Overlord - Vol 6 - Epilog

Epilog

Bulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 6, 08:45

Para pelayan (maid) membentuk barisan yang rapi di depan Sebas. Ada 41 orang jumlahnya, dan semuanya adalah homunculi. Di pimpinan mereka berdiri kepala pelayan berkepala anjing, Pestonya S. Wanko. Demikianlah staff maid domestik dari Nazarick berkumpul.

"Semuanya, ini adalah pelayang terbaru dari Nazarick."

"Nama saya adalah Tsuareninya, senang bertemu dengan anda."

Kepala pelayang menyambut Tsuare, yang kepalanya membungkuk rendah, sebagai perwakilan dari semuanya.

Setelah berbicara dengan para pelayan, Tsuare tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan.

Selain dari jahitan yang membentang di tengah-tengah wajahnya, Pestonya memiliki mata yang ramah dan ekspresi yang lembut. Ditambah lagi, para pelayang di belakangnya semuanya manusia, tanpa bentuk-bentuk wajah yang mengerikan.

Meskipun begitu, menilai dari kondisi Tsuare, kelihatannya rasa takut dirinya terhadap orang lain takkan pernah hilang sepenunya. Meskipun dia terlihat bisa membaur dengan baik kepada yang lainnya, dia tahu betul situasi macam apa dirinya berada, dan dia mencoba untuk mengabaikannya dengan cara bekerja keras.


Jika aku tidak mengawasinya dengan baik, dia mungkin bisa hancur.

Saat Sebas memikirkan pertanyaan ini, sesi ketemu dan kenalan sudah berakhir dan salah satu pelayan membawanya keluar. Saat di jalan, Tsuare berputar untuk melihat Sebas. Sebas mengangguk kepadanya, lalu dia juga mengangguk membalasnya, sebelum menoleh lagi dan pergi.

"Sebas-sama, seberapa besar latihan yang dibutuhkan oleh manusia itu -wan"

"Latih dia hingga dia layak menjadi seorang pelayan Nazarick. Namun, dia hanya seorang manusia, jadi ketika kamu melatinya, tolong jangan terlalu menekannya hingga diluar batas."

"Mengerti -wan."

Wajah Pestonya yang mirip anjing miring, menunjukkan taring-taringnya. Meskipun ekspresi yang dia buat terlihat seperti seekor binatang buas yang mangsanya sudah kabur, matanya masih dipenuhi dengan kehangatan.

"Kurasa baginya, menjadi seorang pelayan adalah langkah pertama."

"Apa maksudmu?"

Pestonya menjawab Sebas, yang tidak begitu menangkap maksud dirinya dan bertanya-tanya apa yang sedang dia bicarakan.

"...wan. Bisa dibilang, maksudku dia mungkin akan pensiun setelah menikah -wan."

"Apa?!"

Saat wajah Sebas menjadi kaget, tawa lembut Pestonya bergema ke seluruh penuju lantai sembilan dari Great Tomb of Nazarick.


----


Bulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 7, 16:51

Setelah memastikan tidak ada tamu yang hadir dan waktunya sudah tepat, Climb membuka pintu kamar Renner.

Sang putri duduk di tempat biasanya, kamarnya berwarna merah oleh sinar dari matahari yang sedang tenggelam. Mereka menyinarinya seperti lampu sorot.

"Selamat datang, Climb."

Kecantikan yang lembut itu menenangkan jantung Climb yang berdegup kencang, dan dia merasa seakan dia sudah disembuhkan. Climb mencairkan wajahnya menjadi santai, dan menuju ke arah samping Renner.

"Kemarilah, silahkan duduk, Climb."

"Tidak perlu, Renner-sama. Saya harus membantu bersih-bersih dari serangan demon untuk sementara."

Mata Renner berkaca-kaca. Pada awalnya dia yang memberikan perinta itu, jadi membalasnya seperti ini kelihatannya adalah jawaban yang benar.

Tugas Climb selanjutnya adalah untuk mengambil alih tanggung jawab detil keamanan dari asosiasi Magician.

Ini karena item tertentu.

Meskipun keseluruhan gambar dari serangan demon belum sepenuhnya terbuka, item magic yang sangat mengganggu telah ditemukan di gudang. Asosiasi Magician masih terus menganalisa dan menyelidikinya, namun mempertimbangkan fakta bahwa benda ini telah diberi magic kuat yang tidak normal dan informasi yang dibiarkan terlepas oleh Jaldabaoth, kelihatannya ini memang adalah item yang telah dicari.

Sebagai hasilnya, asosiasi magician telah mengumpulkan veteran-veteran. Hingga mereka bisa memutuskan bagaimana membuangnya dengan benar, mereka telah memiliki tim dari para petuaang untuk melindunginya dari waktu ke waktu. Tentu saja, Climb adalah salah satu orang yang dipilih untuk tugas ini.

Memang menjengkelkan, kita tidak bisa menghukum anggota Eight Finger yang membawa item ini ke ibukota....

