Overlord - Vol 12 - Chapter 2 Part 2

Chapter 2 : Mencari Keselamatan

Part 2

Setelah pembicaraan dengan Blue Rose berakhir, delegasi diplomatik dari Holy Kingdom berangkat lebih awal dari ibukota kerajaan. Ini karena merkea sudah melihat bahwa tidak ada seorangpun di dalam Kingdom Re-Estize yang bersedia untuk membantu Holy Kingdom, mempelajari bentuk Jaldabaoth yang sebenarnya akan memerlukan waktu beberapa bulan, dan juga karena mereka tahu satu-satunya orang yang mampu mengalahkan Jaldabaoth adalah Momon.

Ditambah lagi, membayangkan rakyat Holy Kingdom yang sedang menderita membuat mereka semakin ingin bergegas melakukan sesuatu.

Mereka mengistirahatkan kuda-kudanya sesedikit mungkin, terkadang juga memberinya mantra, dan mereka bepergian ke arah timur mengikuti jalan dengan kecepatan yang sulit dikejar oleh traveler biasa.

Mereka melewati desa terakhir Kingdom Re-Estize, dan sekarang mereka sedang berada di daerah penyangga antara Kingdom Re-Estize dan Sorcerous Kingdom.

Perbukitan yang menjulang lembut menghadang garis pandangan para traveler, dan mereka bisa sesekali melihat hutan belantara purba yang sangat lebat. Rasanya akan ada seekor monster yang mungkin melompat tiba-tiba. Pada awalnya ini memang wilayah Kingdom Re-Estize, namun itu sudah berlalu. Peluang akan adanya serangan dari monster hanya berkurang. Bukan hilang sama sekali.

Di medan seperti ini, panca indera penglihatan dan penciuman Neia semakin diperkuat, sambil melaju di depan.

Tidak ada tanda-tanda adanya makhluk yang ingin menyergap mereka di dekat sana. Tidak ada bekas adanya karnivora besar di dekat jalan itu pula.

Ada banyak bidang-bidang tanah yang terbuka di jalan itu. Jika mereka terus melaju, mereka akan memasuki wilayah yang dulunya dikendalikan oleh keluarga kerajaan, yang jalanannya terlihat rapi. Jalanan yang rapi lebih nyaman bagi para traveler, tetapi bagi Neia, tanah biasa yang barusan akan membuatnya lebih mudah untuk menemukan jejak-jejak sesuatu.

Neia melihat ke arah kedua tangannya.

Dia tidak senang dengan tangan ini.

Bukan karena dia membenci tangannya yang mengeras karena latihan. Hanya tidak senang dengan bakatnya yang kurang.

Dia mungkin telah mewarisi panca indera sang ayah, namun sayangnya, dia tidak menerima apapun dari sang ibu.

Ibu Neia merupakan Paladin terkenal di masanya, dan dia memiliki kemampuan berpedang yang mumpuni. Namun, sebagai sang putri, Neia tidak memiliki bakat untuk pedang, tak perduli seberapa banyak dia berlatih. Sejujurnya, teknik memanah yang diwariskan oleh sang ayah berarti dia bisa menggunakan busur dengan lihai meskipun tanpa latihan apapun.

Tidak, kenyataannya adalah, Neia beruntung bisa mewarisi separuhnya. Namun, kemampuan yang digunakan oleh Paladin yang dia kagumi hanya menggunakan senjata melee (jarak dekat). Bagi Neia, yang ingin menjadi seorang paladin, berbakat dalam senjata jarak jauh adalah hal yang sia-sia.

Sekali lagi, dia menggenggam tali kekang kudanya dengan erat.

Dia mengencangkan pinggangnya dan merubah posisi duduknya di pelana. Dia telah menghabiskan banyak waktu berkuda setelah meninggalkan ibukota kerajaan, dan pantat serta pahanya terasa sakit saat ini.

Dia bisa meminta para Paladin untuk menggunakan mantra healing tingkat rendah untuk menghilangkan sakitnya. Namun, dia adalah seorang gadis, dan dia sedikit malu untuk memintanya dari mereka. Dan juga, sakitnya masih belum pada level yang bisa mempengaruhi kemampuannya untuk mengendalikan tali kekang kuda, jadi itu membuatnya semakin sulit untuk meminta.

