Cybersh Note

Fans Translasi Novel-Novel Asia

20 March, 2016

Overlord - Vol 6 - Chapter 10 Part 2

The Greatest Trump Card - Kartu As Terbaik.

Part 2


Overlord Light Novel Bahasa IndonesiaBulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 5, 00:47

Meskipun ini adalah tengah malam, sebuah sudut di ibukota kerajaan terlihat terang karena banyaknya obor seakan-akan saat ini adalah tengah hari. Sebuah ruangan yang terlihat penuh sesak terdapat banyak pria dan wanita. Mereka semua berpakaian siap tempur, tapi tak ada tema yang sama dari mereka.

Mereka semua adalah para petualang di dalam ibukota yang merespon panggilan darurat dari istana. Meskipun ada para petualang Orichalcum dan mythrill, bahkan para petualang dengan peringkat rendah seperti besi dan tembaga juga hadir untuk ini.

Semakin banyak para petualang senior yang sudah menyadari jika alasan orang luar seperti mereka telah diberi izin ke dalam istana adalah untuk menangani masalah yang sedang melanda ibukota. Beberapa petualang ini sudah mulai menebak siapa yang mempekerjakan mereka ketika melihat pemuda di dalam balutan armor putih yang menarik perhatian di sudut ruangan. Bahkan sedikit dari para petualang itu yang sudah tahu identitas sebenarnya dari pria yang memakai katana dan berdiri di samping pemuda tersebut.

Pintu besar ke ruangan ini tiba-tiba terbuka, dan yang muncul adalah sekelompok wanita, yang membuat kegaduhan.

Setiap wanita itu dikenal oleh para petualang di dalam Kingdom.


Di pucuk pimpinan mereka adalah kelompok petualang dengan peringkat adamantite "Blue Rose", Lakyus Alvein dale Aindra.

Berada dekat dengannya adalah Putri Emas Renner, bersama dengan pimpinan dari guild petualang di ibukota. Lalu ada juga Evileye dari Blue Rose dan salah satu dari si kembar. Dan di belakang mereka adalah Warrior terkuat di Kingdom, Gazef Stronoff.

Saat kelompok di depan para petualang yang sedang berkumpul itu berdiri, pemuda dengan balutan armor putih membuka gulungan yang ada di tangannya, dan menempelkan gulungan itu ke dinding di belakangnya.

Itu adalah peta detil dari ibukota kerajaan.

Yang pertama berbicara adalah seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan, seorang mantan anggota kelompok petualang dengan peringkat mythrill yang matanya masih dipenuhi semangat.

"Para hadirin, sebagai permulaan, saya ingin berterima kasih kepada kalian karena bisa hadir di dalam pertemuan darurat ini."

Setelah ruangan itu agak hening, dia melanjutkan menyapa para petualang dengan ekspresi sungguh-sungguh di wajahnya.

"Biasanya, Guild Petualang tidak akan mencampuri urusan negara."

Setiap mata terarah ke anggota Blue Rose, tapi mereka tetap terdiam. Lagipula, mata-mata itu tidak bisa berbicara layaknya mulut.

"Namun, ini adalah kasus pengecualian. Guild Petualang memutuskan untuk bekerja sama dengan penuh bersama kerajaan, untuk cepat-cepat menyelesaikan masalah yang kami hadapi. Sang putri akan memberikan rinciannya kepada kita, jadi aku harap kalian semua bisa diam dan mendengarkan."

Sang putri perlahan maju, dikelilingi oleh anggota dari Blue Rose dan Gazef Stronoff.

"Saya adalah Renner Theiere Chardelon ryle Vaiself, dan saya sangat bersyukur karena semua yang ada disini bisa merespon pengumuman panggilan luar biasa malam ini."

Renner membungkuk dengan malu-malu kepada mereka, dan beberapa helaan nafas kagum muncul dari para petualang itu saat mereka melihat pemandangan halus di depan mereka.

"Biasanya, saya akan membuat pujian yang layak pada kalian semua, namun saat ini waktu adalah hal yang terpenting, mari kita langsung menuju titik masalahnya. Malam ini, sebagian dari ibukota-"

Disini sang putri mengangkat jarinya ke sebuah bagian dari peta - sudut timur laut - dan menggambar sebuah lingkaran di sekitarnya.

"-sebagian ibukota dikelilingi oleh sebuah dinding api. Api-api tersebut memiliki tinggi lebih dari tiga puluh meter, dan aku yakin kalian semua sudah melihatnya."

Sebagian besar para petualang mengangguk setuju, sementara lainnya pergi ke jendela istana untuk melihat ke luar. Adanya dinding-dinding yang mengelilingi istana membuat mereka tidak bisa melihat dinding api secara langsung, tapi cahaya yang memancar dari api tersebut menodai langit dengan warna merah, sehingga mereka bisa melihatnya.

"Api ini semacam sebuah ilusi, karena menyentuhnya tidak membuat luka. Menurut mereka yang sudah melakukan kontak dengan api itu, api tersebut tidak memiliki panas, atau menghalangi gerakan. Bergerak menembus dinding api tersebut seharusnya bukan masalah pula."

Saat ini, para petualang dengan peringkat yang lebih rendah bernafas lega.

"Pelaku kejahatan dari insiden ini dikenal sebagai Jaldabaoth, seorang demon yang kuat. Blue Rose sudah memastikan jika ada banyak demon dengan peringkat rendah di sisi lain dari dinding api tersebut. Mereka kelihatannya bergerak seluruh atas perintah dari atasan mereka."

Lakyus mengangguk kepada Renner saat dia berkata demikian.

"...Serang kepalanya maka tubuhnya akan mati... bukankah itu artinya yang harus kita lakukan hanyalah mengalahkan Jaldabaoth?"

Renner berputar untuk menyetujui yang berbicara, seorang petualang dengan plat mythrill di lehernya.

"Itu mungkin adalah kesimpulan yang paling sederhana, tapi pada dasarnya, itu memang benar. Namun, apa yang ingin aku minta kepada kalian semua adalah mengalahkan tujuan dari iblis ini. Kita memiliki informasi yang memberitahukan bahwa dia disini untuk mengambil item magic tertentu yang sampai di ibukota ini."

Berita itu memicu keributan di antara para petualang. Mereka akhirnya menyadari jika daerah yang dilingkari oleh dinding api itu termasuk dalam pergudangan dan rumah-rumah toko yang merupakan jantung perekonomian ibukota.

"...Bagaimana anda bisa mendapatkan informasi ini?"

"Itu diberitahukan oleh Jaldabaoth sendiri."

