Cybersh Note

Fans Translasi Novel-Novel Asia

16 December, 2016

Overlord - Vol 11 - Chapter 5 Part 4

Chapter 5 : Frost Dragon Lord

Part 4


Overlord Light Novel Bahasa Indonesia“Kalau begitu, ayo mulai.”

Setelah berkata demikian kepada Shalltear, yang sedang berdiri di sampingnya, Aura membuka gulungan tersebut – World Class Item yagn dia bawa serta – lalu mengaktifkan kekuatannya.

[Depiction of Mountains and Rivers].

Sederhananya, itu adalah sebuah item yang menyegel sebuah target ke dalam ruang yang tertutup. Lebih tepatnya, menukarkan sebuah lukisan pemandangan dengan dunia nyata, lalu mengkonversi dunia nyata ke dalam sebuah lukisan pemandangan.

Definisi dari ‘target’ dalam hal ini sama halnya dengan mantra tingkat super [The Creation] (Penciptaan), dan ditujukan pada area tertentu. Tak ada satupun di dalam area tersebut – baik yang bergerak maupun tidak – bisa menangkal efeknya.

Kali ini, dia akan mengurung semuanya di dalam gua raksasa ini ke dalam dunia lain yang diciptakan oleh [Depiction of Mountains and Rivers].


Shalltear dan Ainz dilindungi oleh World Class Item, jadi mereka tidak akan terkurung di dalam dunia lain itu. Malahan mereka akan muncul di dalam lukisan pemandangan tersebut yang menggantikan daerah nyata yang telah dilahap.
Namun, sebagai pengguna item tersebut, Aura otomatis akan tersedot ke dalam.

Dunia yang terlukis ini hampir sama dengan dunia aslinya, tak ada yang aneh atau luar biasa di dalamnya. Namun, secara fundamental itu adalah sebuah ilusi. Tanpa kekuatan [Depiction of Mountains and Rivers], ketika seseorang keluar dari area yang menjadi target, semuanya akan hilang menjadi kabut. Dengan kata lain, setiap harta karun yang didapatkan dari dalam dunia lukisan itu juga akan hilang menjadi kabut.

Tentu saja, dua orang yang telah masuk ke dalam bagian oubliette yang nyata dengan kemauan mereka sendiri. Sejujurnya, World Class Item tidak bisa mempengaruhi pemegang World Class Item lain, tapi berbeda masalahnya jika para pemegang itu menerima pengaruh tersebut. Semuanya berkat sebuah patch dari developer Yggdrasil.

(TL Note : Oubliette – Dungeon rahasia yang memiliki pintu masuk jebakan satu-satunya di atap)

Seseorang bisa memilih satu dari 100 dunia lain untuk dihamparkan ke bagian dunia nyata dari targetnya.

Seperti contohnya, ada tanah berlahar mematikan yang memberikan damage api terus menerus, lanskap daerah di utara yang memberikan damage es, dataran petir yang menghujanji kilatan petir pada jangka waktu berkala, daerah berangin dimana jarak pandangannya nol, atau dunia berkabut, sebagai pilihan dasar.

Hal yang aneh adalah juga ada medan perang yang bisa dipilih. Setelah beberapa saat, sebuah bala bantuan dengan jumlah besar akan muncul menyerang musuh. Namun, pasukan ini hanya akan sekuat 60% saja dai lawan mereka, jadi pada dasarnya terbatas untuk mengurangi sumber daya musuh.

Jika konfrontasi satu lawan satu yang diinginkan,, seseorang malahan bisa menghadapi musuh dengan jumlah entitas kuat yang sama, masing-masing memiliki 80% kekuatan dari pengguna kekuatannya. Karena kemampuan ini, benda itu sangat berguna jika untuk melawan seseorang dengan musuhnya.

Aspek yang paling menakutkan dari item ini adalah tidak menarik orang-orang ke dalam sebuah dunia lain, tapi membiarkan penggunanya memilih target mana yang akan terkena efeknya. Pengguna itu juga bisa memilih efek ini. Dengan kata lain, bahkan jika pengguna itu menciptakan sebuah daerah dengan lava pijar, mereka bisa mengecualikan orang-orang yang dipilihnya terbebas dari damage api.

Namun, item ini memiliki kelemahan.

Kecuali ada dunia lain tertentu yang digunakan, salah satu dari 40 rute jalan keluar akan dipilih secara acak ketika mengaktifkannya, dan jika musuh berhasil keluar dari rute itu, pemilik item tersebut akan berpindah kepada musuh. Tentu saja, tak ada dari tiap-tiap jalan itu yang sederhana, tapi kenyataannya seseorang bisa mengambil alih item itu tanpa harus mengalahkan pemiliknya berarti memilikinya lebih mudah daripada World Class item lain kebanyakan.

Kali ini, Aura memilih salah satu dunia lain yang spesifik tersebut, sebuah wilayah terkunci yang sederhana.

Disamping terkurung, musuh tidak akan menerima konsekuensi efek yang merusak apapun. Namun, hanya ada satu jalan tertentu untuk keluar dari tempat ini.

“Baiklah, Hanzo, aku ingin kalian menghadang jalan keluar dari dunia ini. Akan menyusahkan jika ada yang kabur. Membungkuklah sedikit.”

Hanzo itu membungkuk dari tempat persembunyiannya di dalam bayangan, dan memperhatikan dengan seksama penjelasan Aura terhadap jalan keluarnya.

Meskipun Aura tidak mendeteksi adanya penyergap di dekat, tidak ada salahnya berhati-hati.

“Kalau begitu, Aura. Berapa banyak lagi orang yang telah masuk ke dunia ini setelah yang lainnya?”

“Hm? Hanya dua orang.”

Jawaban itu berarti musuh tidak memiliki World Class Item. Mereka menghela nafas lega.

Shalltear melihat ke bangunan dari bekas ibukota yang ada di sekeliling. Itu adalah sebuah kota yang luas, tapi sangat hening, seakan penduduknya sudah kabur semua.

