Cybersh Note

Fans Translasi Novel-Novel Asia

01 August, 2016

Overlord - Vol 10 - Chapter 1 Part 1

Chapter 1 : The Sorcerous Kingdom of Ainz Ooal Gown

Part 1


Overlord Light Novel Bahasa Indonesia
Sorcerer King. Penguasa absolut dari Great Underground Tomb of Nazarick dan Sorerous Kingdom Ainz Ooal Gown. Seseorang yang memimpin 41 Supreme Being, dan yang terakhir dari mereka yang tetap tinggal di dalam Nazarick. Saat ini, makhluk itu yang seharusnya menikmati perhatian dari para bawahannya sedang melingkar di atas tempat tidurnya yang lembut, sedang membaca sebuah buku.

Tempat tidur yang disebutkan itu dipindakan dari Great Underground Tomb of Nazarick ke tempat ini – ke kamar pribadi dari mantan penguasa E-Rantel, Walikota Panasolei, yang sebagian sudah ditata ulang dan dirubah menjadi kamar Ainz sendiri. Sejak dipindah kemari, dia tidak lagi bisa mencium adanya aroma yang dulunya selalu terpancarkan ketika tempat tidur itu masih ada di Nazarick.

Mungkin karena tempat tidur yang ada disini tidak disemprot oleh parfum, pikir Ainz saat dia menyandarkan berat badannya kepada tempat tidur yang menjadi pertanyaan.

Tentu saja, tidur benar-benar tidak diperlukan bagi seorang makhluk undead seperti Ainz.

Memang benar, hanya ada sisa-sisa dari sisi manusianya yang mengatakan kepada otaknya bahwa dia seharusnya lelah. Itulah kenapa Ainz seing melakukan hal ini, merebahkan diri di atas tempat tidur untuk menenangkan kepala dan jantungnya yang sudah kelewat panas. Namun, itu hanyalah solusi sementara. Oleh karena itu, merebahkan diri seperti ini dalam waktu yang lama, seperti seorang manusia sebenarnya sangat sia-sia.


Sebagai contoh – ya. Sementara dia sedang membaca sebagai contohnya. Khususnya, ketika dia sedang memikirkan cara orang lain melihat ke arah dirinya.

Seharusnya waktu segera pagi..oh!

Sebuah sinar lemah dari sinar matahari tersaring melewati celah-celah dari kelambu, membuat Ainz secara kasar bisa menebak waktunya. Dengan begitu, dia lalu meletakkan buku yang baru saja dia baca sampai sekarang di bawah bantalnya.

Lalu, dia mencondongkan tengkoraknya ke arah sudut ruangna.

Dia melihat seorang pelayan disana.

Dia adalah salah satu pelayan reguler Nazarick, dan dia sedang menemani AInz hari ini – lebih tepatnya, dia telah menemani Ainz sejak kemarin. Saat ini, dia dengan elegannya duduk di kursi dengan punggung tegak lurus. Namun, postur itu tidak berubah sejak kemarin malam. Dari yang Ainz tahu, tak ada satupun pelayan yang gagal mempertahankan posisi tersebut.

Garis pandangannya terus terpaku pada Ainz, membuat beberapa gangguan sesaat.

Itu benar-benar adalah beban yang sulit dijelaskan.

Tentu saja, dia pastinya tidak bermaksud untuk mengeluarkan tekanan ini. Itu hanya karena memperhatikan Ainz dengan seksama akan membuat dia bisa langsung merespon terhadap situasi apapun yang mungkin akan muncul. Namun, itu membuat orang biasa seperti Satoru Suzuki ingin menangis dan memelas “Tolong biarkan aku.”

Tak ada yang akan merasa nyaman jika mereka terus-terusan ditatap seperti itu, terutama oleh anggota lawan jenis yang melakukannya. Meskipun tak ada apapun yang terjadi, itu membuat Ainz merasa seperti dia telah membiarkan ada sesuatu yang tidak beres.

Hal yang paling penting adalah cara dia yang dengan tanpa bicara merespon Ainz terhadap segala gerakan apapun.

Secara singkat – itu adalah pengalaman yang menyedihkan

Tentu saja, Ainz adalah seorang penguasa absolut, jika dia melarang pelayan itu melakukannya, dia akan berhenti. Namun, ketika Ainz memikirkan wajah dari para pelayan jika dia mengatakan itu, dia tidak tega mengeluarkan kalimat yang sedang menunggu di mulutnya itu.

Setelah datang ke dunia ini. Ainz cepat-cepat bertindak menyamar sebagai Momon. Itu adalah pertama kalinya para pelayan yang mengelilinginya seperti ini. Bahkan sekarang, mereka terus melakukan pelayanan mereka kepadanya dengan loyalitas yang sangat menakjubkan. Itu adalah karena dia tahu hal ini sehingga Ainz merasa tidak tega memaksa mereka mematuhinya.

Sudah sebulan sejak dia memikirkan hal itu.

Bayangan keadaan seperti ini mungkin akan terus berlanjut selamanya memenuhi Ainz dengan beberapa derajat rasa tidak enak. Karena para pelayang mengambil waktu 41 hari untuk bisa menyelesaikan satu rotasi jam tugas, dia memutuskan untuk membiarkan masalah itu di masa depan, tapi pemikiran itu hanya seperti menendang kaleng di jalanan hingga sekarang.

Apakah ini yang mereka sebut sebagai beban kepemimpinan.... mengatur Nazarick, merencanakan masa depan kelompok, merespon permintaan bawahanku... orang-orang yang berdiri di atas benar-benar hebat. Tidak heran mereka memiliki gaji yang sangat tinggi....

Orang-orang di atas melakukan sedikit hal namun mereka mendapatkan begitu banyak bayaran. Sekarang dia mengerti apa yang mereka telah lalui, Ainz tertawa dengan dirinya yang bodoh di masa lalu. Lalu, perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya.

Saat ini, pelayan tersebut tanpa suara bangkit dari tempat duduknya pula. Itu membuat Ainz merasa seakan ada sebuah benang yang menyambungkan mereka.

Bagaimana bisa gerakannya masih begitu anggun meskipun sudah terjaga semalaman?

“-Aku bangun.”

“Baik. Kalau begitu, pelayan anda akan pergi. Setelah ini, pelayan untuk hari ini akan datang untuk menggantikan saya.”

Ainz tidak berkata apapun seperti ucapan “Aku akan serahkan kepadamu”, tapi hanya bergumam “umu” dan melambaikan tangannya untuk menandakan bahwa dia boleh meneruskan apa yang ingin dilakukan.

Mungkin aku sudah menjadi terlalu arogan, pikir Ainz.

Tetap saja, mungkin memang lebih baik seperti ini.

Dia telah mengirimkan Hamsuke untuk bertanya ke sekeliling, dan respon pertama dari para pelayan kelihatannya adalah, “Rasanya seperti dia telah mendominasi kita, Ainz-sama adalah yang terbaik” atau semacam itu. Kelihatannya merka semua adalah masochist, dan sementara hal itu membuat masalah bagi Ainz ketika pertama kali dia mendengarnya, setelah dengan tenang mempertimbangkan masalah tersebut, dia menyadari bahwa seorang penguasa harus bersikap dan berpakaian yang sesuai. Itu adalah apa yang diharapkan oleh para bawahannya.

Menggunakan sebuah perusahaan sebagai contoh, seorang bos harus terlihat dan bersikap seperti seorang bos.

Ketika dia berpikir seperti itu, AInz merasa apa yang telah dia lakukan adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh Sorcerer King. Kenyataannya adalah, ketika dia pertama kalinya memata-matai penguasa Empire, Jircniv Rune Farlord el Nix, di waktu senggangnya, dia menyadari bahwa pria itu telah melakukan sikap yang sebagian besar sama.

Tetap saja, Suzuki Satoru dulunya hanya seorang pekerja, dan dia merasa sedikit tidak enak dengan tidak berkata sesuatu seperti, “Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“...Kalau begitu, kamu harus pergi dan beristirahatlah.”

“Ah! – Tolong biarkan pelayan anda ini memberikan rasa terima kasih yang paling dalam atas kebaikan anda, Ainz-sama!”

Pelayan tersebut membungkuk dalam-dalam saat dia mengutarakan rasa terima kasihnya.

“Namun, ini semua berkat item ini yang telah anda pinjamkan kepada saya sehingga pelayan anda bisa tetap berada di samping anda untuk bisa menemani anda tanpa harus beristirahat, Ainz-sama.”

Tidak, bukan itu maksudku, gumam Ainz dalam hati.

Memang benar jika seseorang memakai ring of sustenance, dia bisa terus bekerja siang dan malam tanpa butuh tidur. Tetap saja, duduk di atas kursi dan menatap Ainz semalaman seharusnya tidak lain adalah sebuah neraka. Meskipun dia sangat senang dengan dedikasinya, tidak perlu mereka bersikap sejauh itu.

Setidaknya mereka harusnya membatalkan jam giliran waktu malam... bagian dimana mereka menatapku ketika tidur, ya kan?

Sebagai seorang pelayan, memang wajar bagi mereka untuk dengan sepenuh hati melayani tuan mereka dengan jiwa dan raga.

Ainz tidak tahu siapa sebenarnya pelayan yang telah mengatakannya, tapi dia ingat mendengarnya dari salah satu pelayan-pelayan itu.

Dengan sepenuh hati melayani tuan mereka, huh. Apa yang akan kamu katakan jika aku ingin hidup setara denganmu?

Tidak seperti bagaimana dia merasa ketika pertama kalinya datang ke dunia ini, Ainz sekarang percaya diri bahwa seluruh bawahannya benar-benar setia kepadanya. Selama Ainz memperhatikan tindakannya dan tidak melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa, tidak ada kesempatan mereka berkhianat – kecuali pengaruh dari luar. Kalau begitu, mungkin dia harusnya merubah hubungan diantara mereka, dan meletakkan diri setara dengan para NPC. Itu mungkin akan menjadi pilihan yang bagus, pada titik-titik tertentu.

Jika itu terjadi, Ainz akan terbebas dari kehidupan ini sebagai seorang penguasa, karena harus memeras otaknya seharian. Ditambah lagi-

-itu akan menjadi seperti sebelumnya, malahan, ketika hari-harinya saat di guild. Aku penasaran apakah aku bisa kembali ke dalam kehidupan seperti itu lagi.

Ketika di berbicara kepada para NPC, dia terus membayangkan mantan teman-temannya membayangi mereka. Karena itu, Ainz berharap dia tidak harus berhubungan dengan mereka dalam kapasitas sebagai seorang tuan dan pelayan, tapi lebih kepada, cara seperti yang mereka jalankan di masa lalu –

-Tidak, pikir Ainz saat membayangkan dia menggelengkan kepalanya.

Sementara dia tidak tahu benih kekecewaan macam apa yang mungkin akan tertanam di dalam diri para bawahannya, perubahan sedramatis itu tidak mungkin adalah pilihan yang bijak. Ditambah lagi, karena dia tahu bahwa mereka menginginkan hubungan sebagai seorang tuan dan pelayan dengannya, adalah tanggung jawabnya sebagai tuan mereka untuk terus bersikap dalam kapasitas seperti itu. Di waktu yang sama, sebagai orang terakhir yang tetap tinggal disini, dia harus melakukan apapun yang dia bisa bagi para NPC (anak-anaknya).

Pelayan tersebut meminta izin kepada Ainz lalu meninggalkan ruangan.

Saat itu, Ainz langsung bertindak. Pertama, dia menukar buku di bawah bantal dengan buku lain. Buku yang dia gantikan memiliki judul yang rumit – hanya dengan melihatnya saja akan membuat siapapun kehilangan semangat untuk membaca. Lalu, buku yang dia baca tadi malam pergi ke dalam dimensi kantung pribadinya – inventory miliknya.

Setelah meletakkan buku itu di tempat yang tidak mudah dicuri, Ainz menghela nafas lega.

Itu juga, adalah bagian dari tanggung jawbnya sebagai tuan mereka.

Dia tentunya tidak ingin membaca buku-buku serumit itu yang membuat kepalanya sakit semalaman. Jika mungkin, dia ingin membaca beberapa buku yang terkenal sebagai gantinya. Namun, terlihat membaca buku seperti itu akan menghancurkan kewibawaaan Ainz sebagai penguasa. Oleh karena itu, Ainz terpaksa mengambil tindakan pencegahan yang menyusahkan seperti itu.

Sekali-sekali, dia sudah mempertimbangkan kenyataan bahwa para pelayan akan memindahkan buku di bawah bantal ke tempat lain.

Sekarang setelah dia menyelesaikan apapun yang bisa dia lakukan di tempat tidur, Ainz menyingkirkan kanopi kain kassa yang menyelimuti tempat tidur dan bangkit berdiri.

Ketika itu, beberapa ketukan datang dari arah pintu. Segera setelah itu, pelayan yang bertugas untuk mengambil alih jam kerja selanjutnya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.