"Kalau begitu bukankah ada kemungkinan besar jika informasi ini bisa saja salah?"

"Pastinya, itu adalah kemungkinan yang tidak bisa disangkal. Namun, aku yakin itu benar. Musuh tidak membuat gerakan apapun sejak mereka memasang dinding api itu. Yang lebih penting lagi, jika apa yang dikatakan oleh Jaldabaoth adalah benar, maka tidak melakukan apapun akan berarti bahwa yang hanya bisa kita lakukan adalah melihat skenario terburuk yang terjadi di depan mata kita. Oleh karena itu, kita harus membuat inisiatif."

"Seberapa kuat Jaldabaoth yang kalian sebutkan? Aku tidak pernah ingat atau membaca tentangnya. Akan sangat berguna bagi kita jika kalian bisa memberitahu level kesulitannya."

Lakyus maju ke depan dengan ekspresi kaku di wajahnya.

"Rekanku Evileye adalah salah satu yang sangat familiar dengan kekuatan Jaldabaoth, tapi kami masih belum menerima secara detilnya. Kami akan mengupdate informasi ini pada kalian nanti."

Peringkat kesulitan adalah bagaimana para petualang mengukur monster-monster yang mereka temui. Semakin tinggi angkanya, semakin kuat lawannya. Namun, ada peraturan yang tak tertulis jika seseorang seharusnya tidak terlalu mengandalkan peringkat kesulitan, karena itu hanya akan membuat sebuah kejutan yang tidak menyenangkan. Kekuatan dari monster-monster bervariasi bahkan dalam spesies mereka sendiri dan yang terbaik, sebuah peringkat kesulitan adalah sebuah tebakan. Oleh karena itu, itu bukanlah sebuah nilai yang sering digunakan. Namun, itu adalah cara sederhananya untuk menjelaskan hal tersebut kepada kelompok seperti ini.

"Aku akan bericara tentang apa yang aku ketahui sebagai perwakilan kelompokku. Rekan-rekanku menghadapi maid serangga - dipercaya sebagai salah satu pengikut Jaldabaoth - dan mengalahkannya, hanya saja Jaldabaoth muncul dan masuk ke dalam pertarungan kami..."

Ketiadaan dari Gagara sang warrior dan Tia sang rogue sudah diketahui oleh para petualang yang hadir. Lakyus melihat ke sekeliling kepada para petualang di ruangan itu.

"Mereka dibunuh oleh Jaldabaoth."

"Dengan hanya satu serangan."

Keributan pecah dengan statemen Evileye. Para petualang peringkat Adamantite, puncak dari manusia, legenda hidup. Tidak terpikirkan jika mereka bisa dibunuh, lebih-lebih dengan sekali serangan.

"Jangan takut!"

Evileye berteriak seakan dia memecah ketakutan di udara dengan suaranya.

"Memang benar, Jaldabaoth sangat kuat. Aku bisa meyakinkan hal ini, menghadapinya sendiri tanpa adanya hasil apapun kecuali hanya kekalahan. Itu adalah monster yang tidak bisa dikalahkan oleh manusia biasa. Bahkan jika setiap orang disini berkumpul melawannya, kita hanya akan dikalahkan sebagai satu kelompok. Tapi tidak usah khawatir. Ada seorang pria yang bisa bertarung dengan setara melawan Jaldabaoth!"

Ditengah-tengah keributan, beberapa petualang yang berwajah cerah melihat ke arah tempat tertentu - kepada petualang tertentu.

"Para hadirin, aku yakin kalian tahu pria ini. Dari tim petualang dengan peringkat adamantite yang baru saja dibentuk di kota E-Rantel di dalam kerajaan- memang benar, itulah dia-"

Evileye menunjukkan jarinya kepada sepasang petualang, dan mata dari seluruh ruangan mengikutinya.

"Pemimpin kegelapan, Dark Hero Momon-dono!"

Seseorang yang diselimuti oleh armor full plate berwarna hitam sekelam malam dan menggunakan penutup kepala yang dia tolak lepaskan meskipun berada di dalam ruangan, sedangkan yang lainnya adalah wanita cantik dengan kelas dunia. Dua orang itu langsung menjadi pusat perhatian semuanya. Seruan takjub dan penasaran memenuhi ruangan itu saat mereka menyadari selebriti yang ada di tengah-tengah mereka.

Momon memindahkan plat adamantite dari dalam gulungan jubah merah gelapnya agar bisa terlihat oleh setiap orang.

"Cepatlah, Momon-san, silahkan kemari ke depan ruangan."

Berkebalikan dengan kegembiraan Evileye, Momon hanya mengangkat tangan membalasnya, dan berbisik beberapa kalimat di telinga Narberal.

"Momon-san bilang tidak perlu perkenalan panjang-panjang. Kita seharusnya memulai pengarahan secepatnya."

"Yah, sayang sekali. Kalau begitu, kita segera saja, sesuai saran dari Momon-sama. Evileye, bolehkan aku melanjutkan pengarahannya?"

"Batuk, uh, maaf, Putri Renner, silahkan lanjutkan."

Meskipun topeng Evileye menyembunyikan wajahnya, seseorang bisa merasakan bagaimana kecewanya Evileye dari nada suaranya.

"Seperti yang Evileye katakan, kita memiliki seorang warrior yang bisa melawan Jaldabaoth. Semuanya, tengahlah karena kita tidak akan mengambil pertarungan yang tidak bisa kita menangkan. Kalau begitu, saya akan menjelaskan detil operasi ini."

Renner membuat garis sketsa di peta.

"Sebagai awal, aku ingin kalian bertindak sebagai busur kami."

"Sebuah busur? datang suara keraguan, "Bukan perisai?"

"Sebuah perisai tidak akan bisa membantu kita menang. Pada awalnya, aku berharap untuk membentuk para petualang menjadi garis pertempuran, diikuti dari dekat oleh sebuah garis para penjaga. Di belakang mereka adalah garis pendukung dari priest dan magic caster. Dengan cara seperti ini, kita akan maju ke dalam benteng musuh. Pada titik ini, jika musuh tidak menghadapi kita, maka kita akan membuat para petualang untuk maju ke markas musuh dan menekan area tersebut. Jika kita diserang, pertama kita akan memutuskan jika kita bisa mementalkan serangan. Jika mungkin, kita akan maju. Jika tidak, maka saya akan meminta para penjaga untuk menahan musuh selama mungkin. Jika para petualang harus mundur, maka mereka harus menuju kemari."

Renner menunju ke garis pendukung dari para magic caster.