....Aku akan beri tanaman obat saja seperti biasanya. Aku harus berterima kasih kepada ayah untuk itu. Di masa lalu, ketika aku berkata pantatku sakit, dia pasti akan berlari dengan muka menjengkelkan... Apakah dulu aku sudah berterima kasih kepadanya?... Hah.

Neia memaksa diri untuk berhenti sebelum air matanya keluar.

"-Ah, Kapten, aku bisa melihat jalanan yang sudah rapi. Kita akan segera memasuki wilayah Sorcerous Kingdom."

Jalanan tanah biasa tiba-tiba berubah menjadi jalan dengan bebatuan yang ditata rapi sepanjang mata memandang. Rasanya aneh.

Neia melihat ke langit.

"Jadi, apakah kita akan terus berkuda hingga Sorcerous Kingdom? Atau apakah kita akan mendirikan tenda di malam hari?"

"Kurasa kita akan tiba sebelum matahari terbenam jika tidak ada aral melintang. Namun, kita mungkin bisa dianggap sebagai pasukan yang akan menyerang. Apa yang harus kita lakukan?"

"Biar kudiskusikan dahulu."

Remedios menarik tali kekangnya lalu membuat sang kuda melambat, kemudian dia mulai berbicara kepada Gustavo.

Bagaimanapun, mulai dari sini seharusnya adalah wilayah Sorcerous Kingdom. tetapi dimanakah pasukan mereka? Tidak ada bentuk pertahanan pula. Ada benteng di sisi Kingdom Re-Estize.

Biasanya, ada benteng-benteng di perbatasan negeri, namun tidak ada satupun di sini. Karena Sorcerous Kingdom hanya satu kota, apakah mereka memusatkan seluruh pasukannya di dalam kota itu?

Tatapan Neia menyusuri jalanan yang rapi itu.

Lereng yang datar menjalar diantara perbukitan. Di kejauhan, Neia bisa melihat sebidang hutan musim dingin tanpa dedaunan.

Neia teringat saat pergi berkemah di musim dingin dengan ayahnya dulu. Tidak ada yang berubah, tak perduli kemanapun dia pergi. Pemandangan di sini terasa sama dengan di Holy Kingdom.

... Tinggal di dunia manusia menyusahkan, huh.

Ucapan sang ayah yang keluar dengan santainya menusuk hati Neia seperti duri.

Ayahnya lebih memilih tinggal di dalam sebuah kota karena sang ibu. Jika Ibu Neia tidak ada, dia akan lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam sebuah desa kecil di hutan, hidup dari kekayaan alam.

Ketika dia masih kecil, Neia merasa hidup di alam adalah hal yang menyusahkan. Namun, setelah melakukan perjalanan ini, dia bisa memahami apa yang ayahnya rasakan saat berkata seperti itu. Apakah itu sebuah tanda dia sudah dewasa? Harusnya sekarang dia bisa membicarakan banyak hal dengan ayahnya.

Rasa perih berkelebat di hatinya saat dia memikirkan hal ini. Namun, itu hanyalah sesaat. Karena di depan mereka - arah timur menyusuri jalan - dia bisa melihat sesuatu yang kabur di jalanan yang berkelok-kelok yang berada di antara perbukitan.

-Apakah itu api?

Neia memicingkan matanya, lalu melihatnya lagi dengan teliti.

Di sana ada suatu obyek mirip asap yang berwarna putih susu, Tidak, bukan asap, namun kabut. Dan-

"Maaf sudah menyela pembicaraan anda! Ada sesuatu yang terlihat seperti kabut di depan!"

"Lalu kenapa?"

Setelah Neia melaporkan ke belakang, Remedios melepaskan penutup kepalanya. Ada sebuah tampang penuh tanda tanya di wajahnya.

"Neia Baraja. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Ya. Menurut peta, tidak ada danau besar di sekitar sini, namun mengapa ada gumpalan kabut di depan. Saya yakin itu pasti sesuatu yang tidak biasa."

Gumpalan kabut susu yang tebal kelihatannya semakin menyebar luas, dan kelihatannya akan tiba di tempat Neia dan yang lainnya beberapa saat lagi.

