanjutkan.

Secara terang-terangan, dia ingin membuat contoh bagi kami, si brengsek ini.

Zaryusu mengeluarkan sumpah serapah di pikirannya.

Yang kuat akan menggunakan pembantaian untuk memusnahkan rasa malu karena kalah.

Itu artinya bahwa musuh akan melakukan pengorbanan secara langsung. Itu akan menjadi sebuah pertunjukan, membasmi musuh lizardmen yang memberontak.

"Hanya ini yang ingin kukatakan. Kalau begitu, empat jam lagi, nikmati sebaik-baiknya."

"Tolong tunggu sebentar - apakah es ini akan mencair?"

Tak perduli menang atau kalah, dengan danah yang membeku, lizardmen akan sulit untuk selamat.

"..Ah, aku hampir lupa."

Berkata dia telah lupa. Sikap terbuka dari Ainz ini terlihat di dalam balasannya.

"Aku hanya tidak ingin mengotori diri dengan lumpur wetland ketika berjalan, itulah kenapa, setelah kembali ke tepian, efek magic akan luntur."

"Apa!"

Zaryusu dan Shasuryu kaget setengah mati, dan mengira-ngira apakah mereka tidak salah dengar.

Dia membekukan danau itu hanya karena dia tidak ingin kotor?

Ini bukan lagi level yang sulit untuk dipecaya. Kekuatan musuh hanyalah sangat terlalu luar biasa, bahkan dengan mudah merubah kekuatan alam dan terlebih lagi hanya karena alasan yang remeh.

Jadi ternyata merka telah melawan makhluk yang sangat terlalu kuat - Zaryusu dan Shasha keduanya merasakan ketakutan yang sama seperti anak kecil yang ketakutan sendirian.

"Sampai nanti, lizardmen - [Portal]"

Merasa semua yang perlu disampaikan sudah selesai, Ainz mengulurkan tangannya dan memberikan lambaian lirih, dan sebuah bola separuh lingkaran yang gelap muncul di depan singgasana itu. Lalu, dia melompat ke dalam kegelapan tersebut.

"Sampai nanti, lizardmen"

"Selamat tinggal, Mr. Lizardmen."

"Sampai Jumpa, lizardmen."

Dua wanita dan satu pria yang hadir juga melompat ke dalam kegelapan setelah berbicara dengan sikap seakan kehilangan minat.

"E-Eh, ka-kalau begitu, selamat tinggal, hati-hati."

"drows ym fo enob eht ma I" [Kalau begitu, selamat tinggal.]

Seelah dark elf wanita, makhluk aneh itu juga mengikuti dan masuk ke dalam kegelapan.

"[Kebebasan Diizinkan]. Kalau begitu, cobalah menikmati sebisa mungkin, lizardmen."

Di waktu sama dengan yang erakhir, pria dengan ekor itu, masuk ke dalam kegelapan, dia berbicara dengan suara yang lembut dan juga memiliki beban yang menekan kedua lizardmen itu dan mengilang tanpa jejak.

Zaryusu dan Shasuryu yang tertinggal di tempat mereka tergeletak di lumpur tak bergerak. Ini karena mereka tidak memiliki kekuatan lagi untuk menggerakkan diri.

Mereka tidak lagi merasakan sakit karena angin membekukan yang terus bertiup, karena mereka telah menderita serangan mental yang melebihi luka fisik mereka sejauh ini.

"Sialan..."

Shasuryu mengutuk dengan suara lirih, sangat tidak cocok dengan kepribadiannya, dan termasuk di dalamnya tercampur banyak sekali emosi.

Keduanya disambut kembali oleh berbagai macam kepala suku yang memanjam ke atas dinding lumpur untuk menghindari udara dingin. Tidak ada lizardmen lain di sekeliling.

Mungkin, mereka sudah mengaturnya karena mereka telah mempertimbangkan sebelumnya bahwa ada beberapa masalah yang perlu didiskusikan dengan rahasia. Shasuryu berpikir secara kasar bahwa itu adalah masalahnya, dan tidak perlu lagi menyembunyikannya. Lalu dia langsung memberitahukan kepada semuanya atas apa yang sudah dia kumpulkan tentang progress dari pertemuat itu yang sulit disebut sebagai negosiasi yang benar.