"Kalian akan disembuhkan disini, dan dari sini kita akan melihat serangan lain yang akan dilancarkan."

"Tunggu dulu! Apakah ini artinya... para penjaga yang akan bertarung menggantiakn kami?"

Para penjaga memiliki kekuatan tempur yang rendah. Kelihatannya tidak mungkin sebanyak apapun mereka untuk menggantikan para petualang dalam bertarung.

Saat Renner akan membalas, petualang lain berbicara.

"Satu hal lagi, ada celah fatal di dalam rencana ini. Ketika mundur, formasi kami akan melebar, dan kekuatan bertahan kami akan melemah sebagai hasilnya. Bagaimana jika para demon itu menyerang ibukota saat ini? Bahkan seorang demon dengan peringkat rendah jauh lebih kuat dari manusia rata-rata. Bukankah akan banyak pengorbanan yang tidak perlu? Malahan, mengapa kita tidak menggunakan 'Fly' untuk menusuk formasi musuh dalam satu gerakan?"

"Saya sudah mempertimbangkan metode ini juga, tapi bukankah tidak salah jika kita menganggap banyak demon yang bisa terbang diantara mereka?"

Para petualang mengingat cerita akan demon-demon yang bisa terbang lalu mengangguk kepada Renner. Bahkan demon dengan level rendahan memiliki sayap, dan banyak yang bisa terbang.

"Pengaplikasian 'fly' biasanya hanya untuk menarik mata musuh kepada diri. Saya telah mempertimbangkan untuk mulai dari titik yang tinggi, lalu tiba-tiba terjun ke tanah dan menggunakan bangunan-bangunan di kota untuk menahan pandangan musuh sambil menyerang mereka dengan kecepatan tinggi dari tempat berlindung...tapi ada masalah lain untuk didiskusikan sebelum ini. Kalian menyebutkan bahwa ketika kita mundur, garis pertempuran akan melebar, dan pertahanan akan melemah. Hal yang sama juga berlaku pada musuh kita. Jadi untuk pertempuran ini, kita bukanlah sebuah perisai, namun sebuah busur."

Sahutan setuju datang dari para petualang.

"Para hadirin, kalian akan menjadi busur dari kerajaan kita, ditarik lalu dilepaskan, untuk menusuk musuh kita jauh ke jantungnya. Saat para petualang akan menyebar, begitu juga dengan musuh yang mengikuti kita. Ini juga berarti pertahanan musuh akan melemah. Diantara formasi tertutup atau longgar, aku yakin akan lebih mudah untuk menembus formasi yang longgar. Tujung membentuk kalian menjadi sebuah baris seperti ini adalah untuk memancing musuh melemah sendiri. Dan akhirnya bertindak sebagai anak panay adalah Momon-sama disini. Ketika dia melihat garis musuh membuka, dia akan membuat serangan dengan ketinggian rendah untuk menembus mereka."

"...Bagaimana dengan Red Drop? Meskipun mereka adalah para petualang dengan peringkat adamantite, aku tidak melihat bagaimana dua orang bisa menembus mereka sendiri. Untuk amannya, bukankah kita memerlukan seseorang untuk menyaring mereka sebelum sampai kepada Jaldabaoth?"

"Saat ini, mereka sedang melakuakn sebuah tugas di dalam Republic. Kita sudah menggunakan 'Message' untuk memberitahukan situasinya kepada mereka, tapi kembali akan memakan waktu setidaknya setengah hari. Saat itu, akan terlambat. Jadi kali ini, kita tidak akan menghitung kekuatan mereka ke dalam rencana kita."

"Lalu bagaimana dengan Blue Rose? Apakah mereka akan pergi dengan Momon-san?"

"...Kekuatan tempur kami sudah berkurang sangat besar dengan kurangnya dua anggota kami. Tina dan aku akan ikut dalam garis tempur dan bertarung. Evileye akan melakukan hal lain."

"...Aku akan menemani Momon-sama... Momon-san saat dia mulai masuk, jadi aku harus terfokus untuk mengembalikan mana milikku hingga sekarang."

"Kalau begitu aku bertanya lagi. Aku ingin bertanya kepada Kapten Prajurit sesuatu. Bagaimana dengan pasukan rumahan dari para bangsawan dan para prajurit? Blue Rose sudah kehilangan dua anggota? Anda seharusnya masuk menggantikan mereka. Tidak bisakah anda memimpin pasukan itu ke medan tempur, dan membiarkan Blue Rose menangani tugas membersihkan jalan untuk Momon-san?"

"Beri kami jawaban!"

"Pasukan rumahan bertanggung jawab melindungi perumahan tuan-tuan mereka, dan para prajurit menjaga pertahanan ibukota. Dan para warrior yang aku pimpin ditugaskan untuk melindungi keluarga kerajaan."

"Jadi anda bilang jika Gazef Stronoff yang hebat tidak berani menginjakkan kakinya di medan pertempuran?"

"Memang benar, memang demikian. Tugasku untuk tetap di dalam ibukota. Dan para warrior yang aku pimpin bertugas untuk melindungi anggota keluarga kerajaan."

Suasana berubah. Dipenuhi dengan rasa permusuhan dan frustasi. Ucapan Gazef memang benar, tapi meskipun mereka mengerti akan hal itu dalam tingkat logis, itu masih tidak bisa diterima di tingkat emosi. Yang menerima koin bersimbah darah mereka adalah para petualang, dan mereka sudah bersiap untuk kehilangan nyawa mereka yang paling berharga pada pertarungan nantinya. Para bangsawan dan keluarga kerajaan seharusnya juga demikian. Menerima uang dari masa, mereka seharusnya bergegas menyelamatkan mereka daripada sembunyi agar selamat di istana-istana mereka. Terutama saat mereka sudah mengambil pria terkuat di Kingdom itu sebagai bodyguard mereka. Lalu apa?

Oleh karena itu yang berbicara untuk Gazef adalah Lakyus.

"Semuanya, aku mengerti kalian tidak senang dengan pengaturan ini. Tapi sebelum itu, Aku ingin memberikan satu nasehat. Yang membayar kalian untuk bisa berkumpul di sini bukanlah keluarga kerajaan, tapi putri Renner sendiri, dari keuangannya sendiri. Yang membawa Momon-san kemari adalah Marquis Raeven. Dia tidak disini malam ini karena dia sedang berjaga terhadap demon apapun yang mungkin saja tersebar dari ibukota. Memang benar, aku juga tidak senang dengan para bangsawan  dan keluarga kerajaan seperti kalian, tapi aku ingin kalian mempertimbangkan jika tidak semuanya memiliki potongan baju yang sama."