Ayah Neia pernah mengajari tentang segala macam fenomena alam, dan ketika dia memikirkan situasi berdasarkan pengetahuan itu, kemunculan dari kabut ini benar-benar sangat aneh.

"Squire Baraja. Apakah itu semacam perubahan iklim yang tidak biasa?"

Pertanyaan itu datangnya dari Gustavo, yang menanggapi apa yang sedang terjadi sebelum Remedios.

Perubahan iklim tidak biasa yang dimaksud adalah fenomena mustahil yang biasa terjadi di sebuah area yang luas. Seperti contohnya, mungkin ada sebuah tempat dimana sebuah ritual mantra berskala besar yang kacau memenuhi area itu dengan gas beracun yang membusukkan, atau sebuah tempat dimana sekali setahun, sebuah gurun yang mengamuk berupa badai gurun selama seminggu, atau mungkin sebuah tempat dimana hujan dengan beraneka warna jatuh sekaligus.

Dengan kata lain, Gus bertanya apakah kabut ini adalah salah satu dari peristiwa misterius seperti itu. Namun, Neia belum mengumpulkan informasi apapun mengenai hal semacam itu. Dia merasa bahwa dia mungkin akan diomeli jika dia menjawab seperti itu, tapi dia tidak ada pilihan selain menjawab dengan sejujurnya.

"Mohon maaf, tapi saya tidak mendapatkan informasi tentang kabut yang muncul di depan kita."

"Dengan kata lain, kamu tidak mengumpulkan informasi yang cukup, ya kan?"

Akhirnya pertanyaan sulit lainnya muncul. Siapa yang bisa berkata bahwa mereka sudah mengumpulkan informasi yang cukup?

"Kapten Remedios. Memutuskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya itu lebih penting."

Kuda-kuda mereka terhenti.

Kabut di depan cukup tebal tak bisa dilewati oleh kuda-kuda mereka. Dari yang mereka ketahui sebelumnya, tidak ada perbukitan di dekat E-Rantel. Jika mereka bergerak perlahan, seharusnya merkea bisa menghadapi apapun yang datang. Namun, kabut yang menyebar dengan cepat ini membuat mereka ragu-ragu untuk bergerak menembusnya, sepelan apapun mereka bergerak.

Neia mengendus kabut itu.

Baunya seperti bau uap air dan tidak lebih. Tidak ada yang aneh yang membuatnya bimbang. Namun, hal itulah yang sebenarnya mengganggunya.

"Kapten, jangan-jangan kabut ini dibuat oleh seekor monster? Ayahku pernah berkata ada beberapa monster yang memiliki kemampuan magis untuk membuat kabut, lalu mereka akan bersembunyi di dalamnya untuk menunggu mangsa."

"..Semuanya, cabut pedang kalian! Siapapun yang sedang berada di jalan, segeralah minggir!"

Keputusan yang diambil dengan cepat ini adalah sebuah tanda kemampuan Remedios yang mumpuni di dalam pertempuran.

Neia dan para paladin mengarahkan kuda-kuda mereka meninggalkan jalan seperti yang diperintahkan, kemudian mereka membentuk lingkarang. Kali ini, kabut yang tebal terlihat seperti akan menelan seluruh dunia.

Ketebalan kabut itu cukup membuat Neia tidak mengetahui orang yang ada di sampingnya, dan jarak pandang hanya 15 meter. Perasaan tidak enak mendidih di dalam dada Neia, lalu dia membayangkan melihat wraith sedang bergerak di dalam kabut itu.

Tidak masalah jika dia bisa mengetahui apa yang sedang mendekati mereka hanya dari suara, tapi dia sedang dikelilingi oleh para knight berjubah zirah penuh. Setiap gerakan mereka menyebabkan logam-logam itu saling bergesekan, dan itu mengganggu pendengaran Neia yang tajam. Di dalam kondisi seperti ini, akan sangat sulit untuk mendeteksi apapun yang sedang mendekat ke arah mereka. Menurut ingatan Neia, satu-satunya orang yang masih bis amembedakan obyek dari suaranya dalam kondisi seperti ini adalah ayahnya.

Saat dia menyadari kehebatan sang ayah sekali lagi, dia berusahan memfokuskan telinga untuk mendengar lebih dalam.