Meskipun dia berdiri di depan Renner, Climb tidak bisa sepenuhnya menekan rasa jengkel di hatinya.

Item magic yang sudah membuat tragedi di ibukota ini telah ditemukan di gudang yang positif terhubung dengan divisi penyelundupan Eight Finger. Karena itu, mereka seharusnya segera memindahkan dan menghancurkannya. Namun ada alasan krusial mengapa mereka tidak bisa melakukannya, dan hanya beberapa orang yang tahu tentang hal itu.

Mereka harus mulai mencari itema tersebut karena Jaldabaoth telah membocorkan informasi tentangnya. Begitulah pendapat Renner. Bagaimanapun, Jaldabaoth mungkin juga mengandalkan para manusia untuk bisa menemukan benda yang tidak bisa ditemukan oleh pasukannya itu, itulah kenapa informasi tersebut terbuka untuk pertama kalinya.

Karena semuanya mengerti maksud dari bocornya informasi itu, mereka harus menekan seluruh inforasi tentang artifak tersebut, dan oleh karena itu tidak lagi bisa digunakan untuk alasan menyerang Eight Finger.

"Kamu seharusnya bekerja sama dengan Kapten Warrior, ya kan? kalau begitu, maka semuanya seharusnya baik-baik saja. Bagaimana dengan orang-orang yang kamu bantu? Seharusnya kamu sibuk melindungi istana, namun kamu harus sedikit melangkah ke luar, ya kan?"

Jantung Climb seperti meluncur tiba-tiba saat Renner mengeluarkan bom kepada dirinya.

"Y-Ya. Semuanya berharap untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Renner-sama."

"Bagus sekali. Kalau begitu aku harus pergi menemui mereka."

"Jangan!"

Segera setelah dia berteriak, Climb langsung menyadari bahwa dia sudah mengacaukannya. Dia membungkukkan kepalanya dan mulai bicara dengan kencang, seakan mencoba untuk menutupi semua kalimat sebelumnya.

"Semuanya masih sibuk dan aku yakin kehadiran Renner-sama akan mengganggu kerja keras mereka dan meskipun itu merendahkan kebaikan dari Renner-sama aku harap anda mengerti maksudku."

Saat Climb mengangkat kepalanya, Climb bertanya-tanya jika wajah cantik tuannya akan kusut dengan perasaan tidak senang, atau sebuah wajah cemberut kekanak-kanakan yang tidak cocok dengan usianya. namun, ekspresi yang dilihat oleh Climb bukan keduanya.

Dia tersenyum.

Itu bukan sebuah senyum yang merubah sudut mulutnya, tapi sebuah senyum sebenarnya satu wajah penuh.

Climb pernah melihat senyum Renner berkali-kali. Jika dia mencoba mengingatnya kapan dia sangat bahagia, itu adalah saat dia melihat senyum di wajahnya setelah dia mengambilnya. namun, senyum saat ini entah bagaimana berbeda dengan senyumnya dahulu.

Sebelum Climb menyadari jawaban Renner, ekspresi Renner kembali ke senyum lirih yang biasa dia keluarkan.

"....mau bagaimana lagi."

Climb menekan perasaan lega saat Renner menerima penjelasannya.

Sebenarnya dia baru saja menyodorkan segepok kebohongan kepada tuannya. Climb tidak mendengar satupun ucapan terima kasih dari penduduk yang dia temui. Sebaliknya, mereka menumpuknya dengan mempersalahkan dan mencacinya. Mengapa kamu hanya menyelamatkan kami, dan seterusnya.

Mereka meluapkan kemarahan mereka - karena kehilangan anggota keluar, karena kehilangan kekayaan mereka - dan menumpahkan mangkuk kemarahan mereka kepada Climb.

Climb harus menyimpan dendam ini karena orang-ran gitu tidak punya siapapun untuk disalahkan, dan karena rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi perintah Renner dengan sempurna.

Meskipun begitu, sakit sekali mendengar kalimat-kalimat ini, terutama setelah dia harus bertemu melawan demon yang kuat itu untuk menyelamatkan mereka.

Demon yang mereka temui di gudang benar-benar memiliki level yang berbeda dari yang lain. Bisa mengalahkan Brain Unglaus dengan kekuatan sisanya, dan hanya karena banyaknya luka yang dia derita membuat mereka bisa menang. Jika demon itu muncul dalam keadaan bugar, tak ada luka, mereka pasti akan kalah. Setelah mendengar seberapa kuat demon itu dari Lakyus, Climb diam-diam bersyukur bahwa mereka entah bagaimana bisa mengalahkannya.

Dan setelah itu, satu-satunya rasa terima kasih yang dia terima komplain-komplain yang tersebut di atas. Meskipun dia sudah bilang bahwa dia sudah terbiasa dengannya, kalimat-kalimat itu masih tetap menusuk dalam-dalam di hatinya.

