Cybersh Note

Fans Translasi Novel-Novel Asia

25 February, 2016

Overlord - Vol 5 - Chapter 1 Part 3

A Boy's Feeling - Perasaan seorang anak laki-laki

Part 3


Overlord Light Novel Bahasa IndonesiaBulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 3, 4:35

Tempat yang dia tuju adalah sebuah aula yang luas. Seluruh lantai dari menara yang dikosongkan berfungsi sebagai area latihan.

Biasanya tempat tersebut memancarkan panas dari para prajurit yang sedang latihan. Namun, awal hari seperti ini masih sepi. Ruang yang kosong itu sangat hening; siapapun akan merasa kesepian disana. Karena batu ada dimana-mana, maka langkah kaki Climb terdengar sangat keras.

Aula tersebut terlihat terang karena cahaya semi permanen dari api magic.

Di dalam sana, ada armor yang dipasang pada tonggak dan boneka jerami yang bertindak sebagai target panah. Pada Dinding-dinding tersebut berjejer rak senjata yang dipenuhi dengan berbagai macam senjata yang menjadi tumpul.

Biasanya, sebuah area latihan seharusnya dipasang di luar ruangan. Tapi ada alasan mengapa diputuskan untuk dibuat di dalam ruangan.

Kota Ro-Lente adalah rumah bagi istana Valencia. Jika prajurit berlatih di luar maka mereka akan terlihat oleh utusan asing. Untuk menghindari resiko tampil sebagai kelas bawah, banyak area di dalam menara yang dibersihkan dan dialihfungsikan sebagai area latihan.


Sebuah demonstrasi prajurit-prajurit kuat yang berlatih dengan gigih akan memberikan keuntungan diplomatis, tapi Kingdom tidak melihatnya seperti itu. Lebih dari apapun, ada sebuah tren untuk terlihat elegan, megah, dan bangsawan.

Dengan berkata seperti itu, masih ada latihan-latihan yang tidak mungkin dilakukan di dalam ruangan. Mereka akan melakukannya secara rahasia di sudut atau di lapangan di luar istana, walaupun di luar ibukota.

Climb memasuki aula yang sunyi seakan memotong udara yang dingin dan pelan-pelan mulai peregangan di sudut.

Tiga puluh menit kemudian, setelah melalui sesi peregangan, wajah Climb semakin merah, dahinya basah oleh keringat dan nafasnya yang tersengal-sengal berat karena panas.

Climb mengusap keringat dari dahinya dan mendekati rak senjata. Memeriksa genggamannya, dia memastikan senjata itu pas di tangan. Telapak tangan Climb sudah kasar dan keras karena banyaknya kapalan yang datang dan pergi.

Selanjutnya, dia memenuhi sakunya dengan gumpalan logam dan mengancingkannya dengan ketat agar tidak jatuh.

Banyak pecahan logam yang memenuhi pakaiannya membuatnya seberat armor full plate. armor plate biasa tanpa mantra magic akan memberikan pertahanan yang hebat dengan timbal balik keleluasaan gerakan yang terkekang.

Meskipun begitu, langka sekali membawa armor full plate hanya untuk berlatih, belum lagi armor putih yang diberikan kepadanya. Itulah kenapa dia menggunakan gumpalan logam sebagai alternatifnya.

Climb menggenggam senjata logam yang ukurannya melebihi pedang besar dan menggenggamnya tinggi-tinggi di atas kepala. dia  pelan-pelan mengayunkan pedang itu ke bawah, sambil menghembuskan nafas. Berhenti sebelum pedang tersebut menyentuh lantai, dia menghirup udara dan mengangkat pedang tersebut kembali ke atas kepala. Dia mulai memandang ruang kosong di depannya dengan mata yang tajam, benar-benar terserap ke dalam latihannya sambil meningkatkan kecepatan ayunannya.

Dia sudah menyelesaikan 300 ayunan.

Keringat mengguyur Climb yang membuat wajahnya semakin merah. Nafasnya panas, seakan membuang panas yang terkumpul di badannya.

Meskipun Climb berlatih berat sebagai prajurit, sulit sekali menguasai berat dari pedang besar. Menghentikan pedang saat hampir menyentuh lantai terutama sangat menantang. Hal semacam itu memerlukan kekuatan yang luar biasa.

Saat hitungan dari ayunannya mencapai 500, lengannya mulai kram dan terasa seakan berteriak kesakitan. Keringat berjatuhan dari wajahnya seperti air terjut.

Climb sangat tahu bahwa itu adalah batasan darinya. Meskipun begitu, dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Namun-

"-Mungkin itu sudah cukup."

Mendengar suara orang lain, Climb cepat-cepat memutar wajahnya ke arah suara tersebut di matanya terpantul sebuah figur seorang pria.

Menyebutnya kekar akan seperti meremehkan. Pria itu seperti perwujudan dari baja. Kerutan di wajahnya yang mirip batu membuatnya tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Otot-ototnya yang menggembung membuatnya jelas dia bukan orang biasa.

Tidak ada prajurit di Kingdom yang tak kenal dengannya.

"-Stronoff-sama."

Kapten Warrior Gazef Stronoff, disanjung sebagai yang terkuat di Kingdom dan tak ada tandingannya di negara-negara tetangga.

"Lebih jauh lagi akan menjadi latihan yang terlalu berlebihan. Tidak ada artinya menekan dirimu sejauh itu."