Ruangan itu menjadi tenang saat Lakyus menyelesaikan kalimatnya. Semuanya mencoba untuk mengendalikan kemarahan yang tidak ingin mereka tunjukkan kepada Renner.

"...dan satu hal lagi. Sebelum kita meluncurkan anak panah, kita harus melakukan satu tugas lagi. Climb!"

"Ya, Putri!"

Suara Climb yang enerjik menark perhatian semuanya kepada bocah yang terbalut armor putih.

"Meskipun ini adalah tugas yang berbahaya, aku masih harus menugaskannya kepadamu. Ketika kita masuk ke pertahanan musuh, mungkin saja ada yang selamat. Tolong selamatkan mereka."

Bisikan lirih terdengar dari arah para petualang. "Tidak mungkin", "Itu terlalu berlebihan", semacam itu. Masuk ke dalam jantung formasi musuh dan mencari yang selamat tidak jauh berbeda dengan bunuh diri secara tidak langsung. Dan mengantarkan penduduk yang tak berdaya kembali melewati zona perang sejatinya tidak mungkin.

Tetap saja, Climb langsung menjawab.

"Baik, yang mulia! Saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk menyelesaikan tugas apapun yang anda berikan kepada saya!

Semuanya melihat ke arah Climb seakan dia sudah gila.

"..Putri, Climb hanya satu orang, dan mungkin saja ada resikonya. Maukah anda memperbolehkan saya menemani dia?"

"Apakah itu tidak apa, Brain Unglaus-sama?"

Nama itu mengangkat keributan lagi dari para petualang. Nama dari Brain Unglaus adalah nama yang takkan pernah dilupakan oleh mereka yang menghargai kekuatan.

"Ah, itu tidak masalah bagi saya."

"Kalau begitu saya mengandalkan anda. Bolehkan sekarang aku minta semua pemimpin kelompok untuk maju ke depan?"

Saat dia melihat para petualang yang memimpin di dalam ruangan, Ainz sedang melakukan sebuah pekerjaan sendiri.

Dengan kata lainnya, dia sedang membuat perkenalan.

Orang-orang yang terlihat sebagai wakil dari pimpinan kelompok petualang itu datang kepada Ainz terdiri dari dua atau tiga orang untuk bicara dengannya.

Barisan mereka mengikuti corak yang mirip saat mereka mengumumkan nama kelompok mereka, mengagumi equipment Ainz, berharap bertemu dengannya lagi dan berbagi cerita tentang petualangan mereka. Mirip dengan seseorang yang mungkin sedang bertukar kartu nama saat bekerja, jika kartu nama memiliki bentuk fisik, perkenalan secara verbal akan lebih menggantung pada ingatan.

Ingatan yang bagus adalah sebuah skill yang penting bagi seorang pemimpin. Ainz membiarkan pikirannya berkelana saat dia menyambut setiap orang yang dia temui di dalam ingatannya.

Hal yang terpenting adalah untuk mengingat nama kelompok dan apa peringkat mereka. Dan tentu saja, dia hanya akan memperhatikan para petualang yang memiliki peringkat yang lebih tinggi. Para petualang dengan peringkat besi dan tembaga juga datang menyapanya, tapi mereka hidup di dunia yang berbeda, dan melupakan mereka bukanlah sebuah masalah. Itu adalah bagaimana seorang pimpinan departemen tidak akan repot-repot mengingat pegawai biasa dari perusahaan kecil yang dia kunjungi.

Meskipun begitu, Momon tidak membuatnya jelas sekali jika dia menganggap remeh mereka. Dia menyambut jabatan tangan seluruh orang yang datang, memberikan mereka tepukan menenangkan di bahu, tertawa dengan candaan mereka yang bodoh, dan membalas pujian yang dia terima.

Seseorang bahkan rela melepaskan sarung tangannya agar bisa berjabatan tangan dengan Ainz, meskipun dia masih memakai sarung tangannya. Itu adalah urusan dari kelas, Momon berpikir seperti itu saat dia menatap punggung dari orang-orang yang baru saja mengucapkan halo.

Warna yang gila...

Rambutnya memiliki warna pink yang mengejutkan.

Tidak aneh bagi para petualang untuk mewarnai perlengkapan mereka dengan warna yang mencolok, tapi ini adalah pertama kalinya Ainz melihat seseorang mewarnai rambutnya dengan corak yang seram.

Para petualang di ibukota benar-benar adalah sekumpulan orang yang sama sekali berbeda. Hanya karena ada banyak orang di ibukota, tidak berarti harus sejauh itu agar bisa mencolok.

Yah, kelihatannya memang tidak ada larangan atau stigma apapun yang berhubungan dengan mewarnai rambutmu...

Ketika Ainz hidup sebagai seorang pegawai biasa, rambut pink akan dianggap aneh, tapi di dunia ini, bahkan anak-anak bisa mewarnai rambut mereka.

Dia memaksa dirinya untuk meninggalkan topik tentang rambut, dan malahan melihat ke arah barisan para petualang di depannya. Itu mengingatkannya dengan insting antri dari orang Jepang. Lalu, dia memindahkan fokus dirinya kepada Narberal yang sedang berdiri di depannya.

Ainz tak pernah sekalipun mendaftarkan nama kelompoknya, tapi kelompok yang disebut Darkness atau Kegelepan memiliki satu orang anggota lagi, wanita cantik dan langsing yang berdiri di belakang Ainz.

Kebanyakan para petualang tidak berani berbicara dengannya karena rasa permusuhan yang jelas terlihat dari dirinya menusuk kulit mereka. Karena itu, lalu mereka hanya datang bertemu Ainz dan memperkenalkan diri, yang tentunya lebih menguntungkan bagi mereka.

Pada akhirnya, masyarakat petualang memang seperti kehidupan pekerjaan...

Lagipula, mereka semau adalah susunan sosial dari manusia. Memang wajar jika ada kemiripan diantaranya.

Saat tangan Ainz mulai nyeri karena berjabat tangan jika dia masih menjadi manusia, aliran para petualang yang mendekat mulai menurun. Melihat ada kesempatan, Evileye mendekat, memotong di depan orang yang akan menjabat tangan Ainz. Mereka tidak bisa protes. Para petualagn telah membuat perkenalan mereka dengan urutan peringkatnya, dari yang paling tinggi hingga yang terendah. Menjadi yang terakhir dari barisan, yang tersisa adalah para pemula, dan mereka pasti tidak bisa berkata apapun melawan Evileye yang memiliki peringkat adamantite.

