Overlord - Vol 11 - Chapter 3 Part 1

Chapter 3 : Krisis yang akan datang

Part 1


Overlord Light Novel Bahasa Indonesia
The Great Rift

Itu merujuk kepada jurang yang lebar yang memanjang si sisi barat dari ibukota Dwarven Kingdom, Feoh Gēr.

Itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam, dengan panjang lebih dari 60km dan lebar 120m pada titik yang paling sempit. Kedalamannya tidak diketahui. Tak ada yang tahu apa yang sedang menunggu di bawah sana, dan atak ada yang kembali hidup-hidup dari dua ekspedisi yang telah dikirimkan untuk menyelidiki jurang itu.

Untuk waktu yang sangat lama, pembatas alami itu telah melindungi Feoh Gēr dari segala macam serangan luar biasa. Mereka bisa menggagalkan segala monster dari barat yang mencoba menyerang selama mereka mempertahankan jembatan bersuspensi yang membentang untuk menyeberangi the Great Rift.

Namun hari ini, pasukan garnisun Feoh Gēr – markas militer yang berdiri diantara Great Rift dan Feoh Gēr — sedang berada di dalam pusaran kebingungan dan teriakan.



“Apa yang terjadi? Seseorang katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi!”

Teriakan itu datangnya dari arah Panglima dari pasukan dwarf, seorang veteran yang telah melayani lebih dari 10 tahun.

Informasi yang datang sangat kacau dan kontradiktif, dan tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah ada sesuatu yang terjadi di benteng yang mempertahankan the Great Rift.

“Informasi yang paling baru yang kita miliki mengatakan bahwa Quagoa sedang menyerang!” salah satu komandan platon berkata, mengulangi sebuah laporan dari benteng tersebut.

Berita seperti itu sudah tidak asing. Quagoa dan dwarf adalah musuh bebuyutan, dan mereka sering menyerang dalam kelompok ratusan. Ada lebih banyak serangan selama Panglima itu mengabdi sepuluh tahun ini dari yang bisa dia ingat, tapi hingga sekarang mereka semua telah dibelokkan dari benteng tersebut. Tak ada Quagoa yang berhasil mendekati garnisun itu, terlebih lagi Feoh Gēr sendiri.

Ini karena Quagoa adalah ras yang kuat terhadap serangan-serangan senjata, tapi sangat lemah melawan serangan-serangan listrik. Mengetahui hal ini, mereka menimbun benteng itu dengan item-item magic yang bisa menghasilkan [Lightning] dan efek-efek sebanding.

[Lightning] adalah sebuah mantra yang menusuk musuh dalam garis lurus, dan itu sangat efektif terhadap musuh yang berbaris menyerang sebuah jembatan. Mantra itu bisa menyapu habis seluruh gelombang Quagoa dalam sekali pukul, dan selain itu, para dwarf menjaga tempat itu bersenjatakan crossbow yang diberi kemampuan untuk memberikan luka listrik tambahan.

Sebaliknya, para dwarf di dalam garnisun lebih lemah baik dalam perlengkapan dan jumlah. Namun, itu bukan karena mereka tidak ingin mengalokasikan kekuatan militer ke dalam markas yang penting, tapi karena pasukan dwarf selalu kekurangan tenaga. Jadi, benteng itu harus menarik para pasukan dari kelompok pasukan yang kecil, dan mereka melakukannya dalam jumlah yang tidak akan mengundang kecaman.

Meskipun semua spekulasi ini berlawanan dengan serangan Quagoa, benteng itu sekarang berada dalam keadaan dimana mereka bahkan tidak memiliki sisa-sisa orang yang bisa diapnggil untuk membantu. Apa itu artinya?

“Jangan katakan kepadaku kalau mereka diserang oleh musuh yang terlalu banyak untuk dilawan! Apakah ada pesan lain dari benteng itu?”

“Tidak ada sampai sekarang.”

Keringat dingin mengalir di punggung Panglima.

Kalimat “serangan besar” muncul di depan matanya. Ada rumor semacam itu beberapa tahun yang lalu, namun meskipun begitu, dia telah mencoba sebaik mungkin untuk membohongi diri, berkata bahwa tidak ada hal semacam itu. Namun, itu sekarang terhampar di depan matanya.

Panglima itu menguatkan diri. Sekarang bukan waktunya untuk merenungkan hal mengerikan itu.