Climb menurunkan pedangnya dan menatap lengannya yang gemetar.

"Kamu benar. Aku sedikit terlalu berlebihan."

Melihat wajah tanpa ekspresi Climb saat dia memberikan terima kasih, Gazef mengangkat bahunya.

"Jika memang itu yang kamu pikirkan, bisakah kamu tidak membuat sering mengulanginya? Sudah berapa kali ini jadinya...?"

"Saya minta maaf."

Gazef mengangkat bahu sekali lagi saat Climb merendahkan kepalanya.

Ini adalah percakapan yang terulang berkali-kali diantara mereka, seperti semacam sapaan. Biasanya, saling bertukar tutur seperti ini akan berakhir dan masing-masing akan mengejar latihan mereka sendiri. Tapi hari ini berbeda.

"Bagaimana, Climb. Mau coba sparing?"

Karena kalimat Gazef, ekspresi datar Climb hampir runtuh dalam sekejap.

Hingga sekarang, mereka tak pernah adu pedang ketika bertemu di lokasi ini. Itu adalah peraturan tak tertulis mereka.

Tidak ada yang bisa didapatkan jika mereka berlatih bersama-sama. Tidak, akan benar-benar tidak ada hasilnya, tapi kerugian itu dikalahkan oleh keuntungannya.

Saat ini ada perebutan kekuasaan antara golongan raja dan tiga aliansi dari enam keluarga bangsawan. Situasinya cukup bahaya karena ada rumor bahwa satu-satunya alasan Kingdom tidak terpecah karena perang tahunan melawan Empire.

Di tengah pertikaian itu, jika orang kepercayaan raja, Gazef Stronoff - meskipun sangat tidak mungkin - kalah, akan memberikan fraksi bangsawan keuntungan yang besar.

Di lain pihak, bangsawan akan melompat ke hasil yang jelas dari kekalahan Climb untuk berbisik bahwa dia tidak layak melindungi Renner. Ada banyak orang yang tidak senang dengan putri cantik yang belum menikah mempercayai seorang prajurit untuk melindunginya, ditambah lagi oleh seseorang dengan latar belakang yang tidak jelas.

Keduanya berada dalam posisi dimana mereka tidak bisa kalah.

Mereka tidak boleh terlihat lemah, menunjukkan titik lemah yang bisa dieksploitasi dalam sebuah serangan. Keduanya memiliki pemikiran sama dalam hal itu sehingga mereka berdua sangat berhati-hati agar tidak melukai tuan-tuan mereka yang dihormati.

Untuk alasan apa dia menghancurkan peraturan yang tak tertulis itu?

Climb melihat ke sekelilingnya.

Apakah karena tidak ada orang lain disini? Itu tidak terpikirkan. Ini adalah tempat tinggal para demon.

Tidak ada yang tahu mereka akan diawasi dari jauh atau mengamati mereka dengan sembunyi-sembunyi. Tapi dia tidak bisa memikirkan alasan lain.

Tidak mampu mengetahui niatnya, Climb tidak membiarkan kegelisahannya yang membingungkan terlihat di wajahnya.

Pria yang berdiri di depan Climb adalah seorang warrior yang dipuji sebagai orang terkuat di Kingdom. Dengan tajam merasakan emosi sekejap yang dilewatkan oleh orang biasa, dia berbicara.

"Baru saja, ada hal yang terjadi yang membuatku menyadari bahwa aku masih kurang. Aku ingin berlatih dengan seseorang yang kompeten."

"Stronoff-sama?"

Gazef, yang terkuat di kerajaan, insiden macam apa yang bisa membuat merasa kekurangan?

Climb tiba-tiba teringat dengan jumlah pasukan di dalam unit Gazef yang semakin menurun.

Climb tidak memiliki rekan-rekan yang dekat jadi dia mendengarnya dari rumor yang berputar di sekitar aula mess. Menurut cerita, mereka kehilangan jumlah pasukan setelah terlibat dalam sebuah insiden.

"Ya. Jika aku tidak bertemu magic caster yang pemurah hati, jika dia tidak meminjamkan kekuatannya kepada kami, Aku tidak akan ada disini sekarang-"

Mendengar ini, Climb merasakan topeng besinya runtuh. Tidak, siapa yang tidak kaget? Sebelum tahu, rasa ingin tahu Climb semakin menjadi-jadi di dalam dirinya dan dia memberikan sebuah pertanyaan.

"Siapa magic caster yang murah hati itu?"

"...Dia menyebut dirinya Ainz Ooal Gown. Ini hanya firasat, tapi aku merasa bahwa dia mungkin setara dengan magic caster monster milik Empire."

Dia tak pernah mendengar nama itu.

Climb mengidolakan para pahlawan dan memiliki hobi mengumpulkan cerita-cerita kepahlawanan mereka. Dia mengabaikan ras mereka dan bahkan mengumpulkan cerita-cerita dari para petualang terkenal dari negara-negara tetangga. Namun begitu, nama yang diucapkan oleh Gazef barusan tidak akrab baginya.

Tentu saja, ada kemungkinan itu hanyalah sebuah alias.

"Ka-Kalau begitu-*batuk!"

Climb menahan keinginannya untuk bertanya lebih jauh.

Mencoba bertanya kepadanya tentang sebuah insiden yang merenggut pasukannya... bahkan kekurangajaran pun ada batasnya.

"Aku akan menulis namanya di hatiku... Tapi, benarkah tidak apa kita melakukan sparing?"