"Perkenalannya seharusnya sudah habis, bisakah anda kemari sebentar?"

Ainz menatapnya melewati celah dari penutup kepalanya yang tertutup, dan lalu dia melihat Gazef dari sudut pandangannya. Jika dia masih ada disana, hanya ada satu hal.

"Nabe, gantikan aku dan temui mereka. Aku akan segera kembali setelah aku selesai disini."

Mata para pendengar yang ada di dekat situ menjadi terbelalak.

"Maafkan aku, tapi yang antri duluan harus didahulukan."

Ainz berpaling dari Evileye lalu melanjutkan berbicara dengan para petualang yang datang melihatnya.

Jika Ainz sedang berbicara kepada pimpinan perusahaan kecil lalu dipanggil oleh pimpinan dari perusahaan internasional, dia sewajarnya akan pergi ke bos perusahaan internasional itu. Itu bukan memfavoritkan atau diskriminasi, namun lebih kepada, hal yang wajar. Jika dia tetap pada pendiriannya dan mengabaikan panggilan, dia pasti akan terlihat sebagai pimpinan yang egois yang tidak bisa melihat gambaran besar. Sebagai seorang pegawai biasa, suatu ketika kamu harus meminggirkan pemikiranmu sendiri dan bertindak untuk keuntungan yang lebih besar dari perusahaan.

Itulah artinya menjadi sebuah gerigi pada suatu mesin.

Namun, kali ini berbeda.

Aku tidak boleh bicara dengan Gazef. Meskipun hanya sesaat, dan meskipun sudah dua bulang jadi seharusnya dia tidak ingat.. jika dia ingat, aku akan terperangkap. Tapi tak ada jalan keluarnya. Meskipun aku merasa tidak enak, seharusnya mungkin aku biarkan Nabe saja melakukannya, lalu merendahkan suaraku sedikit sebelum bicara dengannya.

...Aku sudah berbicara agak lama, jadi jika dia tidak mendengarnya sekarang mungkin saja dia tidak akan pernah. Tapi tetap saja, aku sebaiknya berhati-hati.

"Cepatlah, Nabe. Pergilah kepada mereka."

"Mengerti."

Memalingkan matanya dari Nabe, yang sedang berjalan menuju sang putri, Ainz melepaskan penutup kepalanya pula. Dia merasa mata di seluruh ruangan itu terpaku padanya. Dia memutarkan lehernya seperti orang capek, lalu kembali meletakkan penutup kepalanya lagi. Pada awalnya dia berencana untuk menambahinya dengan berpura-pura mengusap keringat juga, namun "wajah" Ainz adalah sebuah ilusi, dan jika dia tidak melakukannya dengan benar, tangannya akan menjadi tembus. Jadi, dia memutuskan untuk mengakhirinya dengan menggeretakkan lehernya saja.

Itu adalah rencananya, untuk memuaskan rasa penasaran gazef dengan membiarkannya melihat wajah Momon.

Berharap setelah Narberal pergi kesana, mereka akan lupa untuk mendekat dan berbicara kepadaku...

Ainz berdoa dalam hatinya sambil kembali kepada para petualang yang sudah menantinya.

"Mengejutkan sekali, apakah kamu sudah terbiasa dengan hal ini?"

Itu adalah suara dari Evileye. Dia masih ada disini. Mengapa dia tidak menjadi gadis yang baik dan pergi bersama dengan Narberal? Tentu saja, Ainz tidak mengeluarkan rasa jengkelnya. Pada kenyataannya, untuk menghindari kecurigaan, dia membalas Evileye dengan suara lirih.

"Oh, itu bukan hal yang spesial."

Itu bukan apa-apa bagi orang-orang yang bekerja di sebuah perusahaan sebelumnya.

"Tidak. Kurasa itu adalah sikap terbaik untuk memimpin kelompok."

Menjengkelkan sekali. Berhentilah menyela ketika aku sedang membuat perkenalan.

Kalimat itu terbakar di dalam hati Ainz, tapi dia harus menelannya. Jika dia mengeluarkannya sekarang, usahanya untuk tidak membunuh Evileye akan jadi percuma. Dia membagi perhatiannya seakan sedang melakukan tugas yang sederhana, dan membuat suara yang tepat kepada orang yang sudah datang untuk menemuinya. Pihak lain juga tahu jika Momon sedang dipanggil, jadi mereka menuntaskannya dalam dua atau tiga kalimat.

Setelah barisan petualang itu telah tersebar, setelah sedikit mengintip terlihat Gazef sudah tidak ada. Dia menekan hasrat untuk berdansa, namun berbicara dengan kalem kepada Evileye.

"Kapten prajurit yang legendaris kelihatannya sudah pergi... ya ampun. kurasa aku sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan yang lainnya. Maafkan aku."

"Mmm? Mau bagaimana lagi, dia sudah pergi. Dia orang yang sibuk, memang wajar jika tidak bisa tetap ada disini. Meskipun, memang sedikit kurang ajar jika dia tidak mengucapkan sepatah katapun rasa terima kasih kepada kartu as kita, Momon-sama, yang akan melindungi ibukota. Tidak sopan sekali. Biar kupanggil dia untuk anda."

"Tunggu. Tunggu!"

Dia tidak sengaja menaikkan suaranya. Ainz berlanjut dengan nada yang semakin tinggi.

"Tidak, itu bukan masalah. Benar kok, jangan khawatir tentang itu. Lagipula, aku hanya kemari karena Marquis Raeven mempekerjakanku. Melindungi ibukota adalah urusan sederhana. Bukan hal yang layak dipuji oleh Kapten Prajurit."

"Begitukah... Aku sudah merasa jika Momon-sama adalah orang yang baik."

Ainz berpikir dia sedang diejek dan dia melihat dengan dekat kepada Evileye. Tapi dia tidak bisa membaca wajahnya, yang tertutup oleh topeng itu.

Ternyata aku tidak bisa mempercayai siapapun yang memakai topeng... Menyusahkan sekali. Tapi tetap saja, mengapa dia harus memakai topeng? pasti itu semacam item magic....

Saat itulah Ainz menyadari kesalahannya, lalu dia segera memeriksa keadaan sekelilingnya. Suasana di ruangan itu tidak berubah. Dan tak ada yang bereaksi ketakutan atau memusuhi terhadap petualang adamantite Momon.