Apa tindakan tepat yang harus dilakukan sekarang?

Sebuah terowongan yang landai dalam bentuk spiral yang terhubung dari garnisun ini hingga benteng itu, dan di depan mereka ada ibukota Feoh Gēr. Gua yang menjadi tempat dimana garnisun itu berada adalah barisan pertahanan terakhir mereka, dan selain itu mereka memiliki gerbang dari mythrill yang dipadukan dengan orichalcum. Mereka bisa bertahan terhadap serangan musuh dari terowongan itu jika mereka menutup gerbang tersebut.

Apakah mereka harus menutup gerbang tersebut?

Jika mereka melakukannya, mereka tidak akan bisa mengirimkan bala bantuan dari sini. Dengan kata lain, mereka akan mengabaikan rekan mereka, yang mungkin sedang bertarung dengan bertaruh nyawa di benteng itu.

Tetap saja, keraguan itu hanya bertahan sesaat.

Ada kurang dari 20 orang di dalam benteng tersebut. Ada lebih dari 100.000 dwarf di dalam Feoh Gēr. Hanya ada satu jawaban ketika yang dipikirkan adalah prioritasnya.

“Tutup gerbagnya!”

“Sampaikan perintah! Tutup gerbangnya!”

Sebelum gema itu hilang dari udara, sebuah suara germuurh datang dari tanah. Perlahan, gerbang itu menutup pintu masuk. Gerbang-gerbang ini, yang tidak tersentuh selama latihan, sekarang digunakan untuk tujuan yang sebenarnya.

“Tuan! Ada Quagoa!”

“Apa!?”

Setelah mendengar teriakan para prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk terowongan itu, Panglima menoleh untuk melihat. Dia melihat bentuk menjijikkan dari demihuman, dengan mulut berbusa, matanya merah seperti darah.

Tanpa senjata yang diberi mantra lightning, bahkan satu saja dari mereka adalah lawan yang mumpuni. Dan sekarang, ada segerombol makhluk seperti itu, begitu banyaknya sehingga mereka tidak bisa dihitung dengan dua tangan, sedang bergegas menuju para dwarf.

Bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah benteng sudah benar-benar jatuh? Berapa banyak orang yang telah Quagoa bawa? Bisakah mereka bertahan terhadap mereka meskipun sudah menutup gerbangnya?

Panglima berdecak lidah. Quagoa itu membuat langkah yang bijak. Kulit mereka bisa memantulkan anak panah yang ditembakkan oleh crossbow. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh barisan tombak adalah menahan mereka di pinggiran. Namun, orang-orang di sini telah mengantisipasi jika Quagoa akan mencoba sesuatu seperti ini, dan mereka pun mengambil langkah untuk mencegahnya.
Para Mage! Blitzkrieg!”

Sebuah mantra area yang luas tingkat tiga, [Thunderball] (Bola petir) dan mantra tingkat dua, [Thunderlances] (Tombak Petir) datang dari balkoni yang sedang memantau prajurit pembawa tombak, pada sudut yang tidak akan mengenai mereka.

Perapal mantra-mantra ini adalah tiga mage yang paling kuat di dalam pasukan.

Kelompok yang berlari di depan gerombolan langsung dibantai oleh [Thunderball], seperti yang diduga dari kutukan Quagoa. Quagoa di belakang mereka berhenti untuk menghindari mantra itu pula.

Hanya beberapa saat saja, tapi itu memberi mereka ruang untuk bernafas.

Gerbang itu tertutup dengan suara clang yang keras. Suara-suara memukul-mukulkan dan membentur-benturkan tersaring menembus ke sisi lain dari pintu yang kokoh ini.

Suasana yang tegang di udara agak mereda. Namun, Panglima, orang-orang yang ada di sekitarnya, dan siapapun di sini tahu ini masih belum selesai.

Gerbang itu sangat kokoh. Gigi-gigi dan cakar dari Quagoa biasa tidak akan bisa merusaknya. Namun, beberapa Quagoa memiliki gigi yang dikatakan setara dengan kerasnya mythrill. Sementara adanya makhluk selevel pimpinan ini tidak aneh jika ditemui ikut serta dalam serangan ini. Tidak mungkin bisa menyingkirkan setiap masalah.

“Sialan! Jika saja gerbangnya dialiri listrik!”