Saat dia melihat Ainz yang bangun dari tempat tidur, dia tersenyum dan mendekatinya. Kelihatannya dia adalah pelayan yang ditugaskan untuk menemani Ainz hari ini.

“Selamat pagi, Fifth.”

Senyum yang cerahnya membutakan muncul di wajah pelayan tersebut.

Jika Fifth memiliki ekor, dia mungkin sudah mengibas-ngibaskannya dengan seluruh tenaga. Tiba-tiba saja, Ainz terpikirkan Pestonya yang sedang mengibaskan ekornya di masa lalu.

Seragam pelayannya sama dengan yang dipakai oleh pelayan sebelumnya, Fourth. Tidak seperti battle maids, regular maid (pelayan biasa) semuanya memakai seragam yang sama. Namun, penampilan mereka yang sebenarnya bervariasi antara tiap-tiap pelayan – mungkin karena masing-masing pelayan yang memakai seragam itu berbeda.

Ainz teringat sesuatu yang sering dikatakan oleh salah satu temannya sehingga kelihatannya seperti sudah membuat rumah di telinganya: “Seragam pelayan yang biasa memang bagus, tapi seragam pelayan yang ditambahi hiasan adalah yang terbaik”. Ada juga lanjutan dari itu: “Dengan kata lain, seragam pelaya adalah yang terbaik, tak perduli bagaimana caranya dilihat. Seragam pelayan adalah penemuan terbaik dari sejarah manusia. Viva seragam pelayan~”

Meskipun Ainz tidak tahu apa yang dia maksud dengan “viva”. Mungkin itu semacam seruan. Mungkin juga semacam istilah yang diciptakan sendiri olehnya. Dengan begini, Ainz teringat kenangan dari rekan-rekan lamanya, sedikit demi sedikit.

Ainz tersenyum pahit – meskipun ekspresi wajahnya tidak berubah, tentu saja – dan diam-diam melihat ke arah pelayan tersebut.

“Ai-Ainz-sama, apakah, apakah ada yang perlu saya layani?”

Fifth tersipu malu saat tangannya menggenggam erat celemek di seragamnya. Saat itulah Ainz menyadari kecerobohannya.

“Maafkan aku. Kelihatannya aku.. ya, kelihatannya entah bagaimana aku terpana olehmu.”

“-!”

“Kalau begitu, ayo pergi.”

“-Hieh? Ah, ya. Saya mengerti!”

Pelayan itu terdiam sesaat, tapi tetap bisa membalas dengan enerjik saat dia mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.

Ainz melewati beberapa ruangan lain. Apa yang dia lihat disana tidak bisa dibandingkan dengan pemandangan di dalam lantai 9 dari Nazarick. Oleh karena itu, Ainz memutuskan untuk tinggal disini, para guardian menyuarakan penolakannya satu persatu.

Titik. Tempat ini memang kurang dalam hal kelayakan kediaman bagi seorang Supreme Being.

Titik. Kemampuan pertahanan dari tempat ini sangat kurang dan perlindungan terhadap mata-mata sangat kurang.

Titik. Titik. Titik –

Namun, Ainz hanya mengangkat bahu terhadap semua penolakan ini dan memilih tempat ini sebagai rumahnya.

Ini adalah kewajibannya sebagai seorang raja – lagipula, Jircniv juga hidup di dalam Imperial Palace (Istana kekaisaran) di Imperial Capital (ibukota kekaisaran). Atau setidaknya, itulah yang ingin dipikirkan oleh orang-orang. Kenyataannya adalah, tempat ini cukup mewah bagi Ainz, tidak, bagi Suzuki Satoru. Rumahnya yang dulu sangat tidak layak jika dibandingkan. Ditambah lagi, kamarnya di lantai 9 selalu terlihat terlalu mewah dan mencolok dan terlalu besar.

Dia tidak keberatan ketika masih sebuah game. Namun, sekarang setelah dia benar-benar tinggal di sana, dia memang sangat yakin bahwa tidak ada tempat baginya di dalam dinding itu. Yang Ainz inginkan adalah bersembunyi ke dalam sudut ruangan.

Ainz memimpi Fifth dan Eight Edge Assassin yang turun dari atap ke ruangan ganti.

Beberapa pelayan biasa sudah berada di sana menunggu Ainz. Mereka membungkuk dengan hormat kepadanya berbarengan. Fifth dengan lincahnya bergabung ke dalam barisan mereka pula.

“Ainz-sama, apa yang ingin anda pakai hari ini?” tanya Fifth dalam suara yang dipenuhi dengan tenaga.

....Oh, ada sebuah di mata Fifth. Setelah dipikir-pikir, apakah setiap orang yang memiliki pekerjaan ini memiliki kilauan mata yang sama juga? Mereka memang bilang bahwa para gadis menyukai pakaian... apakah itu bagaimana mereka mengekspresikannya? Atau apakah mereka hanya menyukai mengatur pakaian-pakaian dan aksesorisnya?

Sebuah sensasi lelah yang terus meningkat merambatinya, tapi Ainz tidak bisa menunjukkannya. Malahan, dia berujar “Umu” dengan cara yang sombong – atau setidaknya, begitulah bagaimana rasanya ketika dia mempraktekkan ini sebelumnya.

Sejujurnya, Ainz tidak perlu berganti pakaian.

Jubah magicnya tidak akan lusuh meskipun dia menghabiskan semalaman bergulung-gulung di atas tempat tidur. Tubuhnya tidak mengeluarkan kotoran apapun. Debu-debu yang beterbangan di udara memang bisa menempel padanya, tapi yang perlu dia lakukan hanyalah mengosoknya agar terlepas. Ditambah lagi, tempat manapun yang menjadi tujuan Ainz pasti sudah dibersihkan dengan cermat oleh para pelayan. Terlebih lagi, dia tidak perlu makan atau minum, dan oleh karena itu dia tidak akan kotor karena aktifitas itu.

Memakai satu pasang pakaian yang sama tidak akan ada masalah baginya.

Namun, tak ada satupun dari bawahannya yang memperbolehkan hal itu. Namun, itu memang bisa diduga, ketika penguasa absolut mereka mengenakan hal yang sama setiap hari akan merusak imej dirinya.

Oleh karena itu, Ainz tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam mengatur pakaiannya sendiri.

Sekarang, jika dia sedang mempersiapkan perlengkapan untuk bertempur, setelah mempertimbangkan kemampuan dan skill lawan dan merencanakan taktik miliknya, dia akan sangat percaya diri dalam kemampuannya untuk memilih perlengkapan yang tepat untuk bisa mengalahkan lawan yang akan dia hadapi. Namun –

Yah, sampai titik tertentu, pengalaman yang didapatkan oleh Satoru Suzuki membuatnya bisa mengomentari apakah dasi ini akan serasi dengan pakaian itu. Pengalaman itu tidak membuatnya bisa mengatakan apapun tentang apakah jubah ungu dengan ornamen perak cocok dengan kalung perak yang memiliki empat berlian dan seterusnya. Ditambah lagi, dia harus memilih pakaian yang cocok dengan tubuh kerangkanya.

Namun, jika dia memakai pakaian yang tidak cocok, orang-orang mungkin akan meragukan selera berpakaiannya sebagai seorang pemimpin. Itu akan seperti mengkhianati bawahannya yang setia. Oleh karena itu, Ainz harus memberikan yang terbaik meskipun dalam masalah berpakaian.

Tetapi muncul masalah fatal yang lain.

Apakah bawahannya akan ada yang berkomentar meskipun Ainz memakai sesuatu yang tidak cocok? Itu mirip dengan situasi dimana sebuah rambut palsu merosok dari kepala sang CEO perusahaan besar, tak ada yang akan berani berkata apapun.

Oleh karena itu, hanya ada satu alternatif yang tersisa baginya.

“-Fifth, aku akan serahkan kepadamu. Persiapkan satu buah setelan pakaian yang paling cocok denganku.”

“Saya mengerti! Serahkan pada saya, Ainz-sama! Pelayan anda akan memilih dengan sangat hati-hati!”

Kamu tak perlu terlalu bersemangat seperti itu tentang hal ini – yah, Ainz berpikir demikian, tapi dia tak pernah mengatakannya secara terang-terangan kepada pelayan yang ada di depannya.

“Saya – Saya pikir merah sangat cocok dengan anda, Ainz-sama! Oleh karena itu, Saya berpikir menggunakan merah sebagai warna dasar untuk mengatur pakaian anda. Bagaimana menurut anda?”

“...Aku sudah bilang aku akan serahkan masalah itu padamu. Meskipun begitu, tidak perlu memastikan pilihanmu kepadaku.”

“Ya! Saya mengerti!”

Jika Ainz tidak percaya diri, maka yang perlu dia lakukan adalah menyerahkan tugas itu kepada orang lain – seperti bagaimana dia membiarkan pelayan tersebut memilihkan untuknya.

AInz sangat tidak enak dengan jubah merah tua yang dia pilih, namun. Warna merah itu sangat cerah sehingga hampir membutakan matanya, dan terlebih lagi telah ditambahkan dengan banyak sekali permata-permata yang seperti kancing besar. Mungkin bisa diterima jika permata-permata itu memiliki warna yang sama, tapi banyak permata-permata yang memantulkan separuh dari lusinan warna cahaya. Ditambah lagi, kainnya memiliki pinggiran karakter ane yang disulan dengan benang emas.

- Apakah ini adalah pakaian biasa? Bisakah ini dianggap pakaian dalam arti normal?

Ainz merasa seperti manusia papan sandwich yang disinari oleh cahaya neon. Dia takkan pernah memilih pakain ini sendiri. Atau lebih tepatnya, Ainz mulai penasaran mengapa dia dulu membeli pakaian ini sejak awal. Karena dia tidak ingat jika anggota guildnya memaksa hal itu, dari proses eliminasi, dia sendiri pasti mendapatkannya entah darimana.

Apakah ini adalah hadiah? Apakah aku memenangkannya dari sebuah lotre atau semacam event tertentu? ... Tetap saja, yah, mau bagaimana lagi, huh.

Bahkan setelah mengingat bagaimana dia mendapatkan pakaian itu masih tidak membuat jubah merah di depannya itu hilang.

Memang mudah hanya dengan menolaknya, itu akan merubah “Aku akan serahkan padamu” yang dia katakan kepada Fifth menjadi sebuah kebohongan. Terlebih lagi, Ainz mungkin adalah satu-satunya yang merasa malu sementara orang lain menyukainya. Atau lebih tepatnya, mungkin memang begitu.

Dan lebih jelasnya, karena Fifth yang memilih jubah ini, dia bisa menyalahkan dia jika ada satu orangpun yang berkomentar terhadap pakaian itu.

Aku benar-benar seorang bos yang kejam.

Ainz tahu ini bukanlah sesuatu yang dia banggakan, dan dia merasa bersalah dengan hal itu.

Mendorong kesalahan tersebut kepada orang lain bukanlah sikap yang lucu bagi seorang bos – bagi seorang atasan. Ainz tahu hal ini, tapi meskipun begitu, dia perlu sesuatu yang mempertahankan kewibawaannya.

Dia harus melindungi diri dengan mengorbankan bawahannya. Mau bagaimana lagi.

“-Maaf tentang hal itu.”

“Ah, maafkan saya!”

“Tidak apa... Aku hanya sedang bicara dengan diriku sendiri. Tidak usah dihiraukan. Setelah dipikir-pikir...”

Ainz memutuskan untuk memilih ucapannya dengan hati-hati saat dia menanyakan pertanyaan ini.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Apakah kamu tidak berpikir jubah ini sedikit terlalu mencolok bagiku?”

“Tentu saja tidak! Lagipula, apapun akan terlihat bagus dipakai oleh anda, Ainz-sama! Meskipun saya merasa hitam sebagai dasar dengan coklat gelap sebagai warna kedua juga terlihat bagus, mengenakan warna seperti itu setiap waktu tidak akan menunjukkan sisi baik anda yang lainnya, Ainz-sama! Semua ini agar bisa memberikan kesan gambaran diri anda yang kuat kepada semua orang yang –“

Ainz menyela aliran kata-katanya.

“-Tidak apa. Selama cocok, tidak apa. Kalau begitu, bisakah kamu memakaikannya kepadaku?”

“Saya mengerti!”

Fifth dan pelayan-pelayan lain segera bekerja.

Saat Ainz tetap berdiri, para pelayan melepaskan pakaian Ainz tanpa suara. Situasi dimana pakaiannya dilepaskan oleh wanita, meskipun tubuhnya hanya ada kerangka, membuatnya penuh dengan rasa malu yang terbakar.

Tapi tentu saja, sikap seperti itu adalah hal yang wajar bagi seorang penguasa absolut.

Setidaknya, begitulah untuk Jircniv. Ainz juga pernah membaca hal yang sama di salah satu bukunya.

Ainz tetap terdiam dan membiarkan para pelayan bekerja, sambil melihat-lihat tubunya di cermin ganti tanpa suara.

Segera setelah itu, Ainz berjubah merah muncul di cermin. Seperti yang diduga, terlalu mencolok. Tidak ada hal lain selain mencolok.