Mereka harus cepat-cepat menangkap Clan Lord, penguasa Quagoa, dan menyampaikan ucapan Supreme Being kepadanya. Namun, penglihatan mereka terhalang oleh rumah-rumah tersebut dan mereka tidak bisa menemukan tempat dimana dia tinggal.

“Bisakah kamu membakar rumah-rumah itu?”

“Hm? Aku tidak bisa. Namun, aku bisa menciptakan lingkungan berbahaya yang memberikan damage setiap saat. Contohnya, jika ada satu baris rumah kayu, kita bisa menciptakan daerah berlahar lalu membakarnya menjadi abu.”

“Itu mungkin akan membunuh mereka semua, jadi kamu tak bisa melakukan itu.”

“Yeah. Tetap saja, aku bisa mengaktifkannya sejenak dan menghadapi setiap orang yang selamat.. tapi akan sayang sekali jika bijih-bijih logam mereka juga ikut meleleh.”

Quagoa itu memberi makan anak-anak mereka logam dan semacamnya, jadi seharusnya ada logam atau bijih mentah dan mineral-mineral lainnya dalam jumlah besar yang berserakan. Menghancurkannya adalah hal yang sia-sia, dan Shalltear setuju.

“Disamping itu, perintah Ainz-sama adalah untuk melihat apakah mereka mau mengabdi kepada kita.”

“Lalu beliau bilang jika mereka menolak, kita akan potong jumlah mereka hingga jumlah tertentu.”

“..Shalltear.”

Setelah melihat Aura yang memicingkan matanya, Shalltear menyadari apa maksud dia.

“Tidak apa! Aku tidak akan mengacaukannya kali ini! Aku be-nar-be-nar tidak akan mengacaukannya!”

“Jika memang bisa begitu.”

“Kurasa sekarang aku paham. Kamu harus menggunakan kepalamu. Mari?”

“Mm. Ayo pergi. Kalau begitu bisakah aku serahkan pemangkasan jumlah mereka kepadamu?”

“Kurasa aku lebih cocok untuk tugas itu. Apakah kamu tidak apa?”

“Kekuatan Aura terikat kepada para binatang buasnya, jadi dia tidaklah cukup baik untuk hal semacam ini.

“Yeah.. Jika Mare ada di sini, dia akan memicu sebuah gempa bumi lalu menyapu sebagian besar dari mereka.”

“Bocah itu memiliki serangan luas terkuat di Nazarick. Aku sangat yakin dalam hal itu, tapi kekautanku terbatas di tempat seperti ini.”

Ngomong-ngomong, dengan menggunakan sebuah gempa gumi untuk menyapu mereka tidak akan memenuhi perintah sang tuan yaitu ‘seleksi’. Jika dia bisa melakukannya, maka dia bisa saja memanggil para bawahannya untuk melakukan pembantaian tanpa pandang bulu.

“Jadi kamu sudah menerima perintah seperti itu? Semua tugas ini agar kamu belajar, Shalltear.”

Aura mengulangi berkali-kali perintah tuan mereka yang telah diberikan.

“Memang benar.” Balas Shalltera, lalu dia menyebutkan sesuatu yang sedang dia pikirkan selama ini.

“Melihat dari kekuatan musuh yang kita temui sejauh ini, kelihatannya tidak ada orang di sini yang bisa mengalahkan seorang Death Knight. Lalu, jangan-jangan mereka kalah hanya kebetulan saja? Kelihatannya mereka menggunakan sebuah item atau mengalahkan mereka dengan sebuah summon yang dipanggil kembali nantinya... Sangat jarang sekali prediksi Ainz-sama bisa salah.”

Shalltear menyadari Aura yang sedang menatapnya. Dia tidak ingin bertanya mengapa dia melakukannya.

“Apa? Apa ada yang salah?”

“Bukan seperti itu.. hm... ahhhh. Dasar bodoh.~”

Sebuah tampang tidak senang terbersit di muka Shalltear.

Jika dia melewatkan sesuatu, maka mengapa Aura tidak langsung mengatakannya saja? Beberapa saat kemudian Aura memberikan jawabannya.

“Coba katakan – bagaimana bisa Ainz-sama membuat kesalahan semacam itu?”

“Apakah membuat Death Knight kalah adalah bagian dari rencana Ainz-sama? Memang benar Death Knight yang dibuat olah Ainz-sama memiliki stats yang tinggi. Tak ada orang yang pernah kita temui sejauh ini yang harusnya bisa mengalahkan mereka..”

Aura memukulkan kepalan tangannya ke tangan yang satunya. “Apakah itu juga mungkin?” dia penasaran.

“Ternyata begitu. Jadi mungkin saja dia sengaja membiarkan lawan membunuh Death Knight itu. Aku tidak berpikir sejauh itu, tapi aku ingin berkata bahwa ‘prediksi Ainz-sama tidak salah’. Death Knight jatuh dari jembatan itu, kurasa mereka tewas karena jatuh. Jejak kaki mereka ada di sana ketika kita melewati benteng itu, tapi mereka tidak ada di sisi lain. Dengan kata lain, mereka dikalahkan di tengah jalan. Itu artinya, hanya ada satu alasan mereka bisa mati.”

“Jika memang begitu, apakah itu artinya ini melebihi prediksi Ainz-sama?”

“Sudah kubilang padamu. Bukan seperti itu. Jika Ainz-sama bicara kepadamu dengan serius, mungkin seperti yang kamu katakan, Shalltear.”

“Apa maksudmu dengan itu?”

Shalltear mengerutkan dahinya, tak mampu memahami. Aura bersuara “Ahhhhhh!” lalu menginjak-injakkan kakinya ke tanah.

“Apa maksudmu, ‘Apa maksudmu dengan itu? Sudah kubilang, ya kan? Ainz-sama sudah tahu Death Knight tewas karena jatuh dari Great Rift itu.”

