Cybersh Note

Fans Translasi Novel-Novel Asia

02 November, 2016

Overlord - Vol 11 - Chapter 3 Part 3

Chapter 3 : Krisis yang akan datang

Part 3


Overlord Light Novel Bahasa IndonesiaAda delapan klan Quagoa yang tinggal di dalam rangkaian pegunungan Azellisia.

Mereka adalah klan Pu Rimidol, klan Pu Randel, klan Pu Surix, klan Po Ram, klan Po Shyunem, klan Po Gusua, klan Zu Aygen dan klan Zu Riyushuk.

Putra dari Pu – pahlawan zaman dahulu – membentuk tiga klan yang mengambil namanya, dan mereka berselisih dengan klan-klan yang menamai diri Po dan Zu. Ada sedikit perbedaan antara klan dari masing-masing individu, tapi secara keseluruhan terdiri dari 10.000 Quagoa, total 80.000 Quagoa tersebar di penjuru rangkaian pegunungan Azeelisia.

Sekarang, jika seseorang ingin tahu apakah orang-orang Quagoa kuat, jawabannya adalah mereka tidak kuat.

Meskipun satu klan memiliki anggota 10.000, Quagoa memiliki teknologi dan peradaban yang terbilang sedikit, dan memiliki peringkat di antara ras-ras yang rendah di pegunungan. Mereka tidak lebih dari mangsa bagi yang kuat.


Sekarang, jika ditanya siapa musuh terbesar ras Quagoa, jawabannya adalah sesama klan dari ras mereka. Tidak, suatu ketika bahkan orang-orang klan mereka sendiri bisa menjadi musuh mereka. Monster-monster lain memandang Quagoa tidak lebih dari makanan. Mereka tidak membenci Quagoa, ataupun bersaing dengan mereka. Namun, sesama rekan Quagoa berpikir berbeda.

Itu karena cara Quagoa tumbuh.

Ore (Bijih-bijihan logam) dan bebatuan yang Quagoa makan di usia muda menentukan kemampuan mereka nantinya dalam hidup. Dengan kata lain, mereka harus bersaing dengan orang-orang mereka sendiri untuk ore dan logam yang langka untuk memperkuat garis keturunan mereka. Jadi, sesama klan adalah musuh, tapi wajar jika musuh dekat lebih menyusahkan daripada yang jauh.

Yang mirip, para dwarf yang bersaing dengan mereka untuk ore juga musuh, tapi tidak lebih karena para dwarf akan mengusir mereka dengan senjata-senjata yang dimantrai dengan elemen petir (lightning).

Namun, di suatu titik, seorang pahlawan legenda – yang melebihi Pu, pahlawan masa lalu – telah lahir.

Dia adalah Ketua dari seluruh klan, Pe Riyuro.

Kekuatannya jauh melebihi Quagoa biru dan merah. Kekuatannya yang luar biasa membuatnya mampu menyatukan seluruh klan.

Revolusi Riyuro tidak berhenti di sana.

Setelah menemukan kota dwarf yang dibuang, dia mengumpulkan klan-klan yang ada di sana dan membentuk unit tempur monster, menggunakan tawanan dwarf untuk mengembangkan pertanian dan peternakan.

Bukan itu saja. Biasanya, ketika seorang pimpinan klan yang baru telah lahir, dia akan menghabisi garis darah dari pimpinan klan sebelumnya. Ini adalah cara yang umum diterima oleh kekuatan mana yang berganti di dalam Quagoa. Namun, Riyuro tidak melakukan itu. Malahan, dia membiarkan para pemimpin dari berbagai klan menguasai sendiri. Namun, Riyuro memerintahkan untuk membawa seluruh ore kepadanya. Mereka yang mematuhi Riyuro dan mengerjakannya dengan baik akan diberi ore-ore langka, tak peduli status mereka.

Contohnya, klan-klan yang mengalahkan serangan monster akan dikenal sebagai pemberani, sementara klan-klan yang menemukan lebih banyak emas dan batu-batuan berharga lainnya akan mendapatkan balas budi dan lebih banyak anggota. Dia akan memberi hadiah kepada mereka atas kerja kerasnya dengan ore-ore yang tepat.

Kompetisi mereka terhadap sang tuan berubah menjadi kompetisi satu sama lain, dan kursi pimpinan menjadi aman.

Dia telah melakukan semua ini yang belum pernah diimpikan oleh Quagoa sekalipun untuk memperluas pengaruhnya dan menjalan rencana tertentu.

Rencana itu adalah menyerang kota dwarf.

Klan-klan mengumpulkan warrior-warrior terbaik mereka membalas panggilan pimpinannya. Mereka mengirimkan 2000 orang per klan, dengan total kekuatan tempur 16000.

Ini adalah sebuah pasukan yang tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah. Namun, meskipun dengan tenaga sebanyak itu, sebuah serangan langsung pada jembatan gantung akan menyebabkan korban yang sangat tidak menyenangkan. Bukan hanya itu akan mengalahkan tujuan mengumpulkan jumlah sebanyak itu, tapi juga beresiko dikalahkan tanpa mampu menaklukkan benteng tersebut.