...Tidak. Dunia ini memiliki selera yang sangat berbeda dalam hal estetika. Yang kutahu.. pakaian ini mungkin sangat cocok bagi seorang penguasa.

Dia teringat Hamsuke sebagai perumpamaan, dan menyingkirkan rasa tidak enaknya.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Pemikiran itu berkelebat di kepalanya saat dia bergerak maju, dengan ditemani oleh Fifth. Betapa dia sangat berharap dia memiliki waktu untuk menghela nafas.

-----

Jubah merah mencolok yang bergoyang, maju ke arah kantornya. Saat Ainz mendekati pintu tersebut, Fifth dengan cekatan maju mendahului dan dengan penuh hormat membukakan pintu itu untuk Ainz.

Suatu ketika, dia berpikir untuk berkata, Itu hanyalah sebuah pintu, biarkan aku membukanya. Namun, saat dia melihat tampang di wajah para pelayan yang berkata, “Whoa, lihatlah aku, aku sedang bekerja!”, Ainz tidak tega selain menerima ini sebagai sebuah bentuk pintu yang terbuka secara otomatis.

Ainz memimpin Fifth dan Eigt Edge Assassins ke dalam kantor.

Pintu di tengah ruangan tersebut mirip dengan yang dimiliki Ainz di ruangannya sendiri, dan meja itu memancarkan udara bermartabat.

Meja itu dibawa kemari dari Nazarick, beserta tempat tidurnya. Sebuah bendera menggantung di kedalaman ruangan – bendera Ainz Ooal Gown – bendera Sorcerous Kingdom.

Ainz melewati ruangan tersebut, dan tiba di balkoni.

Ada sebuah kotak kaca di balkoni. Tidak seberapa besar dan mengandung suasana hutan. Ainz memasukkan jari-jari tulangnya ke dalam kotak tersebut, yang kelihatannya seperti tidak memiliki kehidupan, dan mengangkat sebuah daun. Tersembunyi di dalamnya adalah sebuah makhluk yang bersembunyi di dalam kegelapan untuk menghindari cahaya matahari.

Tubuhnya yang berwarna cerah terbungkus oleh cairan lengket namun licin yang keluar dari tubuhnya, dan bagian depan tubuhnya mirip dengan sepasang bibir manusia.

Ainz dengan hati-hati mempelajari ‘Lip Bug’ di depan matanya.

“-Itu adalah warna yang bagus. Kamu terlihat sangat bersemangat.”

Ainz teringat apa yang pernah dikatakan kepadanya, yang mana adalah warna itu sangat penting. Dia juga teringat memiliki beberapa Lip Bugs yang diletakkan di depannya, dan diajari untuk bisa membedakan mereka adalah yang paling bersemangat dari warnanya. Dan memang benar; Lip Bug di depannya terlihat sangat bersemangat dari yang lainnya waktu itu.

Ainz mengeluarkan sebuah daun kubis segar dari piring yang ada di dekatnya.

“Kemarilah, Nurunuru-kun. Sudah waktunya makan~”

Dia mendekatkan daun tersebut ke Lip Bug itu, yang lalu melahapnya dengan sebuah suara seperti nom. Setelah Ainz melepaskan daun tersebut, Lip Bug itu cepat-cepat melahap hingga mulutnya penuh daun tersebut.

Ainz membawa dua daun lagi, yang mana langsung dilahap juga oleh Lip Bug tersebut.

Dia memutuskan untuk berhenti sampai disana, karena Entoma pernah berkata kepadanya bahwa terlalu banyak memberinya makan itu tidak baik.

Ainz dengan lembut mengembalikan Lip Bug yang telah diberi makan dan gembira itu ke rumahnya yang tertutup di kota kaca – ke tempat yang paling disenanginya.

“Kelihatannya agak sedikit jijik pada awalnya, tapi setelah merawatnya beberapa saat, ternyata semakin terlihat menggemaskan.”

Dia sedang tidak berbicara dengan siapapun secara khusus, hanya berbicara sendiri. Ainz mengeluarkan senyum gembira di wajahnya saat dia menutup penutup kota yang tipis itu. Kota itu tidak seberapa kuat, dan Lip Bug tersebut bisa keluar jika dia menginginkannya. Alasan Ainz menggunakannya adalah untuk membuktikan bahwa dia percaya diri bisa merawat penghuninya. Meskipun begitu, penghuni tersebut tidak lain hanyalah monster yang dipanggil dengan emas, jadi pertanyaannya adalah apakah dia akan kabur atau tidak masih tidak ada jawabannya.

Ainz pelan-pelan membersihkan tangannya dengan kain yang ada di dekat, dan setelah menyelesaikan tugasnya pagi ini, dia duduk di kursi, menyandarkan beban tubuhnya ke belakang dan membiarkan tubuhnya tenggelam.

...Ah, pekerjaan. Tidak ada jam kerja yang resmi, tapi jantungku masih tetap tenggelam di jam-jam seperti ini. Kurasa kebiasaan lama akan sulit hilangnya.

Meja tersebut tidak sedikitpun ada debunya, ataupun dokumen-dokumen.

Benar-benar berbeda dengan meja dari Suzuki Satoru.

Semua ini karena dia tidak perlu bekerja sepanjang malam. Pekerjaan Ainz adalah untuk membuat keputusan besar, tidak mengkhawatirkan tentang detil-detil kecil. Setelah dia memutuskan arah secara keseluruhan, bawahannya akan bergerak.

...Tetap saja, mengapa ini sangat sulit sekali. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kesulitan dari sebuah pekerjaan ditentukan oleh seberapa besar tanggung jawab yang dibebankan kepada dirinya. Lebih melelahkan secara mental daripada secara fisik... dan tentu saja lebih cenderung membuat stres. Ah, apakah sudah waktunya mulai bekerja?

Tidak perlu melihat jam.

Saat itu, sebuah ketukan datang dari pintu. Fifth – yang berdiri menunggu pintu – memastikan identitas dari yang datang.

“Ainz-sama, Itu adalah Albedo-sama dan para Elder Lich.”

Ada sebuah sikap hormat di dalam suara Fifth, karena para Elder Lich ini adalah ciptaan Ainz secara pribadi.

“Ternyata begitu. Persilahkan mereka masuk.”

Fifth minggir dari pintu tersebut untuk membuat jalan bagi para pengunjung. Albedo masuk ke dalam ruangan di depan enam Elder Lich.

“Selamat pagi, Ainz-sama.”

Setelah sambutan dari Albedo, para Elder Lich membungkukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Umu, selamat pagi, Albedo. Kelihatannya cuaca hari ini sangat baik.”

“Memang benar. Saya memiliki laporan bahwa akan cerah sepanjang hari – tentu saja, jika anda menginginkan sebagai penguasa tertinggi dari dunia ini, kami bisa menghasilkan berbagai macam cuaca yang anda inginkan. Apakah mau saya teruskan, Ainz-sama?

Ini hanyalah menggunakan topik yang tidak relevan untuk memulai sebuah percakapan, tapi dia tidak menduga Albedo mulai dengan memberikan saran seperti itu.

“Itu tidak perlu. Aku senang dengan cuaca. Hari yang cerah itu baik, gemuruh petir di hari hujan adalah untuk dinikmati, dan salju yang turun dengna lembut adalah sangat menarik. Bisa dikatakan hanya dengan mengamati perubahan cuaca secara alami dalam satu hari dia bisa mendapatkan hiburan.”

Ainz bukan tidak senang dengan perubahan iklim di dunia ini. Di dunia yang belum ternoda ini, dia menemukan bahwa dia memahami ucapan dari mantan rekannya Blue Planet. “Hujan pada dasarnya adalah berkah dari alam.”

Memang yang paling baik adalah biarkan alam tetap alami.

“Ya, saya mengerti... Tentu saja, saya merasakan anda tidak ingin mengubah cuaca, tapi saya harus bertanya untuk memastikannya, Ainz-sama. Lagipula, anda bukanlah semacam pemimpin yang akan memerintahkan kepada kami secara langsung untuk memenuhi keinginan sendiri.”

“...Begitukah? Bagiku rasanya tidak seperti itu...”

Ainz berpikir tentang hal itu, tapi dia tidak bisa mendapatkan ide apapun yang diinginkan. Ketika dia masih Suzuki Satoru, pikirannya dipenuhi dengan pemikiran Yggdrasil. Setelah tubuhnya menjadi seperti ini, itu semakin parah. Meskipun dia tidak yakin jika itu adalah efek sampingan karena menjadi makhluk undead, peluang akan terus menjadi seperti ini sangatlah tinggi. Jika dia harus membicarakan keinginan akan sesuatu, itu adalah keinginan untuk mengkoleksi item-item langka. Dan juga-

Ainz tersenyum dalam kesepian, dan dengan lembut menggelengkan kepalanya.

“Tidak, mungkin memang seperti yang kamu katakan. Bagaimanapun, itu hanya karena tidak ada apapun yang benar-benar kuinginkan. Jika aku nantinya menemukan sesuatu yang diinginkan, aku akan langsung memberikan perintah yang tepat waktu itu.”

“Ketika saatnya tiba, saya harap anda akan memperbolehkan saya, sebagai Pengawas Guardian, untuk memilih orang-orang yang akan langsung merespon keinginan anda,” balas Albedo saat dia menundukkan kepalanya. Ketika kepalanya menengadah kembali, wajahnya terlihat entah bagaimana tersemu merah. “Namun, pakaian anda hari ini sangat spektakuler. Mereka sangat terpancar. Tidak, mereka bersinar sangat cerah karena anda memakainya, Ainz-sama.”

Albedo terus memberikan pujiannya kepada Ainz.

Pancaran yang dia bicarakan adalah mungkin permata-permata yang terlihat sebagai pengganti dari kancing-kancing, karena tengkoraknya tidak memancarkan cahaya. Ainz mengangguk saat dia memikirkan tentang ini.

“Begitukah, kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu untuk itu, Albedo.”

“Anda terlalu baik hati. Saya hanya mengutarakan apa yang terlihat jelas, Ainz-sama, anda benar-benar-“

Ainz mengangkat tangannya untuk menghentikan Albedo saat dia dengan gembira bersiap melanjutkan. Ainz mempunyai perasaan bahwa membiarkan Albedo terus-terusan begitu akan menyeret percakapan itu menjadi lama.

“Mari kita kesampingkan masalah itu sekarang. Kalau begitu, dokumen-dokumen apa yang akan kamu serahkan dengan yang lainnya kemarin, Albedo?”

“Ya.”

Albedo menggembungkan pipinya dengan sikap yang menggemaskan, lalu para Elder Lich mengikuti arahannya dan menempatkan dokumen-dokumen mereka di meja.

Tumpukan dokumen-dokumen itu satu di atas yang lainnya semakin menjadi tebal. Berkas-berkas itu sendiri tidak banyak mengandung apapun selain hanya proposal, tapi dokumen-dokumen itu memiliki dokumen-dokumen pendukung yang menempel. Mirip dengan bagaimana dia memerlukan data dari banyak bidang di pekerjaannya yang lama, kelihatannya ini semua dipersiapkan untuk menghadapi masalah yang rumit.

Ainz sudah mempersiapkan dalam hati untuk ini, Ainz telah menghabiskan seluruh paginya memperkuat diri dan mengokohkan tekadnya untuk saat ini.

Suzuki Satoru hanyalah seorang pegawai biasa, dan dia bukanlah semacam orang yang berinteraksi dengan operasional perusahaan. Jika ditanya apakah seseorang seperti itu bisa mengatur seluruh negeri, Ainz akan dengan percaya diri menjawab “tidak”. Atau lebih tepatnya, bahken sebuah manajer operasional akan sulit dalam menjalankan sebuah negeri.

Yang membuatnya lebih parah adalah bahwa Ainz adalah penguasa absolut. Meskipun nantinya ada kesalahan kecil dalam ucapannya, bawahannya akan langsung bersama-sama berusaha mengubahnya menjadi kenyataan.

Apakah ada yang lebih mengerikan dari hal itu? Sebuah ucapan dari Ainz mungkin akan menyebabkan sebuah bunuh diri massal.

Oleh karena itu, apa yang harus dia lakukan?

Jawabannya sangat sederhana. Seperti pakaiannya, dia harus menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang yang mampu.

Ahli dalam mengalokasikan bawahan seseorang menurut kekuatan mereka juga adalah kualitas penting dalam seorang bos.

Dengan begitu, ada juga masalah jika menyerahkan sepenuhnya kepada orang lain. Memang benar, dia bisa tenang jika semuanya diserahkan kepada penanganan Albedo. Namun, dia adalah seorang raja, bukan hanya sebuah pajangan. Sebagai seseorang di dalam posisi yang tinggi, menjadi seorang atasan sama saja dengan harus memikul tanggung jawabnya.

Ada beberapa tugas yang tidak bisa lepas dengan hanya berkata “Aku tidak tahu apapun.”

Oleh karena itu, Ainz mulai membaca tumpukan dokumen-dokumen itu dengan hati-hati dari atas hingga bawah, menempatkan segel kerajaan pada masing-masingnya.