Sebenarnya, tidak apa jika Climb menyerang orang-orang itu dengan niat jahat. Tak ada yang akan berkata apapun jika Climb mengembalikan hinaan yang dia harus terima karena posisinya sebagai knight dari sang putri, namun jika dia melakukannya, maka posisi Renner akan berada dalam bahaya. Jika kebencian mereka berubah menjadi ke arah sang putri dan membuat mereka memfitnahnya, Climb tidak akan berdaya menghunus pedang melawan mereka.

"Kalau begitu sekarang, Climb.. Aku memiliki .... berita yang tidak menyenangkan. Dengar baik-baik."

Climb menutup matanya beberapa detik, lalu membukanya lagi.

"Wanita-wanita yang kamu dan Sebas-san selamatkan bersama-sama dari rumah bordil... ditemukan dalam keadaan terbunuh."

Tidak mampu mencerna apa yang baru saja Renner katakan, mulut Climb terbuka dan tertutup saat dia mengeluarkan sebuah suara yang mungkin saja salah bicara.

"Ba..Bagaimana bisa... Bagaimana itu bisa terjadi..."

Setelah dipikir-pikir, wanita-wanita tersebut seharusnya tersembunyi di dalam ruang tunggu lalu dikirimkan ke properti Renner.

"Itu adalah kesalahan perhitungan dari diriku. Aku ingin mempekerjakan para petualang sebagai penjaga, namun karena kekacauan itu, mereka semua dipekerjakan untuk lainnya. Jadi aku harus menggunakan tentara bayaran malahan..."

Renner menggelengkan kepalanya, seakan berkata bahwa itu semua adalah kesalahannya.

"I-Itu tidak benar! Itu jelas bukan kesalahan Renner-sama! Itu adalah kesalahan dari orang yang menyerang mereka!"

"Tidak! Jika aku lebih berhati-hati, jika aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan lebih detil... sehingga kekacauan tersebut tidak akan memperlemah keamanan di ibukota, Jika aku membiarkan mereka kabur ketika aku merasakan bahaya, keadaannya tidak akan seperti ini! Jika Climb ada disana, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Dan bahkan para petualang yang merekomendasikan tentara bayaran itu juga terkejut..."

Awal dari air mata mulai memenuhi sudut mata Renner.

Dada Climb merasa sakit seakan hatinya diremuk. Mungkin memang itu adalah kesalahan dari pihak Renner, namun dia telah membuat keputusan terbaik dari situasi yang buruk. Lalu siapa yang harus disalahkan?

"Renner-sama tidak melakukan kesalahan!"

Mendengar deklarasi Climb yang memaksa, Renner, yang tersentuh dalam-dalam oleh Climb, berdiri dan memeluknya erat-erat.

Untuk menenangkannya, Climb merangkul punggungnya 0 tidak. Itu bisa bahaya.

"Tapi, bagaimana informasinya..."

"Aku tidak tahu. Keamanan ibukota sedang melemah selemah-lemahnya kekita kekacauan itu; mungkin saja lolos saat itu? Mereka seharusnya langsung dipindahkan..."

Dia tidak bisa mengeluarkan kemungkinan itu. Mungkin saja para penyerang telah menguntit tempat ini dan orang-orang yang dilindungi oleh Climb sampai mereka menemukan jalan untuk tempat bersembunyi.

"Dimana tubuh-tubuh mereka ditemukan?"

"Dia distrik kumuh dari ibukota, namun aku tidak tahu detilnya sendiri."

"Bagaimana dengan mayat-mayatnya?"

"Mereka sudah dikuburkan. Ada apa?"

"Aku ingin memeriksa lukanya, melihat petunjukan apa yang bisa kutemukan."

"...Climb, itu sudah cukup. Mereka sudah cukup dilecehkan. Setidaknya biarkan mereka beristirahat dalam damai."

"...Aku mengerti."

Kebaikan Renner menyentuh Climb hingga lubuk hatinya. Memang, kalimat Renner ada benarnya. Dia merasa malu karena tidak memperhitungkan perasaannya, dan segera menemukan kebenaran yang tumbuh di dalam dirinya.

"Tolong jangan terlalu dimasukkan hati. Ini tentu bukan ke.... ah, ternyata kita bertukar posisi."

Renner tersenyum. Meskipun matanya masih merah, tidak ada airmata lagi disana.

"Ya, kita memang tertukar."

Ekspresi kaku dari Climb pecah, lalu dia tersenyum.

"Maaf sudah menahanmu, kalau begitu. Climb, kamu harus bekerja keras sekarang."

Meskipun dia ingin merasakan lebih lama lagi kehangatan yang telah meninggalkan dadanya, dia langsung menyela keinginannya.


---


Bulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 10, 09:08

hari ini adalah hari pertanda baik untuk melakukan perjalanan, tanpa awan yang menggantung di langit yang biru di atas.