“Ehhh?!”

“Haaa... mengapa kamu tidak berpikir saat itu dulu? Kamu tahu, ketika Ainz-sama sedang menjelaskannya kepadamu, aku ingin bertanya apakah Death Knight itu didorong sampai mati, tapi Ainz-sama langusng melihatku lalu memerintahkan kepadamu untuk diam. Apakah kamu tidak sadar? Saat itulah dia memberikan instruksinya.”

Shalltera berkedip karena kaget. Dia pernah melihat sang tuan membuat isyarat seperti itu. Pada awalnya, dia mengir aitu karena dia ingin Aura diam karena dia sedang mengatakan sesuatu. Namun, Supreme Being itu adalah seorang strategist jenius, jadi penjelasan Aura kelihatannya lebih masuk akal daripada pembacaan dirinya terhadap situasi yang berpotensi banyak celah.

Tetap saja, jika memang begitu, mengapa dia menjelaskan semua itu kepadany?

“Wajah macam apa itu? Pikir sedikitlah dan kamu akan tahu.”

Ucapan Aura yang bengong membuat jantung Shalltear mengkerut seperti dilempar kesana kemari oleh pusaran air.

“Jangan-jangan... untuk diriku? Apakah beliau sengaja melakukan itu untuk melatihku? Apakah itu maksudmu?”

“... Jawaban lain apa yang mungkin ada? Selama perjalanan, kamu berkata bahwa mungkin ada seorang musuh yang kuat dan bertanya kepada Ainz-sama banyak hal. Jika kamu tahu mereka jatuh ke dalam Great Rift, apakah kamu akan bertanya sebanyak itu? Ah, bisakah kamu merahasiakan ini dari Ainz-sama? Itu semua karena kamu meragukan Ainz-sama...”

“Kamu bilang aku meragukan kemampuan Ainz-sama? Bagaimana mungkin?”

Shalltera berharap Aura bisa tetap diam tentang bagaimana dia begitu saja bicara tidak percaya kepada kemampuan dari Supreme Being.

“Yah, rahasiakan ini. Seperti Ainz-sama yang ingin aku merahasiakan ini darimu. Kamu juga harus menjaga bibirmu.”

“Tentu saja.”

Ketika seseorang bercermin dengan tenang terhadap hal ini, Aura telah melakukan sebuah dosa besar, yaitu mengabaikan perintah seorang Supreme Being. Namun, itu karena dia merasa Shalltear telah menunjukkan sikap tidak hormat kepada Yang Agung...

Jadi apakah aku atau Aura yang tidak sopan terhadap Supreme Being? Ataukan bukan kami? Hm-

Kepala Shalltear pusing, lalu dia memutuskan untuk berhenti bawel dan tidak merenungkan masalah merahasiakan itu.

“..Tetap saja, bukankah itu adalah suatu tanda tidak hormat sendiri? Hm...”

“..Hm – ngomong-nogmong, jika mereka tidak tunduk kepada Ainz-sama, beliau bilang sesuatu tentang memangkas jumlah mereka hingga menjadi 10.000 orang saja. Memang beliau tidak bilang berapa wanitanya, bagaimanaa dengan anak-anak?”

“Apakah dia memberikannya dengan jelas berapa jumlah yang hidup?”

“Meskipun begitu, bukankah mereka akan semakin kuat dengan maka berbagai logam saat anak-anak? Dan jika kita akan menguasai mereka, bukankah anak-anak lebih mudah dicuci otaknya? Shalltear-“

Sebuah seringai jahat muncul di wajah Aura.

“Jika Ainz-sama tidak memberikan instruksi yang jelas, itu artinya... itu adalah ujian, ya kan? Memang bisa saja kita mengirimkan Hanzo untuk bertanya, Ainz-sama bilang menyerahkannya kepadamu, ya kan? Jadi kurasa Ainz-sama ingin melihat bagaimana kamu menghadapinya.. Bisakah Guardian Floor nomer satu kita menangani tugas ini dengan baik?”

Shalltear tersenyum tipis dengan balasan itu. Dia sudah memikirkan ini sejak pertama kalinya dia menerima perintah.

“4000 pria dan wanita lalu 2000 anak-anak seharusnya cukup.”

“Hm? Hm – Kurasa. Kelihatannya kamu menangani ini dengan cukup mudah – hm?”

Aura terdiam lalu mengarahkan telinganya untuk mendengar. Shalltear tahu apa yang sedang dia lakukan dan sebisa mungkin terdiam. Pada akhirnya, dia tersenyum saja.

“Ah, aku dengar suara seperti segerombolan Quagoa dalam jumlah besar yang sedang bergerak.”

“Apakah mereka sedang kabur, ataukan mereka memberangkatakan pasukan?”

“Aku tidak bisa memastikannya hanya dengan suara, tapi mereka kedengarannya seperti sedang berlari kabur. Kelihatannya mereka menyebar di luar kota.”

Kelihatannya, ada 80.000 Quagoa di sini. Demihuman adalah makhluk yang semakin kuat dengan bertambahnya usia. Dengan kata lain, semuanya adalah prajurit. Jika mereka menggerakkan lebih dari 10.000 orang namun melepaskannya di dalam kota, keunggulan mereka dalam jumlah akan terpotong menjadi separuh.

Sementara para penyusupnya sangat sedikit mereka tidak layak disebut sebagai sebuah pasukan, mereka memiliki kekuatan tempur yang luar biasa. Masalah naga itu seharusnya sudah tersebar ke seluruh penjuru Quagoa. Jika memang begitu, orang yang lebih pintar akan memimpin yang lainnya keluar dari kota untuk evakuasi, sambil mengatur formasi untuk memancing musuh ke dalam kota untuk bertempur. Jika jumlah musuh yang sedikit bergerak ke dalam kota, Quagoa bisa mengepung kota itu dan melakukan serangan bergelombang untuk membuat mereka lelah sebelum memberikan pukulan akhir dengan sebuah tim yang terdiri dari para warrior elit. Kelihatannya itulah strategi tempur yang paling tepat.