"Ini benar-benar kabut yang aneh; bahkan di lautan tidak setebal ini."

"Bukankah kita akan tiba di kota Sorcerous Kingdom? Apakah masih ada monster sedekat ini di perbatasan kota? atau apakah hal-hal yang aneh ini memang wajar karena ini adalah Sorcerous Kingdom?"

"Entahlah..jangan-jangan semacam mantra pertahanan yang digunakan oleh Sorcerous Kingdom?"

"...Kita sisihkan magic dari hal ini, hanya membicarakannya saja membuat kepalaku sakit. Jika kamu melihat sesuatu, beritahu aku, dan buat semudah mungkin untuk dipahami. Jika itu adalah monster, kita akan membunuhnya agar kita bisa membuat Sorcerer King berhutang budi ketika kita memintanya untuk mengirimkan Momon. Bagaimana?"

"Menurut bagaimana nantinya? Meskipun mereka bilang membersihkan monster di dalam perbatasan negeri adalah tanggung jawab negeri itu..."

Mungkin karena dia telah memfokuskan seluruh energi untuk mendengarkan dengan teliti, Neia bisa mendengar percakapan antara kapten dan Gustavo dengan jelas. Namun, jika dia bergerak, dia tidak lagi percaya diri dia bisa mendengar mereka. Apa yang ayahnya katakan di saat seperti ini?

Aku tidak bisa terus-terusan bergantung kepada orang yang tidak ada di sini! Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri!

Namun, kenyataan yang tersisa adalah tetap berada di sini hanya akan mengganggu kemampuannya. Kalau begitu, haruskah dia bertanya apakah diperbolehkan untuk bergerak sendiri untuk memastikan situasinya?

-Sebaiknya tidak usah.

Neia menyimpan rapat-rapat keinginannya untuk bicara.

Meskipun dia tidak melakukannya, kapten tidaklah dekat dengannya. Jika dia meminta itu dan gagal, tidak ada yang tahu hukuman apa yang menanti. Sebaiknya menghindari masalah.

Dan juga, bisa gawat jika kapten berhenti mempercayai arahanku nantinya.

Neia berusaha membuat alasan di dalam hati. Bagaimanapun, bahaya bagi kesehatan mentalnya jika mereka bertemu dengan bahaya lalu dia berpikir, aku bisa menangani ini lebih baik.

Meskipun sebagian dari pikirannya demikian, jika kita semua mati di sini, orang-orang yang menderita di dalam Holy Kingdom harus menunggu lebih lama pertolongan untuk mereka, Ocehan Remedios sudah membuat banyak lubang di hati Neia, dia tidak perduli lagi.

Barusan, Neia melihat sesuatu di sudut matanya yant dia terlewatkan.

Di tengah-tengah kabut yang tebal, dia melihat sekilas garis tepian samar akan sesuatu yang besar datangnya dari Sorcerous Kingdom.

"Hei, apakah kamu bisa melihat di sebelah sana?" Neia mencolek seorang paladin berkuda di sampingnya.

"...Aku tidak melihat apapun. Maaf, tapi kabutnya terlalu tebal dan aku tidak bisa melihat apapun. Apakah ada sesuatu di sana?"

Dia mendengar paladin itu menjulurkan tangan ke arah pinggang lalu dengan lincah menghunus pedang, kemudian terdengar suara genggamannya yang erat di gagang pedang.

"Ah, bukan apa-apa. Aku kira aku lihat sesuatu, mungkin aku salah."

"Benarkah? Yah, jika kamu pikir ada sesuatu di sana, katakan saja kepada kami, tak perduli apapun itu."

"Baiklah, kalau begitu aku akan mengandalkanmu untuk itu nanti"

Setelah berterima kasih dengan tampang tulus, Neia kembali melihat ke depan. Jika seseorang membangi wanita di dunia ini menjadi mereka yang cocok tersenyum dan yang tidak cocok sama sekali, Neia akan jatuh ke dalam kategori yang terakhir. Bahkan sebuah ucapan terima kasih darinya lebih baik diberikan dengan ekspresi serius daripada senyum.

Neia mempelajari gumpalan kabut itu lagi. Mungkin hanya Neia yang bisa melihatnya karena terlalu jauh, namun dia yakin dia tidak salah.