Jubah merah tua yang tertiup dengan bebas karena angin, di belakang pria dengan armor hitam legam. Evileye bertanya sesuatu kepadanya.

"Apakah anda akan kembali?"

Itu adalah pertanyaan yang aneh, namun Evileye memiliki perasaan aneh. Para petualang bilang mereka tidak memiliki akar, tapi beberapa petualang membuat kota-kota tertentu sebagai markas mereka, contohnya seperti Blue Rose. Bagi Momon, markasnya adalah E-Rantel.

"Ma, Maksudku, ada banyak orang yang ingin pergi dengan...."

Evileye tidak percaya dia membuat suara meringis, bergetar dan menonjol seperti itu. Dia bercermin bahwa dia hampir tidak seperti seorang gadis sekolah yang sedang melamun tentang kekasihnya, namun hanya kalimat 'cinta' saja sudah membuat hatinya menjadi kerusuhan.

"...Jangan khawatir tentang hal itu."

Itu adalah jawaban Momon.

Itu adalah jawaban yang dingin, pikir Evileye.

Tak tahu apalagi yang mau dikatakan, angin bertiup kuat diantara mereka berdua.

Pria yang sedang menunggu tanpa suara mulai bicara.

Evileye merasa bahwa ini bukanlah cara yang bagus mengucapkan perpisahan antara seorang pria dan wanita, namun mereka tidak sendirian disini. Di belakang Momon ada Nabe, dan di belakang Evileye ada para anggota Blue Rose. Lalu ada juga para magic caster yang akan mengirimkan Momon kembali ke E-Rantel.

"Anda sudah banyak membantu."

Momon mengangguk menjawab rasa terima kasih Raeven.

"Yang mulia berharap untuk menyalurkan rasa terima kasihnya kepada sendiri, namun..."

Ketika kekacauan di ibukota, Momon telah menjadi nama yang akrab di penjuru ibukota. Lagipula, dia adalah seorang pahlawan kegelapan yang telah menantang iblis terkuat Jaldabaoth dalam pertempuran tunggal, dan terdengar mengalahkannya. Itu hanya hal yang wajar bagi seorang raja yang ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya sendiri. Jika keadaan berjalan baik, dia bahkan mungkin saja akan menerima sebuah gelar. Namun, Momon menolak penawaran terakhir itu dan menolak bertemu.

Sikap tersebut tidak benar.

Para bangsawan, yang sangat menghargai reputasi mereka, merasa itu bukanlah semacam arogansi karena orang biasa yang tak punya nama bersikap demikian di depan sang raja, yang posisinya lebih tinggi dari rakyatnya.

Rumor mulai beredar bahwa Momon menghina sang raja.

Ada juga mereka yang marah karena hanya petualang biasa bisa bersikap tidak sesopan itu.

Sebagian bangsawan malahan bicara bahwa Momon telah melakukan kesalahan karena tidak memberikan sebuah pukulan terakhir kepada Jaldabaoth, dan malahan membiarkannya kabur, namun karena Momon memiliki dukungan dari Raeven, mereka akhirnya terdiam.

"Momon-san adalah orang yang kupekerjakan, jadi jika kamu menantang dia, kamu telah menantangku" kata Raeven dalam nada yang mengancam.

Dan Momon sendiri menambahkan, "Saya hanya menerima permintaan sebagai seorang petualang, dan menyelesaikannya. Tidak layak perhatian pribadi dari sang raja, dan sejujurnya, setiap petualang yang mengambil bagian di dalam pertempuran ini seharusnya juga menerima penghargaan." Itu langsung membuat para bangsawan tenang, dan bisikan-bisikan itu akhirnya mereda.

Namun api tersebut masih belum padam. Beberapa diantaranya masih mengangkat suara mengkritik Momon, karena para bangsawan merasa mereka sudah dihina.

Evileye mengingat apa yang Lakyus, yang seorang bangsawan, bilang kepadanya.

Tanpa Momon, keributan di ibukota tidak akan bisa dibereskan, dan tidak sulit membayangkan skala kerusakan yang akan disebabkannya. Namun, satu-satunya orang yang datang mengantarkan Momon adalah para anggota Blue Rose dan Marquis Raeven, karena Momon berada dalam posisi yang sulit.

Selama insiden ini, yang mendapatkan pujian tinggi ada para petualang, sang raja, pangeran kedua, dan Marquis Raeven. Sementara itu, opini publik dari para bangsawan kurang positif.

Tentu saja, para bangsawan minta dibedakan. Ibukota berada di bawah yurisdiksi langsung dari sang raja, dan sebagai pemilik tanah sendiri, sedangkan mengirimkan pasukan untuk membantu ibukota adalah hal yang wajar, mereka tidak memiliki kewajiban untuk melakukannya. Kenyataannya, mempertimbangkan jika saja milik mereka sendiri mungkin akan diserang oleh para demon juga, jauh lebih wajar bagi mereka untuk melindungi properti mereka sendiri malahan.