Bagaimanapun, seseorang memerlukan sebuah tempat yang luas dan lapang untuk menyebarkan pasukan besar.

Shalltear berharap seperti itu.

“Mereka di sebelah sana. Kalau begitu, kita mulai saja negosiasinya sekarang.”

“Tentu saja. Kita harus kerja keras agar tidak membuat Ainz-sama menunggu.”


***


Lebih dari 60.000 Quagoa yang mampu bertempur membentuk barisan dan sedang menunggu musuh.

Quagoa wanita yang tidak hamil atau membesarkan anak merupakan petarung yang sama bagusnya dengan yang pria, begitulah cara mereka menggerakkan jumlah massa sebesar ini. Tetap saja, meskipun mengumpulkan sebuah pasukan yang lebih besar dari yang pernah ada di sejarah, Clan Lord Pe Riyuro tidak gembira sama sekali.

Ini sangat aneh sekali. Gua yang di dalamnya ada ibukota kerajaan tiba-tiba diselubungi oleh kabut.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pasukan yang siap tempur itu mulai berbaris menghadap ibukota kerajaan. Jika musuh takut terhadap jumlah mereka dan tidak keluar, maka itu adalah skenario terbaik. Oleh karenanya, mereka membawa bahan pangan yang sedikit, dan meninggalkan harta karun milik orang-orang dwarf. Selama musuh mereka tidaklah bodoh, mereka akan melihat bahwa tidak ada gunanya bertarung.

Namun, seseorang muncul dari ibukota kerajaan.

Salah satunya berpakaian armor merah, dan yang lainnya adalah seseorang yang pendek berkulit gelap dan bukanlah seorang dwarf.

Menurut mereka yang telah menyaksikan pertemuan dengan naga di luar ibukota kerajaan, seharusnya ada dua lagi, tapi mereka tidak melihatnya. Mereka pasti sedang menjarah harta karun, sementara mereka berdua ini mengulur waktu untuknya.

“Bagaimanapun, untuk memastikannya, itu bukan golem ya kan?”

“Ya, mereka bukan golem.”

Menurut Yozu, Golem-golem itu memiliki perawakan yang tinggi dan memakai armor hitam. Jadi pakaian armor merah itu adalah yang lain. Namun-

Mungkin itu adalah salah satu tipe golem. Sebaiknya berpikir demikian. Tapi tetap saja, mengapa mereka keluar menghadapi sebuah pasukan dengan jumlah puluhan ribu secara langsung? Apakah karena mereka percaya diri bisa membunuh kami semua – Tidak mungkin, itu tidak mungkin. Itu sangat mustahil.

Riyuro menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan gambaran mengerikan yang muncul dari dalam kepalanya.

Dia bisa menebak bahwa lawan memiliki kekuatan yang luar biasa, melihat mereka yang baru saja menciptakan dimensi yang aneh itu. Kenyataannya mereka bisa membuat seorang naga berlutut di depan mereka tanpa bertarung juga menandakan mereka sangatlah kuat.

Tetap saja, di pihaknya ada jumlah 60.000 orang. Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan hanya ratusan atau ribuan orang, secara teori mereka bisa membunuh setiap orang di sini.

Tetap saja itu hanyalah secara teori.

Meskipun jika salah satu dari beberapa Quagoa bisa memberikan damage melalui pukulan beruntung, lebih dari ribuan putaran pertempuran, damage goresan yang terkumpul akan menghasilkan luka yang bahkan bisa membuat musuh tidak bisa bertarung lagi.

Jumlah adalah kekuatan. Dengan pasukan berjumlah 60.000, selama mereka bertempur di tanah, harusnya mereka bahkan mampu membantai seorang Dragon Lord (Pimpinan Naga).

“-Aku akan pergi untuk bicara dengan orang-orang ini. Kamu tunggu di sini. Jika aku terbunuh... Yah, lakukan sesukamu.”

“Itu terlalu beresiko,” salah satu penasehat Riyuro mengatakannya, mengutarakan hal yang sudah jelas.

“... Kita tidak bisa bicara dengan para golem, jadi aku akan bicara dengan yang ada di sampingnya. Gawat jika kita setidaknya tidak tahu tujuan mereka.”

Bagaimanapun, Riyuro sudah bertekad untuk mencoba sebuah dialog.

Musuh pasti sangat kuat. Jadi, dia akan menanyakan tujuan mereka. Jika mereka bisa menerima diajak bicara, maka dia tidak keberatan membayar suatu harga tertentu. Jika mereka bisa mengusir Dragon Lord itu, maka mengakui mereka sebagai tuan mereka yang baru juga tidak apa. Meskipun itu tidak mungkin, dia bisa membayar mereka lebih dari yang para dwarf lakukan sebagai imbalan berpindah kubu.

“Tak ada yang boleh mengikutiku.Jika kalian semua datang bersamaan, mungkin akan memicu suatu rasa permusuhan.”

Tanpa berkata apapun kepada para pembantunya, Riyuro melangkah maju.

Pasukannya terbelah ke dua sisi, dan lawan kelihatannya menayadari bahwa ada yang datang. Dia bisa melihat musuh berhenti mengamati gerakannya.

“Maaf sudah menunggu.”

Riyuro adalah yang pertama berbicara, dan suaranya membuat musuh saling melihat satu sama lain.

Dia melihat sekeliling. Seperti yang dia duga, tidak ada orang lain. Hanya ada dua orang dari pertemuan dengan naga itu – seorang dwarf dan yang memakai penutup kepala tengkorak – tak ada satupun yang ada di sini.

“Hm? Siapa kamu? Si pendek berkulit gelap itu membalas.