"Bukan sparing, hanya adu pedang. Apa yang kamu dapatkan dari itu sepenuhnya tergantung padamu.... Kamu sendiri adalah pasukan kelas satu diantara para pasukan negeri. Seharusnya juga memberiku keuntungan."

Meskipun itu adalah pujian yang tinggi, bagi Climb, itu hanyalah ucapan kosong.

Bukan karena Climb memang kuat, hanya saja standarnya rendah. Skill dari prajurit Kingdom hanya sedikit lebih baik dari penduduk biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan 'Knight', prajurit khusus Empire, mereka masih lemah. Juga tidak ada seorangpun di negara tetangga yang memiliki perbedaan militer yang mencolok. Pasukan Gazef memang kuat, namun begitu, dibandingkan dengan Climb mereka sedikit lebih rendah. Jika Climb menilai dirinya sendiri menurut peringkat para petualang, dengan tembaga, besi, perak, emas, platinum, mithrill, orichalcum dan adamantium, dia hanya sampai level emas. Tidak lemah, tapi banyak yang ada di atasnya.

Apa benar orang seperti itu termasuk layak bagi pria seperti Gazef? Seorang pria, yang tidak diragukan lagi, berada pada kelas adamantium?

Climb menyingkirkan pemikiran selemah itu.

Pria terkuat di Kingdom menawarkan diri untuk melatihnya. Pengalaman seperti ini tidak datang seringkali. Meskipun jika hasilnya mengecewakan Gazef, tidak ada rasa penyesalan.

"Kalau begitu aku akan meminta petunjuk anda."

Gazef tersenyum kelihatan gigi-giginya dan tidak sabar menganggukkan kepalanya.

Keduanya mendekati rak senjata dan masing-masing mengambil sebuah pedang yang cocok dengan ukuran mereka. Gazef memilih Bastardsword, Climb dengan perisai kecil dan Broadsword.

Climb lalu mengeluarkan gumpalan logam dari saku-sakunya. Menghadapi seseorang yang lebih kuat dari dirinya sendiri dengan logam-logam itu adalah hal yang tidak sopan. Bukan hanya itu, dia harus bertarung dengan seluruh yang dia miliki agar latihan bermanfaat bagi perkembangannya. Lawannya adalah warrior terkuat di dalam Kingdom. Sebuah dinding yang tinggi dan tebal harus dirasakan dengan kekuatan sepenuhnya.

"Setelah Climb menyelesaikan persiapannya sekarang, Gazef bertanya."

"Bagaimana dengan lenganmu? Apakah masih nyeri?"

"Ya, sekarang tidak apa-apa. Mereka sedikit lelah tapi tidak akan menjadi masalah bagi genggamanku."

Climb melemaskan kedua tangannya. Melihat dia berkata yang sebenarnya, Gazef sekali lagi mengangguk.

"Ternyata begitu... dalam hal lain bisa jadi sayang sekali. Seseorang akan sangat jarang berada dalam kondisi sempurna pada medan perang. Jika genggamanmu sakit kamu harus bertarung dengan cara yang bisa menjadi penggantinya. Apakah kamu pernah berlatih dalam kondisi seperti itu?"

"Hm, Tidak, belum pernah. Kalau begitu aku akan melanjutkan ayunanku dan.."

"Ah, tidak. Tak perlu sejauh itu. Tapi karena kamu bertanggung jawab terhadap keselamatan putri, kamu akan baik-baik saja belajar bagaimana bertarung dalam situasi dimana dilarang membawa senjata. Mungkin kamu juga bisa mahir dalam menangani berbagai macam variasi senjata."

"Baik!"

"...Pedang, Perisai, Tombak, Kapak, Pisau, Sarung tangan, busur, gada dan senjata lemparan. Itu adalah latihan untuk menggunakan sembilan jenis senjata yang berfungsi sebagai pondasi pertarungan bersenjata, namun... Jika kau melebarkan diri terlalu tipis maka yang lainnya akan menderita. Akan lebih baik jika kamu menyempitkannya menjadi dua atau tiga senjata dan belajar dari sana. Hmm. Kelihatannya aku telah mengatakan hal yang tidak perlu."

"Tidak sama sekali, Stronoff-sama. Terima kasih banyak!"

Gazef tersenyum pahit dan menjawab dengan lambaian tangan.

"Jika kamu sudah siap mari kita mulai. Pertama, cobalah menyerangku dalam kuda-kuda itu. Segera... ya, aku takkan mampu sparring denganmu tapi aku bisa mengajarimu beberapa taktik menggunakan sembilan senjata."

"Ya! Kalau begitu mohon bantuannya."

"Kemarilah, tapi aku tidak ada niat untuk memperlakukan ini sebagai latihan. Pertimbangkan ini sebagai hal yang nyata dan serang."

Climb pelan-pelan menurunkan pedangnya dan memutar sisi kiri tubuhnya, yang ditutupi oleh perisai, terhadap arah Gazef. Tatapan Climb sangat tajam dan indera miliknya sudah bukan seperti latihan. Begitu juga, Gazef telah membuatnya dirinya waspada bahwa ini adalah pertarungan sebenarnya.

Keduanya saling menatap satu sama lain, tapi Climb tidak bisa melakukan gerakan pertama.
Meskipun membuang gumpalan logam membuatnya lebih muda bergerak, Climb tidak berpikir dia bisa mengalahkan Gazef. Baik kekuatan dan pengalaman, Gazef jauh lebih unggul di atasnya.