Jadi, Riyuro memerintakan kepada mereka untuk menemukan jalan mengelilingi benteng itu.

Meskipun beberapa tim pemantau tidak kembali, mereka berhasil menemukan sebuah rute untuk melewati Great Rift pada akhirnya. Setelah itu, pasukannya akan terbagi menjadi tiga untuk melaksanakan tugas mereka.

Satu kelompok ditugaskan untuk menemukan dan menangkap dwarf-dwarf yang kabur. Tugas ini dibagikan kepada banyak skuad-skuad yang lebih kecil.

Satu kelompok dijadikan sebagai pasukan utama. Mereka dibuat untuk menaklukkan dan menjarah kota dwarf. Jika kelompok elit memakan waktu terlalu lama dalam menaklukkan benteng itu, mereka akan maju untuk membantu.

Kelompok terakhir dipenuhi dengan Quagoa elit, yang akan menaklukkan benteng dwarf. Kelompok ini akan bergerak maju mendahului pasukan utama, menaklukan benteng dan mereka mungkin akan digunakan untuk menaklukkan kota pula.

Kelompok ketiga, penjaga barisan depan, dipimpin oleh seorang Quagoa yang disebut Yozu.

Dia adalah salah orang kepercayaan Riyuro, seorang Quagoa merah yang luar biasa. Pikirannya tajam, dia adalah seorang petarung yang mumpuni, dan merupakan salah satu kandidat teratas untuk titik pemimpin di dalam klannya sendiri.

Meskipun begitu, tidak mudah bagi orang sepertinya untuk memerintah kelompok tempur campurannya.

Lagipula, para elit dari berbagai klan saling mendendam satu sama lain. Namun, Yozu bahkan bisa berhasil memanfaatkan itu.

Dengan mengipasi api kompetisi antara klan-klan, dia menaklukkan benteng tersebut.

Kemenangan mereka dipastikan dengan mengambil rute samping lalu benteng, namun meskipun begitu, tak ada yang meragukan kemampuan mengomando miliknya yang luar biasa.

Sebenarnya, tak ada orang lain diantara Quagoa yang bisa menyamai kemampuannya sebagai seorang komandan.

Dan sekarang, Quagoa tersebut sedang bersiap untuk menskak mati langkah para dwarf.

***

Quagoa pertama diantara penjaga barisan depan yang menyerang benteng itu adalah pasukan serang yang terdiri dari pasukan terbaik dari yang terbaik. Quagoa ini mencakar-cakar gerbang yang dibenci itu dengan liar, tapi mereka tidak bisa menembusnya.

Satu langkah lagi. Hanya satu langkah lebih dekat, dan mereka bisa menghancurkan pintu itu dan menginjak-injak musuh yang mereka benci, para dwarf. Satu langkah lagi, dan mereka bisa mengambil seluruh daerah ini sebagai milik sendiri. Mereka akan mendapatkan peringkat pertama untuk prestasinya, dan sebagai hadiahnya, mereka akan menerima ore yang cukup untuk membuat kepala mereka pusing.

Namun, peluang itu ditolak dan disegel oleh gerbang dingin di depan mereka.

Quagoa memiliki pepatah; ulat yang bersembunyi lebih dalam akan tumbuh semakin besar.

Salah satu Quagoa sangat marah karena sudah sangat dekat namun serasa jauh sampai-sampai mencoba menggigit gerbang tersebut. Biasanya, dia tidak melakukan apapun selain mencakar-cakar permukaannya.

Melihat Quagoa itu, beberapa yang lainnya juga mencoba hal yang sama.

Namun, Quagoa biasa tidak bisa melukai gerbang itu sama sekali. Mereka bisa mencoba selama ratusan tahun dan masih tidak akan bisa kemana-mana.

Meskipun ketika mereka berpikir untuk menggali lubang menembus bebatuan dan melewati gerbang itu, mereka menemukan dinding-dindingnya juga diperkuat dengan jeruji logam yang sama dengan gerbangnya.

Quagoa biasa tidak akan mampu menembus gerbang itu, elit-elit langka mereka seperti Quagoa biru dan merah disimpan sebagai senjata rahasia dan tidak ditugaskan untuk tim-tim penyerang. Dengan kata lain, gerakan mereka sementara terhenti di sini.

Siapapun akan merasa frustasi saat kemenangan mereka ditolak di saat-saat terakhir. Namun, mereka tidak gugup. Ini karena mereka sudah melaporkannya kepada komandan penjaga barisan. Jika Yozu yang hebat ada di sini, dia pastinya akan memikirkan seuah cara yang tidak bisa mereka pikirkan.

Meskipun begitu, mereka berbaris di dalam klan untuk beristirahat, karena mereka tidak tahu berapa banyak waktu yang akan dibutuhkan.

Jika mereka adalah pasukan biasa, mereka mungkin akan gelisah dan keluyuran karena stres, atau mulai saling berkelahi dengan klan-klan lain. Namun, siapapun yang ada di sini adalah pasukan terbaik diantara yang terbaik. Mereka beristirahat ketika sudah waktunya istirahat, menyimpan kemarahan dan tenaga mereka untuk pertempuran selanjutnya.

Kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, Quagoa itu tiba-tiba melihat ke atas, seakan kepala mereka ada pegasnya.

Ada suara derit bass rendah yang terdengar dari dalam bumi, dan gerbang itu perlahan-lahan terbuka.

Quagoa penyerang saling melihat satu sama lain.

Para dwarf telah menyegel gerbang itu karena panik. Mengapa mereka membukanya lagi? Apakah mereka ingin menyerah? Ada begitu banyak Quago yang berpikir demikian, dan mereak tertawa mengejek saat menunjukkan gigi-giginya.

Memangnya mereka akan menerima penyerahan.

Rencana mereka adalah membasmi para dwarf. Mereka tidak akan memberikan waktu kepada para dwarf untuk mengutarakan ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Mereka akan merangsek masuk seperti longsor melalui gerbang yang terbuka dan akan membantai seluruh dwarf yang ada di jalan mereka dengan brutal, mereka akan menginjak-injak kota itu di bawah kaki dan mengobrak abriknya dengan seluruh tenaga.

Sebuah celah perlahan terbuka di depan Quagoa yang sudah haus darah. Masih terlalu kecil untuk bisa dilewati. Satu Quagoa yang haus darah itu memasukkan tangannya ke dalam celah tersebut.

Dia mendorong cakarnya yang tajam ke depan, mencoba untuk membunuh dwarf satupun yang ada di depan gerbang.

Namun kemudian-

“Gyaaaaaaaaah!”

Quagoa yang ingin menjadi nomer satu itu berteriak dan bergulung-gulung ke belakang, lengan yang dia dorong ke depan sudah tidak ada, diganti dengan sebuah darah segar yang muncrat.

Keterkejutan mereka terhadap perkembangan ini seperti menyiram air dingin pada api haus darah mereka.

Mudah sekali membayangkan apa yang terjadi.

Kelihatannya, seseorang telah memotong tangannya dengan semacam senjata, tapi apakah itu mungkin?

Kemampuan spesial Quagoa adalah mereka sangat tahan terhadap senjata-senjata yang biasanya digunakan oleh para dwarf. Selama serangan kejutan mereka di benteng, beberapa diantaranya telah terluka namun tidak ada yang mati. Itu juga seharusnya berlaku selama mereka tidak diserang dengan serangan listrik.

Tapi, mengapa lengan rekan mereka terpotong?

Hanya ada satu alasan untuk itu.

Itu karena adanya ahli pedang luar biasa, yang bisa dengan mudah memotong lengan Quagoa, seorang anggota ras yang kulit dan bulunya mementalkan seluruh pedang.

Dengan kata lain, ada warrior luar biasa yang tak terbayangkan di belakang pintu yang perlahan terbuka itu.

Quagoa itu mundur, dicengkeram oleh emosi yang belum pernah dirasakan di dalam pertempuran ini – ketakutan. Saat itu, celah di pintu tersebuah semakin melebar.

“Mengapa kalian mundur?” teriak sebuah suara kuat dari belakang tim penyerang.

“Tidak ada pengecut diantara klan Pu Rimidol!”

 “Ohhhhh!”

Teriakan setuju itu pasti datangnya dari anggota klan Pu Rimidol yang dipilih sebagai tim penyerang kali ini. Panik, mereka yang dari klan lain juga beteriak, menyerukan kekuatan mereka pula.

“Klan Po Gusua juga tidak kenal dengan pengecut!”

“Tak ada orang dari klan Zu Aygen yang kalah dengan Pu ataupun Po! Bagaimana bisa kita membiarkan leluhur tertawa kepada kita dari Tanah Derey!?”

Bagi Quagoa, yang telah mati dengan gagah akan melihat anak-anak mereka makmur dari Tanah Derey. Dikatakan bahwa leluhur akan mengejek mereka yang mempermalukan diri.

Ucapan itu adalah pemicu untuk membangkitkan semangat tempur dari Quagoa.

Mereka menyeret Quagoa yang lengannya buntung menyingkir, ke dinding. Tim penyerang menjaga jarak mereka dan mengambil formasi merapat, bersiap untuk membantai ahli pedang yang luar biasa.

“Serang! Tak perduli seberapa kuatpun dia, musuh hanya punya satu pedang! Kita akan memukulnya dengan jumlah yang takkan bisa dia hadapi,” ucap seseorang.

“Tidak, kita hanya perlu bergegas merangsek lurus ketika pintunya terbuka. Ketika kita sudah menjatuhkannya, kita injak-injak dia. Lalu kita akan jarah kota itu.”

“Kalau begitu, biarkan aku yang memimpin!”

Ada sebuah mineral yang disebut Nuran yang diremukkan menjadi tepung dan dicampur dengan cat. Para pemberani akan mengambil cat ini dan menggambar dua garis menembus bulu mereka sebagai bukti keberanian mereka.

Quagoa itu berkumpul di belakang seorang pemberani itu. Jika dia ditebas dengan pedang, mereka masih bisa mendorongnya masuk.