Kelihatannya yang berarmor merah adalah seorang golem. Kelihatannya lebih pucat dan pendek daripada humanoid yang ada di sampingnya. Tetap saja, sekali tatap, tidak ada yang tahu apakah dia seorang makhluk ciptaan – kelihatannya sangat nyata.

“Saya adalah Pe Riyuro, Pimpinan para klan Quagoa yang hidup di tempat ini. Dan anda – siapakah anda?”

“Kami diperintahkan oleh Maharaja Tertinggi yang datang ke tanah ini untuk menguasai kalian.”

Dia bicara!

Yang memakai armor merah berbicara. Karena dia dengar Golem tidak bisa bicara, jelas dia bukanlah seorang golem.

Mencoba menyembunyikan kekhawatirannya, Riyuro membalas:

“Menguasai?”

“Benar. Tuan kami telah datang untuk menaklukkan kalian. Berlututlah dan membungkuklah di hadapannya.”

Lalu, apa yang harus kulakukan? Riyuro berpikir dengan cepat.

Dia tidak keberatan membungkuk dan menyambut seorang penguasa baru. Yang mereka perlu lakukan adalah tumbuh kuat di bawah penguasai itu lalu menjungkirkannya.

Masalahnya adalah mereka tidak bisa tunduk kepada lawan tanpa tahu kekuatan mereka. Mereka memang telah membuat naga itu berlutut di depannya, tapi naga itu bukanlah Dragon Lord. Yang dia tahu, setelah berlutut, merkea mungkin akan dibuat bertarung melawan Dragon Lord itu.

“....Seharusnya ada dua orang lagi dari pihak kalian. Apa yang terjadi dengan mereka?”

“Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya diperbolehkan berbicara jika kamu menerima kami atau tidak.”

Mereka tidak membuka apapun kepadanya. Itu artinya menyelidiki niat musuh – apakah mereka benar-benar bertarung sejujurnya atau tidak – sangatlah penting.

“... Anda bilang ingin menundukkan kami. Namun, sangat sulit bagi kami untuk menerima tawaran itu tanpa tahu kekuatan anda. Apakah itu masuk akal?”

Dengan kata lain, maksud dia adalah “Jika kau katakan kepadaku seberapa kuat dirimu, aku tidak keberatan tunduk kepadamu.” Namun, mereka berdua saling melihat satu sama lain lalu mengangkat bahu.

“Begitukah. Perintah kami menyatakan jika kalian tidak mau tunduk kepada kami, jumlah kalian harus dipangkas sampai kalian terpaksa berlutut oleh kami. Setelah itu, kalian harus bunuh diri sampai hanya tersisa 4000 pria, 4000 wanita dan 2000 anak-anak. Harusnya kamu bisa membedakan siapa yang lebih berharga, benar kan?”

“Kalau begitu, ketika sudah hanya tersisa 10.000 saja, kami akan membawa kalian ke negeri kami, Sorcerous Kingdom, dimana kalian harus bekerja.”

Ketakutan mengalir di tubuh Pimpina klan dalam sekejap.

Bukan karena isi yang kejam dari pesan itu. Namun karena mereka telah mengirimkan berita itu dengan nada yang benar-benar tidak ada sedikitpun arogansi.

Dia merasa dua orang ini benar-benar bisa melakukannya.

Ya.


Dua orang ini bisa membunuh satu pasukan dengan jumlah lebih dari 60.000 orang.

Apakah mereka sudah gila? Apakah mereka terlalu percaya diri? Ataukah-

Sikap yang sulit dipercaya itu membuat Riyuro kehilangan kata-kata dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Mereka tidak bisa mendengarkan perintah segila itu tanpa melawan.

Mungkin mereka telah merasakan niat melawan dari sisinya, tapi dua orang itu saling melihat satu sama lain, lalu wajah mereka berubah menjadi menyeringai.

Para dwarf memiliki banyak rambut, jadi dia bisa mengerti mereka. Dua orang ini tidak memiliki rambut kecuali yang ada di atas kepala mereka, jadi dia tidak bisa membaca ekspresi mereka. Sebesar itulah jurang pemisah diantar dua spesies berbeda tersebut.

“Tu-Tunggu-“

Dia tidak bisa menyelesaikan permintaannya agar mereka mau menunggu.

“-Kalau begitu, sekarang aku akan mulai memangkas jumlah kalian hingga tingkat yang bisa diterima. Jadi, jangan berikan pakaianmu kepada orang lain.”

Biasanya, Quagoa tidak memakai pakaian. Lagipula, mereka ditutupi oleh bulu dari kepala hingga mata kaki.

Namun, seorang raja harus menunjukkan otoritasnya, jadi dia perlu sesuatu agar bisa dengan mudah membedakan dirinya dengan yang lain. Itulah kenaa dia memakai pakaian dan sebuah mahkota yang dibuat oleh para dwarf, dengan sigil pemimpin klan. Di waktu yang sama, dia bisa membiarkan yang lainnya menjadi tubuh ganda bagi dirinya, agar bisa menipu musuh dari ras lain.

Apakah mereka sudah menebak rencana itu lalu mencoba memotong dirinya di tengah jalan?

Menghabisi pimpinan musuh untuk melumpuhkan pasukan musuh adalah kondisi kemenangan yang sangat jelas. Namun, mengapa mereka tidak melakukannya?

Tidak, bukan seperti itu. Ada alasan lain untuk itu.. Jangan-jangan.... Pasti itu. Mereka tidak mencoba membunuhku, mereka mencoba untuk tidak membunuhku karena kecelakaan!

Perbedaan antara spesies sangat dalam. Namun, selama dia memakai pakaian itu, mereka bisa mengetahui siapa pemimpin klan sehingga mereka bisa mengampuninya. Itulah arti dari deklarasi mereka yang angkuh.

“Kalau begitu, bukankah sudah waktunya kamu kembali? Kami akan memulainya ketika pihakmu bergerak ke arah kami. Aku akan gembira jika kamu sudah memilih siapa yang selamat sebelum itu.”