Setelah memberikan stempel dengan irama pada beberapa dokumen, Ainz berhenti sejenak, memilih salah satunya sebagai target harian. Dia membuka dokumen itu untuk membaca isinya dengan hati-hati. Lalu-

...Aku tidak mengerti, lagipula. Apakah ini ada hubungannya dengan sumber-sumber bahan? Apakah ini sangat penting? Apakah para Elder Lich benar-benar mengerti? ... Yah, mereka semua diciptakan olehku... bagaimana mungkin perbedaan kemampuan ini bisa dijelaskan – meskipun, membaca semua ini benar-benar melelahkan, sama seperti membaca dokumen-dokumen resmi...

Karena ada banyak yang berhubungan dengan halaman-halaman lain, ada banyak pengulangan dari beberapa kalimat yang harus dibalik berulang-ulang antara halaman-halaman itu. Titik akhir berdasarkan kepada kesimpulan sebelumnya agar bisa tiba pada sebuah penilaian negatif. Terlebih lagi, karena banyak kalimat-kalimat negatif yang muncul di dalam teks, menjelaskan isinya akan sangat sulit.

“-Albedo.”

“Ya, Ainz-sama! Apakah ada yang menarik perhatianmu?”

“Tidak, tidak ada hubungannya dengan ini, tapi saya terpikirkan sesuatu. Bagaimana dengan hukum-hukum yang harus ditetapkan?”

Negeri ini disebut Sorcerous Kingdom, tapi tidak memiliki legislasi yang unik satupun, malahan hanya melanjutkan penggunaan dari hukum Kingdom yang lama.

“Ya, sekarang masih hanya berupa draft. Jika kita paksakan hukum yang baru dengan terlalu agresif bisa menyebabkan rasa tidak puas yang melebar. Oleh karena itu, kita tidak yakin apakah harus melakukannya atau tidak.”

Kalimat ini terdengar aneh ketika datangnya dari Albedo, yang tidak perduli sama sekali dengan umat manusia. Tetap saja, Ainz mau tidak mau menepuk dadanya karena lega.

“Meskipun saya sudah mendiskusikannya dengan Demiurge sebelumnya... hukum dari Kingdom tidak memberikan kekuatan yang cukup bagi penguasa absolut seperti anda, Ainz-sama. Saat ini kami sedang mempertimbangkan untuk mempertahankan hukum pertama dari Kingdom lalu mendorongnya dengan paksaan.”

“Aku lebih percaya diri dengan area-area lainnya..”

Itu adalah kebohongan yang sangat jelas – Ainz tidak percaya diri dengan apapun.

“Aku menyesal harus berkata bahwa aku tidak seberapa paham dengan hukum. Lakukan saja yang menurutmu cocok. Kamu memiliki kepercayaan penuh dariku.”

“Ya! Saya mengerti.”

Albedo terlihat bahagia di wajahnya. Jika Ainz melihat dengan cermat, dia bisa melihat sayapnya bergetar di belakang. Dia – dan Demiurge, entah karena suatu alasan tertenu – terlihat seperti menganggap Ainz sebagai seorang jenius yang selalu satu langkah di depan mereka.

Oleh karena itu, ketika Ainz berkata tidak tahu atau sesuatu yang mirip dengan hal itu, dia bisa sangat memahami kegembiraan yang mereka – yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan tinggi – rasakan karena mampu mengesahkan keberadaan mereka.

“Tetap saja, tidak perlu berbohong tidak memahami hukum..”

“Tidak, itu memang benar, aku tidak mahir menghadapi masalah hukum.”

“Ternyata begitu... itu pasti bagaimana cara anda melihatnya, dari sudut pandang pemimpin tertinggi yang tak pernah terikat oleh hukum apapun. Saya mengerti artinya.”

Ainz merasa bahwa dia sudah disalah pahami, tapi dia memutuskan untuk mengabaikan masalah tersebut. Lagipula, dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada Albedo. Sebagai gantinya, dia hanya tersenyum. Perasaan ini hanya terasa samar baginya, tapi itu mungkin adalah bagaimana rasanya seorang anak yang dengan bangga menunjukkan bakat mereka kepada orang tuanya.

“Apakah ada yang salah?”

Tampang terkejut Albedo hanya membuat Ainz yang sangat gembira. Tetap saja, sangat tidak sopan jika kegembiraan itu hanya miliknya.

“Maafkan aku, tapi ketika aku melihat seberapa bahagianya dirimu, Aku seperti disambar oleh bagaimana manisnya rupamu.. bagaimana aku harus mengatakan hal ini. Umu. Rasanya sulit dijelaskan.”

Saat dia berkata demikian, ada sebuah ledakan kecil gerakan dari Eight Edge Assassin di atap, tapi mereka lalu terdiam.

“Ah` Malunya.”

Albedo menekankan tangannya ke pipi. Saat Ainz melihat bagaimana dia tersipu malu, dia menyadari betapa tidak nyamannya hal itu bagi Albedo karenanya, dan sedikit batuk, dia memutuskan untuk mempelajari dokumen-dokumen di depannya malahan.

Kelihatannya dari cara dia memperlakukan para NPC sebagai anak dari teman-temannya telah membuatnya mengatakan hal-hal yang membuat mereka malu.

Dia merasa sedikit bersalah dengan sikap tidak sopannya, namun pada akhirnya, dia memberikan stempel kepada dokumen terakhir sebagai gantinya. Dengan begitu, satu tugas telah selesai.

Dia menyerahkan berkas-berkas itu kepada Albedo, yang sedang menutupi mulutnya dengan tangan. Dia lalu menyerahkan berkas-berkas itu kepada para Elder Lich.

“Kalau begitu, mari kita mulai seperti biasanya. Ini adalah proposal-proposal yang akan kita saring hari ini.”

Ainz membuka kabinetnya dan mengeluarkan sebuah tumpukan kertas. Ini adalah saran-saran dan pendapat-pendapat yang dikumpulkan dari semua orang di Nazarick agar bisa membantu perkembangan Sorcerous Kingdom.

Setelah membaca kertas-kertas itu, Ainz akan menggandakan saran-saran ini dan membacanya keras-keras agar Albedo mendengarnya pada setiap pagi seperti ini.

“Tidak perlu membuang-buang waktu anda yang berharga dengan tugas-tugas remeh seperti menuliskannya semua, Ainz-sama.”

“Tidak, karena mungkin saja ada saran-saran di dalam sana yang mungkin diarahkan kepadaku. Ditambah lagi, tubuhku tidak membutuhkan tidur. Akan sangat sia-sia jika aku tidak melakukan apapun.”

Itu juga merupakan sebuah kebohongan. Atau lebih tepatnya, memang benar dia akan menjadi terdiam begitu saja jika tidak melakukan apapun. Namun, dia bisa menghabiskan waktu itu untuk hal-hal seperti membaca, mandi, melatih kemampuan akting dan simulasi tempur. Meskipun begitu, dia masih harus melakukan ini sendiri karena Ainz menyelipkan saran buatannya sendiri diantara kertas-kertas itu.

Ainz harus melakukan ini karena jika dia membuat saran-saran itu langsung, bawahannya akan memaksa diri mereka untuk membuat saran itu menjadi kenyataan, meskipun saran-saran itu tidak berguna. Itu bisa menjadi awal dari konsekuensi tragis.
Oleh karena itu, dengan mengajukan sarannya sendiri dengan tanpa nama, dia berharap agar Albedo, sebagai pihak ketiga yang berimbang, akan menilai saran-saran itu berdasarkan keuntungannya semata. Ditambah lagi, dengan tidak menyebutkan nama-nama dari sang pemberi saran, kemampuan Ainz sendiri tidak akan dipertanyakan, yang mana seperti membunuh dua burung dengan satu batu.

Ainz mulai membacakan saran yang teratas dengan keras-keras.

“Muu....Saya yakin kita memerlukan layanan pendidikan anak agar bisa menari individu-individu bertalenta dan mendidik mereka. Dengan begitu, kita mungkin bisa memperkuat Nazarick. Meskipun itu tidak berhasil, kita masih bisa menggunakannya untuk mengembangkan teknologi untuk diri sendiri, yang mana juga akan bisa digunakan sebagai pondasi untuk memperkuat Nazarick pula.... Seperti itu.”

Ainz melihat ke arah Albedo, yang sedang berdiri dengan mata menghadap ke depan.

“Keuntungannya memang jelas sekali terurai, dan itu merupakan saran yang baik sekali. Bisa dirasakan bahwa pemberi saran itu telah memikirkan hingga jauh ke depan dari sarannya. Mungkin bagus juga mengedarkan hal ini sebagai sebuah model agar bisa dipelajari oleh yang lain.”

Setelah semua pujian itu, Ainz melanjutkan wajahnya yang tegas – meskipun tentu saja wajahnya tidak bergerak. “Setelah dipikir-pikir, kira-kira siapa yang menulis itu?”

“Saya yakin itu pasti Yuri Alpha.”

Itu adalah jawaban yang instan. Ainz juga merasakan yang sama.

“Aku setuju. Itu pasti saran dari Yuri. Kalau begitu, Albedo, bagaimana menurutmu saran itu?”

“Itu jelas sekali adalah hal yang bodoh. Babi seharusnya hidup seperti babi dan mati setelah memberikan semuanya yang mereka miliki kepada peternaknya. Tidak perlu mereka hidup dengan cara lain. Karena tidak ada artinya bagi mereka untuk hidup berbeda, tidak ada gunanya membiarkan mereka memilih kehidupan yang berbeda.”

“Wah, itu sangat kasar sekali kelihatannya, tapi aku memang setuju, hingga batasan tertentu. Seseorang memang memerlukan pendidikan dasar agar bisa melayani sebagai roda gerigi agar bisa memutar roda masyarakat. Ini adalah bagaimana seharusnya orang-orang itu hidup, bertambah tua dan mati. Membiarkan teknologi menyebar hanya akan mengancam kekuatan kita – umu?”

“Ainz-sama, apakah anda baik-baik saja?”

“Akuingat pernah mendengarkan ucapan ini sebelumnya. Seseorang pernah berkata kepada orang lain, tapi siapa? Narberal dan ... ah, Lupusregina, ketika dia bertanya tentang potion penyembuh... Kurasa aku tidak perlu mengatakannya kepadamu karena kamu sudah tahu, Albedo. Oh, sangat janggal sekali, aku harap kamu tidak usah memperdulikannya.”

“Te, Tentu saja tidak. Saya yakin saya harus mengerti wawasan anda yang sangat mendalam, Ainz-sama. Saya mohon, bagikanlah itu dengan saya.”

“Be, begitukah... yah, meskipun itu membuatku malu entah bagaimana, aku tidak boleh menjadi satu-satunya orang yang membagikan pemikiranku. Jika kamu tidak senang dengan apapun yang kamu dengarkan, silahkan saja membetulkan aku.”

Tidak ada lagi yang lebih memalukan daripada bersikap seperti orang yang sok tahu segalanya di depan seseorang yang dia kenal dengan baik. Dengan tampang cemas mungkin dianggap sebagai seorang idiot di dalam hati Albedo, Ainz memutuskan untuk membagikan pemikirannya pada masalah itu.

Pengetahuan, pendidikan dan informasi adalah senjata dasar dari manusia – yang juga termasuk makhluk non manusia di dunia ini. Saat pengetahuan negara semakin meningkat, begitu juga dengan kekuatannya, tapi di sisi sebaliknya, begitu juga dengan kebencian karena mereka tidak bisa memiliki apapun.

Oleh karena itu, seorang penguasa harus mempertimbangkan apakah mempersenjatai rakyatnya dengan senjata yang disebut pengetahuan atau tidak, karena senjata itu mungkin suatu hari akan diarahkan kepada penguasa itu sendiri.

Di dalam game yang disebut Yggdrasil, Ainz telah belajar pentingnya memiliki informasi. Inilah kenapa dia harus membawa dua orang anggota keluarga herbalist Bareare ke desa Carne, dimana dia bisa terus mengawasi mereka, dan agar mereka membuat potion disana. Ini agar dia bisa memonopoli buah dari riset mereka dan menyimpan pengetahuan yang didapat itu sendiri.

Dari sudut pandang Ainz, mereka yang dikuasai harusnya bersikap seperti itu, hidup dan mati tak perduli. Namun harus ada yang mengembangkan teknologi baru agar kekuatan negeri meningkat. Pada akhirnya, pertanyaannya adalah siapa yang akan dituju oleh tombak pengetahuan itu.

“Kesimpulannya, kita harusnya hanya membagikan teknologi baru kita dengan mereka yang benar-benar setia kepada Great Underground Tomb of Nazarick. Kita akan memberikan rakyat biasa teknologi yang kuno yang tidak membahayakan kita. “Buah dari pengetahuan” hanya memiliki nilai jika kita sendiri yang memilikinya.”

Setelah dia sampai pada bagian itu, dia mengintip ke arah Albedo, untuk memastikan dia tidak ragu-ragu atau kecewa padanya.