Celah di dalam pintu sekarang sudah cukup besar untuk seorang Quagoa lewat. Sementara masih terlalu sesak untuk masuk dengan bergerombol, mereka akan kehilangan orang sia-sia jika para dwarf memukul pintu masuk itu dengan magic lightning (petir) yang barusan lalu menutup pintunya lagi.

“Maju!”

Dengan teriakan yang perkasa, lebih dari 1 Quagoa bergerak.

Quagoa pemberani di depan menjadi kaku. Orang-orang mendorongnya dari belakang merasa bahwa dia terbunuh oleh ahli pedang itu. Namun, mereka tidak bisa berhenti. Jika mereka berhenti sekarang, mereka telah menghina keberaniannya.

Karena itu, Quagoa dari belakang mendorong ke depan dengan niat bersatu, bermaksud membiarkan momentum dorongan itu membuat mereka bisa masuk ke dalam kota dwarf untuk menjarah dan merampas kota itu..

- Namun mereka terhenti...

Tak perduli sekeras apapun mereka mendorong, mereka tidak bisa bergerak. Seakan ada sebuah dinding yang tebal dan besar sedang menghadang.

Salah satu Quagoa mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.

Memang wajar untuk penasaran apakah para dwarf membuat sebuah dinding.

Karena memang benar, ada sebuah dinding hitam legam di sana.

Yang bisa dilihat oleh semua mata mereka adalah dinding. Lalu dinding itu mulai bergerak.

“OHHHHHHHHHHHHHHHH!”

Itu adalah teriakan luar biasa yang membuat hati menggigil.

Apa yang mereka kira adalah sebuah dinding sebenarnya adalah sebuah perisai raksasa.

Quagoa tidak memiliki sejarah menggunakan senjata atau armor, tapi mereka pernah melihat para dwarf menggunakan itu sebelumnya, mereka tak pernah melihat benda sebesar ini. Di depan mereka ada sebuah perisai yang disangka sebuah dinding.

Saat Quagoa itu bingung dengan perkembangan ini, makhluk menjijikkan dibalik perisai itu memperlihatkan diri.

Itu adalah makhluk yang terbungkus armor full plate hitam, matanya yang merah menyinarkan kebencian.

Bahkan Quagoa yang bodoh pun mengerti itu adalah makhluk jahat, ganas – makhluk Itu adalah kematian itu sendiri

Sebuah suara pyun terdengar.

Dalam sekejap, kepala dari tiga Quagoa terbang jadi satu.

 “UUUOOOOHHHHHHHH!!”

Raungan itu membuat babak belur tubuh Quagoa.

Benturan yang menyebabkan bulu berdiri membuat Quago ingin lari dengan segenap hati.

Di dalam suku, mereka dianggap sebagai warrior-warrior pemberani yang tidak takut mati. Namun, mereka tidak pernah membayangkan satu makhluk seperti ini di dalam mimpi mereka yang paling liar sekalipun. Monster di depan itu melenyapkan keberanian mereka.

Meskipun begitu, mengapa mereka tidak segera lari?

Itu karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Insting mereka bilang agar mereka lari, mereka akan dibantai oleh satu sabetan dari belakang. Meskipun begitu, mata dari makhluk hitam itu mengingatkan Quagoa akan hasrat mereka untuk hidup.

“OHHHHHHHHHHHHHHHH!”

Raungan itu kelihatannya datang dari dalam bumi. Quagoa meresponnya dengan rintihan, makhluk yang mirip telah muncul. Dan kemudian-

 “Hiiiiiii!”

Salah satu Quago berteriak.

Saat mereka melihat ke arah pemilik suara itu, mereka melihat rekan mereka yang telah kehilangan kepala.

Dia telah mati. Tidak diragukan lagi itu. Namun, lengannya mulai bergerak, seakan menggenggam sesuatu. Jelas sekali itu bukan kejang atau semacamnya.

Satu-satunya kesimpulan yang bisa mereka tarik adalah mayat-mayat itu sedang bergerak.

Seakan terperangkap di dalam mimpi buruk, Quagoa yang masih hidup merasa terpenjara dalam sangkar ketakutan.

Clang, clang, bergeraklah dua pasang armor besar, lalu mereka mengangkat pedang yang sama dan aneh: flamberge.

***

“Jadi, menurut laporan tim penyerang, mereka belum menemukan cara untuk meruntuhkan pintu itu, benar kan?”

“Ya!”

Quagoa yang kulitnya bergaris merah mengerutkan dahi saat mendengar laporan bawahannya.

Dia adalah Yozu, komandan dari barisan depan Quagoa. Dia memiliki sebuah kulit yang sekeras orichalcum dan tahan terhadap senjata logam yang bahkan lebih hebat daripada Quagoa biasa. Dia adalah anggota superior dari satu spesiesnya, Quagoa merah.

Yozu memalingkan matanya dari bawahan yang sedang membungkuk ke arah benteng di sisi lain dari jembatan gantung. Dibalik benteng itu ada sebuah terowongan dan setelah terowongan itu adalah kota Dwarf.

Setelah menguasai kota itu, mereka akan memiliki lokasi yang bagus sebagai markas dan seluruh kompetisi terhadap ore juga akan terhapus.