Tak ada yang bereaksi banyak, kecuali sedikit waspada, terhadap penjelasan Shasuryu yang diucapkan dengan nada berat. Mereka kelihatannya sepeti ini karena mereka mungkin sudah memperkirakan kesimpulan dari negosiasi yang terjadi tadi.

"Aku mengerti... kalau begitu esnya akan cair ya kan? Jika tidak cair, maka kita takkan bisa bertarung meskipun kita menginginkannya."

"Tidak masalah. Lawan bilang bahwa magic ini akan luntur."

"Apakah ini adalah pertukaran yang dihasilkan dari negosiasi itu?"

Terhadap pertanyaan yang diutarakan oleh kepala suku Small Fang, Shasuryu tidak membalas, tapi hanya tersenyum kecil. Melihat reaksi itu, dan mengerti apa artinya, kepala suku Small Fang hanya menggelengkan kepala dengan berkecil hati.

"Ketika kamu maju untuk negosiasi, kami melakukan penyelidikan... dan menemukan bayangan musuh di dalam danau yang terlihat seperti pasukan skeleton. Kami takut bahwa mereka membentuk formasi untuk mengepung kita dan menunggu perintah."

"Aku kira.. lawan... tidak berencana untuk melepaskan kita."

"Lawan itu sangat serius, jadi itu artinya.."

"Itu hanya spekulasi."

Keempat orang yang tidak ikut dalam negosiasi menghela nafas panjang. Kesimpulan yang mereka dapat juga percaya bahwa selanjutnya adalah ritual pengorbanan secara langsung.

"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"

"...Gerakkan seluruh lizardmen kelas warrior, dan juga... yang ada disini..."

"Kakak... bisakah kamu memperbolehkan hanya lima orang yang ikut?"

Dari sudut matanya, Zaryusu melihat ekspresi bingung di wajah Crusch. Dia melanjutkan, menarik perhatian seluruh lizardmen pria termasuk kakaknya.

"Jika tujuan musuh hanya untuk menunjukkan kekuatannya yang luar biasa, maka lizardmen seharusnya tidak akan dimusnahkan. Oleh karena itu, kita perlu individu yang bisa memimpin, figur sentral untuk membawa seluruh lizardmen yang selamat. Jika semua orang disini kehilangan nyawa mereka, itu akan menjadi kerugian yang besar di masa depan lizardmen."

"..Itu adalah poin yang benar. Bukankah begitu, Shasuryu."

"Hmm, Zaryusu... benar."

Dua kepala suku bergantian melihat Zaryusu dan Crusch, lalu mereka berdua menunjukkan persetujuan.

"- Tidak ada hal yang tidak dapat diterima dengan itu; Aku juga setuju."

Setelah persetujuan dari kepala suku terakhir Zenberu, Shasuryu tidak menemukan alasan apapun untuk menolak permintaan adiknya.

"Keputusan kita sudah bulat kalau begitu. Aku juga berpikir tentangnya, perlu seseorang yang selamat untuk memimpin dan mengumpulkan seluruh suku - Crusch seharusnya yang paling tepat untuk membawa tanggung jawab ini. Kealbinoannya mungkin adalah sebuah rintangan, tapi kemampuannya sebagai druid tidak bisa diganti."

"Tunggu sebentar. Aku juga ingin bertarung sama-sama."

Crusch berteriak keras, memprotes mengapa dia tidak diikut sertakan sekarang.

"Terlebih lagi, jika kita harus meninggalkan seseorang, bukankah Shasuryu lebih baik? Dia adalah pemimpin suku yang paling dipercayai diantara kita!"

"Dan itulah kenapa kita tidak bisa meninggalkannya. Tujuan musuh adalah untuk menunjukkan kekuatan yang luar biasa, mungkin berharap kita akan putus asa, sehingga kita akan tunduk dengan lebih mudah. Namun, apa yang terjadi jika ada seseorang diantara yang selamat menjadi tumpuan haapan mereka, hmm?"

"Dan.. diantara kepala suku yang hadir, yang memiliki popularitas terendah adalah Crusch."

Crusch tidak bisa berkata apapun. Itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan bahwa dia adalah seorang albino dan memiliki popularitas terendah.