Ilusi di dalam YGGDRASIL hanyalah cara yang remeh untuk merubah penampilan sebuah item, namun di dunia ini, magic ilusi adalah nyata. Kalau begitu, tidak aneh jika item-item yang bisa digunakan untuk menembus ilusi memang ada... Di dalam E-Rantel, tak ada yang mengetahui dirinya, dan setelah aku dengar dari pimpinan Guild Magician jika seseorang memerlukan pengalaman untuk bisa melihat tembus hal itu, aku ceroboh... ada banyak petualang dengan peringkat orichalcum disini, benar-benar sebuah kesalahan...

Tak ada yang bersikap waspada, kurasa rahasiaku masih aman... mulai sekarang, aku tidak akan melepas penutup kepalaku di dalam ibukota jika memang tidak harus. Seseorang mungkin memiliki bakat untuk bisa melihat menembus ilusi.

"...Evileye-san,"

"Tolong, panggil saja aku Evileye, Momon-sama adalah penyelamatku, anda tak perlu seformal itu denganku."

Ainz hanya bersikap sopan. Tapi jika itu maunya, dia tidak memiliki alasan untuk menolak.

"Kalau begitu, Evileye, mari kita pergi kesana..."

"Tentu saja!"

Itu adalah balasan yang penuh dengan kegembiraan. Tidak tahu apa yang membuatnya begitu senang, Ainz membiarkan dirinya ditarik oleh Evileye kepada sang putri.

Para petualang mulai berbicara lagi saat mereka melihat kelompok tersebut yang menuju ke ruangan lain - Renner dan bawahannya, bersama dengan dua petualang dengan peringkat adamantite.

Tentu saja, topek utama adalah Momon, petualang dengan peringkat top.

"Aku dengar rumor dari E-Rantel, tapi yang asli memang jauh melebihi harapanku."

"Bukan hanya dia ya kan? Aku juga pernah melihat Red Drop juga, dan aku merasakan perasaan yang sama dari mereka. Dia kelihatannya sangat sempurna dalam segala hal. Kurasa menjadi petualang dengan peringkat adamantite bukan hanya tentang kekuatan."

Yang membalas dua petualang dengan peringkat mythrill adalah salah seseorang dengan pelat platinum pada rantainya.

"Begitukah? Tetap saja, dia dipanggil oleh sang putri dan masih sempatnya untuk menguapkan halo kepada para petualang pemula. Orang seperti itu tidak mungkin ada, ya kan?"

"Memang mengejutkan diriku."

Gumaman setuju datang dari petualang lain di dekat mereka.

Ketika misi seperti ini dimana kelompok-kelompok harus saling bekerja sama, adalah hal yang masuk akal untuk saling berkenalan, untuk mengamankan bantuan dan saling mendukung satu sama lain. Seseorang pasti akan lebih memilih membantu seseorang yang mereka tahu daripada orang asing. Namun, yang hanya bisa membantu petualang adamantite adalah semua orang yang memiliki peringkat mythrill dan di atasnya. Oleh karena itu, menyapa petualang yang baru bisa dikatakan adalah membuang-buang waktu. Itu artinya Momon tidak berpikir untuk keuntungan sendiri, tapi hanya ingin memperdalam pertemanan dengan yang lainnya.

"Biasanya, kalian akan menduga dia akan pergi ke sang putri sementara rekannya menemui para pemula, ya kan?"

"Ah, ya, itu adalah yang dilakukan oleh kenbanyakan orang biasa. Itu adalah yang aku lakukan. Kalian juga, ya kan?"

"Aku juga sama... ini mungkin terdengar buruk, namun mungkin saja dia tidak mengerti hal semacam ini. Apakah dia memiliki prioritas sudah lurus?"

Kalimat itu pastinya bisa dilihat sebagai hinaan, tapi orang yang mengucapkannya tidak memiliki satupun niat jahat di wajahnya.

"Mungkin saja dia begut. Mungkin prioritasnya memang berbeda."

Seakan menunggu hal ini, orang yang berbicara sebelumnya menjawab dengan cepat.

"Kalau begitu tak ada yang lebih baik darinya. Maksudku, lihat dirinya, dia adalah petualang dengan peringkat adamantite namun dia menganggap plat-plat tembaga yang terbaru seperti sahabat dalam bertempur. Lihat wajah mereka."

"Mereka benar-benar memujanya sekarang."

Memang benar, para petualang pemula terlihat berbeda wajahnya seperti seorang bocah yang baru saja bertemu dengan idola mereka.

"Heh, yeah, jika dia menyikapi diriku seperti itu, aku pasti akan menjadi miliknya. Aku bahkan akan memberinya pantatku ini."

"Pergi sana, siapa juga yang ingin pantat jorokmu itu? Dia sudah memiliki wanita cantik di dalam timnya."

"Yeah, memang benar. Kira-kira apakah mereka sudah melakukannya?"

"Tentu saja sudah, jika tidak mengapa mereka membentuk sebuah tim sendiri?"

"Aku dengar tidak seperti itu..."

Orang keempat yang menyela memiliki plat orichalcum di lehernya.

"Kelihatannya kamu sangat memiliki banyak informasi, dengan rumor-rumor yang beredar dari E-Rantel. Kekuatan mereka berdua memang tidak nyata. Mungkin karena tak ada orang lain yang sanggup setara dengan mereka?"

"...Apakah kamu sedang mengamati kami selama ini?"

"Hahahaha! Jangan berkata begitu, kamu tidak perduli siapapun yang sedang mendengarkan, ya kan?"

"Heh, yah, kurasa begitu" petualang pertama berkata.

Guild Master Petualang menepukkan tangannya untuk meminta perhatian mereka.

Operasi akan dimulai dalam satu jam, jadi kita akan segera bergerak. Karena kita tidak punya banyak waktu, tolong sampaikan ini kepada siapapun anggota kelompok kalian yang tidak ada disini. Dalam peristiwa apapun, ketika kita meninggalkan istana, tetaplah dekat denganku.


Bulan Api Bawah (Bulan ke 9), Hari ke 5, 1:12

Mereka berkumpul di ruangan lain untuk membuat persiapan akhir untuk operasi itu. Mereka mempertimbangkan kapan maju, apa yang harus dilakukan ketika musuh muncul dalam sebuah pasukan, dan bagaimana mengatasi kerumitan yang mungkin saja muncul. Namun pada akhirnya, mereka hanya sangat kekurangan informasi untuk membuat rencana yang baku dan keputusan akhir adalah mereka harus mengalir mengikuti arus.

Pemuda dalam balutan armor putih yang sedang mendengar tanpa bicara sejauh ini tiba-tiba memecah kesunyiannya.

"Maafkan saya, Putri."

"Ada apa?"