Kombinasi dari wilayah yang meluas dan hasil dari ore dan mineral yang belum pernah ada sebelumnya akan membuat Quagoa hebat.

Ketika itu terjadi, Quagoa suatu hari akan menguasai seluruh rangkaian pegunungan.

“Jika saja kita bisa mengalahkan naga-naga itu..”

Yozu melihat ke sekeliling khawatir setelah secara tidak sengaja keceplosan pemikirannya yang asli.

Jika ada orang bereaksi, mereka tidak mengeluarkan tanda apapun.

Itu membuat Yozu agak lega.

Quagoa telah mengambil bekas ibukota dwarf sebagai markas mereka.

Istana kerajaan masih berdiri dengan gagah di dalam kota, tapi sekarang menjadi rumah bagi naga putih (White Dragon). Dia adalah Frost Dragon (Naga beku), yang bisa mengeluarkan nafas membekukan.

Quagoa telah menjalin aliansi dengan Frost Dragon. Namun, siapapun yang hanya tahu sedikit tentang yang sebenarnya akan tahu bahwa itu bukanlah hubungan yang setara. Pimpinan Klan (Clan Lord) mungkin telah mempercantik hubungan itu dengan berkata bahwa itu adalah menjadi makmur bersama-sama dan semacamnya, namun pimpinan itu sendiri tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

Sebenarnya adalah naga-naga itu kuat, dan para pelayan mereka, Quagoa itu lemah.

Bagi para naga, Quagoa tidak lebih dari bahan makanan darurat atau bidak yang tidak merepotkan.

Yozu pernah bertemu sekali dengan para naga di hadapan Pimpinan Klan, dan kesan yang dia dapatkan setelah mendengarkan suara yang agung itu keluar dari rahang yang besar pula. Dia juga terkejut dengan pemandangan Pimpinannya yang berlutut di hadapan para naga itu.

Dia tidak ingin melihat seorang pahlawan besar dalam keadaan seperti itu, tapi Yozu tidak bodoh. Dia sangat memahami perbedaan yang tak dapat diatasi antara kekuatan para naga dan Quagoa.

Meskipun begitu, dia tidak bisa mengizinkan para naga memperlakukan mereka seperti orang-orang bodoh.

...Kita tidak bisa apa-apa tentang itu sekarang. Jika kita melawan Dragon Lord itu, ras Quagoa (kami) akan menderita kerusakan yang tak dapat dipulihkan meskipun kami menang. Tapi... Suatu hari.

Dia bukan hanya satu-satunya yang memendam hasrat itu di hati. Seluruh Quagoa yang pernah bertemu dengan naga-naga itu – dengan kata lain, seluruh kelas atas Quagoa – memiliki hasrat yang sama.

Pada awalnya, mereka perlu mencari cara untuk menjadi kebal terhadap nafas pembeku. Jika Quagoa seperti itu tidak lahir, mereka akan mengalami kekalahan yang luar biasa.

Pencarian itu akan memakan waktu yang yang sangat lama.

Yozu menyapu semua emosi gelapnya. Sekarang ini, dia harus menghancurkan para dwarf. Itu masih belum dilakukan. Adalah hal yang bodoh membiarkan kekhawatiran akan masa depan mempengaruhi apa yang bisa dia lakukan saat ini.

Yozu memanggil para bawahannya.

“Oi, hancurkan benteng itu dan kita lihat apakah kita bisa memperlebar dinding terowongannya agar bisa lebih banyak orang yang masuk. Kita harus bersiap sebanyak mungkin sebelum pasukan utama-“

Tiba-tiba saja, telingat Yozu berdiri. Dia mengira telah mendengar sebuah teriakan dari suatu tempat.

Tidak, mungkin itu bukan sebuah teriakan. Mungkin saja suara mengancam yang dibuat oleh seorang monster. Masalahnya adalah di bawah tanah itu sangat sulit untuk membedakan darimana datangnya suara itu.

Kali ini, bagaimanapun, dia langsung tahu.

Itu karena dia melihat Quagoa dari tim penyerang kabur dari benteng tersebut sambil berteriak sekeras mungkin.

Kegemparan muncul dari Quagoa di sekeliling Yozu.

Melihat keadaan Quagoa yang telah kembali, sudah jelas bahwa mereka ketakutan dan bingung. Beberapa Quagoa bahkan mendorong temannya dari belakang, dan yang terakhir terjatuh ke dalam Great Rift.

“Ada apa? Apakah ada keadaan darurat?”

Salah satu bawahan Yozu menjawab: “Kami tidak yakin. Jangan-jangan itu adalah serangan balik para dwarf?”

Itu tidak mungkin. Sebuah serangan balik dari dwarf itu masih berada dalam perhitungan untuk dibalas. Itu tidak akan membuat tim penyerang kabur karena panik.

Pasti ada semacam serangan spesial. Yozu pernah dengar jika minyak panas sangat menyakitkan.

“Kumpulkan orang-orang dan cari tahu apa yang sedang terjadi. Jika itu adalah serangan balik para dwarf, terus maju. Kita tidak boleh biarkan mereka mengambil alih benteng lagi.”