Itu adalah saran yang dibuat oleh Panglima ketika dia pertama kalinya mengambil posisinya. Lagipula, gerbang itu sendiri tidak cukup bisa diandalkan sebagai baris terakhir pertahanan. Tentu saja, ada berbagai alasan atas mengapa mereka tidak bisa memberi mantra gerbang ini, seperti kurangnya kekuatan nasional, tapi alasan terbesarnya adalah benteng itu selalu berhasil menghentikan segala serangan musuh. Jadi, para petinggi bersikap ‘selama benteng itu masih bertahan, semuanya akan baik-baik saja’.

Melihat sekeliling, dia melihat ekspresi gelap dan suram di wajah setiap orang.

Ini gawat. Jika mereka kehilangan harapan untuk masa depan, mereka akan kalah ketika pertarungan menjadi nekad.

Panglima memtuskan untuk mengubah situasinya, dan berteriak:

“Bagus! Kita telah memastikan keselamatan kota! Tapi itu tidak menjamin apapun! Mulailah memasang barikade untuk jaga-jaga jika musuh berhasil menembus gerbang itu! Cepat!”

Tekad baru memenuhi wajah-wajah prajurit dwarf. Tahu bahwa masih ada sesuatu yang bisa mereka lakukan menghidupkan kembali motivasi mereka. Bahkan satu harapan rapuh masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Kepala Staf Panglima berdiri di sampingnya dan berbisik ke telinga sang panglima.

“Tuan, apakah kita harus mengubur gerbang itu dengan pasir dan tanah?”

Panglima itu merenungkan ucapan dwarf lain.

Jika mereka menyegel sepenuhnya. Banyak dwarf yang akan tidak setuju.

“Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

Panglimat tersebut menyadari ekspresi kepala staf. Dia mungkin berasumsi kalimat sang panglima adalah balasan pertanyaannya.

“Maaf, Yang kumaksud bukan kamu. Yang kumaksud adalah mereka itu – Dewan Perwakilan.”

“Anda adalah salah satu dari mereka, ya kan, panglima? Jadi itu respon mereka terhadap penutup penuh? Secara pribadi, kurasa menyegelnya saja tidak cukup. Kita harusnya membuang Feoh Gēr.”

Panglima itu memicingkan matanya dan menyeret kepala stafnya dengan tangan ke tempat dimana tidak ada orang yang akan mendengar mereka.

Dia tidak ingin percakapan mereka didengar oleh siapapun.

“Kamu juga berpikir demikian?”

Mereka tidak tahu berapa banyak Quagoa yang ada di sisi lain dari gerbang itu.

Serangan musuh terlalu cepat dan mereka terpaksa mundur. Jadi, mereka kehilangan peluang untuk mempelajari musuh. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang adalah seperti mengunci diri dan menutup mata.

Satu-satunya data solid yang mereka miliki adalah musuh memiliki kekuatan tempur yang cukup untuk meruntuhkan benteng yang tak tergoyahkan hingga sekarang ini, dan mereka harus memikirkan cara untuk menghadapi itu.

Di bawah keadaan seperti ini, dan setelah memperhitungkan kekuatan tempur mereka, akan sangat sulit bagi para dwarf untuk membuka gerbang itu dan mengalahkan musuh. Solusi terbaik mungkin adalah membuang ibukota mereka.

“Kalau begitu, berapa banyak waktu yang dihasilkan untuk mengulur waktu setelah mengubur gerbang itu dengan tanah dan kotoran?”

“Jika kita meruntuhkan terowongannya, kita akan mampu memberi banyak waktu, tapi jika kita menggunakan pasir dan tanah saja, kita hanya akan memiliki waktu beberapa hari saja paling banyak.”

“Bahaya apa yang akan diberikan oleh keruntuhan itu nantinya?”

“Seperti yang anda tahu, kita tidak jauh dari Feoh Gēr. Meskipun saya tidak bisa benar-benar yakin tanpa menugaskan Dokter terowongan untuk memeriksa, ada peluang mungkin akan mempengaruhi kota juga. Skenario terburuknya adalah sebuah jalan pintas akan terbuka dari balik gerbang dan Quagoa akan masuk dari jalan itu ke dalam ibukota Feoh Gēr…”

“Dengan kata lain, kita harus cari tahu sekarang. Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya. Apakah kamu kira gerbang itu jatuh murni karena jumlah mereka? Mengapa orang-orang di dalam gerbang itu tidak memberitahu kita cepat-cepat?”