Mungkin saja interaksi Neia dengan paladin telah mengembalikan semangatnya, namun Neia memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada sang kapten. Namun, dia masih sedang berbicara dengan Gustavo.

"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

"Sangat berbahaya sekali bergerak di dalam kabut ini. Kita tunggu saja sebentar, dan jika tidak ada apa-apa kita akan turun dari kuda dan beristirahat. Setelah dipikir-pikir, apa benar ada monster yang bisa mengeluarkan kabut di lautan?"

"Tentu saja. Namun, tidak ada lautan atau danau apaun di dekat sini. Seperti yang dikatakan oleh Squire Baraja."

"Mungkin saja dia salah atau melewatkan sebuah informasi?"

"Dia tidak akan melakukan kesalahan seperti itu. Sejujurnya, dia sudah membawa kita hingga kemari, ya kan? Ketika kita meninggalkan Holy Kingdom, para demihuman berpatroli di dekat dinding yang rusakpun tidak melihat kita pula. Kita tidak akan bisa melakukan itu sendiri, ya kan?"

"Kita bisa saja menembusnya dengan paksa."

Sekali lagi, seakan kesehatan dari jantung Neia semakin habis.

Seberapa besar rasa frustasi yang sudah dia lalui untuk bisa membawa mereka hingga kemari?

Beberapa kenangan muncul di ingatannya, tentang bagaimana dia meminta mereka tetap tinggal sementara dia memantau sendiri di hujan yang membekukan, merangkak di tanah yang berlumpur untuk menghindari skill-skill ambush tipe ranger.

Jika dia terlihat, Neia, sebagai satu-satunya barisan depan pasti akan mati. Meskipun begitu, Neia meneruskannya dengan tekad berani mati, bergantung kepada sebuah keyakinan bahwa dia sedang melakukan ini untuk menyelamatkan rekan-rekan senegaranya yang sedang menderita.

Benar sekali, aku tidak bekerja keras karena aku ingin seseorang memujiku atau apapun itu.

Dia mencoba sebisa mungkin menenangkan diri. Meskipun Kapten menolak mengakui kontribusi dirinya, yang lainnya pasti setuju dengan usahanya, meskipun dia tidak mengatakannya.

Ingin dipuji atau diberi hadiah karena bekerja keras adalah sifat egois anak-anak. Inilah artinya menjadi sebuah perisai umat manusia. Gigit bibirmu, buat dirimu sebagai sebuah perisai, semuanya untuk menjaga rasa perih dan penderitaan dari rakyat adalah tugas seorang paladin. Tentunya kapten pasti merasakan yang sama. Tetap saja... tidak bisakah dia mengurangi volume suaranya sendiri? Tidak, mungkin dua orang itu berpikir mereka sudah cukup lirih.

Keduanya masih bicara.

Neia secara pribadi berpikir mereka seharusnya tidak fokus bicara dan sebaliknya berhati-hati melihat sekeliling. Terutama Remedios, yang memiliki indera bahaya dan kemampuan bertarung seperti binatang buas seharusnya berarti dia bisa merespon lebih baik dari orang lain.

Neia menghapus rasa frustasi di hatinya, lalu fokus terhadap bayangan di dalam kabut. Itu juga karena dia tidak memiliki kekuatan untuk memanggil mereka lagi, dan juga karena dia tidak ingin meneruskan mendengar pembicaraan mereka.

Dan kemudian - mungkin kabut sudah terbelah oleh aliran angin - untuk sesaat, hanya sesaat, Neia melihat sekilas dengan jelas sebuah bayangan ruang kemudi.

Eh? Tidka mungkin... apakah itu... sebuah kapal?

Memang benar, Neia telah melihat wujud sebenarnya dari bayangan itu; sebuah kapal yang mengambang di atas lautan.

Ditambah lagi, itu adalah sebuah kapal yang besar, mirip dengan sebuah galleass. Hanya sesaat, kemudian kapal itu tertutupi lagi oleh kabut yang tebal, bahkan diapun tidak yakin apakah dia benar-benar melihat sebuah kapal.

Tentu saja, hal semacam itu tidak mungkin dengan akal sehat.