Mengetahui bahwa tak ada yang bisa dikatakan untuk membuat mereka yakin, Crusch terpaku pada Zaryusu.

"Aku juga ingin pergi sama-sama. Ketika kamu memanggilku kesini, kamu sudah memutuskan untuk membuatku mengambil keputusan sendiri, jadi mengapa kamu masih mengatakannya seperti itu?"

"...karena waktu itu, semuanya kelihatannya akan terbunuh, tapi sekarang kita memiliki peluang yang relatif besar untuk membuat satu orang selamat."

"Jangan bercanda!"

Udara bergetar seakan menggemakan kemarahan Crusch. Karena emosinya yang meluap-luap, suara dinding lumpur terpukul berkali-kali bisa terdengar saat ekor Crusch mengamuk tidak karuan.

"Zaryusu, kamu yakinkan dia. Sampai jumpa lagi empat jam kemudian."

Shasuryu melemparkan kelimat ini sebelum cepat-cepat berpisah dengan langkah yang panjang, diikuti suara es yang pecah dan percikan air. Tiga kepala suku melompat turun dari dinding lumpur dan mengikuti Shasuryu. Zenberu juga membelakangi mereka berdua saat dia melambaikan tangannya dengan lembut untuk berpisah.

Setelah berpisah dengan mereka, Zaryusu menoleh menghadap Crusch.

"Crusch, tolong mengertilah."

"Bagaimana aku bisa mengerti! Dan bukan hal yang biasa jika kamu kalah! Jika kamu memiliki dukungan kekuatan druidku, mungkin kamu akan menang!"

Kalimat ini sangat hampa bahkan Crusch yang mengatakan tidak percaya dirinya sendiri.

"Aku tidak ingin lizardmen wanita yang kucintai terbunuh. Tolong penuhilah keinginan lizardmen pria yang bodoh ini."

Crusch menunjukkan ekspresi terluka, dan memeluk Zaryusu.

"Kamu terlalu egois."

"Maaf.."

"Kamu mungkin akan mati."

"Uh huh..."

Memang benar, peluang selamat memang sangat rendah. Tidak, malahan bisa dikatakan dengan pasti bahwa tidak ada peluang selamat.

"Dalam seminggu yang singkat, kamu sudah menangkap hatiku, namun kamu masih mengatakan kepadaku untuk melihatmu yang tidak berdaya saat terbunuh?"

"Um.."

"Bertemu denganmu adalah keberuntunganku, tapi juga adalah kesialanku."

Crusch yang sedang memluk dada Zaryusu semakin mempererat pelukannya, seakan dia tidak ingin melepaskannya.

Zaryusu tidak berkata apa-apa.

Apa yang harus dia katakan?

Apa yang bisa dia katakan?

Pikirannya seluruhnya mengalami masalah buntu yang sama.

Setelah beberapa saat, Crusch mengangkat kepalanya, dengan ekspresi yang penuh dengan tekad.

Zaryusu merasakan tidak tenang di hati saat dia merasakan Crusch akan bersikukuh ikut. Saat ini, Crusch mengutarakan beberapa kalimat singkat kepada Zaryusu.

"Buat aku hamil."

"-Hah?"

"Cepat Kemarilah!"

8 comments:

Tayun Salma said...

Thx min .... Ln nya ....mantap....

Anonymous said...

Get me pregnant :p

fauzan said...

drows ym fo enob eht ma I -> i am the bone of my sword, sialan nih authornya :V pelanggaran hak cipta oyyy

Accel erator said...

Njer jdi keinget fate gw :v

brian torao said...

sankyu overlord vol.4 bab 4 bag. 3

yogitama kaisar akbar said...

Thanks min :D
dan seketika victim berubah jadi archer :v

i am the bone of my gacha
cash is my body
crystal is my blood
i have created over a thousands Rs
unknown to SRs nor known to SSRs
have withstood pain to create my Rs
yet
those hand will never hold any SSRs
so as i pray
unlimited gacha works!

Kozukata Yuri said...

Kok malah ngegacha sih:v

fuck shit indog who too overproud everywhere said...

wkakwkKwkKwkakwka jd fate series kimak 😂😂

Powered by Blogger.