Dengan hanya memperpendek jarak pasti akan langsung bertemu dengan serangan balik. Lawannya adalah seorang master yang memiliki kelas di atasnya jadi mau bagaimana lagi. tapi ini adalah pertarungan yang sebenarnya, apakah dia hanya bisa berguling dan mati karena hal semacam itu?

Lalu apa yang bisa dia lakukan?

Dia harus melawannya dengan sebuah faktor bahwa yang tidak dimiliki Gazef.

Tubuh, pengalaman dan otak, Climb kalah dalam semua hal yang diperlukan sebagai seorang warrior. Perbedaannya adalah equipment mereka.

Gazef memegang sebuah bastard sword. Di lain pihak, Climb memilih broadsword dan perisai kecil. Jika mereka adalah senjata magic maka akan lain ceritanya, tapi ini hanya digunakan dalam latihan, tak ada perbedaan dalam hal senjata.

Gazef hanya memiliki sebuah senjata sementara Climb memiliki dua, karena sebuah perisai bisa digunakan sebagai senjata pula. Ini juga berarti dia memiliki lebih banyak cara untuk menyerang dengan harga yang harus dibayar adalah pembagian kekuatan.

Tahan serangan pertama dengan perisai dan tebas dengan pedang. Tangkis dengan pedang dan serang dengan perisai.

Setelah memutuskan serangan balik sebagai strateginya, Climb berfokus terhadap mengamati gerakan Gazef.

Setelah beberapa detik terlewat, Gazef mengeluarkan senyum.

"Apakah kamu tidak mau datang? Kalau begitu aku akan menyerangmu --- sekarang."

Dengan sikap tenang yang mutlak, Gazef mempersiapkan kuda-kudanya. Pinggang sedikit rendah, kekuatan mulai masuk ke dalam tubuhnya seperti mata air. Climb juga; dia mengumpulkan kekuatan di dalam tubuhnya agar dia bisa menahan pedangnya, tak perduli kapanpun datangnya.

Gazef memperpendek jaraknya dan mengayunkan pedangnya sambil mengarahkan ke perisai.

-Cepat!

Climb membuang niat untuk menggerakkan perisainya untuk mementalkan serangan. Dia memfokuskan seluruh pikiran dan tubuhnya kepada bertahan, hanya menahan serangan.

Selanjutnya - perisai Climb terkena benturan yang luar biasa besar.

Level kekuatan yang cukup membuat Climb berpikir bahwa perisainya telah hancur. Itu adalah sebuah serangan yang cukup kuat untuk bisa membuat kaku tangan yang menggenggam perisai. Menahan benturan yang seperti itu akan membutuhkan kekuatan dari seluruh tubuh.

Mementalkannya? Bagaimana kamu bisa menyamakan timing untuk suatu hal seperti ini?! Getarannya saja sudah cukup untuk...

Pemikiran naif Climb membuatnya lengah; dia merasakan benturan lain di perutnya.

"Gah!"

Tubuhnya melayang ke belakang, punggungnya menabrak batu lantai yang keras dan mengeluarkan udara dari paru-parunya. Tatapan Gazef yang datar membuatnya sadar apa yang terjadi.

Baru saja, dia menurunkan kakinya yang mengirimkan sebuah tendangan kuat kepada Climb.

"...Meskipun hanya itu satu-satunya senjata di tanganku, bahaya sekali jika hanya fokus terhadap pedang. Seperti sekarang ini, kamu bisa terkena sebuah tendangan. Aku mengarahkan ke perutmu tadi tapi biasanya, itu adalah tempat dimana armor yang lebih ringan. Aku mungkin bisa menghancurkan lututmu....Meskipun kamu memakai bantalan di pangkal pahamu, jika kamu tidak beruntung, sepatu armor akan menghancurkan mereka. Amati seluruh tubuh lawanmu dan lihatlah setiap gerakannya."

"...Ya."

Climb menahan rasa sakit dari perutnya dan pelan-pelan berdiri.

Kekuatan fisik Gazef Stronoff yang terkuat di Kingdom memang benar-benar luar biasa. Jika dia menendangnya dengan serius, maka bukan masalah untuk menghancurkan tulang rusuknya menembus kaos berantai dan membuatnya tidak bisa bertarung. Alasan mengapa itu bukan masalahnya adalah karena Gazef menahan diri dan hanya menyentuh perut Climb dengan kakinya dan mendoron Climb dengan niat untuk mendorongnya ke belakang.

Lagipula itu adalah sparring untuk memberikan instruksi... syukurlah.

Menyadarai bahwa orang terkuat di Kingdom yang melakukan sparring dengannya, Climb bersyukur lalu dia melanjutkan sikap kuda-kudanya.

Dia harus berhati-hati agar momen berharga ini tidak berakhir dengan tiba-tiba.

Climb sekali lagi mengangkat perisainya dan pelan-pelan mendekati Gazef. Gazef menatapnya tanpa bicara saat Climb mendekat. Jika ini berlanjut, hanya akan mengulang apa yang sudah terjadi. Climb harus membuat sebuah rencana saat dia mendekat.

Gazef menunggu, mengeluarkan ketenangannya yang luar biasa. Tidak mungkin bisa membuatnya bertarung dengan serius.

Adalah hal yang sombong jika merasa marah.