Orang-orang Yozu membentuk satu baris terhadap instruksinya, lalu mereka mulai menyeberangi jembatan itu.

Teriakan-teriakan tersebut terus berlanjut saat ini, dan tim penyerang terus berlarian.

Mereka lari dari apa? Apakah itu adalah hasil dari kekuatan misterius yang disebut magic?

Saat Yozu memikirkan masalah itu, sepasang siluet muncul di pintu benteng.

Mereka adalah sesuatu yang besar dan hitam.

“-Apa, Apa itu? Dwarf raksasa? Dwarf Lord?”

Yozu tak pernah melihat makhluk seperti itu sebelumnya. Meskipun dia tahu jika para dwarf menggunakan armor sebagai bagian dari perlengkapan mereka, dan satu set armor itu menutupi seluruh tubuh, apa yang dia liaht sekarang sama sekali berbeda dari apa yang pernah dia lihat dahulu.

Di tangan mereka memegang semacam pedang besar yang bergelombang, sementara di tangan kiri memegang perisai yang besar.

Jika Clan Lord (Pimpinan Klan) dari Quagoa sedikti berbeda dari Quagoa biasa dalam hal penampilan, Dwarven Lord (Pimpinan Dwarf) mungkin terlihat berbeda dari Dwarf biasa.

Yozu tidak tahu identitas sebenarnya dari makhluk yang berdiri di pintu masuk benteng itu seperti patung Nio. Namun, insting binatang dari dirinya berkata bahwa mereka adalah entitas yang berbahaya.
(TL Note : Patung Nio = patung penjaga kuil yang berbentuk seperti Raja pencerahan dalam agama budha)

Dia juga mengerti mengapa tim penyerang kabur dari monster itu dengan sekuat tenaga mereka.

Bawahan yang ada di sekelilingnya juga terkejut dan kaku, seperti Yozu. Satu-satunya makhluk yang masih bergerak adalah Quagoa yang berlarian dari benteng itu. Mereka tidak melihat ke belakang; energi mereka sepenuhnya terfokus untuk bisa menyeberangi jembatang gantung itu.

Armor-armor hitam itu meraung.

Meskipun di kejauhan, teriakan mereka membelah udara dan membuat bulu berdiri. Perut Yozu terasa sakit dan menjadi dingin. Rasanya seperti auman naga yang membela seluruh tubuhnya.

Seakan itu adalah sebuah isyarat, dia melihat Quagoa muncul dari samping armor-armor hitam itu.

Apakah mereka kabur? Atau apakah mereka mengkhianati kita? Tidak, itu bukan-

Mata Yozu melebar.

Salah satu Quagoa yang dia lihat kehilangan kepala.

Dia memicingkan mata, dan melihat beberapa Quagoa menyeret organ dalam mereka di belakang, sementara yang lainnya berjalan dengan kaki terseret dan sikap yang tidak terkoordinasi, bagian kiri dan kanan dari tubuh mereka bergerak tidak sinkron, seakan sudah dipotong menjadi separuh.

Makhluk yang bergerak meskipun tidak bisa dianggap hidup lagi adalah –

Magic! Magic yang mengendalikan yang telah mati!

“Apakah itu senjata rahasia para dwarf?”

Yozu setuju dengan apa yang dikatakan oleh para bawahannya.

Apakah mereka memiliki kartu as disamping senjata yang diberi magic lightning (Petir)?

“...Apakah mereka adalah golem?”

Dikatakan bahwa ketika naga itu menguasai istana kerajaan, dia bertarung melawan monster-monster dengan nama-nama itu. Kelihatannya mereka seperti patung berpakaian armor.

“Apakah dwarf-dwarf itu disebut Golem?”

Yozu menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan dari bawahannya.

“Tidak, Golem adalah monster. Para dwarf mungkin telah membesarkan dan merawat mereka.”

“Seperti Nuks yang kita jinakkan?”
(TL Note: γƒŒγƒΌγ‚―)

Nuks ini adalah magical beast (binatang buas magis)

Yang pria memiliki panjang 3.5 meter dan berat 1200 kg. Mereka adalah herbivora bulu kasar berkaki empat yang bisa selamat bahkan dengan sedikit alga. Mereka cukup tangguh untuk selamat dari badai salju, begitu banyak monster di dalam rangkaian pegunungan Azellisia yang memakan mereka.

Bagaimanapun, tidak diketahui seberapa baik golem-golem hitam itu bisa bertarung, tapi melihat Quagoa dan tim penyerang yang bekurang jumlahnya.. tidak, lebih dari itu, degup jantung Yozu dan keringat dinginnya sudah mengatakan semuanya.

Mengalahkan mereka tidaklah mudah, tapi sayangnya, mereka kelihatannya hanya mengawasi dari jauh dan tidak mencoba menyeberangi jembatan.

“Ke, Kelihatannya mereka datang untuk mengambil alih kembali benteng itu.”

“Y-Ya, benar sekali. Baiklah, bentuk lagi barisan sementara mereka masih berhenti. Di waktu yang sama, kita akan bersiap untuk – mereka bergerak!

Baju-baju armor hitam itu berlari, merangsek ke arah jembatan gantung.