Bahkan dari informasi yang dia miliki, Gustavo sendiri sudah berkata tidak ada danau di sekitar situ. Tidak, bahkan meskipun jika ada, hanya orang gila yang membuat sebuah galleas mengambang di sebuah danau.

Jika ini adalah daerah pesisir, mungkin saja mereka menggunakan sebuah kapal tua sebagai sebuah benteng atau memindahkannya ke daratan kering karena suatu tujuan. Kenyataannya, ada beberapa contoh semacam itu di dalam Holy Kingdom. Namun, melakukan hal semacam itu jauh di darata seperti ini adalah hal yang mustahil.

Aku sedang bermimpi ya kan?

Itulah cara terbaik untuk memikirkannya.

Tetap saja, mata Neia menolak untuk meninggalkan arah itu, memeriksanya sekali lagi dan lagi.

"....Jadi kamu benar-benar melihat sesuatu, huh?"

Neia menjerit kecil dengan suara Eh!? merespon pertanyaan dari knight yang dia ajak bicara tadi.

"Kamu sedang melihat ke arah itu barusan, itu artinya kamu barusan melihat sesuatu di sebelah sana, ya kan?"

"Ah? Tidak, itu..."

Aku melihat sebuah bayangan yang terlihat mirip dengan sebuah kapal. Jika dia benar-benar berkata demikian, mereka mungkin akan berpikir dia sudah gila. Tentu saja Neia pun akan berpikir demikian. Kalau begitu, apa yang harus dia katakan?

"Tidak masalah meskipun kamu salah, tapi kamu bisa mengatakannya kepadaku jika kamu melihat sesuatu? Itu akan membantu jika ada sesuatu yang sedang terjadi di sebelah sana."

Itu adalah argumen yang sempurna.

Dia melihat sekilas dari samping ke samping. Semuanya sedang mendengarkan percakapan Neia dengan paladin itu, dan semua mata menuju ke arah Neia. Jika sudah begitu, dia tidak bisa lagi berbohong dengan berkata "Oh, aku yang salah."

"...Ah, aku hanya merasa barusan melihat ada sebuah bayangan besar di sebelah sana."

"Apakah bayangan besar itu seekor monster?"

Orang sangat Neia tidak ingin dengar meluncurkan sebuah pertanyaan kearahnya. Sialan, jangan bertanya kepadaku, pikirnya, tapi tentu saja dia tidak bisa benar-benar berkata begitu.

Neia menghela nafas berkali-kali di dalam hati sebelum menjawab:

"Tidak, bukan seperti itu. aku hanya merasa aku melihat sebuah bangunan atau sesuatu yang mirip."

"...Apakah kamu benar-benar melihatnya?"

"Aku tidak terlalu yakin. Rasanya seperti itu. Kelihatannya aku yang salah."

"Sebuah bangunan? Sebuah benteng Sorcerous Kingdom atau semacam itu?"

"Entahlah. Namun, kenyataannya adalah kita tidak melihat apapun yang mirip seperti sebuah benteng Sorcerous Kingdom di dekat jelanan, atau di dekat pedesaan. Hal semacam itu seharusnya tidak aneh di dekat perbatasan."

Meskipun dia merasa itu adalah sebuah kapal, akan lebih baik jika dia menyampaikannya dia telah meliaht sebuah bangunan yang terlihat seperti sebuah kapal daripada kapal itu sendiri.

"Oh begitu... bagaimana menurutmu, Gustavo?"

"Aku percaya kepadanya. meskipun - kamu tidak memastikannya kalau itu sebuah bangunan, ya kan?"

"Ya, itu hanya sesaat saja. Mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda."

"Kapten Custodio, bagaimanapun, kurasa menunggu di dalam kabut adalah pilihan terbaik. Kurasa benteng Sorcerous Kingdom tidak akan mengizinkan orang asing masuk."

"Masuk akal. Kita lakukan saja, kalau begitu. Semuanya, tetaplah waspada."

Dia dijawab dengan sebuah paduan suara, begitu juga dengan Neia.

Meskipun mereka pura-pura berjaga, perhatian semua orang terfokus pada satu titik. Itu karena semua orang ingin memastikan apa yang Neia lihat.