"Saya tahu orang lain yang bisa menjadi sebuah anak panah untuk formasi ini. Dia adalah seorang pria dengan kekuatan tempur yang luar biasa. Apakah boleh meminta bantuannya? Satu anak panah memang bagus, namun dua anak panah akan lebih baik, dan jika mereka saling membantu, aku yakin mereka bisa mengalahkan demon manapun yang muncul sendiri, tak perduli seberapa kuatnya."

"Apa ini, Climb? Apakah kamu bilang Momon-sama yang aku rekomendasikan tidak cukup?"

Kalimat Evileye memiliki pinggiran yang tajam. Mata Climb gemetar ketakutan.

"Tidak, bukan, tentu saja bukan. Itu bukan niat saya-"

"Momon-sama adalah warrior terkuat yang ada. Aku berani bilang begitu daripada membantunya, pria yang kamu rekomendasikan tak lebih hanya halangan."

Warrior pengguna Katana, Brain, melangkah masuk untuk mendukung Climb.

"Mungkin saja tidak. Aku juga pernah melihat orang yang dimaksud oleh Climb. Kekuatannya luar biasa. Dia mengalahkan Zero, yang terkuat dari Six Arm, hanya dengan satu serangan."

"Kamu adalah Brain Unglaus? Yang melayani yang mulia karena rekomendasi Gazef Stronoff dan Climb?"

"Aku membantu Gazef, namun sebelum aku bersumpah setia, Aku tetap di sisi sang putri."

"Memang kamu lebih kuat dari Climb aku sudah tahu, namun meskipun itu bukanlah jaminan dari kekuatan seorang pria. Dan disamping itu, bukankah kamu kalah dari si nenek itu?"

"...Ara, bukankah kamu juga kalah darinya? Maaf. Tn. Unglaus."

"Uuuu..." Evileye berbisik saat Lakyus menasehatinya.

"Bu, bukan hanya dia, kalian semua juga ada disana."

"Setelah kamu kalah, kamu bilang kamu kalah dari Rigrit, bukan kami semua."

"Kamu masih ingat itu, Tina?"

Antara Tina yang tertawa dan Evileye yang menangis, suasana di ruangan itu berubah cerah dengan drastis.

Saat ini, Ainz bertanya sesuatu.

"Dia kedengarannya menarik. Orang seperti apa dia?"

Climb dengan bangga menyebut nama pria itu.

"Namanya adalah Sebas."

"...hm? Seibath?" Namanya terdengar akrab bagi Ainz. Apakah itu hanya kebetulan?

"...Bagaimana kepribadiannya?"

Setelah Climb menjelaskan, Ainz mengangguk.

Bukankah itu adalah Sebas sendiri?!

Bagaimana dia bisa melakukan kontak dengan Climb? Hubungan macam apa yang mereka miliki? Apakah Climb adalah salah satu kontak Sebas? Ainz hanya menyaring laporan dari yang dikirimkan Sebas, dan dia tidak repot-repot mengingat nama dari orang-orang yang dia sebutkan.

Mau bagaimana lagi, aku terlalu sibuk...

Kegelisahan Ainz hanya semakin muncul saat dia membuat alasan sendiri.

Kalau begitu, bocah ini adalah kontak yang berharga yang dibuat oleh Sebas. Jika dia dihabisi terlalu dini, akan membuat sia-sia pekerjaan Sebas. Dan membuang hasil kerja bawahan dengan ceroboh adalah sesuatu yang harus dihindari oleh atasan bagaimanapun caranya.

Akan lebih baik untuk membantu bocah ini, dan secara tidak langsung memuji Sebas.

"Aku tak pernah melakukan pertempuran dengan Sebas ini sebelumnya, jadi aku tidak bisa bilang yang mana dari kami yang lebih kuat."

"Tentu saja Momon-san lebih kuat darinya!" Narberal mengucapkannya dalam sebuah suara yang dipenuhi dengan rasa percaya diri. Evileye mengangguk setuju tanpa suara.

Ainz tidak bisa mencegah dirinya selain hanya menepuk kepala Narberal.

"Yah, jika rekanku berkata demikian, pasti ada sedikit kebenaran dari pengamatan kedua pihak. Aku yakin dia seharusnya berdiri dengan tingkat yang sama denganku."

"Ternyata itu adalah respon yang dewasa. Tidak seperti rekanku... bukan saja dia kurang tinggi tapi juga kurang bisa beradaptasi pula."

"Baiklah, baiklah, mari kita tidak usah membuat malu di tempat umum. Itu adalah sebuah perintah dari pimpinan kelompok. Jika tak ada apapun lagi yang didiskusikan, mengapa kita tidak mengunjungi Tia dan Gagaran?"

"Kedengarannya bagus juga."

Dua orang itu telah mati dan sudah dihidupkan kembali. Meskipun Ainz tidak melihatnya sendiri membangkitkannya, dia sudah mendengar semuanya dari orang lain.

"Ngomong-ngomong, apakah menggunakan energi kegelapan bisa menyerang para demon dan sejenisnya?"

"..Energi kegelapan?"

Pertanyaan tidak yakin dari Evileye membuat sebuah respon terkejut dari Lakyus. Dia kelihatannya mendapatkan konsep tersebut tidak terpikirka.

"Ah, aku dengar dari Gagaran, jika kamu melepaskan kekuatan penuh dari Pedang Demonic Kilineyram, akan cukup kuat untuk menghancurkan seluruh negara."

Mata Lakyus melebar.

"I-Itu bisa menunggu nantinya! Ada hal lain yang harus didiskusikan, ya kan?"

Sebuah pedang demonic? Tunggu dulu, Kurasa aku pernah mendengar senjata ini sebelumnya... bukan di YGGDRASIL, tapi di dunia ini... aku tahu! Demonic Sword Kilineyram, dikatakan mampu memancarkan kekuatan kegelapan. Meskipun... menghancurkan seluruh negara? kedengarannya terlalu berlebihan, tapi mungkin saja memiliki kekuatan yang hampir sama.

Ainz menyimpulkan bahwa wajahnya yang memerah disebabkan oleh kemarahan dan kepanikan jika kartu as miliknya tiba-tiba dikeluarkan.

"Kakak, dan Marquis Raeven,"

Pada ucapan Renner, semuanya membungkukkan kepala untuk memberi hormat.

Ini adalah kedua kalinya Ainz bertemu dua orang ini. Pertama tidak lama tadi, ketika mereka masuk ke ibukota. Mereka harus merubah isi permintaan yang telah diberikan. Daripada Eight Finger, Ainz harus melawan Jaldabaoth, dan dia akan bekerja sama dengan para petualang yang berkumpul di ibukota.