“Dan sekarang, inilah yang bisa kupahami. Albedo, berkebalikan dengan apa yang baru saja kukatakan, kurasa kita harus menerima tawaran ini.”

Mata Albedo melebar untuk sesaat.

“Bolehkah saya tahu apa yang membuat anda sampai pada kesimpulan seperti itu?”

“Kesentimentalan. Ditambah lagi, aku merasa Yuri ada benarnya.”

“Tetap saja, saya merasa terlalu banyak kerugian pada saran itu.. atau apakah anda ingin berkata bahwa anda ingin mengujinya di daerah pinggiran? Ketika anda segel semua kebocoran informasi lalu menjalankan pendidikan melalui cuci otak, keuntungannya memang akan muncul.”

“Kita tidak akan melakukan itu. Meskipun in mungkin akan melenceng entah bagaimana dari saran Yuri, kita akan mendirikan sebuah panti asuhan di kota ini.”

Ketika Ainz hidup disini sebagai Momon, dia pernah mendengar bahwa panti asuhan dijalankan oleh kuil-kuil. Dia langsung memiliki ide untuk mendirikan sebuah panti asuhan sendiri atas nama Ainz Ooal Gown.

“Dalam keadaan apapun, kita harus mempertimbangkan kemungkin dari bocornya teknologi Nazarick ke dunia luar. Seharusnya tidak apa jika kita menjalankan sebuah panti asuhan biasa dan membatasi pengetahuan yang kita ajarkan disana kepada mereka yang dekat dengan kita. JIka kita menemukan individu-individu yang bertalenta di sana, lalu kita bisa mempertimbangkan apa yang harus kita lakukan kepada mereka.”

“...Ternyata begitu. Rencana itu seharusnya tidak ada masalahnya.”

“Kalau begitu, aku berniat menggunakan para janda sebagai staf panti asuhan tersebut.”

“Para wanita yang telah kehilangan suami mereka dalam perang dimana anda menunjukkan sebuah bagian kecil dari kekuatan yang mahakuasa milik anda. Itu akan menjadi sebuah bantuan finansial atau semacamnya bagi wanita-wanita itu yang sedang berusaha di bawah garis kemiskinan. Dan memang benar, bantuan seperti itu akan meningkatkan opini populer dari anda... seperti yang saya duga dari anda, Ainz-sama.”

“Umu, jika kita hanya bertindak setelah Momon mengatakan kepada kita permohonan dari para janda, maka hanya reputasinya saja yang akan meningkat, dan bukan milikku. Oleh karena itu, kita harus bertindak dengan cepat, sebelum ada seseorang yang datang minta bantuan kepadanya. Agar bisa mengerjakan hal ini... Aku perintahkan agar Pestonya dan Nigredo dibebaskan dari kurungan mereka.”

Ainz merasakan sebuah kilauan samar di mata Albedo.

“Maafkan atas sikap terus terang saya.. tapi jika anda memberikan amnesti kepada mereka yang sudah diputus bersalah karena sudah tidak mematuhi perintah anda dan memaafkan mereka, saya takutnya itu mungkin akan mengacaukan aturan dalam Nazarick.”

“Bukankah kita sudah menempatkan mereka dalam kurungan karena itu?”

“Itu jauh terlalu ringan sebagai hukuman. Keinginan anda adaah segalanya bagi kami, Ainz-sama. Kejahatan karena tidak mematuhi perintah anda jelas sekali tidak bisa dimaafkan. Pelayan anda menganjurkan agar mereka harusnya dibebaskan dari kepalanya sebagai peringatan bagi yang lain.”

“JIka untuk itu-“

Ainz ingin berkata bahwa itu adalah masalah yang remeh, tapi wanita-wanita itu semuanya termotivasi oleh rasa hormat mereka terhadap Ainz – salah satu dari 41 Supreme Being. Akan sangat tragis menolak loyalitas mereka.

Tetap saja, itulah kenapa dia harus memaafkan mereka berdua. Kepribadian mereka diciptakan oleh teman-teman masa lalu Ainz. Oleh karena itu, tindakan dari Pestonya dan Nigredo  bisa dikatakan sama dengan teman-temannya.

Ainz tahu jika dia memberikan perintah kepada Albedo, dia akan mematuhinya tanpa bertanya. Namun, itu adalah cara terakhir untuknya. Pertama, dia harus mencoba untuk meyakinkannya dengan ucapan.

“-Kenyataan bahwa membiarkan perintah itu bocor keluar dunia akan menjadi masalah. Siapapun akan bisa menyambungkan titik-titik dan jejak dari insiden di ibukota kerajaan kepada Nazarick, yang bersembunyi di dalam bayangan. Itulah kenapa bahkan anak-anak pun harus dihabisi.
Namun, dua orang itu mencoba untuk mempertahankan anak-anak  yang tak punya ingatan apapun atas insiden tersebut, itu artinya tidak perlu menghabisi mereka. Bisa dikatakan bahwa mereka bisa mengerti niatku dengan akurat.”

“Mereka hanya memutar balikkan fakta untuk keuntungan mereka sendiri. Tindakan mereka tidak bisa dimaafkan.”

“Albedo-“

Dia mengerti perasaan Albedo sebagai pengawas Guardian. Itulah kenapa dia harus berpikir sekeras mungkin agar bisa meyakinkannya.

Ainz tersenyum; sebuah senyum yang pahit dan bermasalah. Tentu saja, ekspresinya tidak berubah.

“Ainz-sama, tampang anda itu terlalu tidak fair..” gumam Albedo, dengan entah bagaimana pipinya bersemu merah. Ainz menepuk wajahnya untuk memeriksa.

“Oh, benarkah?”

“Mm, itu...”

Albedo menghela nafas tanpa daya, dan membiarkan kepalanya tertunduk. Haa~, dia pun menghela nafas dalam-dalam.

Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, dia kembali seperti sedia kala.

“Saya mengerti. Tidak ada yang lebih penting dari keinginan anda, Ainz-sama. Mereka adalah segalanya bagi saya. Silahkan perintahkan kepada saya jika anda melihatnya memang benar.”

“Aku tidak ingin kamu mematuhiku karena perasaanmu. Aku ingin kamu mematuhiku karena itu merupakan hal yang masuk akal untuk dilakukan.”

“Itu tidak masalah. Kelihatannya, tidak ada seorangpun di Nazarick yang akan keberatan membebaskan mereka berdua selain diri saya yang sebelumnya.”

“Begitukah... kalau begitu bagus sekali. Letakkan mereka berdua sebagai penanggung jawab untuk menjalankan panti asuhan tersebut.”

“Saya mengerti. Saya akan menyampaikan instruksi anda kepada mereka.”

“Aku akan serahkan itu kepadamu. Kalau begitu – saran berikutnya.”

Ainz bergumam sendiri. Saran selanjutya adalah yang dia tulis.

“...Ahem. Yah, ini bukanlah saran yang terlalu buruk..eh, mau bagaimana lagi.”

Ainz mengintip kearah ekspresi Albedo dan meneruskan ucapannya.

“Mari kita buat seragam untuk aktivitas atletik (pakaian olahraga) untuk memperkuat persatuan Nazarick. Bagaimana menurutmu?”

Saat Ainz selesai bicara, Albedo mengerutkan dahinya karena marah.

“...Jika ada batasan yang lebih rendah dari kalimat ‘rendahan’, ide itu saya yakin berhasil menembusnya. Lagipula, siapa yang membuat saran itu?”

Ainz membuat usaha setinggi mungkin untuk memeriksa dorongan untuk berkata, “Maafkan aku” dan sebagai gantinya mengeluarkan ekspresi bingung.

“Er, itu – aku tidak terlalu yakin. Aku sudah membuat lembaran kertas aslinya.”

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anda jadinya. Bagaimana mungkin ada orang yang tega membuang-buang waktu berharga anda dengan saran yang jelas sekali bodoh seperti itu, Ainz-sama? Biarkan saja meluncurkan investigasi secara langsung untuk menarik keluar orang ini dan memutuskan hukuman yang tepat.”

“...Tidak! Tidak perlu berlaku seperti itu! Dengarkan, Albedo! Kamu tak boleh melakukan itu, tak perduli bagaimanapun!”

Meskipun dia seperti menjerit “awawawa” di dalam hatinya, Ainz berhasil mencondongkan dadanya.

“Aku sudah bilang kepada semua orang di Nazarick agar bisa memberikan mereka keberanian mengeluarkan balasan dari banyak sudut pandang, Aku tidak akan mengejar mereka atas saran apapun yang dibuat kepadaku. Jika kamu melanggar hal itu karenanya, itu akan membuat ucapanku menjadi kebohongan. Itu juga berarti bahwa semua yang aku katakan di masa depan juga akan menjadi kebohongan.
Ditambah lagi, sulit bagi orang-orang yang ketakutan untuk bisa memberikan opini mereka... oleh karena itu, aku harap agar ketika kamu meninggalkan ruangan ini, kamu akan lupakan saran itu.”

“Ya, saya akan melakukannya, seperti yang anda katakan, Ainz-sama.”

“Bagus, bagus. Kamu harus melakukan itu.”

Ainz sangat berterima kasih atas kenyataan bahwa tubuhnya tidak bisa berkeringat. Jika bukan karena itu, lantai di bawahnya mungkin sudah basah kuyup sekarang. Namun, meskipun memiliki keadaan tubuh dan pikiran yang luar biasa, kata “rendahan” tenggelam dalam-dalam di hatinya, meninggalkan sebuah luka yang tidak akan sembuh untuk waktu yang lama.

“...Ainz-sama, saya memiliki saran. Di masa depan, mohon perbolehkan saya untuk memilihkan saran-saran itu. Dengan begitu, anda tidak akan dipermasalahkan oleh saran-saran bodoh seperti itu kedua kalinya.”

“Guh... tidak, tidak perlu menyusahkanmu dengan itu. Disamping itu, jika kamu memilih semuanya, maka peranku hanya untuk menandatangani pilihanmu. Diskusi kita di sini akan menjadi percuma.”

“Ah, ya, benar juga, Ainz-sama. Kita harus bekerja sama dan melakukannya.”

Sayap Albedo terkepak, dan Eight Edge Assassin di atas menggeliat sekali lagi.

“Ba, Baiklah. Karena kamu sudah mengerti, mari kita bergerak ke selanjutnya, Albedo”

Secara pribadi, dia tidak menganggap saran itu tidak bisa dikerjakan, tapi suasana hatinya sudah tidak bisa membuatnya mengeluarkan saran itu, ataupun merasa percaya diri menyebutkan topik yang mirip.

“Kalau begitu, selanjutnya-“

Saat Ainz akan melanjutkan pembacaannya, sebuah suara ketukan datang dari pintu.

Dua orang itu melihat ke arah Fifth. Dia sedikit membungkuk, lalu pergi melihat siapa pengunjungnya.

Sebuah suara anak-anak yang periang datang melalui celah pintu, beserta dengan suara yang hampir tidak terdengar yang kurang kepercayaan diri.

...bukankah ini pertama kalinya mereka berdua datang kemari di jam seperti ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Jika itu masalahnya, maka mungkin bagus juga Albedo ada di sini.

Karena Ainz sudah tahu siapa yang berkunjung, dia bisa langsung memperbolehkan mereka masuk. Namun, Fifth kelihatannya sangat gembira melakukan tugasnya, dan memperbolehkan izin masuk sebelum dia bisa melaporkan nama mereka berarti seolah menyelanya.

Mengacaukan kepalanya mungkin akan membuatnya kehilagan motivasi dalam bekerja. Penting sekali bagi orang-orang yang di atas untuk mengerti dan mencatatnya.

Kurasa Jircniv juga melalukan ini. Lagipula, dia menyerakan banyak hal kepada para pelayannya, pikir Ainz, saat dia mengkomentari contoh model raja yang terus-terusan dia pelajari.

Pada titik tertentu, seharusnya aku ngobrol santai dengannya tentang beban kepemimpinan.

“Ainz-sama, mereka adalah Aura-sama dan Mare-sama.”

Sekarang setelah dia menyelesaikan tugasnya, Ainz memberikan isyarat kepada dua orang itu diizinkan masuk ke kantornya.

Pintu itu terbuka, dan sepasang dark elf kecil mungil melangkah masuk. Senyum mereka yang berseri-seri tidak menandakan ada masalah apapun yang menjengkelkan yang telah terjadi, lalu Ainz merasa lega.

“Selamat pagi! Ainz-sama!”

“Se-Se-Selamat pagi, Ainz-sama!”

“Ah, selamat pagi. Kalian berdua kelihatannya bersemangat sekali hari ini.”

Dua orang itu menyapa Albedo juga. Aura mengitari meja dan berdiam di samping Ainz.

Ketika dia sudah dekat dengannya, Aura mengeluarkan kedua tangannya, membuat tanda V-Victory.

“Hm.”

Aura tidak berkata apapun kepada Ainz yang bingung, hanya mengangkat tangannya dan membuat tanda.