Saat insiden berlangsung, fraksi bangsawan, yang lebih memilih mempertahankan diri, bertahan jika sang raja yang mengumumkan identitasnya adalah sebuah kesalahan dan berasal dari arogansi. Sementara itu, fraksi kerajaan sangat menegaskan bahwa raja seharusnya bersembunyi di tempat aman dan tidak pergi ke garis depan. Dengan begini, perebutan kekuasaan antara kedua pihak semakin meningkat.

Dan penduduk di ibukota kerajaan yang tidak ikut ambil bagian dalam perebutan ini tidak senang. "Mengapa para bangsawan yang sombong itu hanya perduli dengan diirnya sendiri dan bukan kami."

Dengan begitu, rasa hormat mereka terhadap yang benar-benar bertarung untuk mereka semakin besar dan kritikan terus berkumpul kepada para bangsawan yang sudah tidak disenangi. Berubah menjadi lingkarang jahat pada akhirnya, para bangsawan menyalahkan para petualang karenanya.

"Pada akhirnya, mereka hanya mempekerjakan petarung maniak yang bertempur hingga mati", dan seterusnya.

Dan di dalam insiden ini, Momon,yang sangat dianggap tinggi oleh para petualang dengan peringkat adamantite, menjadi target. Sebagai hasilnya, jelas sekali jika tak ada bangsawan yang mengantarkannya kembali. Bahkan jika beberapa diantaranya bersikap ramah dengannya, mereka akan masuk ke dalam titik yang sulit karena perebutan kekuasaan.

Semua alasan Raeven mampu ada disini adalah karena dia melompat maju dan mundur diantara kedua frasi itu seperti seekor kelelawar.

"Ini adalah sebuah surat apresiasi dari sang raja, pangeran kedua, dan putri ketiga. Dan ini adalah tanda yang membebaskan dirimu dari seluruh pajak di tanah Kingdom. Dan juga, pedang pendek yang diberikan oleh sang raja. Tolong terima mereka."

Sebagai bangsawan, Lakyus tidak bisa menahan untuk tidak menghela nafas, dan Evileye tahu betul mengapa.

Diberikan pedang pendek oleh sang raja memiliki arti yang sama dengan diberikan sebuah medali sebagai seorang knight atau memenangkan harta rampasan perang sebagai seorang bangsawan. Di dalam perebutan kekuasaan yang kuat, hadiah pedang pendek akan membuat masalah besar jika para bangsawan tahu tentang hal itu. Meskipun begitu, yang hanya bisa dia katakan adalah hadiah pedang pendek dari raja adalah gerakan yang brilian.

Dan disini aku mengira sang raja adalah orang biasa yang perlu dikasihani yang tidak berani menggoyahkan perahu. Pendapat diriku padanya sedikit naik.

Momon menerima pedang pendek dalam sikap yang santai dan menyerahkannya kepada Nabe, yang berdiri di belakangnya.

"Tidak, memberinya sebagai pujian sudah cukup, namun bukankah para bangsawan punya hal yang harus dikatakan tentang ini?" Evileye berkata lirih.

Dari sudut pandang para bangsawan, seseorang dengan karisma dan kekuatan menjadi seorang bangsawan bukanlah hal yang remeh. Terutama akan sangat menyusahkan jika seorang warrior yang lebih kuat dari Gazef Stronoff bergabung dengan fraksi keluarga kerajaan. Oleh karena itu, jika sang raja memutuskan dia ingin memberikan penghargaan kepada Momon sebuah gelar, para bangsawan akan menggunakan hadiah pedang pendek sebagai alasan untuk mengkritiknya. Meskipun sang raja adalah orang yang menghadiahkan pedang pendek, itu adalah hadiah yang terlalu besar meskipun sebagai pujian.

Para bangsawan tidak akan membiarkannya.

Evileye memikirkan ini keras-keras, namun ditolak oleh orang di sampingnya.

"...Kamu terlalu naif, Evileye."

"Naif. Keluarga kerajaan sudah satu langkah kali ini."

"Mengapa?"

"...Karena pedang pendek adalah sesuatu yang dihadiahkan kepada para bangsawan dan knight."

"Jadi di masa depan, ketika perlu untuk mengangkat Momon-san, mereka bisa menggunakan pedang pendek untuk membungkam para bangsawan. Itu tidak akan diberikan kepada orang biasa, kamu tahu itu ya kan? Sebuah gelar sudah disiapkan untuknya, atau setidaknya itulah yang akan mereka sindir."

"Ternyata begitu... Tidak kukira kamu sudah memikirkannya sejauh itu."

"Tentu saja."

"Jangan meremehkan para assass- jangan meremehkan para ninja."

"Kalau begitu kita harus segera pergi, Marquis Raeven. Terima kasih atas semuanya."

"Sama-sama. Aku harap kita akan bisa melanjutkan hubungan baik ini di masa depan."