Setelah perkenalan sederhana, Ainz dan yang lainnya akan melangkah keluar karena sang putri ingin menyambut dua orang itu. Detil yang lebih besar dari rencana pertempuran sudah diputuskan. Mencari Sebas sudah tidak dilakukan karena kurangnya waktu dan tenaga. Semua yang tersisa adalah untuk menunggu perintah di tempat.

"Kalau begitu, semuanya, aku harap semua dewa membuat semua yang ada disini kembali hidup-hidup dan memperoleh kemenangan... harapan kita berada pada kalian semua, atau lebih tepatnya, pada Momon-san. Semoga keberuntungan pada diri anda."

Setelah mendengar Renner berdoa dengan kepala merendah, Ainz dan yang lainnya keluar dari ruangan. Yang tertinggal adalah Raeven dan Pangeran kedua - Zanack Valurean Igana ryle Vaiself - dan Renner.

Saat Climb meninggalkan ruangan, ekspresi Renner berubah, matanya yang hijau membeku seperti sebuah danau di musim dingin. Zanack bergidik saat dia melihat perubahan pada dirinya.

"Kami tidak sengaja mendengar detil di ruangan rahasia..."

Ruangan itu dibuat untuk menguping, dan dua orang itu sudha mendengar dari sana.

"Ada satu pertanyaan yang tidak kamu jawab. Mengapa kamu harus membentuk para penjaga menjadi garis tempur. Apakah mereka untuk dikorbankan?"

Para penjaga memang lemah. Bahkan para petualang yang paling rendah sudah lebih dai cukup untuk menyamai mereka. Jika mereka diserang, respon yang paling wajar bagi mereka adalah pembantaian.

"Umpan."

Kalimat itu memang yang sudah mereka duga.

"Para petualang juga berkata; pasukan Jaldabaoth yang terdiri dari demon kelas rendah tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran di ibukota. Kalau begitu, jika mereka sedang mengisi perut sendiri dengan para penjaga yang dianggap sebagai umpan, pastinya mereka akan membunuh untuk memuaskan diri dengan pembantaian, ya kan?" Renner tersenyum.

Hapir tidak mungkin bisa selesai dengan hal-hal seperti kalimat indah dan terdengar ideal di dunia ini. Semuanya memiliki harga. Tak ada yang mengerti dengan jelas daripada yang memiliki kekuatan, yang bertanggung untuk membatasi pengorbanan yang diperlukan sebanyak mungkin.

Dari sudut pandang itu, Renner adalah birokrat yang ideal.

Namun, manusia adalah makhluk yang memiliki emosi, dan emosi yang mereka rasakan ketika mendengar rencana ini adalah rasa jijik.

"Pastinya kamu memiliki cara yang lebih baik? Cara lain yang tidak mengorbankan seluruh penjaga?"

"Jika memang ada, tentunya pangeran Zanack sudah menyebutkannya sekarang, ya kan?"

Zanack terdiam.

Memang benar, dia tidak memiliki rencana yang lebih baik dari Renner. Dia memiliki ide-ide. Saat ini, semua yang bisa dia lakukan adalah mengakui jika rencana Renner adalah yang terbaik dari rencana-rencana buruk yang banyak.

"Kalau begitu, izinkan saya untuk mencari klarifikasi. Mengapa memberikan tugas yang seberbahaya itu kepada Climb?"

"Untuk alasan yang sama mengapa orang-orang Kakak dan Marquis Raeven sedang berpatroli di kota."

Zanack berkeliling di ibukota, memasang sikap sebagai seorang pangeran yang perduli dengan rakyatnya. Setelah itu, dia juga mulai menyebar rumor bahwa pangeran mahkota sedang bersembunyi di tempat aman di istana kerajaan. Ini akan membuat dirinya terlihat bagus dan mengurangi ketenaran kakaknya - yang merupakan rivalnya.

Apakah itu artinya Renner melakukan hal yang sama - mengirimkan bawahannya ke misi yang berbahaya agar dia terlihat bagus?

Namun begitu, ketika seseorang berpikir tentang bagaimana Renner telah mengeluarkan obsesinya kepada Climb kemarin, pasti ada yang salah disini.

Melihat keraguan, Renner meneruskan.

"Tentu saja, Climb memiliki peluang mati. Jika itu terjadi, Lakyus akan menggunakan sebuah mantra untuk membangkitkannya. Memang tidak murah, tentu saja, tapi sebuah pengeluaran seperti ini bukanlah masalah. Dan setelah dia dihidupkan, Climb akan lemah karena kehilangan tenaga. Selama itu, aku akan merawatnya. Aku yakin tidak ada yang akan protes denganku yang perduli dengan orang yang baru saja mati dan dibangkitkan karena mengikuti perintahku."

"Ternyata begitu. Itu memang alasan yang masuk akal. Kamu berencana untuk memperdalam kasih sayangmu."

"-Apakah ada peluang Lakyus bisa mati juga?"

"Itu adalah kekhawatiran yang valid" Renner berkata kepada Raeven, yang kepalanya direndahkan. "Tapi sudah direncanakan. Ketika ada keadaan darurat, akan ada orang tambahan di situ yang melindunginya, jadi dia setuju tanpa ragu-ragu."

"Kelihatannya semuanya sudah dalam perhitunganmu, adik."

Ya, adiknya yang tertawa memancar. Zanack gemetar di sepatunya.

Di sampingnya, Raeven juga berusaha menekan hawa dingin yang mengalir di tulang belakangnya.

12 comments:

sparta said...

mantab!!. lujutkan (y)

Muhamad Bayu said...

Lujutkan itu diapain gan ? :v

stefanus ais said...

ayo lujutkan :v

sparta said...

ya di lanjutkan ke part 3 :v

stefanus ais said...

Still waiting

Anonymous said...

Sabar menanti part 3 :v

brian torao said...

sankyu overlord vol.6 bab 10 bag. 2

Briand Renaldy said...

Tolong jelaskan anggota dari Team Red Drop?

Sopiyulloh Anwar said...

Mungkin dialah karakter yandere terbaik 2018..
Sampe merinding

Bernat Cranel said...

Jd itu alasannya Climb gk boleh dibunuh, bahkan Shalltear gk ngejar Unglaus karena ngeliat Climb....

Unknown said...

Soalnya ainz udah nyuruh albedo buat kerjasama ama putri ranner (lihat aja di WNnya)

Unknown said...

Mantap min lanjut terus