Matanya yang berkilauan, penuh dengan penantian, tertuju kepadanya, lalu dia mulai melompat dari kaki ke kaki.

Setelah menyadari apa yang dia inginkan, Ainz menarik kursinya ke belakang, memegang Aura di bawah ketiaknya, lalu mengangkatnya.

“Apa, apa yang sedang anda lakukan, Ainz-sama-“

Ainz tidak menghiraukan jeritan kaget dari Albedo. Malahan, dia memutar Aura 180 derajat, menghadapkan punggungnya ke arah Ainz, lalu mendudukkannya ke salah satu tulang paha kanan Ainz.

Tidak seperti tulang paha normal yang keras, jadi AInz meletakkannya secara paralel, membuat pantat Aura yang lunak sebagai bantalannya.

“Ehehe~”

Tawa dari Aura itu malu-malu namun jelas sangat gembira, lalu Ainz membalasnya dengan senyuman. Lalu, dia berpaling dan memberi isyarat kepada Mare yang terlihat gugup.

Dia memegang Mare saat mendekat, lalu meletakkannya di tulang paha sebelah kiri.

“Ah, um, Ai-Ainz-sama, ba, bagaimana dengan saya?”

Saat Ainz tidak tahu apakah dia harus memberi mereka semacam bantalan, giliran Albedo yang bicara dengan gugup. Namun, terlalu memalukan membiarkan seorang wanita dewasa duduk di pahanya – di tulang pahanya.

“Tidak, itu... aku tidak bisa.”

“Tapi, tapi, mereka berdua.....”

“...Albedo, mereka berdua ini masih anak-anak. Kamu sudah dewasa, bukankah begitu?”

Untuk sesaat, Ainz merasa dia seperti melihat sesuatu di belakang Albedo – sebuah kilatan cahaya yang merupakan manifestasi fisik dari pukulan yang baru saja dia terima. Meskipun Ainz merasa sedikit kasihan padanya, malu tetaplah malu. Disamping itu, jika dia benar-benar melakukannya, itu akan menjadi pelecehan seksual.

“Kalau begitu, kalian berdua. Ada apa?”

Benteng di dalam Hutan Besar Tob – Nazarick palsu, atau mungkin sebuah tempat penyimpanan barang-barang – telah selesai sekarang.

Tugas Aura selanjutnya adalah menyembunyikan benteng itu dan memperkuat pertahanannya.

Rencana awalnya adalah kabur kesana jika musuh muncul dan menyembunyikan Nazarick yang sebenarnya, tapi Jircniv sekarang tahu lokasi dari Great Underground Tomb of Nazarick.

Oleh karena itu, sekarang benteng tersebut berperan sebagai sebuah bunker dan sebuah depot sumber daya.

Mare, di lain pihak, ditugaskan untuk menggali sebuah makam bawah tanah di perbatasan E-Rantel.

Tidak ada rencana untuk menggunakan fasilitas itu sekarang juga. Hanya saja karena dia memiliki tenaga kerja lebihyang tidak digunakan.

Menggunakan manusia untuk pekerjaan demikian akan membebani biaya tenaga kerja, tapi golem-golem dan undead tidak ada masalah. Ditambah lagi, mereka bisa menggunakan magic milik Mare untuk menghasilkan bangunan batu yang sederhana.

Sedangkan yang lain, diantara guardian-guardian lain, Shalltear ditugaskan untuk tugas teleportasi yang berhubungan dengan [Gate] dan keamanan Nazarick. Cocytus bertugas untuk desa Lizardmen dan danau di dekatnya. Demiurge di lain pihak, sedang bertugas di Holy Kingdom.

Dengan kata lain, seluruh guardian di E-Rantel sekarang ada di ruangan ini.

Karena tugas mereka sudah dibagikan, apa yang mereka berdua sedang lakukan disini?

Aura dengan gembira menjawa pertanyaan Ainz.

“Kami kemari untuk menemuimu, Ainz-sama!”

Ucapannya yang lugu mengeluarkan senyum berseri-seri kepada wajah Ainz.

“Ternyata begitu. Yah, aku sangat senang melihat kalian berdua pula.”

Ainz menepuk kepala Aura. Aura kelihatannya sangat nyaman, dan menciumi balik tangan Ainz. Itu seperti sedang bermain dengan anak anjing yang lucu.

“Ka, kalau begitu, Ainz-sama, a-apa yang sedang anda lakukan? Sa, saya harap kami tidak membuat masalah untuk anda...”

“Ya-“

“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin hanya bertemu kalian merupakan masalah bagiku?” Ainz membalas Mare dengan halus.

Ainz lalu melihat ke arah Albedo.

“Maafkan aku Albedo. Aku teralihkan perhatianku saat kita akan memulai topik baru. Ah, benar sekali, aku juga merasakan hal yang sama bertemu denganmu pula.”

“Y-Ya,” ucap Albedo, wajahnya berubah semerah apel saat dia cemberut dan mencoba untuk terlihat serius.

“Ainz-sama!”

Ada apa? Pikir Ainz saat matanya melebar.

“Ogyaaa!”

Ainz tidak tahu apakah dia salah dengar atau tidak. Apa yang baru saja Albedo katakan?

Seakan memberitahukan kepada Ainz bahw pendengarannya baik-baik saja, Albedo berkata “Ogyaaa!!” lagi, dengan suara yang sangat malu.

...Dia mungkin mencoba bersikap seperti bayi. Tidak, hal yang mengerikan adalah jika dia mencoba bersikap seperti yang lain. Tetap saja, mengapa dia melakukan hal ini? Apakah dia lelah karena sudah bekerja terlalu keras? Ah! Ini mungkin ada hubungannya dengan Nigredo dan melepaskan dari kurungannya.

Kebingungan melanda Ainz, meskipun dia memiliki tubuh undead, dan di waktu yang sama, Mare mulai berubah tidak tenang dalam duduknya.

“Itu, um, ti, tidak apa bagiku, jadi, um, aku harusnya membiarkan Albedo-sama...”

Ucapan itu seperti ilham baginya.

Baru saja, aku berkata tidak apa karena mereka adalah anak-anak, jadi sebagai orang dewasa, kau harusnya mampu menahan itu. Apakah itu alasannya mengapa dia pura-pura menjadi anak-anak sekarang?

Tetap saja, mengapa seorang bayi? Dan disamping itu, membiarkan Albedo duduk di pahaku terlalu...

Meskipun begitu, dia sudah sejauh itu mempermalukan diri dengan maju ke depan. Aku tidak bisa melewatkan hal itu, baik sebagai seorang atasan dan seorang pria. Ditambah lagi, Albedo adalah salah satu anak, seperti Aura dan Mare. Aku harus adil kepadanya.

“Maafkan aku Mare,” ucap Ainz. Setelah memperkuat diri, dia membiarkan Mare turun dari kakinya lalu memberikan isyarat kepada Albedo.

“Kemarilah, Albedo.”

“Ya!”

Rasa malu-malu Albedo sebelumnya hilang seperti kabut diterangi matahari pagi, digantikan dengan sebuah tampang penuh harapan yang mungkin dikeluarkan oleh seekor anak anjing sebelum pergi jalan-jalan. Dalam sekejap, Albedo bergerak ke sisi Ainz.

Albedo membuat tanda V pula.

Entah kenapa itu sulit bagi Ainz melakukannya sambil duduk, tapi bagaimana juga dia meletakkan tangannya di bawah ketiak Albedo dan mengangkatnya.

“..Um, maaf tentang hal ini. Maukah kamu duduk seperti ini?”

“Tentu saja! Saya mengerti!”

Albedo mengambil tempat Mare di paha kiri, dan bergerak dengan sikap yang genit.



 
Hal pertama yang dirasakan Ainz adalah kelembutannya, Tidak seperti anak-anak, itu adalah kelembutan dari tubuh dewasa. Lalu, kehangatannya mengalir kepada Ainz, yang membuatnya sedikit gatal.

Meskipun begitu, dia tetap benar-benar lembut!

Dia adalah warrior level 100, tapi entah dimana ototnya berada. Bisa dikatakan dengan cara yang sedikit kurang sopan dan penasaran apa benar dia bukan moluska.

“Kufufu~”

Dia mendengarkan tawa keras Albedo.

Sebuah aroma mengalir dari rambut panjang Albedo. Rambut itu membuat hidung Ainz gatal.

Aroma ini tidak aneh, dimana aku pernah mencium aroma ini sebelumnya? Pakaian Albedo? Bukan, Parfumnya?

“Mmm... Albedo. Apakah kamu menggunakan suatu macam parfum?”

“Ya, saya menggunakan parfum. Apakah itu membuat anda tidak senang?”

“Tidak, tentu saja tidak, aromanya enak.”

Albedo cepat-cepat memutar wajahnya ke arah Ainz. Matanya yang menonjol membuat Ainz sedikit ketakutan.

“Benarkah, Ainz-sama! Jika anda senang, bagaimana kalau mencium baunya dari tubuh saya, sejam juga tidak apa-apa, sehari penuh juga tidak apa-apa?”

“Tidak, disamping itu, satu jam agar terlalu...”

Tetap saja, tak perduli apapun yang Ainz katakan, memang kenyataannya adalah bahwa dia sangat tertarik. Disamping itu, jika dia mencium baunya dari tubuh Albedo, dia mungkin bisa mengingat lebih detil tentang aroma itu.

“Kalau begitu, bolehkah aku mencium aromamu sedikit?”

Ainz dengan hati-hati mendekatkan tengkoraknya ke arah Albedo dan menghirup aroma tubuhnya. Karena sekarang Ainz lebih dekat daripada tadi, dia bisa mencium aroma yang enak itu sekali lagi lebih jelas. Saat dia berpikir, aroma itu akrab, tapi dia tidak bisa mengingatnya dimana dia pernah menemui aroma itu sebelumnya. Saat Ainz memutar otaknya untuk mengupas misteri di kepalanya, sebuah suara sampai di telinganya.

“..Ainz-sama.”

Meskipun Ainz tidak tahu siapa itu sesaat, suara itu jelas sekali milik Aura. Ainz dengan gugup menoleh ke arahnya, dan melihat Aura yang menggembungkan pipinya.

“Tampang itu seperti tampang mesum.”

“Ah, maaf...”

Dia memang ada benarnya....

Ainz mengutuk dirinya sendiri karena sudah melakukan sesuatu seperti ini di depan anak-anak. Ini akan berakibat buruk terhadap pendidikan seksual mereka. Inilah kenapa dia memanggilnya dengan nada yang sama dengan teman lamanya ketika dia marah kepada adiknya.

“Ka-Kalau begitu, Albedo, Aura. Tolong bangunlah. Oh, Albedo, mari kita lanjutkan diskusi tentang masalah yang tadi.”

Namun, tak ada gerakan.

Dua orang itu tetap di tempat. Mereka sedang menunggu pihak lain bangun terlebih dahulu.

“Ya ampun...”

Ainz mengangkat Aura dan menempatkannya di lantai sebelahnya. Sebuah tawa keras dari “Kufufufu~” datangnya dari arah Albedo.

“..Aura adalah yang duduk terlebih dahulu. Albedo, kamu sebaiknya turun pula.”

“Tapi, tapi... Aura sudah duduk selama 3 menit 41 detik. Saya hanya duduk selama 57 detik. Meskipun kedengarannya bodoh, saya yakin seharusnya saya diperbolehkan untuk duduk selama tiga menit lagi.”

“Bukankah kamu sudah menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ainz-sama?”

“Mau bagaimana lagi, itu adalah pekerjaan.”

“Oh, Pekerjaan, ya? Kamu hanya datang karena pekerjaan? Aku berusaha datang kemari hanya untuk melihat Ainz-sama, tahu.”

“!!”

Albedo menggoyangkan pantatnya di paha Ainz, mengubah posisinya untuk menatap Aura di matanya.

Ainz berpikir, Aku bisa menebak mengapa Albedo ingin duduk di pahaku, tapi mengapa Aura ingin melakukan itu? Dia juga tidak mencintaiku seperti Albedo.

Ainz tidak bisa ingat apa yang telah dia lakukan sehingga membuat seorang gadis seperti Aura mencintainya. Perasaan yang disebut cinta seharusnya adalah misteri bagi Aura. Dan lalu – Ainz akhirnya tahu jawabannya.

“Ternyata begitu. Jadi dia menjadi seorang posesif.”

Ditambah lagi, dia mungkin sudah lama mendambakan cinta seorang ayah. Aura dan Mare didesain sebagai anak-anak, dan mereka masih berada pada usia dimana orang tua mereka akan merawat mereka. Mungkin mereka secara tidak sadar mencarinya pada Ainz untuk bisa memenuhi celah di hati mereka.

Jika ada sebuah negeri Dark Elf, dia harus mempertimbangkan kemungkinan mengirim mereka kesana untuk bisa mendapatkan teman-teman. Namun, Suzuki Satoru tidak pernah memiliki pengalaman sebuah cinta seorang ayah sendiri, jadi dia merasa agak telat untuk itu.