Batasan Climb sudah terlihat. Meskipun bangung lebih awal seperti ini untuk berlatih teknik berpedang, progress yang dimilikinya lebih lambat dari siput. Dibandingkan saat dia pertama kali mulai berlatih, ini terlalu pelan.

Tetap maju, meskipun jika dia bisa melatih tubuhny dan meningkatkan kecepatan dan beban dari pedangnya, skill seperti martial arts masih belum bisa diraihnya.

Seseorang seperti Climb, merasa marah karena kenyataan bahwa orang yang merupakan perwujudan dari bakat tidak bertarung melawannya dengan serius adalah hal yang tidak sopan. Dia, yang tak mampu menarik keluar kekuatan penuh orang itu, hanya bisa menyalahkan dirinya yang kurang kemampuan.

Ucapan sebelumnya yang mengatakan bahwa dia tidak boleh menganggap ini sebagai latihan dan menyerang dengan sepenuhnya adalah sebuah peringatan. Itu artinya "serang dengan niat membunuh atau kamu bahkan tidak akan memiliki peluang untuk bisa mengimbanginya." Sebuah peringatan yang datang dari pria yang berdiri di tempat yang jauh di atasnya.

Climb menggeretakkan gigi-giginya.

Dia membenci kelemahannya sendiri. Jika saja dia bisa lebih kuat, maka dia bisa lebih berguna. Dia bisa menjadi senjata tuannya dan bertarung langsung melawan mereka yang ingin mengotori Kingdom dan melukai orang-orangnya.

Fakta bahwa pedang milik Renner sangat lemah sehingga Renner harus berhati-hati hingga titik dimana Climb dipenuhi dengan rasa bersalah.

Namun, Climb langsung menyingkirkan pemikiran seperti itu. Apa yang harus dia lakukan sekarang adalah untuk tidak kalah dengan perasaan negatif. Mengeluarkan semua yang dia miliki pada pria yang berdiri di dunia orang-orang kuat agar dia sendiri bisa tumbuh lebih kuat, tak perduli seberapa kecilnya.

Hanya sebuah pemikiran yang memenuhi hati Climb.

Agar bisa berguna bagi sang putri-.


"Oh?"

Gazef mengeluarkan helaan nafas dan sedikit merubah ekspresinya.

Itu karena wajah dari orang yang berdiri di hadapannya, yang merupakan seorang bocah dan pria dewasa, telah berubah. Jika dia harus membandingkan, hingga sekarang, dia seperti anak-anak yang bertemu dengan seorang selebritis dan tidak bisa menahan rasa senangnya. Kegelisahannya telah hilang setelah sebuah tendangan dan berganti dengan wajah seorang warrior.

Gazef menaikkan level kewaspadaannya satu titik.

Terlebih dari yang disadari Climb, Gazef memiliki pendapat tinggi terhadapnya. Khususnya, pemikirannya yang tulus, serakah dalam mengejar kekuatan, loyalitasnya yang berbatasan dengan semangat agama, dan keahlian berpedangnya.

Kemampuan berpedang Climb bukanlah sesuatu yang dia ajarkan. Dia memperolehnya dengan mengintip orang lain yang sedang berlatih. Memang tidak enak dilihan dan penuh dengan gerakan berlebihan.

Tapi tak seperti yang mereka yang berlatih tanpa berpikir panjang, setiap gerakan pedangnya sangat cermat dipikirkan dan dikembangkan untuk penggunaan sebenarnya. Istilah buruknya, itu menjadi sebuah pedang untuk membunuh.

Gazef berpikir itu sangat bagus.

Sebuah pedang pada akhirnya adalah sebuah alat untuk membunuh. Seseorang yang berlatih dengan biasa tidak akan mampu menunjukkan keefektifannya di dalam pertarungan sebenarnya. Pedang itu tidak akan mampu melindungi mereka yang harus dilindungi. Pedang itu tidak akan mampu menyelamatkan mereka yang harus diselamatkan.

Tapi Climb berbeda. Dia akan memotong musuhnya dan melindungi orang yang penting baginya.

Namun-

"-Meskipun kamu menguatkan tekad, perbedaan dalam skill dengan lawanmu masih sangat jauh. Sekarang, apa yang akan kamu lakukan?"

Tentu saja, Climb tidak memiliki bakat. Meskipun dia berusaha lebih keras dari siapapun- tak perduli seberapa keras dia menekan tubuhnya, tanpa bakat, dia tidak akan mampu menjadi kuat. Dia tidak akan mampu mencapai tingkat orang-orang seperti Gazef atau Brain Unglaus.

Meskipun jika Climb ingin lebih kuat dari siapapun, itu hanya akan terjadi dalam mimpi dan angan-angannya.

Lalu mengapa Gazef memberikan sparring kepada Climb? Bukankah akan lebih berguna untuk menghabiskan waktunya dengan orang yang lebih memiliki bakat?

Jawabannya sederhana. Gazef tidak tahan diam saja dan melihat Climb tanpa henti mengulangi usahanya yang sia-sia. Jika bakat adalah dinding yang memutuskan batasan manusia, Gazef merasa kasihan kepada si bocah dan usahanya yang tak ada akhirnya dan ceroboh dalam menabrak dinding.

Itulah kenapa dia berharap untuk mengajarinya metode yang berbeda.

Dia percaya bahwa meskipun ada batasan dalam hal bakat, tidak ada batasan dalam pengalaman.

Dan karena kemarahan yang dia rasakan kepada figur yang patut dikasihani yang pernah menjadi rivalnya.