“Siapa itu! Siapa yang bilang mereka di sana untuk mengambil alih benteng itu?!”

“Komandan! Sekarang bukan waktunya untuk itu! Apa yang harus kita lakukan!?”

Quagoa yang Yozu keluarkan sudah mengeluarkan cakar mereka, bersiap untuk bertarung.

Baju-baju armor hitam itu mengarahkan perisainya ke depan lalu menerbangkan Quagoa yang melakukan kontak dengannya.

Beterbangan karena kekuatan yang sangat unggul, banyak Quagoa yang terjatuh dari jembatan gantung. Baju-baju armor hitam itu tidak berhenti. Meskipun mereka akan melambat sedikit, mereka melanjutkan gerakannya dengan perisai terangkat, seperti dinding yang mengamuk.

Jika terus seperti ini, mereka akan segera selesai menyeberangi jembatan dan tiba di tempat ini.

Dan kemudian, ketika itu terjadi.. apa yang akan terjadi nanti? Menyadari bahaya yang bahaya besar yang sedang menunggunya, Yozu berteriak.

“Potong, potong jembatannya!”

Jika mereka menghancurkan jembatan itu, pasukan utama hanya akan mampu menggunakan rute sampingan, dan itu akan banyak menyia-nyiakan waktu. Para dwarf mungkin telah memperkuat pertahanan mereka yang sementara. Jadi, bisa dianggap tujuan pertama mereka mengambil alih benteng telah gagal.

Setelah kehilangan sumber daya dan tenaga selama operasi ini, kegagalan bukanlah sebuah masalah yang hanya bisa lepas dengan hanya omelan. Namun, semua itu tidak berarti dibandingkan dengan bahaya jika membiarkan baju-baju armor hitam itu menyeberangi jembatan.

Jika mereka tiba di tempat ini, semua yang ada di sini akan mati. Baju-baju armor hitam itu adalah makhluk seperti demikian.

“Bukankah sudah kubilang untuk memotong jembatannya!?”

Quagoa itu pun mau tidak mau menatap baju armor hitam yang melumat orang-orang mereka dengan kekuatan yang tidak bisa dibayangkan. Pada teriakan kedua, akhirnya mereka berhasil bergerak. Namun, hampir semua Quagoa yang dikirim keluar dari barisan belakang terbang ke dalam jurang, dan hanya ada beberapa Quagoa yang tersisa di jembatan menghadapi makhluk berarmor hitam itu.

Semua Quagoa itu mati-mati menggigit dan mencakar kabel gantung baja jembatan tersebut.

“Buat salah satu tim penyerang memperlambat laju mereka!”

Diperintahkan untuk menghentikan golem-golem itu tepat setelah mendengar perintah untuk menghancurkan jembatan tidak ubahnya seperti misi bunuh diri. Meskipun begitu, satu pasukan bunuh diri berkumpul dan dengan berani bergerak maju.

Seperti yang diduga, pasukan bunuh diri itu terpental akibat perisai mereka, tapi beberapa diantaranya berhasil melewati dan melemparkan dirinya ke arah makhluk berarmor hitam itu. Namun, makhluk itu tidak menghiraukannya. Digigit kelihatannya tidak membuat mereka sakit, dan mereka masih melanjutkan gerakannya.

Jembatan itu masih belum jatuh.

Jika terus seperti ini, makhluk berarmor hitam itu akan sampai ke seberang.

Saat Yozu menyadari ini, tubuhnya mulai bergerak sendiri. Dia melompat turun dari pos komandonya di tempat yang tinggi, dan menggunakan kekuatan pendaratan dan ketajaman cakar miliknya untuk mengirimkan benturan kepada kabel baja dari jembatan tersebut.

Sebuah bunyi ping yang keras terdengar di udara.

Jembatan gantung itu terangkat dan jatuh seperti gelombang raksasa, lalu hancur.

Yozu tidak tahan dengan hempasan seperti ular dan jembatan gantung itu dan terlempar ke udara, dia berhasil menangkap kabel yang sedang menari-nari sebelum ditelan oleh kegelapan yang menguap di bawahnya. Karena Yozu tidak bisa mengendalikan gerakannya di udara, itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak bisa dibayangkan baginya. Dia menarik dirinya dengan bantuan kabel tersebut saat tubuhnya dikibas-kibaskan di udara, dan berhasil membuat kontak dengan tepian jurang.

Namun, dia bahkan tidak punya waktu untuk mengatur nafas. Sebuah hawa dingin yang jahat memenuhi tubuhnya. Yozu mendengarkan nalurinya lalu menelungkup.

Dalam sekejap, sebuah obyek yang berteriak melewati bulu punggung Yozu. Cukup tidak bisa dipercaya, obyek yang sedang terbang itu adalah Quagoa yang sedang terbang. Dalam keadaan yang gawat ini, makhluk berarmor hitam itu berhasil melemparkan salah satu anggota pasukan bunuh diri ke arah Yozu dengan kekuatan lengan yang luar biasa.

Quagoa yang terlempar mengenai salah satu bawahan Yozu, yang masih terdiam karena terkejut. Dua orang itu pecah menjadi gumpalan daging berdarah dengan sebuah teriakan kecil “Pigya!”