"Aku juga merasakan hal yang sama. Dan kepada Blue Rose, sesama rekan petualang adamantite, aku harap kita akan bisa tetap berhubungan dekat. Aku akan mengandalkan kalian jika ada yang terjadi."

"Kami yang seharusnya berkata demikian, Momon-san. Lagipula setelah melihat kekuatan Momon-san, kami hampir merasa malu menyebut diri sebagai petualang adamantite seperti dirimu, namun kami akan melakukan yang terbaik untuk bisa sampai pada tingkatanmu. Aku berharap bekerja sama denganmu lagi."

Lakyus dan Momon saling mengangguk satu sama lain.

Dan lalu, Evileye merasa tatapan Momon terarah kepadanya. Itu bukan sebuah kesalahan. Buktinya adalah Momon terlihat seakan ingin mengatakan sesuatu, lalu berhenti di tengah jalan, sebelum julai lagi dan dipotong sendiri sekali lagi.

Evileye merasakan jantungnya yang telah berhenti berdetak memukul-mukul dadanya.

Jika Momon memintanya untuk menjadi rekan seperjalanannya, Evileye pasti akan menerimanya. Memang akan mengkhianati rekan-rekannya yang sudah melalui tebal dan tipisnya jalan, namun meskipun begitu, Evileye ingin jujur dengan hatinya sendiri.

Seakan bingung, Momon terus mulai dan berhenti beberapa kali sebelum akhirnya dia menghela nafas dan berbalik. Jubah merah tua berkibar saat dia bergerak.

Melihat punggung Momon yang perlahan menghilang, Gagaran menggoda Evileye.

"Kamu ditolak."

"Tidak, itu tidak benar. Dia memang orang seperti itu."

Momon menunggangi [Floating Board] yang diciptakan oleh para magic caster Raeven dan perlahan naik, namun Evileye tidak memalingkan matanya sedetikpun.

"Aku penasaran kapan kita bisa bertemu lagi?"

"Bagus juga jika itu hanya permintaan yang simpel dan santai, daripada keributan besar seperti ini."

"Itu mungkin akan sulit."

"Tepat sekali."

Anggota Blue Rose setuju dengan hal itu.

Jika petualang adamantite menemui sebuah pekerjaan, pastinya karena hal yan besar.

"Kalau begitu pertemuan biasa seharusnya tidak apa, ya kan? Evileye tahu magic teleportasi. Pergi ke E-Rantel seharusnya bukanlah hal yang buruk. Ngomong-ngomong, bukankah pergi dengan Momon akan membunuh dua burung dengan satu batu? Dilindungi olehnya juga berarti kamu tidak akan khawatir akan bahaya ketika berkeliling."

Evileye terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, menatap ke arah Gagaran. Meskipun dia memakai topeng, ekspresi komikalnya bersinar menembus dari sikapnya.

"Hey, bukankah kalian menyadari? hubungan jarak jauh tidak akan berakhir dengan baik... atau apakah kalian berdua belum pergi kencan?"

Gagaran melihat ke arah langit, dan tatapan Evileye juga menatapnya. Di kejauhan, dia melihat figur Momon yang semakin menghilang.

"Uwaaaaaaaaaa!"

Ratapan putus asa Evileye seperti sebuah teriakan marah, dan Blue Rose tertawa karenanya.

---

Bulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 10, 18:45

Rapat darurat dari Eight Finger memang selalu tidak biasa dari semula. Pada awalnya, tidak semua orang disini. Salah satu yang hilang adalah Cocco Doll, namun semuanya tahu dia sudah ditangkap, jadi dia bukan lagi bagian dari hal ini. Masalahnya adalah orang lain yang menghilang adalah Zero.

Semuanya tahu dia bukan seorang pengkhianat. Itu hanya membuat keadaan semakin buruk.

Dari informasi yang dikumpulkan, kematian Zero telah dikonfirmasi. Di hari yang sama, para bawahan yang dikirimkan untuk misi 'bunuh siapapun dan semuanya yang telah menghina kita' juga telah dibantai.

Kerugiannya terlalu besar. Meskipun para bawahan yang dilepaskan adalah orang-orang yang bisa digantikan, kematian dari Zero, pria terkuat dari Eight Finger dan kepala keamanan bukanlah hal yang bisa mereka abaikan.

Setiap departemen disini saling bersaing satu sama lain, namun mereka masih menjadi bagian dari organisasi yang sama. Kerugian ini telah membuat mempengaruhi mereka semua.

Debat semakin meningkat di antara mereka.

Apa yang harus mereka lakukan tentang kekosongan yang ditinggal oleh kematian Zero? Bagaimana dengan Cocco Doll?

Di bawah keadaan biasa mereka hanya merekomendasikan salah satu orang mereka untuk posisi itu, namun ada alasan mereka tidak bisa melakukan hal itu.