Tapi meskipun begitu, mencoba untuk memperoleh kepuasan dari hal lain... Aku berhutang maaf kepada Climb... Tapi menghadapiku seharusnya berguna juga baginya.

"-Serang aku, Climb"

Pada ucapan yang dia keluarkan sendiri, sebuah teriakan kuat datang meresponnya.

"Ya!"

Climb berlari segera setelah dia menjawab.

Gazef, dengan ekspresi serius yang berbeda dari sebelumnya, pelan-pelan mengangkat pedangnya di atas bahu.

Itu adalah posisi untuk serangan vertikal di atas pinggang.

Menahannya dengan perisai akan membatasi gerakannya sendiri dan menangkisnya dengan pedang hanya akan membuatnya terpental ke belakang. Itu adalah serangan yang membuat gerakan pertahanan menjadi percuma. Menahannya adalah hal yang bodoh. Tapi broadsword Climb lebih pendek daripada bastard sword Gazef.

Satu-satunya pilihan adalah berlari maju. Mengetahui ini, Gazef menunggu serangan balik.

Itu sama dengan  melompat ke mulut harimau - tapi keragu-raguannya hanya berlangsung sesaat.

Climb meluncurkan dirinya ke dalam jangkauan pedang Gazef.

Seakan menunggu saat ini, pedang Gazef diturunkan dan menabrak perisai Climb. Benturan yang luar biasa itu bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Wajah Climb berubah karena luka yang mengalir ke lengannya.

"Sayang sekali. hasilnya sama seperti sebelumnya."

Dengan sedikit petunjuk kekecewaan, kaki Gazef meraih perut Climb dan -

"[Fortress]!"

Dengan teriakan Climb, Gazef sedikit terkejut.

Pengaktifan martial art, 'Fortress' tidak hanya terbatas pada pedang atau perisai. Mungkin sekali menggunakannya untuk bagian tubuh manapun. Alasan seseorang biasanya mengaktifkannya ketika menghadang dengan senjata mereka adalah karena sulit sekali menemukan timing yang tepat untuk hal lainnya. Menggunakannya pada armor membawa resiko menerima serangan lawan tanpa pertahanan apapun. Menyimpan skill tersebut untuk menghadang dengan pedang atau perisai adalah hal yang biasa.

Namun, masalahnya selesai jika seseorang bisa memprediksi gerakan lawan selanjutnya seperti yang Climb lakukan terhadap tendangan Gazef.

"Apakah kamu menargetkan ini?!"

"Ya!"

Kekuatan di belakang tendangan Gazef menghilang seakan terserap oleh sesuatu yang lembut. Tak mampu mengalirkan kekuatannya kepada kakinya yang terulur, Gazef membuang percobaan untuk mencoba membawa kakinya kembali ke tanah. Membuatnya berada pada posisi yang tidak menguntungkan, Climb menyerang.

"[Slash]!"

Sebuah martia art, high slash.

Hanya satu, memiliki satu skill yang bisa digunakan dengan penuh percaya diri.

Mengambil ucapan yang dia dengar dari warrior tertentu ke dalam hatinya, ini adalah serangan yang dipraktekkan Climb yang tidak memiliki bakat berhari-hari.

Tubuh Climb tidak diselimuti oleh armor otot-otot. Dari awal, bentuk tubuhnya tak pernah sekalipun untuk figur tipe seperti itu. Dan juga, jika dia memang membangun otot, dia tidak bisa mempertahankan kelincahannya.

Karena hal ini, tubuhnya ditempat untuk sebuah spesialisasi melalui pengulangan yang tak ada akhirnya.

Hasilnya adalah sebuah sabetan vertikal dan lurus, sebuah serangan dengan kecepatan tinggi yang membatasi ranah yang keabsurdan. Seperti sebuah kilatan cahaya, sebuah sabetan yang terlihat seperti memanggil badai.

Serangan ini datang ke bawah menuju ke atas kepala Gazef.

Di dalam pikiran Climb, pemikiran bahwa serangan berkelanjutan akan menghasilkan luka yang fatal telah hilang sama sekali. Itu adalah sebuah teknik yang hanya bisa dilakukan karena kepercayaan diri yang tidak tergoyahkan bahwa seorang pria bernama Gazef tidak akan tewas karena hal seperti ini.

Dengan suara raungan logam, bastard sword diangkat untuk bertemu dengan broadsword yang turun.

Semuanya sejauh ini seperti dugaan.

Climb mengalirkan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mencoba menghancurkan keseimbangan Gazef.

Namun - tubuh Gazef tidak bergeming.

Bahkan dalam posisi yang canggung berdiri di satu kaki, Gazef seperti pohon raksasa dengan akar yang tebal menancap ke tanah.

Serangan Climb yang terkuat dengan seluruh yang dia miliki, ditambah lagi dengan dua martial art, dan Climb masih tidak bisa menyamai Gazef yang hanya berdiri satu kaki. Meskipun terkejut, mata Climb bergerak ke perut Gazef.

kenyataan bahwa dia telah menurunkan broadsword berarti bahwa jarak mereka telah menjadi pendek. Itu juga berarti bahwa Gazef bisa menendangnya lagi di perut.

Tendangan mendarat di tubuh Climb segera setelah dia melompat ke belakang.

Ada luka yang kecil dan meredup. Keduanya berdiri berhadapan dengan beberapa langkah jarak yang memisahkan mereka.