“Saya telah memikirkan beberapa kemungkinan. Secara pribadi yang paling memungkinkan adalah Quagoa telah memasukkan bantuan spesies lain.”

“Jangan-jangan Frost Dragon (Naga Beku)?”

Quagoa telah menguasai mantan ibukota dwarf Feoh Berkanan, dan telah membuatnya sebagai markas mereka. Namun, istana kerajaan di jantung kota dikuasai oleh Frost Dragon.

Kedua belah pihak tidka memiliki hubungan saling membantu yang sempurna, tapi karena mereka hidup bersama, mereka mungkin akan saling membantu satu sama lain.

Wajah panglima itu menjadi pucat. Frost Dragon pada dasarnya adalah bencana alam ketika mereka menginjak usia tertentu.

Pada awalnya ada empat kota dwarf.

Feoh Berkanan, yang telah dibuang selama serangan Demon Gods 200 tahun yang lalu.

Feoh Gēr di timur, yang adalah ibukota saat ini.

Feoh Raiđō di selatan, yang telah dibuang beberapa tahun yang lalu.

Dan akhirnya, Feoh Tiwaz, di barat.

Kota di barat ini telah dihancurkan ketika peperangan antara dua Frost Dragon - Olasird’arc=Haylilyal dan Munuinia=Ilyslym, dan sekarang tidak lebih dari sebuah reruntuhan.

“Aku merasa memang itu kemungkinannya. Memang kita tidak tahu apa yang mereka lakukan untuk bisa membuat si arogan itu mengambil tindakan, alternatif lain adalah mereka melakukannya sendiri; entah telah menemukan semacam mantra, atau mereka menemukan sebuah rute yang bisa melewati Great Rift.”

“Bahkan kami para dwarf tidak menemukan jalan mengelilingi Great Rift.”

“Tetap saja, sudah berapa tahu yang lalu itu? Mungkin Quagoa telah menggali sebuah terowongan atau sesuatu sebagai jalan monster-monster lain, atau retakan bumi berpindah dan memberi mereka sebuah jalan memutar. Jika kamu memikirkannya, mungkin mereka juga bisa pergi ke atas permukaan.”

“Quagoa di permukaan?”

“Mungkin saja ada seorang individu dengan kemampuan itu.”

Quagoa sebenarnya buta di bawah terik matahari, jadi tidak mungkin bagi Quagoa untuk memindahkan pasukan mereka ke permukaan.

Namun, itu hanyalah harapan semata di pihaknya.

Tidak, sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang. Dia harus mempertimbangkan itu ketika merencanakan strategi masa depan.

“Kepala staf, kita harus mempertimbangkan bahwa mereka mungkin bisa bergerak di atas tanah dan memperkuat pertahanan di permukaan menurut itu. Kirim beberapa orang tanpa mengancam pertahanan kita di sini. Kita juga harus mendapatkan berita dari Dewan dan membuat mereka mengeluarkan perintah evakuasi ke selatan.”

Ditambah garnisun ini, benteng di utara Great Rift dan Ruang Dewan di dalam kota sendiri, ada lebih dari satu markas militer di dalam kota Feoh Gēr.

Itu adalah sebuah benteng yang berdiri untuk keuntungan orang-orang yang lebih tinggi dari dwarf – contohnya, manusia – di pintu keluar menuju permukaan. Panglima tersebut memberi perintah untuk memperkuat area itu dan tetap waspada akan serangan dari permukaan.

“Dimengerti!”

“Dan juga, buat orang-orang bersiap untuk mengubur pintu itu. Jika perlu izin kepada para dewan, aku akan mencari jalan untuk meyakinkan mereka.”

“Bagaimana jika dewan memakan waktu untuk berunding?”

“Lakukan yang sebisamu. Aku juga akan melakukan yang sebisaku.”

Hanya itu yang bisa dia katakan. Tentu saja, rencananya adalah mendorong strategi itu sekeras mungkin, di dalam posisinya sebagai salah satu dari delapan dewan, tapi jika yang lainnya melakukan veto, maka yang bisa dia lakukan adalah mencoba sekeras mungkin sendiri.