Itu karena invasi demon di ibukota. Rontok akibat insiden tersebut bukanlah hal yang enak dilihat. Sementara persembunyian mereka diserang di saat yang sama, sebuah kerugian harus ditanggung oleh salah satunya lebih besar dari yang lainnya. Itu adalah mimpi buruk khusus bagi kepala divisi penyelundupan.

Banyak gudang mereka dijarah, dan setelah memeriksa gudang-gudang yang tidak dijarah, lebih dari separuh barang selundupan mereka telah hilang.

"Oleh karena itu, sampai kita bisa berhasil pulih, kita harus bekerja sama."

"Bukankah kita selalu melakukannya sejauh ini?"

"Cukup dengan omong kosongnya. Kali ini, kita benar-benar harus bekerja sama. Kurasa kita harus memindahkan aktifitas kita keluar dari ibukota. Bagaimana pendapat kalian?"

"Tidak, sebaliknya, kurasa sekarang adalah ketika kita harus bekerja sama di ibukota. Sekarang adalah waktunya untuk mendapatkan kapten penjaga yang baru ke dalam kantong kita. Jika kita kabur dari sini, itu artinya kita sudah menyerah dari ibukota dan hasil yang didapat darinya."

"Mmm. Itu memang sebuah kemungkinan. Namun, dengan departemen keamanan kita - dengan kemampuan tempur kita yang sudah terkoyak, bukankah bahaya untuk bergerak di sekitar ibukota?"

Lima kepala divisi bingung dengan masalah ini, lalu merujuk kepada satu orang kepala yang tidak berkata satu hal pun sejauh ini.

"Hilma, bagaimana menurutmu?"

Tubuh wanita itu gemetar.

Ini adalah reaksi yang tak pernah dia tunjukkan di dalam rapat sebelumnya.

Lingkaran hitam di bawah matanya tidak mungkin bisa disembunyikan dengan makeup, dan dia memiliki aura seperti mayat berjalan.

"Ada apa? Aku dengar mansion milikmu diserang juga... tapi kamu berhasil kabur dengan jalur rahasia, ya kan? Apakah kamu melihat sesuatu yang membuatmu ketakutan?"

Semua kepala seksi yang lain memiliki penjaga yang berdiri di belakang mereka, namun Hilma tidak satupun.

"..."

"Yah, ada apa?"

Saat Hilma membuka mulutnya, begitu jgua dengan pintu dari ruang rapat ini.

"Baiklah! Sudah cukup sekarang!"

Suara riang yag diikuti seorang bocah dark elf masuk ke dalam ruangan, yang akhirnya diikuti oleh gadis dark elf yang gugup.

Semua yang hadir terbengong.

Jika mereka adalah orang dewasa, mungkin mereka akan memiliki reaksi berbeda, namun di depan mata mereka ada sepasang anak-anak yang benar-benar tidak cocok dengan ruangan seperti ini. Pimpinannya masih tetap berusaha mencoba mencari tahu mati-matian jika mereka adalah musuh.

"Kalau begitu, kalian semua sekarang akan menjadi pelayan-pelayan dari tuan besar kami~"

Dari sikap mereka yang terdiam, mungkin mereka tidak paham apa yang dikatakan sama sekali, jadi bocah itu mengulangi lagi.

"Rekanku yang mulia telah memutuskan daripada mengambil alih pimpinan negara, akan lebih efektif untuk hanya mengendalikan kalian semua. Jadi kami akan memaafkan berbagai dosa kalian dan membiarkan kalian menjadi pelayan-pelayan kami... hm, budak? boneka? Ah sudahlah, siapa yang peduli? Lagipula, selamat!"

Bocah dark elf itu mulai bertepuk tangan, diikuti setelah oleh adiknya yang gugup, yang memukulkan tongkatnya di bawah lengan untuk bertepuk tangan juga.

"Se-selama-"

"-apa pula yang kalian bicarakan?!"

Pimpinan itu masih mencoba mencari tahu jika mereka adalah musuh atau sekutu. Terlalu dini untuk memutuskan jika mereka adalah musuh, namun hidup di dunia bawah tanah telah mengajarkan kepada merka untuk berpikir keras, ambil selamat sendiri saja, dan khawatir untuk membunuh musuh nanti saja.

Mereka tidak mengerti maksud sebenarnya dari dua dark elf itu, namun karena pihak lain jelas sekali telah merusak rapat ini, mereka mungkin bermaksud bahwa mereka bisa menekan semuanya disini. Jika itu masalahnya, bahkan bodyguard terbaik dari masing-masing kepala seksi bisa dipekerjakan mungkin tak mampu mengalahkan mereka. Menyadari bahwa tidak ada musuh yang akan sebodoh itu menerobos ke dalam jika ada sedikitpun kemungkinan kalah, kelihatannya kabur untuk menari aman adalah prioritas yang lebih tinggi dalam kasus ini.

Setiap kepala divisi akan menggunakan penjaga mereka sendiri sebagai tameng tanpa ragu-ragu. Semuanya memiliki ide yang sama, dan mulai melakukannya.