Gazef sedikit mengendurkan matanya dan menenangkan bibirnya.

Meskipun dia tersenyum, bukan tidak menyenangkan, tapi menyegarkan. Membuat Climb sedikit malu. Baginya, itu terlihat seperti sebuah senyum dari seorang ayah yang melihat pertumbuhan anaknya.

"Itu bagus sekali. Kalau begitu aku akan sedikit serius."

Ekspresi Gazef berubah.

Climb merasa merinding di sekujur tubuhnya. Yang terkuat di Kingdom akhirnya menunjukkan diri.

"Aku memiliki potion disini jadi tidak usah khawatir. Ini bisa menyembuhkan retak."

"...Terima kasih."

Cara tanpa bicara Gazef menunjukkan bahwa dia harus bersiap terhadap tulang yang retak membuat jantung Climb berdegup dengan kencang di dadanya. Dia terbiasa dengan luka tapi bukan berarti dia menikmatinya.

Gazef menutup jaraknya dengan dua kali kecepatan Climb.

Bastard Sword menggambar sebuah busur yang cukup rendah untuk menggesek lantai dan menebas kaki Climb. Kecepatannya, dipenuhi dengan kekuatan rotasi, Climb cepat-cepat menusukkan broadsword ke lantai mencoba untuk melindungi kakinya.

Dua sisi berbenturan, setidaknya, itulah yang diyakini Climb. Dalam sekejap - pedang Gazef berubah arah dan bergeser naik di samping broadsword.

"Kuh!"

Climb menyandarkan tubuhnya ke belakang dan pedang tersebut melayang beberapa inchi dari wajahnya. Angin dari tebasan itu memotong beberapa helai rambutnya ketika melewatinya.

Ketakutan pada kenyataan bahwa Gazef telah membuatnya tersudut seburuk ini dengan secepat ini, Climb melihat dalam pandangannya ke arah bastard sword yang berhenti dan cepat-cepat kembali.

Sebelum dia bisa berpikir, insting menyelamatkan dirinya membuat Climb mendorong maju dengan perisai kecil. Bastard Sword bertabrakan dengan perisai dan suara logam yang keras terdengar.

Dan-

"-Ugh!"

Climb merasakan nyeri yang kuat saat dia terdorong ke samping. Benturan saat tubuhnya menabrak dengan keras ke lantai memaksa pedangnya terlepas dari tangan.

Bastard Sword yang berbenturan dengan perisai kecil telah bergerak ke atas dan mengirimkan benturan yang kuat ke samping Climb.

"Perhatikan alirannya, bukan hanya menyerang dan bertahan. Kamu harus bergerak agar setiap tindakanmu bisa mengalir kepada serangan selanjutnya. Pertahananmu harus bertindak sebagai bagian dari seranganmu berikutnya."

Gazef berbicara kepada Climb dalam suara yang lirih sambil mengambil pedangnya dan mencoba untuk berdiri sambil memegang bagian samping tubuhnya.

"Aku mengendalikan kekuatan agar tidak hancur. Kamu seharusnya bisa melanjutkan... Apa yang ingin kamu lakukan?"

Gazef, yang bahkan tidak lelah, dan Climb, yang kaku dan berat karena luka.

Pemandangan yang buruk karena tidak mampu bertahan dalam beberapa serangan, dia hanya membuang-buang waktu Gazef. Meskipun begitu, Climb ingin menjadi lebih kuat, tak perduli walau hanya sedikit.

Dengan mengangkat pedangnya, Climb mengangguk kepada Gazef dan melanjutkan kuda-kudanya.

"Bagus sekali, mari kita lanjutkan."

"Ya!"

Dengan suara teriakan yang serak, Climb menyerang.

Dihajar, terlempar kesana kemari, dan suatu ketika bahkan beralih menjadi pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan, Climb roboh ke lantai dengan nafas terengah-engah. Hawa dingin dari lantai terasa nyaman saat menyerap panas tubuhnya melalui chain shirt miliknya.

"Hah, hah, hah..."

Climb bahkan tidak mencoba mengusap keringatnya. Tidak, dia bahkan tidak memiliki energi untuk melakukannya.

Menahan tusukan-tusukan luka, Climb yang tak mampu menahan rasa lelah yang semakin meningkat di sekujur tubuhnya, menutup matanya sedikit.

"Usaha yang bagus. Aku mencoba untuk tidak menghancurkan atau meremukkan apapun, tapi bagaimana?"

"...."

Terkapar di lantai, Climb menggerakkan tangannya dan menyentuh bagian-bagian yang masih memberi rasa nyeri.

"Kurasa tidak ada masalah apapun. Sakit sih, tapi mereka hanyalah goresan-goresan."

Rasa sakitnya berdering ringan; tidak akan menjadi hambatan terhadap keamanan putri.

"Begitukah... Kalau begitu kita tidak akan memerlukan potion."

"Ya. Lagipula, penggunaan yang ceroboh akan membatalkan efek dari latihan otot."

"Memang benar. Mereka seharusnya dibiarkan sembuh secara alami tapi magic akan membuat otot-otot itu kembali ke bentuk asal. Aku asumsikan kamu akan kembali ke tugasmu sebagai pengawal putri?"

"Ya."

"Kalau begitu ambil ini. Gunakan jika ada sesuatu yang terjadi."

Dengan suara berdenting, botol potion itu berada di samping Climb.

"Terima kasih."