“Cepatlah kembali.”

Mereka melambaikan tangan kepada dirinya, menandakan bahwa dia harusnya kembali. Dengan kata lain, tidak perlu lagi bernegosiasi lebih jauh.

Ini terlalu jauh berbeda dari yang dia duga.

Aku sudah bilang kepada mereka aku bersedia berlutut, tapi mengapa mereka tidak bisa sedikitpun memberikan kelonggaran? Jika mereka tidak bersedia melakukan itu.. apakah itu artinya mereka memandang hidup kami tidak ada artinya...?

Di hadapan kearoganan ini, Clan Lord itu berusaha untuk menahan teror yang mengalir dari hatinya.

Bagaimanapun.. mereka tidak mungkin bisa memangkas 60.000 orang menjadi 10.000.. Ya. Pasti begitu. Mereka pasti sudah gila setelah melihat pasukan kami!

Di bawah keadaan biasa, pemikiran semcam itu adalah benar. Bahkan para naga tidak bisa memangkas jumlah mereka sebesar itu.

Dalam sekejap, kesadaran terbersit pada Clan Lord.

Jangan-jangan mereka berniat untuk melakukan serangan-serangan pukula lalu lari?

Jika mereka bertarung seperti para naga, maka keadaannya akan sangat sulit.

Menggelar pasukan di dalam area terbuka sebesar ini malahan merugikan.

Kalau begitu, haruskah dia menarik pasukannya kembali ke distrik hunian?

Namun, itu akan sangat berbahaya. Jika musuh bisa menghancurkan bangunan-bangunan, maka itu akan memberikan kerusakan besar kepada rumah mereka. Pada akhirnya, ini adalah satu-satunya tempat untuk bisa bertarung bagi mereka.

Setelah kembali kedalam pasukannya, Clan Lord itu mengumpulkan para pembantunya.

“Apakah itu adalah Golem?... Apa yang terjadi? Anda terliha sangat tidak nyaman.”

Ekspresinya pasti membuat takut dua orang lainnya. Clan Lord itu menepuk wajahnya lalu memberikan perintah.

“Ahhh... bagaimanapun, kumpulkan Quagoa biru dan merah.”

“Apakah mereka akan menjadi penjaga pribadi?”

“Bukan hanya itu. Kumpulkan seluruh individu-individu luar biasa dari masing-masing klan.”

***

Riyuro mengeluarkan teriakan yang kuat. Itu adalah teriakan yang disuntikkan skill yang dia peroleh ketika dia menduduki posisi Clan Lord. Saat dia melihat pasukannya yang lebih dari 10.000 menyerang musuh merespon teriakan tersebut, dia merasa sedikit tenang. Namun, hasil dari serangan itu terlalu mengerikan untuk dilihat. Seperti sebuah aliran air yang membentur dinding, pasukan yang menyerang itu membentur penghalang yang tak terlihat dan terbang karenanya.

Yang bercipratan kemana-mana bukanlah air berbusa, tapi Quagoa – atau yang dulunya Quagoa. Mungkin sebuah pemandangan ini cocok dengan para naga atau para raksasa, tapi lawan mereka adalah makhluk yang bahkan lebih kecil daripada Quagoa.

“Mereka berterbangan..” salah satu pembantunya bergumam melongo sendiri.

Ini bukanlah metafora. Quagoa yang menyerang benar-benar berterbangan di udara. Mereka tidak melakukannya satu demi satu. Beberapa lusin berterbangan sekaligus.

Mayat-mayat mereka yang hancur menjadi sebuah guyuran gumpalan daging yang berhamburan ke rekan-rekan mereka. Pasukan yang berlumuran darah itu melanjutkan serangan mereka, dimana akhirnya mereka menjadi gumpalan daging yang jatuh ke rekan mereka yang lainnya. Itu adalah sebuah pemandangan yang sangat mirip dengan mimpi buruk.



Overlord Light Novel Bahasa Indonesia

  


Karena suatu alasan, kenyataannya mereka tidak melihat darah yang muncrat membuat pemandangan itu bahkan lebih surealis (bercampur antara nyata dan fantasi).

“Apa, Apa, apa itu?!”

Riyuro bahkan tidak memiliki tenaga untuk menjawab tangisan penasehatnya. Pikirannya sudah terwakilkan dalam bentuk kalimat yang menerobos dari mulutnya.

“Sebanyak ini..”

“Clan Lord! Apa itu!? Itu tidak seperti Golem yang kita lihat sebelumnya!”

Mereka menghancurkan setiap Quagoa yagn menyerang dengan sekali tebasan. Ini bukanlah lagi sebuah peperangan. Ini bahkan tidak bisa disebut sebagai pembunuhan besar-besaran. Itu hanya seperti membuang sampah. Rekan-rekan yang dia kumpulakn untuk meningkatkan pengaruh mereka sekarang hancur dengan jumlah yang besar seperti sampah.

“Kita, kita harus lari!”

“Memangnya mau kemana!?”

Dia berteriak kepada para pembantunya yang panik.

“Kemana kamu bisa lari di dimensi yang aneh ini?! Orang-orang bilang mereka akan membunuh kita sampai hanya tersisa 10.000 saja.!”

Para pembantunya tidak bisa berkata apapun lagi.

Setelah melihat kekuatan yang luar biasa – seperti monster ini, mereka paham jika ancaman mereka bukanlah isapan jempol belaka. Mungkin sulit dipercaya, mereka pun mau tidak mau harus mempercayainya. Dari 80.000 orang penduduk, hanya 10.000 yang akan diizinkan selamat.

Meskipun dia ingin memohon ampunan mereka sekarang ini, tidak ada kehangatan di mata mereka berdua. Bahkan mata dari Dragon Lord lebih memiliki kebaikan hati.

Mereka tidak berniat untuk merubah statemen sebelumnya yang memangkas kami menjadi 10.000 orang saja.