Namun, hanya itu, karena pasukan bunuh diri dan makhluk berarmor hitam tersebut telah hilang ke dalam Great Rift.

Keheningan memenuhi udara.

Yozu perlahan menatap ke dalam gelapnya Great Rift. Dia bukanlah satu-satunya yang melakukan itu; semua yang selamat melihat ke dalam kegelapan yang telah menelan semuanya. Mereka semua tahu bahwa tidak ada yang selamat dari terjun bebas itu; meskipun begitu, mereka tidak bisa menghapus ketakutan mereka jika saja makhluk berarmor hitam itu akan memanjat sisi jurang.

Setelah beberapa saat yang seakan selamanya, Yozu akhirnya bisa menghela nafas lega.

Kelihatannya mereka tidak akan kembali.

Setelah melihat ke sekeliling, dia melihat hanya ada beberapa orang-orangnya yang berharga yang telah berhasil selamat.

Meskipun begitu, kenyataanya mereka bisa selamat melawan makhluk berarmor hitam itu layak dipuji.

“Kita mundur!”

Jika mereka tidak melaporkan golem-golem itu ke orang-orang yang ada di atas, keadaan akan menjadi sangat buruk bagi mereka.

Jika makhluk seperti itu diproduksi secara masal, Quagoalah yang akan musnah malahan. Yozu tidak merasa bahwa hanya ada dua makhluk itu.

“...Dwarf-dwarf itu memang sangat menakutkan.”

Yozu sangat menyesal telah menganggap enteng para dwarf. Tidak dikira mereka tahu bagaimana memproduksi monster-monster seperti itu-

“Bagaimanapun, kita harus memberitahu pasukan utama tentang ini. Pembawa pesan!”

Orang yang berlari merespon panggilan Yozu adalah Quagoa penunggang, yang jauh melebihi Quagoa biasa dalam hal mobilitas. Mereka memiliki kemampuan spesial yang membuat mereka kebal terhadap lelah yang disebabkan oleh sprint yang lama.

Alasan mengapa dia membawa orang sebanyak ini adalah karena bergerak dengan jumlah kecil memiliki resiko seluruh kelompok akan habis diserang oleh sergapan monster. Bukan berarti bergerak dengan kekuatan besar menjamin keselamatan, tapi tidak masalah seberapa banyak yang mati selama salah satu dari mereka bisa selamat untuk menyampaikan pesan mereka ke markas.

“Baiklah! Pergi! Jangan lupa, misi kalian sangatlah penting!”

Yozu memberikan perintah lain saat dia melihat mereka pergi.

Tidak usah dikatakan. Itu adalah perintah untuk langsung mundur dan menemui Pimpinan klan-klan.

27 comments:

Ciggy Shiggy said...

Chapter berikutnya yaitu chapter 4 dan seterusnya akan ditunda hingga 1 sampai 2 minggu ke depan karena kesibukan di RL. Terima kasih.

Awaludin Kurniawan Wijaya said...

Overlord cd drama sub indo https://m.youtube.com/watch?
v=JebKYgq5ASw&itct

dandha cas said...

Waduh di pending yoshh gapapa emang mimin dah sangat berjasa sankyu min

Subeqi Furqon said...

OK min Siap menanti

sugeng riyadi said...

Ok dach, di tunggu lanjutannya walaupun di tunda sementara. Semoga urusannya cepat selesai dan bisa update lagi. Makasih sebelumnya...

rudy killua said...

sabar menunggu min...dan terima kasih atas kerja kerasnya

Sidik Permana said...

Hmm

Anonymous said...

min request novel
NGNL http://mir.cr/1NH8NWAS ini link nya
atau
re Monster http://mir.cr/1ZIOAUQA linknya

amsier said...

Ajib...

robin rob said...

Admin. Request novel kono subarashi sekai ni shukufuku wo!

lintuk apache said...

mantap

sugeng riyadi said...

Udah seminggu belum ya? Masih nunggu nich update selanjutnya. Semoga cepet selesai

Anonymous said...

Proyek englishnya kayaknya udah diberhentikan...

Anonymous said...

Tenang. Admin bisa bhs jepang :p

Anonymous said...

disini bro ada konosuba https://nekotrans.wordpress.com/

makhin mygeisha said...

Nnti mlm update gk min?

Ikbal Phoenix said...

makasih banget nih min ama agan" yang susah payah buat translate, moga cepet updatenya

daenk slengean said...

Setia menunggu admin...

Anggi Abdurahman said...

Makasih min....!!!! dan dtunggu updateannya.....

Xpire said...

Makasih min atas kerja kerasnya

Anonymous said...

admin suka bnget gunain kata muncrat ... eta terangkanlah

Ardhi Yahya said...

Hohho makasih min kerja keras ngetranslate nya

Api 08 said...

Thanks min

Anonymous said...

MONSTER BERARMOR HITAM ITU DARK KNIGHT ?

Hestu Hidayatullah said...

Makhluk Hitam Besar dan panjang...

Didi Guritno said...

☺☺☺πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯

Unknown said...

Mantap min lanjut terus