Aku penasaran jika ada buku-buku atau pendidikan sex anak-anak di perpustakaan?

Dulu ketika masih berupa data tidak apa-apa. Namun, Ainz telah berpikir sampai sekarang dan menyadari masih ada hal-hal yang kurang agar pertumbuhan mental mereka sehat.

Seperti yang kuduga, mereka benar-benar perlu membuat teman-teman Dark Elf? Mari kita buat itu sebagai prioritas. Untuk itu-

“Aura. Ada sesuatu yang ingin kutanya; apa yang terjadi dengan tiga orang Elf yang aku serahkan kepadamu dan Mare?”

“Maksud anda Elf-elf yang menginjakkan kakinya ke Nazarick tapi diampuni oleh anda, Ainz-sama?”

Ainz mengangguk.

Ketika Ainz menarik para worker untuk masuk ke dalam, dia menyerahkan budak-budak elf yang mengikuti mereka kepada Aura dan Mare. Biasanya, siapapun yang memasuki Nazarick tanpa undangan tidak akan bisa pergi hidup-hidup. Namun, mereka mungkin disana karena bukan keinginan sendiri, dan mereka tidak berniat membawa harta karun Nazarick menjadi milik mereka sendiri. Oleh karena itu, bukan tidak beralasan menunjukkan semacam kebaikan kepada mereka.

Ditambah lagi, jika mereka adalah Wood Elf (Elf hutan), mereka mungkin memiliki efek yang menguntungkan perkembangan Aura dan Mare.

“Ya, untuk sementara, kami meletakkan mereka di lantai kami.”

“Dimana mereka?”

“Ya. Bagaimana harus menjelaskannya... mereka tidak punya apapun yang dikerjakan, tapi terus mencoba merawat kami. Agak menjengkelkan bagaimana mereka terus menempel di sekitar kami.”

“Be, benar sekali. Seperti, pa, pakaian kami dan seterusnya. Sa, Saya bisa berpakaian sendiri, tapi mereka terus-terusan datang untuk membantu kami...”

“Kamu harus sadar. Mereka terus mencoba untuk membantu dirimu berpakaian karena kamu terus bersikap seperti itu. Lihat aku, aku tidak ada masalah, ya kan?”

Ternyata begitu, jadi mereka ingin melakukan sesuatu. Sama seperti para pelayan di sekitarku. Aku merasakan lukamu, Mare. Tetap saja, itu artinya tiga orang yang aku selamatkan tidak sepenuhnya sia-sia, lagipula. Bukankah tambah gawat bagi mantan budak mengajarkan pendidikan sex? Hm~”

“Yah, kita memang menyelamatkan nyawa mereka. Jangan bunuh mereka karena marah, meskipun jika kamu marah. Jika kamu merasa benar-benar menjengkelkan, katakan kepadaku dan aku akan kirimkan mereka ke tempat lain.”

“Mengerti! Saya akan beritahu anda ketika waktunya tiba.”

Ainz menatap ke arah Mare, yang kepalanya tertunduk, dan bergumam “Apa,” kepada dirinya sendiri. Lalu, dia menoleh dengan tatapan setajam es kepada Albedo.

“Albedo. Sudah waktunya kamu turun. Sudah lebih dari tiga menit sekarang.”

Albedo terlihat kecewa untuk sesaat, tapi dia tetap patuh dan turun dari paha Ainz tanpa berkata apapun.

“Setelah dipikir-pikir, apa yang anda berdua sedang lakukan, Ainz-sama?”

“Hm? Ahhh. Aku sedang mengumpulkan saran-saran dari orang-orang Nazarick tentang bagaimana membuat negeri ini hebat. Ah, benar juga. Kalian berdua juga. Jika kalian punya ide bagus, mengapa tidak mencobanya. Aku akan mendengakan apapun?”

Wajah Aura menjadi bertambah cerah.

“Jika anda berkata demikian, Ainz-sama! Saya punya ide yang bagus!”

“Hohoh – Dan apa itu, Aura? Silahkan katakan kepadaku.”

“Ya! Saya pikir anak laki-laki seharusnya berpakaian seperti para gadis, dan para gadis seharusnya berpakaian seperti anak laki-laki!”

.....Bukubukuchagama---!

Ainz meneriakkan nama dari salah satu temannya di dalam hati.

Untuk sesaat, Ainz bahkan melihat gambaran samar dari Pink Slime berkata “Sor~ry!” dengan suara yang menggemaskan dan benar-benar berlawanan dengan penampilannya.

“Ternyata begitu. Jadi itu adalah ide dari Bukubukuchagama-sama. Memang benar itu adalah penawaran yang bagus. Terlebih lagi, di negeri ini, setiap keputusan dari Supreme Being pastinya yang paling benar.”

Benar? Ainz ingin mengolok-olok Albedo, tapi dia tidak bisa melakukannya.

Bagaimanapun, ide ini tidak boleh dibiarkan terjadi. Namun, ada masalah dengan hal itu.

Keduanya hanya berpakaian seperti itu karena Bukubukuchagama mendesain mereka seperti itu. Jika Ainz menolak ide Aura, dia harus menjelaskan alasan yang tepat mengapa kepada yang lainnya.

Ainz tidak bisa langsung terpikir penjelasan seperti itu.

“Ainz-sama. Apakah kita akan mengimplementasikan saran dari Aura secara langsung?”

Mengapa kamu membuat keputusan cepat sekali?!

Ainz sudah kehabisan waktu.

Jika Ainz setuju dengan saran ini, itu seperti mendeklarasikan kepada semua pihak di dalam dan di luar negeri bahwa Sorcerous Kingdom adalah sebuah negara yang menghargai cross-dressing. Itu akan sangat buruk. Mungkin hanya Bukubukuchagama yang akan tertarik dengan itu. Tidak, jika Bukubukuchagama di dunia ini, Ainz merasa dia pasti tidak ingin membuat sebuah negeri seperti itu.

Jika mereka tahu para NPC telah mengembangkan ego mereka masing-masing, beberapa orang akan merasa tertarik dan ingin menemui mereka, sementara yang lainnya ingin meghindari mereka. Bukubukuchagama mungkin akan jatuh ke dalam kelompok terakhir. Yamaiko dan Ankoro Mochimochi mungkin akan sangat ingin bertemu dengan mereka. Mengapa hal itu sangat berbeda meskipun mereka semua adalah gadis...

Saat dia terbayang tentang mereka, Ainz perlahan bangkit dan melihat ke luar jendela. Tentu saja, sikap seperti itu tidak memiliki arti yang signifikan. Dia hanya sedang mencoba mengulur waktu sendiri. Ketika dia sudah memiliki ide kasar tentang apa yang sedang terjadi, Ainz menoleh ke arah mereka bertiga.

“Aku tidak mungkin bisa membiarkan ide itu.”

“Mengapa, mengapa bisa begitu?”

Tentu saja mereka akan bertanya demikian, ya kan?...Maksudku, memberikan satu orang pria topeng di hari natal masih merupakan hukum yang lebih baik dari itu....

Ainz menghela nafas. Tentu saja, tindakan itu tidak memiliki arti signifikan. Dia hanya ingin mencoba mengulur waktu.

“Ada banyak alasan rumit untuk itu. Apakah aku harus menjelaskan masing-masingnya pada mereka?”

“Y-Ya, Saya Mo-Mohon. Jika anda tidak keberatan.”

Ainz berencana untuk berkata begitu kepada Albedo, tapi mare adalah yang pertama memotongnya malahan. Mare biasanya adalah bocah yang sangat jujur; mengapa dia menjadi sangat kejam sekarang, pikir Ainz dengan sedih. Jika itu adalah Albedo, dia pasti akan berkata, “Tidak perlu itu. Biarkan saya menjelaskan kepada mereka berdua sebagai ganti dari Ainz-sama”. Tapi dalam keadaan ini, Ainz harus melakukannya sendiri.

“...Begitukah. Kalau begitu, aku akan menjelaskannya padamu. Tapi darimana aku harus memulainya agar bisa membuatmu mengerti...?”

Umu, Ainz memegang dagunya dengan tangan. Tak usah dikataka lagi, itu juga untuk bisa mengulur waktu. Ainz mati-matian memaksa dirinya berpikir, dia berpikir keras sekali sehingga seakan-akan otaknya seperti mulai berkeringat, lalu sebuah ide menyerangnya.

“-Pertama, ah ya, harusnya begitu. Kalian berdua pasti merasa begitu karena kalian berpakaian demikian, seluruh negeri harus berpakaian seperti kalian juga, benar khan? Lagipula, kalian pasti merasa bahwa itu adalah keingingan dari Bukubukuchagama-san. Namun, itu salah – Ya, kalian berdua adalah spesial.”

“Kami spesial?!”

“Memang benar. Kalian berdua spesial bagi Bukubukuchagama-san. Itulah kenapa kalian diizinkan berpakaian seperti itu... jadi apakah kalian ingin memberikan kespesialan itu kepada banyak orang yang tidak kamu tahu?”

“Bagaimana mungkin kami begitu?!”

Orang yang membalas dengan keras adalah – cukup mengagetkan – Mare.

“Tak pernh! Saya takkan pernah membiarkan siapapun selain Nee-chan memiliki kespesialan dari Bukubukuchagama-sama!”

“Itu, benar sekali. Begitulah seharusnya. Apakah kamu mengerti, Aura?”

“Ya! Saya sangat bodoh sekali karena tidak berpikir apa yang dirasakan oleh Bukubukuchagama-sama!”

“Dan juga..”

Aura dan mare sudah menerima alasan itu. Seharusnya tidak apa untuk perlahan-lahan keluar dari topik tersebut sekarang. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Ainz khawatir.

Ainz menggumamkan sesuatu tentang beberapa alasan lain, lalu dia mengintip ke arah Albedo saat dia bergumam.

Seseorang sehebat Albedo mungkin sudah berpikir lebih jauh ke depan daripada Ainz. Apakah dia akan menganggapnya aneh jika dia memutuskan topik itu sekarang? Itulah yang membuat Ainz tidak tenang.

Saat mata mereka bertemu, Albedo tersenyum, lalu dia mencondongkan lehernya.

Tidak apa respon itu artinya, Ainz mengalihkan matanya. Dan kemudian, kebetulan ada Elder Lich di depannya. Ainz secara tidak sengaja memandang ke arah berkas yang dia pegang.

“-Ahhh. Jadi anda juga berpikir demikian. Ainz-sama. Lagipula, anda kebanyakan melihat dokumen itu. Seharusnya tidak apa mengatakannya kepada mereka berdua juga, ya kan?”

Ainz menoleh ke arah Albedo lagi saat dia tiba-tiba berbicara.

“-Umu. Jadi kamu juga memikirkannya, Albedo.”

“Ya, benar. Saya penasaran apakah anda akan menyebutkan ide itu juga, Ainz-sama. Saya yakin apa yang sedang anda pikirkan adalah apakah boleh atau tidak menjelaskannya kepada mereka berdua, ya kan?”

“Seperti yang kuduga darimu, Albedo. Kamu tahu apa yang kupikirkan tanpa perlu kuucapkan langsung.”

“Anda terlalu baik hati.”

Albedo tersenyum dan membungkukkan kepalanya. Di lain pihak, Aura menggembungkan pipinya karena merasa jengkel.

“Tetap saja, saya tidak percaya tidak terpikirkan keingingan dari Bukubukuchagama, meskipun itu adalah hal yang paling penting untuk dipertimbangkan. Seperti yang diduga dari pencipta kami, Maharja kami. Saya takkan pernah mampu setara dengan keputusan anda yang bijaksana, yang dibuat dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.”

“Tidak, jangan berkata begitu, Albedo. Aku yakin kamu akan menunjukkan bakat yang melebihi diriku suatu hari.”

Faktanya adalah, Albedo sudah melebihi Ainz hingga sejauh ini. Ainz merasa malu terhadap dirinya sendiri saat dia berpikir begitu, tapi Albedo hanya mengangguk, wajahnya penuh keyakinan.

“ya! Saya akan melakukannya!”

“-Kalau begitu, apa alasan lain yang ada?”

“Benarkah kamu tidak tahu, Aura. Albedo, jelaskan kepada mereka berdua. Buatlah menjadi mudah agar anak kecil pun bisa paham. Ya, itu pasti mudah dipahami.”

Setelah Ainz berkata begini, dia terdiam lalu melihat ke luar jendela sekali lagi. Namun, seluruh saraf di tubuhnya terkonsentrasikan untuk mendengar, karena dia tidak ingin melewatkan satu kata pun dari ucapan Albedo.

“Memang benar. Sebenarnya, saya ingin membawa hal ini kepada Ainz-sama setelah ini. Kenyataannya adalah, sebuah masalah kecil telah muncul.”

“Ehhh? Apakah ada yang membuat masalah? Apakah kamu ingin kami pergi kesana dan menghabisi mereka untukmu?”