Namun, mereka terlalu telat.

Hal pertama yang disadarai oleh para kepala saat mereka mencoba melawan adalah bahwa mereka tidak bisa bergerak.

"Ah? Oghhaaah? Ahhhhhh?!"

Tubuh mereka sama sekali tidak bisa bergerak, bahkan lidah mereka tidak mampu bergerak. Air liur mengalir ke bawah dari sisi mulut mereka.

Bocah yang baru saja mengeluarkan nafas mulai tertawa.

"Kalau begitu, kami akan membawa semuanya ke tempat yang menyenangkan~"

"Y-ya. To-tolong ikut."

Tubuh Hilma mulai gemetar tak karuan.

"Tu-Tunggu! Bukan aku, ya kan? Aku sudah membantumu, ya kan?"

"Hmmmm~ apa yang kamu katakan?"

"Ku, kurasa maksudnya dibawa ke ruang Kyouhukou, dimana organ-organ mereka dimakan dari dalam."

Wajah bocah dark elf berubah menjadi ekspresi yang mirip eww~.

Hilma pasti teringat sesuatu. Dia memeluk dirinya sendiri rapat-rapat, kedua tangannya menggelayuti tubuhnya, tubuhnya gemetaran tidak karuan. Satu tangan menutupi mulutnya sementara air mata mengalir deras dari matanya. Dari corak yang menghijau di wajahnya, dia terlihat seakan ingin muntah.

"D-dan-"

"Hentikan. Kita sudah menyembuhkan seluruh lukanya dengan magic. Jadi wajar baginya untuk menjadi gadis baik. Meskipun adalah hal yang aneh kita tidak membunuhnya..."

"Mm, mm. Sudah ada banyak mayat, dan kami masih memerlukan dirinya untuk menjalankan organisasi."

"Oh begitu, Kalau begitu, tante, semoga beruntung~ Jika kamu mengkhianati kami, kami akan menguncimu lebih lama di dalam kapsul hitam~"

"Eeeeee!"

Hilma mengangguk semangat, sambil tetap berwajah hijau. Itu jelas sekali terlihat seperti seseorang yang semangat untuk melawannya sudah hancur tak bersisa, dan akan mematuhi semua perintah yang diberikan tanpa ragu.

"Bagaimanapun juga, sebelum kami tahu mereka akan melakukan apa yang diperintahkan, kamu bisa bersantai menangani mereka. OK?"

"Ba-baik! Serahkan padaku! Kami pasti bisa mengeluarkan manfaat mereka!"

Dari isyarat Hilma yang patuh, putus asa dan menyedihkan, pria-pria itu menyadari bahwa mereka juga akan mengalami siksaan yang akan membuat mereka menjadi suram seperti dirinya, dan berubah pucat.

"Kalau begitu, aku sudah membawa beberapa bawahanku untuk membantu. Manfaatkan mereka. Ada beberapa lagi yang benar-benar tidak boleh kamu bunuh atau lawan, aku akan menjelaskannya lagi nanti."

"Bocah dark elf hanya tersenyum."

"Kalau begitu, kita sudah melakukan separuh pekerjaan mengambil alih negara ini. Tapi... apa yang dikatakan Demiurge tentang menanam bibit di dalam kingdom...ah, siapa yang peduli. Selanjutnya, ke tempat lain!"

11 comments:

Anonymous said...

Wah, bagian terakhir suka banget, penampilan pertama aura dlm mulai misi pengakuan dunia,
Paling penasaran sm aura sm mare, soal ny wujud nya gitu anak kecil, gimana gambaran yg dibikin pas ngeluarin aura membunuh yaa,
Soal ny itu dua guardian floor yg penampilan ny paling ndak menampakkan memiliki kekuatan banget, pasti keren banget pas ngeliat rasa takut dan putus asa musuh pas ngadapin anak kecil yg ternyata kekuatan tak masuk akal gitu

Anti said...

Wah makasih gan ciggy overlord nya masih lanjut lagi
Oh iya ada yg tau tampilan PESTONYA itu gimana ya, soal ny udah bbrp kali ini pelayan Nazarik sering diomongin oleh para guardian

robert whittaker said...

Lanjutkan gan.....

Ciggy Shiggy said...

Pestonya memang belum diperlihatkan gambarnya. Namun dari ciri2 yang disebutkan kemungkinan seperti gambar di bawah ini :

http://40.media.tumblr.com/478b5b4395d56e052dfd346cda02ed2a/tumblr_o03ljpRrGi1um16ojo1_1280.png

Anonymous said...

Mantap min, hilma habis disiksa kyouhoku ya gan

Kuro Ou said...

Mantap Min Lanjutkan

Muhammad Agung said...

Keren

brian torao said...

sankyu overlord epilog vol.6

Ares Titan Ar Rahman said...

Makasih gan

Roronoa Zoro said...

Makasih udh update gan

Unknown said...

Mantap min lanjut terus

Powered by Blogger.