“Lapor! Lapor! Saya ingin lapor! Dimana panglima?!”

Melihat ke arah sumber suara itu, panglima tersebut melihat seorang prajurit dwarf menunggangi seekor Riding Lizard (kadal tunggangan).

Kadal yang dikendarai adalah sejenis Giant Lizard (Kadal raksasa). Mereka adalah reptil yang memiliki ukuran tiga meter dari kepala hingga ekor. Mereka tidak banyak, jadi para dwarf membesarkan mereka sebagai tunggangan dan menggunakannya sebagai binatang untuk menarik beban untuk pekerjaan sehari-hari.

Namun, kebanyakan para pelari tidak akan mengguakan mereka untuk mengirimkan pesan. Mereka dipekerjakan dalam keadaan genting – ketika diperlukan untuk memberitahu garnisun tentang kondisi di baris depan.

Rasa tidak tenang memenuhi hati panglima itu.

“Darimana orang itu?”

“Dia seharusnya memiliki pos di benteng pintu masuk permukaan minggu ini.”

Itu memastikan perasaan takut yang ada di hati panglima tersebut. Tidak, melihat ekspresi pria itu dan nadanya yang hampir gila, itu sudah jelas sekali. Bertanya seperti itu hanyalah karena dia sangat ingin tidak mengakui ketakutan yang ada di hatinya dengan kenyataan yang ada di depan mata.

“Aku di sini! Ada apa?”

Pembawa pesan itu belari ke arah panglima dengan kekuatan penuh. Itu tidak bisa ditunda. Ini adalah sesuatu yang harus didengar secara langsung jadi tindakan semacam itu bisa sangat menentukan.

Pembawa pesan itu jatuh dari punggung kadal tunggangannya, lalu dia mencoba membenarkan diri mati-matian.

“Panglima! Ada keadaan darurat! Mon-Monster! Ada monster!”

Dia menduga itu adalah Quagoa, tapi dia cepat-cepat menyingkirkan itu. Pria itu tidak akan menggunakan kalimat seperti itu untuk mendeskripsikan Quagoa.

“Tenanglah! Kita tidak akan bisa tahu apa yang kamu katakan! Apa yang terjadi? Apakah yang lainnya baik-baik saja?”

“Y-Ya! Ada monster-monster menakutkan di pintu masuk! Mereka bilng mereka ingin membicarakan tentang pasukan Quagoa yang menuju kemari!”

“Apaaaaaaaaaa?!”

Pemilihan waktu mereka terlalu sempurna. Dia tidak bisa membayangkan ada dua kejadian yang tidak berhubungan. Jangan-jangan mereka adalah bos-bos dari Quagoa, atau yang membantu mereka melewati Great Rift?

“Siapa, siapa mereka? Bagaimana rupa mereka! Kepala Staf!! Kumpulkan setiap orang yang bisa bergerak sekarang juga!”

“Saya mengerti!”

Panglima itu bahkan tidak punya waktu untuk melihat bawahan yang sedang panik pergi.

“Berapa banyak monster-monster itu disana?! Berapa kekalahanmu?!”

“Y-Ya! Ada 30 orang. Tpai mereka kelihatannya tidak ingin bertarung! Mereka bahkan berkata mereka ingin membuat kesepakatan dengan kita, tapi mereka terlihat sangat jahat, jadi saya tidak berpikir itu adalah niat mereka yang sebenarnya. Pasti ada semacam rencana di sini!”

Bagaimana sebenarnya mereka mengkualifikasikan sebagai jahat? Yang lebih penting lagi, pria itu masih belum mendeskripsikan mereka. Setelah ditanya lagi, prajurit itu menelan ludah dan menjelaskan,

“Mereka adalah undead yang terlihat menakutkan dikelilingi oleh aura yang terlihat tidak baik!”

“Apa?! Undead?!”

Makhluk yang membenci makhluk hidup, yang menabur kematian saat bangkit, musuh dari semua yang hidup.

Beberapa gambaran muncul di dalam benak panglima itu saat dia mendengar kata “undead”. Contohnya, Freezing Zombie (Zombi beku), Frost Bone (Tulang Beku), dan semacamnya. Namun, tak ada undead yang menjadi lawan kuat. Orang ini seharusnya tahu itu. Kalau begitu, mengapa dia sangat ketakutan?