“Tidak, bukan seperti itu. Sebenarnya adalah, kita menemukan bahwa tumpukan barang-barang kebutuhan mungkin tidak cukup untuk masa depan. Jadi jika kita memerintahkan kepada semua orang untuk mengganti pakaian mereka sekarang ini, kita hanya akan membuat hal-hal yang menyusahkan seperti menukarkan pakaian dan seterusnya.”

Eh, benarkah? Tentu saja, Ainz tidak bisa mengatakan itu. Yang bisa dia lakukan adalah mati-matian mengingat isi dari berkas yang baru saja dia lihat.

Memang benar, berkas itu mengandung sesuatu seperti barang-barang kebutuhan, tapi jumlahnya seakan masih cukup. Namun, jika Albedo berkata begitu, maka itu pasti benar.

Dengan kata lain, ini adalah situasi yang buruk, ya kan? Tetap saja, jika itu masalahnya, tidak bisakah kita membeli lebih banyak lagi dari Kingdom atau Empire? Sebuah kota seperti ini seharusnya memiliki cukup modal untuk itu, ya kan?

Albedo memiliki jawaban dari keraguan Ainz yang beralasan:

“Kota ini memang merupakan gudang penyimpanan yang sangat baik untuk menyimpan barang-barang kebutuhan, dan berfungsi sebagai kota perdagangan. Namun, sejak Ainz-sama mengambil alih, para pedagang dari tiga negeri lain jarang sekali berkunjung ke tempat ini. Oleh karena itu, kita sedang berada di dalam situasi dimana sisa barang-barang kebutuhan kita semakin menipis.”

“Jika kita tidak memilikinya, mari kita ambil dari tempat lain. Bagaimana kalau dari Empire atau Kingdom?”

“Onee-chan, kita, kita tidak boleh melakukan itu. Ah. A-Ainz-sama sudah bilang kita dilarang menggunakan kekuatan kepada tiga negeri itu, ya kan?”

Memang benar. Meskipun dia tidak tahu tentang masa depan, dia sudah menepatkan selimut larangan untuk penggunakan kekuatan militer sampai dia sudah bisa mengasumsikan kendali penuh terhadap kota ini. Tentu saja, jika pihak lain menyerah dahulu, itu adalah masalah yang benar-benar berbeda.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?”

“Er, erm, kita seharusnya tidak usah khawatir. La-Lagipula, A-Ainz-sama akan menyelesaikannya.”

Apakah kamu akan melemparkan ini semua kepadaku sekarang? Ainz ingin menyanggah Mare dengan itu, tapi dia memaksa dirinya agar tidak melakukannya. Setelah Aura memebalas Mare dengan, “Ternyata begitu!” Ainz tidak tega mengkhianati kepercayaan dua anak itu yang dibebankan kepadanya.

Namun, seorang pegawai biasa seperti Ainz tidak mungkin bisa memikirkan peraturan keuangan yang benar. Karena itu, Ainz memutuskan untuk memainkan salah satu dari dua kartu asnya.

Ainz perlahan menoleh, dan dengan percaya diri berkata:

“-Albdo. Kamu sedang menangani ini, ya kan?”

Dengan kata lain, dia akan melemparkan ini semua kepada orang berbakat lainnya (Albedo) dan selesai dengannya.

“ya. Saat ini, benih-benih yang disemaikan oleh Demiurge seharusnya sudah siap dipanen.”

“Begitulah. Kalian berdua tidak usah khawatir.”

Tampang mereka yang berkilauan dengan rasa hormat dan pujian membuat Ainz merasakan perasaan bersalah yang menusuk. Di waktu yang sama, rasa takut melihat tampang kecewa di mata merka ketika mereka mengetahui semua ini hanya palsu mengakar dalam hatinya.

Tetap saja, Demiurge itu. Aku tidak tahu benih apa yang dia tanam, tapi dia benar-benar menakjubkan.

Ainz ingin bertanya tentang panen tersebut, tapi dia tidak bisa.

Ini karena Ainz Ooal Gown seharusnya adalah seorang bintang yang tahu segalanya.

Aku tahu seharusnya aku lebih banyak bejalar tentang ekonomi, tapi aku hanya bisa membaca sepintas sambil lalu buku-buku rumit itu... seperti, mereka seharusnya salah satu dari teori-teori ekonomi Keynesian dan semacamnya lebih mudah dimengerti. Atau jangan-jangan aku sudah diantur demikian karena usiaku?

Ainz memang sangat memahami mekanika game dari Yggdrasil. Ini bukanlah bualan semata; dia telah mempelajari lebih dari 700 mantra dan telah mengingat detil pada tiap-tiapnya, sebuah perolehan yang mengejutkan teman-temannya. Bahkan mantra-mantra yang tidak bisa dia pelajari masih bisa menjadi sebuah senjata untuk bisa membaca kekuatan lawan, ketika dia tahu mantra-mantra itu. Dia bisa dengan mudah menjadi lima teratas diantara teman-teman satu guildnya ketika itu ada hubungannya dengan pengetahuan magic.

Tetap saja, sementara dia bisa melakukan itu, dia benar-benar tidak tahu tentang akademik.

Eh? Jangan-jangan aku tidak bisa ingat lebih banyak lagi karena aku tidak punya sebuah otak?

Ainz tahu bahwa dia telah mempelajari lebih banyak hal sejak datang ke dunia ini. Jadi dia juga tahu jika itu tidak mungkin. Tetap saja, dia sedikit gemetaran dengan teori semenakutkan itu.

“Dan kemudian, saya punya sebuah masalah yang membutuhkan persetujuan Ainz-sama...”

“-Apa? Apakah kamu bilang persetujuan?”

Ainz tidak merasa saran apapun yang dibuat Albedo akan membutuhkan persetujuannya. Lagipula, dia adalah gadis yang pandai, dan pastinya akan membuat pilihan yang lebih baik darinya. Namun, jika memang itu masalahnya, organisasi tidak akan bisa berjalan dengan benar. Lagipula, orang-orang yang ada di atas harus bertanggung jawab terhadap tindakan bawahannya. Karena itu, kelihatannya seorang atasan harus memberikan segel persetujuan dengan cara ini.

“Seseorang harus mengunjungi ibukota kerajaan untuk mendorong para manusia itu. Apakah anda mengizinkan pelayan anda pergi?”

“Apa?!”

Ainz benar-benar terkejut, dan berseru lebih keras dari biasanya.

Mengirim Albedo keluar sementara Demiurge tidak ada membuat Ainz merasa tidak enak. Disamping itu, kendali dirinya terhadap kota ini masih belum sempurna.

Lebih dari apapun, alasan mengapa hal ini sangat mengejutkan adalah karena ini adalah pertama kalinya Albedo berbicara sesuatu seperti ini.

“..Jika aku mengirimmu keluar... aku akan sangat khawatir...”

“Wah,” Albedo tersenyum kegirangan. “Tidak akan apa-apa, Ainz-sama. Saya akan segera menyelesaikan persoalan dan kembali ke sisi anda.”

“Begitukah... yah, jika hanya sebentar seharusnya tidak apa. Siapa yang akan diberi kendali Nazarick dan kota ini?”

Aura dan Mare terlihat sangat terkejut, jadi jelas bukan mereka. Bukan aku, kuharap, Ainz berharap.

“Saya percayakan mereka kepada Pandora’s Actor.”

Aura dan Mare berkata sesuatu seperti “Tidak apa-apa jika itu adalah dia.”

“..Dia, kau bilang.”

“Dia adalah individu yang sangat baik diciptakan oleh anda, Ainz-sama. Seperti yang mereka bilang, anak sama dengan bapaknya – ah, saya minta maaf. Tidak kukira kami yang hanya ciptaan berani mengklaim sebagai anak dari para Supreme Being. Saya berharap anda mau memaafkan sikap kurang ajar saya.”

Permintaan maaf Albedo yang tiba-tiba mengejutkan Ainz – bahkan titik merah cahaya di dalam matanya menjadi pudar.

“Tidak perlu minta maaf. Itu, yah, anakku... maaf. Bukannya aku tidak menyukainya, itu, hm. Anak yang bodoh.. tidak, itu juga bukan salahnya juga..  Yah, bagaimana aku harus mengatakannya. Dia seperti seorang anak. Umu.”

Sebelum dia tahu, semua orang sudah terdiam. Ainz tahu bahwa percakapan itu akan membuatnya garis jika diteruskan. Jadi dia menguatkan diri dan bertanya:

“Jika kita biarkan Pandora’s Actor mengatur hal ini, bagaimana dengan Momon, siapa yang akan memerankannya? Apakah harus aku?”

“Tidak, bagaimana mungkin kami berani melakukan hal semacam itu, Ainz-sama? Saya berencana untuk membuat Momon menerima sebuah permintaan dan dikirimkan ke luar negeri untuk pengintaian.”

Mm, Ainz mengangguk. Meskipun dia berpikir untuk bersantai dengan menyamar sebagai Momon, keadaan sekarang sangat jauh berbeda daripada ketika dia masih memainkan peran sebagai seorang petualang.

Ada banyak hal yang menyusahkan, atau hal-hal yang harus ditangani dengan hati-hati. Oleh karena itu, mengirimkan Momon keluar dalam misi pengintaian mungkin adalah pilihan yang terbaik.

“Ah, te-tentang itu.. jika kamu mengirimkan Mo-Momon-sama keluar, apakah orang-orang di kota ini akan bersikap baik?”

“Tidak apa. Satu gerakan oleh Ainz-sama ini memiliki dampak yang besar. Karena kita tidak menyepelekan para manusia – meskipun tidak ada niat sedikitpun untuk melakukannya – Momon telah menjadi sangat dipercaya. Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan adalah buat Momon mengatakan kepada pemimpin lokal untuk mematuhi kita sebelum dia pergi dan semuanya seharusnya baik-baik saja. Tetap saja, setelah dipikir-pikir, mereka tidak tahu bahwa mereka adalah boneka yang sedang menari di tali, dikuasai oleh Ainz-sama.. seperti yang kuduga, hanya beliau yang bisa mengantisipasi perubahan keadaan ini tepat setelah dipindahkan kemari dan membuat persiapan yang tepat.”

“MM – agak aneh, bagaimana mereka mempercayai Momon-sama, tapi bukan Ainz-sama.”

“Memang benar. Tetap saja, ini adalah bagian penting dalam mengendalikan kota dengan penuh dalam nama kedamaian. Yang kita butuhkan hanyalah perlahan-lahan menghapus Momon dan menanamkan loyalitas kepada Ainz-sama sebagai gantinya. Ini mungkin akan memakan waktu tahunan, tapi mau bagaimana lagi.”

“Bagus. Kalau begitu, Albedo, serahkan kepada Pandora’s Actor. Setelah kamu bersiap-siap dan menyerahkan tugasmu, pergilah dan tuailah hasil panennya. Apakah ada hal lain yang kamu perlukan?”

“Saya mengerti. Kalau begitu saya akan berencana untuk melakukan beberapa negosiasi ketika saya pergi untuk melihat raja dari manusia. Bisakah anda memberikan sedikit waktu anda yang berharga untuk memeriksa kembali sebuah draft dengan saya?”

“Umu. Bawakan nanti kepadaku.”

Disamping itu, yang bisa dia lakukan adalah sesuatu yang sederhana seperti meletakkan segel di atas draft Albedo.

“Ditambah lagi, meskipun agak memalukan untuk meminta. Saya akan gembira sekali jika anda bisa memberikan saya beberapa pasang pakaian. Saya hanya berpikir bahwa perlu untuk berganti pakaian di sana.”


“Begitukah. Kalau begitu aku akan berikan kepadamu beberapa set pakaianku. Nanti carilah aku. Ngomong-ngomong, Demiurge – tidak, tidak perlu. Tidak apa. Kalau begitu, ayo lanjutkan... hm, karena kamu sudah jauh-jauh kemari. Aku ingin mendengar dari kalian berdua pula.”

16 comments:

iand said...

akhirnya update, uda lama ga update panjang gini nih hehe

robby alviandry said...

Mkasih min udh update smpe malem" gni. Smangat min...

attur dragnell said...

makasih min

Kakek Gula said...

Vol 10 yang versi inggris cari di mana ya..

saad asta said...

Thx gan, semangat

Rama R said...

Semangat min

Achmad said...

Update lagi...

Muhammad Furqan said...

hohoh nga sabar liat bagian si lampu philip dimaanfaatin sama albedo(the walking coprse), hilma aja ampe jedot kepala liat si philip :v

amsier said...

Thanks Gan, untuk selalu update

LanjutKAaan..!!

Muhammad Agung said...

Ty

Brian Torao said...


sankyu overlord vol.10 bab 1 bag.1

Anonymous said...

Wah panjang sekali hehe

bambang pramudito said...

Si pestonya sama nigredo kenapa dikurung? Lupa 😥😥😥

Api 08 said...

Thanks min

Noir said...

@Muhammad Furqan itu orang yang paling banget pingin gw bawa ke 5 worst buat di torture idup/mati" berulang kali ampe otak tu orang meleleh sangking stress ama gila -,-

Faisal Ibrahim Hakim said...

Anjay jadi pada ngelawak keluarga overpower