Kabut tebal terus menghalangi semua pandangan, dan saat semua orang mulai kehilangan ketertarikan pada sebuah bangunan, sesuatu terjadi.

"-Apa!?"

Neia dan knight di kanannya kedua terkesiap karena terkejut.

Sebuah bayangan bergerak di dalam kabut tebal.

"A-Apa itu?"

Neia tidak bisa menjawab pertanyaan paladin tersebut. Berkata bahwa itu sebuah kapal adalah ucapan ngawur.

"Apakah bayangan itu... bergerak? bukankah itu sebuah bangunan?"

Pertanyaan Kapten sangat beralasan. Namun, karena Neia tidak bilang kepadanya apa itu sebenarnya, yang bisa dia katakan sampai akhir adalah bayangan itu terlihat seperti sebuah bangunan.

"Ketika aku melihatnya, memang terlihat seperti bangunan.."

"Tapi, sekarang bangunan itu sedang bergerak, ya kan? Dan juga.. bayangna itu terlihat semakin gelap; apakah sedang menuju ke arah kita?"

Memang benar, jika itu memang benar-benar sebuah kapal, maka kapal itu bisa bergerak ke arah mereka. Dengan kata lain - kapal itu bisa berlayar di daratan.

Bagaimana itu bisa... Tidak mungkin...

pada akhirnya, bayangan tersebut mendekat cukup dekat menembus kabut sampai bahkan orang-orang selain Neia bisa melihat apa itu sebenarnya.

Tidak diragukan lagi itu adalah sebuah kapal, dan sedang bergerak seakan berlayar di menerjang ombak. Barisan dayung yang tebal dan panjang menjulur dari sisi-sisinya, mendayung seakan mendorong air.

"Yang benar saja?"

Ucapan terkejut yang keluar dari mulut Remedios mewakili semua orang di dalam kelompok tersebut.

"Apakah kapal Sorcerous Kingdom berjalan di daratan? Negara-negara daratan memiliki segala macam mainan yang mengejutkan..."

Tidak, tidak, tidak seperti ini, Neia berkata di dalam hati. Dia mungkin bukan satu-satunya yang berpikir demikian.

"Sebuah kapal yang berjalan menembus kabut... kelihatannya aku ingat pernah mendengar sesuatu seperti ini sebelumnya.."

"Sudah kuduga dirimu Gustavo! Kemarilah, cobalah mengingatnya, aku yakin kamu bisa melakukannya. Kamu mengajariku segala macam hal di masa lalu, aku yakin kamu bisa melakukan itu. Benar juga, apa kepalamu ingin kugoyang-goyangkan?"

"Tolong jangan lakukan itu. Disamping itu, aku bukan seorang sage atau semacamnya. Itu karena kapten kita tidak punya kepala terhadap kenyataan yang membutuhkanku untuk mengingat sebagai penggantinya."

"....Karena yang perlu kulakukan adalah bertanya kepadamu atau Queralt."

"Kelihatannya kami sudah terlalu banyak memanjakanmu. ketika kita kirimkan Jaldabaoth kembali ke neraka, aku akan memastikanmu menebus seluruh tahun belajar yang sudah hilang. Ah, berkat itu, aku ingat sekarang. Itu adalah sebuah kapal hantu. Aku dengar beberapa pelaut membicarakannya, sebuah kapal yang muncul dari kabut. Itu adalah sebuah kapal yang seharusnya sudah tenggelam, tapi berlayar sekali lagi, dan dinahkodai oleh undead."

"Oh! Ya, aku pernah dengar kapal hantu yang didahului oleh kabut tebal... Semuanya, bersiap! Jika itu adalah sebuah kapal hantu, maka kita akan menghadapi undead! Itu adalah musuh!"

Bahkan para paladin pun mau tidak mau tersentak oleh peritah kapten mereka.

"Tunggu! Tunggu sebentar, Kapten Custodio! Sorcerous Kingdom yang menjadi tujuan kita dikuasai oleh raja undead, jadi bagaimana kalau ini adalah salah satu dari kapal Sorcerous Kingdom?"

"Apa!? Dia membawa sebuah kapal hantu ke daratan lalu menggunakannya?... Apa lagi ini?"

Memang wajar Remedios menjadi terperangah.