“Itu tidak mungkin! Clan Lord! Mereka itu apa? Apa yang telah dibawa oleh para dwarf kemari!?”

“Mengapa orang-orang sekecil itu sangat kuat sekali...”

Saat dia mendengar para penasehatnya, sebuah inspirasi lain menyerang Riyuro.

“Jangan-jangan yang berarmor merah itu juga adalah senjata negeri dwarf? Mereka mengirimkan yang lebih kuat karena mereka tahu golem-golem itu hancur?”

“..Jadi jika kita mengalahkannya, mereka akan mengirimkan sesuatu yang bahkan lebih kuat dari itu?”

Teriakan orang-orangnya bergema ke segala penjuru. Hanya wilayah Riyuro yang hening.

“Mari kita tari k orang-orang itu-“

“Hentikan! Mereka harus bertarung! Tidak ada cara lain bagi kita! Seberapa kuatnya dia, pasti akan kelelahan akhirnya! Ketika itu terjadi, kita akan tunggu sampai dia tidak bisa lagi mengayunkan senjatanya lagi, lalu memaksa mereka bernegosiasi dan meminta kelonggaran!”

“Te, Ternyata begitu.. Tapi... apakah mereka akan kelelahan?”

Dia telah menyebutkan sesuatu yang Riyuro pikir di sudut otaknya. Namun-

“Bagaimanapun, selama dia makhluk hidup, pasti akan lelah. Mungkin dia memiliki lebih banyak stamina dari kita, tapi pasti akan lelah. Sampai saat itu, buatlah dia terus mengayunkan senjatanya!.. Meskipun tidak lelah, ketika sudah bosan membunuhi kita mungkin bisa mendiskusikan sesuatu.”

Clan Lord itu ragu-ragu untuk mengeluarkan ucapan selanjutnya, tapi harus dikatakan.

“Disamping itu, kita tida bisa menang meskipun kita melawannya! Tidak melawan monster seperti itu.”

Pasukannya tidak akan turun moralnya hingga titik ingin kabur. Teriakan yang telah digunakan oleh Riyuro untuk menyuarakan serangan tersebut merubah orang-orangnya menjadi para warrior yang tidak kenal takut. Lebih mirip keadaan mengamuk dari orang yang sedang mengamuk, meningkatkan kekuatan serangan mereka, tapi mengurangi pertahan mereka. Terlebih penting lagi, mereka sekarang kebal terhadap efek-efek yang berhubungan dengan ketakutan. Namun, kenyataannya mereka tidak menolak perintah Clan Lord tak perduli seberapa bahayanya bisa dikatakan itu adalah pedang bermata dua.

Pasukan berjumlah besar terus menyerang tanpa pernah melihat ke belakang, dan mereka dibelah hingga separuh jumlah mereka sebelumnya dengan lincah yang sulit dipercaya siapapun.

Pada titik ini, tak ada yang memiliki tenaga untuk bicara.

Kenyataannya tragedi ini terjadi di depan mata mereka dan itu adalah akibat satu orang saja membuat jantung mereka trauma.

Semuanya kecuali satu orang.

Dia adalah – Riyuro – menguras keberaniannya yang terakhir.

“Kalian ada para pahlawan terpilih!”

Dia tidak bisa meningkatkan suaranya.

Riyuro melihat Quagoa merah dan biru di depannya, begitu juga dengan Quagoa lain yang memiliki kekuatan spesial, semuanya membentuk barisan menjadi unit tempur terkuat dari klan-klan itu.

Alasannya mengapa tidak ada dari mereka yang merespon teriakan Riyuro adalah karena mereka telah melihat yang berpakaian armor merah itu dengan rasa putus asa di mata mereka.

Mereka pasti juga telah merasakan tidak memiliki harapan menang. Ketika mereka dikumpulkan pertama kalinya, mata mereka bersinar, tapi sekarang tidak ada cahaya di mata mereka, seakan mereka telah mati.

Dia telah memilih untuk tidak mendorong mereka mengamuk agar menyimpan kekuatan bertahan mereka, tapi itu menjadi keputusan yang salah.

Clan Lord itu mengeraskan suaranya lagi untuk mencoba meningkatkan semangat mereka.

“Kalian adalah kartu as kami! Musuh telah membunuh begitu banyak rekan-rekan kita, jadi harusnya dia sudah lelah! Kalian akan mampu membuatnya menderita!”

Harusnya dia sudah lelah – dia bilang begitu, tapi tidak ada tanda-tanda seperti itu. Yang memakai armor merah itu tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti memotong setiap Quago yang menyerang menjadi berkeping-keping dan mengirimkan gumpalan daging itu terbang ke udara, mengayunkan dan menusukkan senjatanya yang mirip tombak tanpa akhir.

“Benar sekali! Tak perduli apapun, dia adalah makhluk hidup, jadi pasti akan lelah! Kalian bisa melakukannya! Pergilah! Pahlawan kami!”

Dengan berdo’a di hati, Riyuro mengirim para pahlawan itu.

Dia memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk membuka jalan ke arah makhluk berpakaian armor merah tersebut. Kemudian, para pahlawan itu akan menyerang si armor merah-

-Riyuro menutup matanya.

“Tu, Tuanku... Tuanku Clan Lord kami yang paling kuat...”

Setelah mendengarkan suara gemetaran dari para pembantunya, dia perlahan-lahan membuka mata.

“Kamu... Kamu tak perlu mengatakan apapun. Aku sudah tahu. Aku, aku juga melihatnya...”

Tidak ada yang berubah. Memang benar. Tidak ada ubahnya.

Sama seperti para prajurit biasa, para pahlawan terpilih itu telah dipotong menjadi daging cincang dan diterbangkan menjadi gumpalan daging. Dan itu semua terjadi dalam sekejap. Mereka telah menemui ajal seperti para prajurit biasa.

“...Jadi...jadi...”