Disamping itu, mengapa undead datang kemari? Apakah mereka di sini untuk bersenang-senang dalam pembantaian dwarf dan quagoa, keduanya adalah makhluk hidup?

“Kepala staf, apakah kamu belum siap?! Ayo berangkat ketika kamu sudah selesai! Kita tidak tahu undead macam apa yang ada di luar sana, tapi jangan menganggap enteng mereka! Jangan biarkan mereka menganggap remeh kita! Mereka mungkin tidak bersikap sombong, tapi jika mereka meremehkan kita, bisa gawat!!”

29 comments:

dyah said...

pertamax lagi.. yeeee

makhin mygeisha said...

Lanjuutttttt

Ahmad Fauzi said...

Terimakasih buat yg admin nya ug slalu setia menghibur
Dr awal ngikutin trus nih ampe sekarang
Ganbatte mimin .. 🙌

Sidik Permana said...

Hm

Dewi Siswanti said...

Semangat min 😀

Anonymous said...

min pengen tanya. pada waktu chapter emisary of the king albedo membenci ainz ooal gown dan mengibarkan bendera momonga . di akhir chapter albedo mengatakan "tetap saja, apa yang terjadi dengannya " nya ini perempuan atau laki laki min (what happens with her/him? )

sugeng riyadi said...

Makin seru aja nich ceritanya. Semangat buat update terus...

sugeng riyadi said...

Makin seru aja nich ceritanya. Semangat buat update terus...

Ciggy Shiggy said...

@Anonim : yang dimaksud quote di akhir chapter itu chapter ke berapa?

Febri Ari said...

njirrr, gagal pertamax gw..
padahal tiap hari slalu nyempetin buat mampir ke sini lo

thankyu buat ngadimin yg udah translate, ganbatte min

Night D said...

sankyu min semngat buat update selanjutnya :):)

Anonymous said...

Kerenn lanjutkan mimin

ahmad humaidi said...

kerenn lajut trus minn

Anonymous said...

Lanjut terus min

Anonymous said...

Mantap min, makin penasaran tiap kali baca d sni, hasil translatenya bagus sih jd enak bacanya, semangat min

amsier said...

Good Job..

Exicore said...

Saya rasa lebih bagus kalau judul Chapter 3 diterjemahkan "Krisis Yang Akan Datang"

Syaiful Amri said...

ngeeenggg..🚲 ciiiiiiiittttt... ⛔ brughh...
📣LANJUT GANN!!!

#LoLisekai

tony T said...

ditunggu update'an selanjutnya min teng you..

makhin mygeisha said...

@anonim , yg di prolog vol 10 ,mungkin yg di mksud itu ainz sama

Ciggy Shiggy said...

@anonim, kalau benar yang dimaksud adalah akhir dari prolog 10 maka yang dimaksud "dia" memang adalah Ainz. Albedo saat itu sedang kepikiran karena mau dibawa kemana negeri Sorcerous Kingdom itu nantinya. Karena Ainz sama sekali belum memberitahukan arah mau dibawa kemana Sorcerous Kingdom kepada Albedo. Sebelumnya sudah dijelaskan persoalan administrasi dan hukum yang digunakan masih menggunakan Kingdom. Artinya Sorcerous Kingdom masih dibangun dari pondasi yang lama yaitu Kingdom.

Anonymous said...

menurut saya yg dimaksud anonim yang diatas itu ketika perang di kingdom. ketika albedo tidak ikut campur langsung dlm perang itu atau seperti di campakan oleh ainz (sebagai pemimpin guardian tp kurng memiliki andil). perang yang di pimpin dermigue, dan albedo belum sekali diberi misi untuk membuktikan dirinya di luar nazarick (albedo merasa dikurung disitu) ~ dia melihat ke bendera di pojok kamar dan berbicara seperti membenci ainz/berharap pemilik bendera itu memimpin nazarick (kamar itu milik salah satu anggota guild). tp end ga ada lanjutannya min, jd penasaran yg bagian itu.

Muhammad Agung said...

Kerem

Ardhi Yahya said...

Nais thx miiiin sama

Api 08 said...

Thanks min

Brian Torao said...

sankyu overlord vol.11 bab 3 bag.1

Didi Guritno said...

Makasih boos ku

Unknown said...

lanjut

Anan said...

Ainz muncul langsung auto win

Powered by Blogger.