Dia bangun sendiri dan melihat ke arah Gazef, kepada pria yang pedangnya tidak bisa disentuh sekalipun.

Pria yang tak ada goresan apapun itu melihat ke arah Climb dengan aneh, lalu bebicara.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa... saya hanya berpikir anda memang menakjubkan."

Nafas Climb menjadi tenang, hampir tak ada jejak keringat di dahinya. Climb menghela nafas; dia menyadari bahwa ini adalah perbedaan antara dirinya, yang ada di lantai, dan yang terkuat di Kingdom. Di lain pihak, Gazef menyunggingkan senyum pahit.

"...Oh begitu."

"Bagaimana-"

"-Meskipun kamu tanya bagaimana aku bisa kuat. Aku tak punya jawaban yang bisa kuberikan. Itu hanya bakat. Aku belajar bagaimana bertarung selama hari-hariku sebagai tentara bayaran. Pekerjaan yang disebut vulgar oleh para bangsawan ini, aku mempelajarinya selama hari-hari itu."

Tidak ada trik untuk memperoleh kekuatan, Gazef berkata. Harapan yang mengadopsi latihan yang sama akan, hingga titik tertentu, membantunya menjadi lebih kuat menjadi dihancurkan.

"Climb, kamu memiliki potensi akan itu. Memukul dan menendang, menggunakan tinjumu untuk bertarung."

"Be...Begitukah?"

"Memang benar. Pada kenyataannya, beruntung sekali kamu tidak dilatih menggunakan seni berpedang atau sebagai prajurit.
Ketika seseorang memegang pedang, mereka cenderung terfokus bertarung hanya dengan menggunakan senjata. Aku percaya bahwa ini salah. Merubah pandangan kita akan pedang untuk melihatnya hanya sebagai cara lain dalam menyerang sambil menggabungkan tinju-tinju dan kaki-kaki, bukankah itu lebih efektif di dalam pertarungan yang sebenarnya? Yah... pedangku lebih cocok untuk para petualang."

Wajah datar Climb yang biasanya telah hilang dan digantikan dengan senyum. Dia tidak mengira yang terkuat di Kingdom ini memuji skill miliknya setinggi itu; gerakan tak beraturan dan skill miliknya tidak memiliki kerangka.

Pedang yang diejek oleh para bangsawan di belakangnya dipuji. Kegembiraannya sangat besar sekali.

"Kalau begitu, aku akan pergi. Aku tidak boleh telat mendatangi sarapan pagi sang raja. Apakah kamu akan kembali?"

"Tidak. Seharusnya ada seorang tamu hari ini."

"Seorang tamu? Mungkin seorang bangsawan?"

Saat Gazef mengiranya aneh sang putri akan menerima tamu, Climb merespon.

"Ya, Aindra-sama akan berkunjung."

"Aindra?..Ah! Tapi Aindra yang mana yang kamu maksud? Yang biru, ya kan? Bukan yang Crimson (Merah Tua)?"

"Ya. Blue Rose (Mawar Biru)."

Kelegaan di wajah Gazef jelas terlihat dalam sekali lihat.

"Benar... Memang begitu. Jika seorang teman berkunjung..."

Gazef pasti mengira alasan Climb yang tak diundang sarapan pagi adalah karena seorang teman yang datang. Sebenarnya, Climb adalah orang yang menolak penawaran sang putri. Meskipun jika dia berada pada posisi diperbolehkan, menolak keluarga kerajaan, bahkan Gazef akan mengerutkan dahi akan berita ini. Itulah kenapa Climb tetap diam untuk masalah tersebut dan menyerahkannya pada imajinasi pria itu.

Bahkan Aindra sendiri, yang kenal dengan Climb melalui Renner, memintanya untuk bergabung dengan mereka. Dia tidak akan memberikan reaksi yang sama dengan para bangsawan lain jika Climb bergabung dengan sarapan mereka.

Ini adalah pertimbangan untuk tuannya yang memiliki sedikit teman-teman wanita. Seorang putri yang hampir tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pembicaraan di kalangan para gadis dan Climb yang merasa bahwa ketidakhadirannya adalah hal yang terbaik.

"Terima kasih atas petunjuk anda hari ini, Gazef-sama."

"Tidak sama sekali, tidak usah dihiraukan. Aku juga menikmatinya."

"...Jika tidak terlalu bermasalah, maukah anda mengawasi latihan saya di lain waktu juga?"

Gazef berhenti sejenak - sebelum Climb meminta maaf, Gazef berbicara.

"Aku tidak melihatnya masalah jika kita tetap melakukan ketika yang lainnya tidak ada."

Climb tidak membuka mulutnya, dia benar-benar mengerti alasan dari keraguan pria itu. Dia lalu memaksa tubuhnya yang berderak itu untuk berdiri menunjukkan ketulusannya.

"Terima kasih banyak!"

Gazef pelan-pelan melambaikan tangannya dan berbalik.

"Aku akan serahkan bersih-bersihnya kepadamu. Akan masalah jika aku melewatkan sarapannya..Ah, benar juga. Tebasan vertikal tadi tidak buruk, tapi kamu harus menyimpan gerakanmu yang selanjutnya di pikiran saja. Pikirkan saja apa yang akan terjadi jika musuhmu menghadang atau menghindari seranganmu."

"Ya!"

2 comments:

brian torao said...

sankyu overlord vol. 5 bab1 bag. 3

Unknown said...

Mantap min