Riyuro tidak bisa mengatakan apapun lagi. Meskipun dia tidak tahu apa sebenarnya si armor merah itu, dia pasti tidak diragukan lagi lebih kuat dari seekor naga.

Riyuro tidak lagi bisa merasakan apapun. Jika dia hanya menunggu dengan diam berlalunya waktu, hasilnya akan seperti yang diingkan musuh.

“...dia mengatakan ingin 2000 anak-anak. Pilihlah jumlah segitu.”

“Tuanku...”

“..Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Meskipun hanya ada 10.000 saja, selama kita selamat, suatu hari... suatu hari, kita bisa membuat Quagoa menjadi hebat lagi...”

Tak ada orang yang bisa berkata apapun di hadapan ucapan Riyuro. Itu karena semua orang jelas sekali memahami di hati mereka.

Mereka mengerti tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

Kepala Riyuro tertunduk lemas. Seakan dia baru saja berjalan di sebuah tempat aman, lalu tiba-tiba disergap oleh seekor monster...

“Ngomong-ngomong, apa itu Sorcerous Kingdom? Apakah ada hubungannya dengan para dwarf? Seseorang tolong katakan kepadaku...”

Gumaman itu langsung datang dari hatinya.

Seberapa besarpun dia mencoba menolaknya, pembantaian di depan matanya memberinya perasaan akan adanya tragedi yang lebih besar yang akan segera terjadi.

Tiba-tiba saja, dia melihat para pelayan Quagoa sedang memegang kurungan, itu adalah kurungan untuk menempatkan kadal-kadal makanan. Riyuro tahu sekarang bukan waktunya untuk ini, tapi dirinya yang stres membuatnya mengulurkan tangan ke kurungan itu. Dia memegang seekor kadal hidup, tapi saat dia akan menggigit kepalanya, sebuah luka yang kuat mengalir di perutnya, membengkokkan tubuhnya menjadi bentuk.

Tidak mungkin dia bisa mengalahkan penguasa absolut yang akan segera menundukkan rasnya. Ide akan berkembang lagi sangat aneh sehingga dia tidak bisa berkata apapun lagi untuk menyangkalnya. Tak perduli berapa banyak generasi yang akan terlewati, mereka takkan pernah bisa bangkit memberontak. Quagoa dari rangkaian pegunungan Azellisia akan selamanya memakai kalung jerat untuk melayani tuan mereka yang ditakuti.

Kadal yang memberontak hebat itu terselip lepas dari tangan Riyuro dan hilang diantara kaki-kaki orang-orangnya. Riyuro mengucapkan “ahh” lebih kepada menghela nafas daripada sebuah teriakan, lalu dia lemas tanpa suara dan terisak tangis karena kesengsaraan belaka.

“Jika kamu sekuat itu, harusnya kamu mengatakannya sejak awal! Mengapa, mengapa kamu tidak mengatakannya kepadaku!”

Pimpinan Quagoa itu merintih, disanjung oleh rakyatnya sebagai penguasa terhebat dalam sejarah, bercampur dengan teriakan anak-anak saat para prajuritnya sendiri membantai mereka.

34 comments:

dwi maulana said...

Pertamax :v

dwi maulana said...

keren,, Lanjutkan min :D

Achmad said...

Pertamax

Anonymous said...

Lanjut minnnnn :D

dandha cas said...

mantappppp

Aria Kesuma said...

Seeepp, mantap, lanjutkan kakak.

Afandi Putra said...

ntabz min...

rudy killua said...

mantaaapp

Hatsuko Akari said...

mantap min👍 arigatou~~~ ^_^

Hasna Hentai said...

:v Lanjut Sugee...!!!!!!

Dragon.o f.Warrior said...

Lanjut

Arie Wibowo said...

Mantap min...tetep semangat ya....di tunggu lagi kelanjutannya

Nigi Anta said...

Shaltear ga hilang kendali, mungkin karna darahnya bkn pnya org.
Mantav minn lnjutt."

sugeng riyadi said...

Sadizzz... Mantab lanjut terus...

Ivan Aji said...

Semangat minnnnnnn super jossss lahhhh

Aimi Sakha said...

MANTABB

NEET said...

ditunggu kelnajutannya min..

Ivan Aripin said...

Makasih mimin.lanjut terus

Anonymous said...

Kasian :D

Muhammad Agung said...

Lanjut

Number Monokrom said...

kok sedih ya? T_T

Khafidz ZA said...

Shaltear gak kehilangan kendali dikarenakan dia menggunank tombaknya (pipete lance?) seperti yang sudah dia jelaskan di beberapa chapter yg lalu bahwa dia akan menggunakn senjatanya agar tidak menggila.
BTW dia menggila karena punya skill (pasive?) blood frenzy.

adde nanda said...

Oh kasihan oh kasihan
Aduh kasihan

AdeHaze said...

dibantai bak sampah, haha

Gaksa Gantara Wahyudi said...

Sasuga mimin-sama

Api 08 said...

Thanks min

Brian Torao said...

Sankyu overlord vol.11 bab 5 bag.4

Think Kakoke said...

Kayak motong rumput pakai mesin pemotong rumput. Zrrruuuurrrrssssssss clang clang zeeeeeuuuuurrrasas clang ~

Yohane Juantama said...

pengen kasihan tapi gak bisa hahahaha bagi yg sadis pasti suka

Dhodhyz Francois Spencer Beach said...

Yang komen kasian bukan fans overlord sejati, fans yang punya hati bukan fans overlord namanya. Punya hati? Nonton naruto aja

Unknown said...

Sesuai namanya Overlord, ga ada anime yg sebrutal ini. Sadiss

AlwaysFree said...

Bener, kalo kasian mah mending nonton shounen aja. Ini kan dark fantasy. Btw yg sebeng dgn pembantaian juga hati2

Unknown said...

Mantap lanjut terus

Unknown said...

Mantap min lanjut terus