Undead bisa mengendalikan undead lain. Namun, makhluk undead macam apa yang bisa membuat sebuah kapal hantu, yang pada dasarnya berlayar di lautan, di bawah perintahnya?

Setelah itu, kapal tersebut menampakkan bentuknya secara penuh.

Memang benar, itu adalah sebuah kapal hantu.

Itu adalah sebuah kapal yang sudah rusak di sana sini. Ada sebuah lubang besar di samping lambung kapal, dan papan-papan deknya melengkung ke atas di banyak tempat.

Kapal itu sangat besar, bahkan lebih besar dari kapal negara angkatan laut Holy Kingdom "Iron Hammer of the Holy King" (Palu besi Raja Suci). Jika kapal itu tidak terlalu bobrok, kapal itu akan mengeluarkan kesan kekuatan yang luar biasa.

Yang terakhir dari tiga tiangnya mengibarkan layar buritan, sementara yang lainnya memiliki layar persegi biasa. Namun, semua layar itu robek dan compang camping, dan tidak terlihat seperti bisa menyelesaikan misi mereka mendorong sebuah kapal.

Ada sebuah ketajaman tak biasa dari arah haluannya yang menjorok ke depan. Terlihata sangat menakjubkan, seperti sudah dipoles. Ditambah lagi, kapal itu memiliki cahaya yang bersinar redup, dan memberikan kesan bahwa kapal itu bangga pada dirinya sendiri.

Setelah itu, fitur yang paling menarik mata adalah bendera yang berkibar di atas tiang utama. Menggambarkan simbol Sorcerous Kingdom.

Kapal tersebut melayang satu meter dari tanah dan bergerak ke depan.

Dalam sekejap, kapal tersebut melewati kelompok itu - yang terdiam kaku di tempat oleh pemandangan aneh tersebut - dari samping.

Tak ada yang bisa bergerak, kemudian kabut itu mulai menipis. Apakah kapal itu memuntahkan kabut ketika berlayar? Tidak, jika memang begitu, maka kabut ini akan semakin tebal ketika semakin mendekati kapal, jadi mereka seharusnya bahkan tidak bisa melihat lambung kapal itu sendiri. Mungkin semacam lapisan yang menutupi dan menyelimuti area di sekitar kapal dengan kabut.

Atau mungkin itu adalah sebuah kurungan untuk mencegah mangsanya kabur. Neia ketakutan tak bisa bergerak karena pemikirannya itu.

Sorcerer King ... seorang raja undead. Mungkin saja dia adalah orang yang sangat menakutkan.

Ketika dia mendengar dia memanggil kambing raksasa dari asal yang tidak jelas, dia membayangkan mereka sepergi kambing yang lucu, jadi mungkin Neia meremehkan Sorcerer King seperti itu.

Itu membuatnya tidak tenang.

Sama seperti paladin yang melihat undead sebagai musuh, undead mungkin menganggap paladin sebagai musuh mereka juga. Jika memang begitu, nasi kelompok mereka akan-

Meskipun begitu, mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengharapkan bantuannya, untuk bertemu Momon, orang yang pernah bertarung setara dengan Jaldabaoth. Neia mengusap keringatnya dengan telapak tangan.

"...Kabutnya sudah hilang. Semuanya, ayo pergi."

Raja undead yang menguasai makhluk mengerikan.

Neia mengumpulkan keberaniannya.

Sorcerer King adalah undead, namun dia mengizinkan manusia untuk hidup.. Orang macam apa dia sebenarnya? yah, aku tidak akan bisa melihat sisi dari dirinya, aku hanya seorang squire.

6 comments:

Anonymous said...

Makasih min untuk updatenya, semangat min ngelanjutin tlnya

Lensa said...

Makasih min

Achmad Buhori said...

Terima kasih banyak min..
Saya selalu menunggu update dari Anda
Sangat baik, saya suka

Unknown said...

Makasih min tetap semangat

Esa said...

Translatenya bagus min, tp apa cuma guwe yg bayangin kapal itu kapalnya Flying Dutchman dari Spongebob XD

AlwaysFree said...

Waduh tumben sepi. Makasih min, dari awal sampe akhir baca sini terus. Makasih udah ngisi waktu 3 bulan gua

Powered by Blogger.